
Jang sedang mengemasi berkas-berkas nya. Tiba-tiba salah satu berkas tersebut jatuh lalu ia mengambil dan membuka berkas tersebut. Ia melihat kembali berkas laporan yang ia simpan selama ini. Tepatnya laporan yang diajukan Dinda untuk menangkap Dave. Ingin sekali ia melanjutkan kasus tersebut. Namun diurungkan niatnya karena tidak ingin terjadi sesuatu pada Dinda nantinya.
Jang meletakkan kembali berkas laporan tersebut ditempat yang terpisah agar tidak diketahui oleh atasan atau bawahannya nanti. Jika tidak maka jabatannya akan terancam.
"Aku harus menyembunyikannya." Jang sambil meletakkan berkas tersebut disebalik buku-buku yang tersusun di rak ruangannya.
****
"Lepaskan!" ronta Dinda saat tangan dan kaki nya sudah diikat oleh pria-pria asing yang mengelilinginya.
Mereka hanya tertawa menyaksikan Dinda yang terus meronta- ronta minta dilepaskan.
📞Bos, kita sudah menangkapnya. Salah satu pria saat sedang menelpon seseorang
Dinda yang mendengar sangat meyakini bahwa orang disebalik telepon tersebut adalah Dave. Iya tidak tau apa yang akan terjadi pada dirinya nanti jika Dave datang. Keinginan Dinda hanya ingin tetap hidup dengan tenang.
Setelah beberapa menit, orang yang ditelepon datang dengan kacamata limited edition nya.
Berdiri dengan tegap sambil bercegak pinggang menatap Dinda yang sudah tampak lesu.
" Siapa yang menyuruh kalian untuk membawanya kemari?" tanya Dave kepada anak buahnya. Sebelumnya ia sudah memberitahu anak buahnya untuk tidak lagi mencari Dinda. Namun sekarang orang tersebut berada dihadapannya.
"Maaf bos, kami harus membawanya kemari. Dia sepertinya akan mengancam keselamatan bos jika dilepaskan." balas anak buahnya.
Dave memiringkan kepalanya menatap lekat Dinda. " Maksud kalian?" tanya Dave penasaran.
"Maaf bos, kami menangkapnya saat sedang menuju kantor polisi. Dia pasti ingin mencebloskan bos ke penjara." jawab anak buahnya tersebut.
Dinda hanya menggelang-gelengkan kepalanya ke kiri dan ke kanan seakan membantah jawaban dari anak buah Dave.
Dave yang melihat lalu menarik lakban yang menutup mulut Dinda dengan kasar lalu memegangi dagu Dinda dan membuat Dinda ketakutan.
"Tolong kamu jelaskan!" ucap Dave sambil merapatkan kedua gigi rapi nya.
Flashback on
Kaki dan tubuh Dinda terasa sangat sakit setelah apa yang Dave lakukan padanya. Perasaannya kacau dan sangat ketakutan. Ia tidak menyangka Dave akan memperlakukannya seperti itu.
__ADS_1
Aku harus pergi dari sini. Gumam Dinda sambil mengemasi pakaian dan memasukkan kedalam koper besar miliknya.
Ia membuka pintu kamar secara perlahan dan melihat orang disekitar. Saat keadaan terasa aman dan Dave tidak berada ditempat, Dinda dengan cepat keluar dari kamar. Dinda melangkahkan kaki dengan berhati-hati hingga sampai didepan pintu keluar.
" Tante, om, kak Dion maafin Dinda. Dinda harus pergi dari kehidupan kalian semua. Dinda nggak mau kak Dave membenci Dinda." ucap Dinda sambil keluar dari gerbang pintu rumah Atmawijaya.
Dinda menghentikan sebuah taksi lalu masuk kedalam dengan cepat dan memberikan arah yang akan ditujunya kepada sopir.
Sesampainya ditujuan, Dinda turun dengan wajah sedih. Tepat disebuah pemakaman dimana Dandi dikebumikan.
"Dandi, Dinda datang lagi untuk menjenguk. Apa Dandi disana baik-baik saja?" tanya Dinda sambil mengelus-elus pusara milik Dandi.
Hampir setengah jam Dinda berada disana. Berdoa dan melepas rindu kepada Dandi. Tiada tempat untuk ia mengadu lagi.
Dinda berjalan tanpa arah dan tujuan yang jelas. Tidak tau kemana ia akan pergi. Seketika ia memikirkan Adit tetangganya dulu.
"Aku harus ketempat kak Adit." ucapnya dengan semangat.
Setelah Dandi meninggalkannya untuk selama-lamanya, kini hanya Adit tempatnya untuk mengadu sekarang.
"Ah, kakiku sangat sakit. Dimana taksi? kenapa tidak muncul." ucap Dinda kesal.
