
Sepanjang perjalanan pulang, Dinda hanya terdiam memikirkan perkataan Dave. Setelah ia pergi, Dave menyuruhnya untuk tidak lagi kembali kerumah dan dekat dengan keluarganya. Hatinya sangat bimbang. Sebenarnya ia sangat ingin membongkar semua perbuatan Dave dan memberitahu jika Dave melarangnya untuk kembali kerumah itu. Tapi nyali nya tidak kuat. Bimbang akan keselamatan dirinya lebih penting melainkan harus membongkar rahasia seorang Dave Atmawijaya. Tentu saja ia ingin hidup damai walaupun harus mengenang kenangan pahit saat tinggal bersama Dandi kembaran nya.
" Din, kamu kenapa? dari tadi hanya diam saja." Adit merasa Dinda tidak seperti biasanya. Hanya terdiam sepanjang perjalanan pulang.
Dinda tersadar dari lamunannya. Ia menoleh kearah Adit. " Dinda nggak apa-apa koq kak. Dinda baik-baik saja." membalas dengan senyuman khasnya.
" Kalau ada masalah cerita dong, jangan dipendam. Nanti sakit." Ucap Adit lagi.
" Dinda nggak kenapa-napa. Dinda hanya capek saja." Jawab Dinda sambil terus menatap keluar dari kaca mobil.
Adit merasa Dinda seperti memikirkan sesuatu yang ia sendiripun tidak tau itu apa.
" Apa kamu benar-benar mengenali pria yang kita temui di taman kota tadi?" tanya Adit spontan. Ia merasa sikap Dinda berubah setelah bertemu pria tadi.
Dinda terkejut, kenapa Adit tiba-tiba menanyakan hal itu. Tentu saja ia sangat kenal. Apalagi setelah mengalami masa-masa pahit kehidupan dimasa lalu.
" Siapa nama laki-laki tadi? kakak tidak sempat menanyakan. Wajahnya saja datar, tidak ada senyuman sama sekali" Adit tertawa mengingat-ingat ekspresi wajah pria tersebut.
Hati Dinda sangat ingin memberitahu kepada Adit bahwa dialah Dave yang selama ini membuat hidupnya hancur. Namun, mulutnya sama sekali tidak bisa untuk mengatakan fakta tersebut. Ia takut jika Adit mengetahui, maka ia akan kembali ke lubang yang sama. Ia tidak ingin Adit mengganggu kehidupan seorang Dave Atmawijaya. Maka orang pertama yang akan Dave hancurkan adalah dia sendiri. Karena rahasia terbesar Dave hanya dia dan Dandi saja yang mengetahui.
Dinda turun dari mobil saat mereka sudah sampai dihalaman rumah. Dinda masih memasang wajah lesu. Apalagi suasana hatinya kurang bersahabat setelah bertemu Dave di taman.
Seseorang tampak menyambut mereka pulang. Adit dan Dinda tidak menyadari kehadiran orang yang sudah berdiri didepan pintu rumah.
Dinda terkejut, begitupun Adit. Mereka tidak percaya apa yang mereka lihat barusan. Dinda tampak berkali-kali mengucek matanya. Apa ada yang salah dengan matanya atau ia hanya berhalusinasi.
__ADS_1
"Dinda" sapa pria yang sudah berdiri tegap sambil merentangkan tangan.
"Dandi, apa itu kau?" Dinda masih terus mengucek-ngucek matanya." Apa aku berhalusinasi? tidak mungkin" Dinda mundur perlahan dan menggeleng-gelengkan kepala seakan tidak percaya.
Adit yang juga tidak percaya dengan apa yang ia lihat hanya bisa menatap heran sekaligus merinding. Apakah orang yang berada didepannya adalah jelmaan mahluk halus yang menyerupai Dandi.
" Dinda, kemarilah. Aku sangat kangen sama kamu" ucap pria tersebut dengan wajah hampir menangis.
Dinda kembali melangkahkan kaki perlahan. Saat Dinda ingin mendekat, Adit dengan cepat menarik tangan Dinda menjauhi pria tersebut.