Peluhnya sudah bercucuran membasahi tubuhnya. Sesekali jika ia kelelahan, maka ia akan berhenti sejenak.
Sebenarnya ia bisa saja menelpon Adit untuk menjemputnya, namun ponselnya tertinggal dirumah Dave karena terlalu panik dan terburu-buru untuk meninggalkan rumah Atmawijaya.
"Ah panas sekali," Dinda meneguk air yang ia bawa. Dinda duduk di halte yang lumayan sepi dan jauh dari rumah penduduk untuk memulihkan kembali tubuhnya yang sangat kelelahan.
Saat itu juga dua orang pemuda menggunakan topeng menodongkan pisau kearahnya. Tentu saja membuatnya sangat ketakutan. Mereka membuka dan mengacak-acak isi koper. Setelah apa yang mereka cari ketemu, mereka pun pergi meninggalkan Dinda yang tidak bisa berbuat apa-apa.
Mereka adalah perampok. Uang yang disimpan Dinda didalam koper pakaiannya habis dicuri perampok tersebut. Kini tiada sepeser uang pun yang ia pegang.
Dinda hanya menangis tak kuasa membayangkan nasibnya yang begitu sial.
Dinda mengumpulkan kembali pakaian-pakaian yang berserakan dan memasukkan kembali kedalam koper sembarangan. Lalu Dinda berlari meninggalkan tempat tersebut.
Hampir dua kilometer Dinda berjalan, hingga beberapa langkah lagi ia akan sampai disebuah kantor polisi daerah disana. Belum sempat ia melangkah, ia sudah ditarik oleh seseorang dan membawanya masuk kedalam mobil yang sepertinya sudah mengekorinya.
__ADS_1
Flashback off
"Tidak, saya nggak bermaksud melaporkan tuan. Saya hanya ingin meminta bantuan saja. Saya dirampok saat diperjalanan. Saya sama sekali tidak berfikir ingin mencebloskam tuan kepenjara." ucap Dinda jujur sambil terus menangis tersendu-sendu.
Dave menaikan alisnya dan menatap Dinda dengan wajah datar. "Apa perkataanmu bisa dipercaya?" tanya Dave yang sedikit kurang percaya dengan perkataan Dinda.
"Saya bersumpah tuan, saya tidak berbohong. Saya mohon, tolong lepaskan saya." pinta Dinda sambil terus memohon.
Dave tampak sedang berfikir dan sesekali melirik Dinda untuk memastikannya apa yang dikatakan Dinda tidak bohong.
"Baiklah, aku akan melepaskan mu. Tapi ingat, jika kau berani mengganggu ku lagi aku tak akan segan-segan membawamu untuk menemui kembaranmu." balas Dave dengan angkuhnya.
Akhirnya Dinda pun dibebaskan dan ditinggalkan dijalan seorang diri.
Karena rumahnya tidak jauh dari tempatnya berada, Dinda langsung berlari dan langsung mengetuk pintu rumah Adit ketika sampai.
"Sebentar," ucap Adit sambil berjalan membuka pintu saat mendengar bel rumahnya berbunyi dan ditekan berkali-kali.
"Dinda." ucap Adit kaget lalu segera memeluk Dinda.
"Kamu kenapa?" tanya Adit yang bingung dengan Dinda yang sangat acak-acakan.
Adit membawa Dinda masuk lalu memberikan segelas air untuk menenangkan Dinda yang terlihat sangat sembab.
"Kak, Dinda tinggal dirumah kakak saja." pinta Dinda dan membuat Adit bingung sekaligus bahagia. Kenapa Dinda tiba-tiba ingin tinggal dirumahnya. Sebelumnya Dinda pernah mengatakan ia sangat bahagia tinggal dirumah barunya tersebut. Apalagi Dinda pernah bercerita jika pemilik rumah tersebut memperlakukannya seperti anak sendiri.
"Tapi kenapa tiba-tiba Dinda?" tanya Adit yang kebingungan.
"Dinda udah nggak mau lagi tinggal disana kak, Dinda nggak mau disiksa." jawab Dinda. Ia tak kuasa lagi tinggal serumah dengan pria kejam yang tidak punya rasa belas kasihan terhadapnya.
Adit bingung dengan yang Dinda katakan. Siapa yang menyiksanya jika orang dirumah tempat tinggal Dinda sangat baik kepadanya.
"Siapa orang yang Dinda maksud?" Adit kembali bertanya.
"Dia Dave, orang yang telah membakar dan membunuh Dandi." balas Dinda.
Adit melototkan mata bulatnya seakan tidak percaya yang dikatakan Dinda. Bagaimana seorang gadis seperti Dinda tinggal bersama seekor singa buas.
__ADS_1