" Jangan mendekat, siapa tau dia orang jahat yang memakai topeng wajah Dandi." duga Adit sambil terus menghalangi Dinda untuk mendekat.
" Berani-beraninya kau mendekati Dinda. Lepaskan tanganmu!" suruh pria tersebut.
Adit terdiam, hatinya ketakutan dan merasa bersalah saat mengetahui orang yang berada didepannya benar-benar Dandi.
Mereka akhirnya masuk kedalam dan disambut dengan wajah ketakutan dan terkejut oleh orang tua dan adik-adik Adit. Bagaimana mungkin orang yang sudah mati bisa hidup kembali.
" jadi, selama ini kau masih hidup?" tanya Adit memberanikan diri. Ia sebenarnya sangat takut berhadapan dengan Dandi. Apalagi sewaktu mereka tinggal bersama, Dandi selalu mengancam dan memarahinya saat mendekati Dinda.
Dandi menatap Adit dengan wajah kurang bersahabat. Ternyata selama ia pergi, Adit berani mendekati Dinda. "Apa kau mengharapkan aku benar-benar mati?" sepertinya Adit memang senang jika ia tidak berada disamping Dinda.
Adit hanya terdiam. Begitupun orang tua dan adik-adik Adit. Mereka sangat mengetahui perilaku dan sikap Dandi semasa mereka masih tinggal bersama.
" Dandi, jangan bicara seperti itu kepada mereka. Selama Dandi tidak ada, mereka lah yang membantu Dinda." ucap Dinda tenang. Dinda hanya tidak ingin Dandi marah-marah tidak jelas seperti dulu.
__ADS_1
" Aku hanya khawatir kepada Dinda. Aku akan terus melindungi Dinda dari orang-orang yang ingin menyakiti Dinda." balas Dandi. Matanya berapi-api setelah mengingat kembali apa yang Dave lakukan padanya dan Dinda. Rasa ingin balas dendam begitu bergejolak.
" Jadi kamu kemana selama ini?" tanya orang tua Adit penasaran begitupun dengan Dinda dan Adit.
Dandi tersenyum. Tapi senyuman kali ini tidak pernah ia perlihatkan kepada mereka semua. Hal itu membuat Adit dan keluarganya bingung. Mereka saling menatap satu sama lain. Bagaimana mungkin Dandi tersenyum seperti itu kepada mereka. Bukankah selama ini dia tidak pernah tersenyum kepada mereka apalagi membalas kembali senyuman yang pernah mereka berikan kepadanya. Bukan kah selama ini dia dijuluki seorang pemabuk dan pembuat onar?
" Aku hanya pergi untuk menenangkan diri." jawab Dandi singkat.
" Kemana?" tanya Dinda spontan. Pergi meninggalkannya sendiri menghadapi pahitnya kehidupan?
" Aku pergi keluar kota untuk menjalani hidup baru dan membuang semua masa lalu ku yang gelap." jawabnya yakin. Merasa sangat menyesal saat mengingat perilaku dan kebiasaan buruknya dimasa lalu. Kini ia sudah yakin berubah dan membuang kebiasaan buruk demi melindungi Dinda. Keluarga dan harta satu-satunya yang ia miliki sekarang.
Adit hanya tersenyum mendengarkan penjelasan Dandi. Sepertinya ia memiliki peluang untuk tetap mendekati Dinda. Apalagi mereka sama-sama memiliki perasaan suka.
" Kenapa kau tersenyum? apa ada yang terdengar aneh?" tanya Dandi dengan raut datarnya. Adit yang tersadar hanya diam dan tertunduk lesu. Takut jika Dandi memarahinya.
" Aku tau apa yang sedang kau fikirkan." menebak arti dari senyuman yang diberikan Adit. " Aku mengizinkan kau untuk mendekati Dinda. Aku juga sangat berterima kasih karena selama ini sudah menjaga Dinda dengan baik." sambung Dandi kembali dan dibalas dengan senyum bahagia dari mereka semua. Ternyata, Dandi memang benar-benar sudah berubah.
Dari kejauhan, seseorang sedang memantau mereka. Dengan segera mengambil ponsel dan menghubungi seseorang.
" Hallo bos, saya sudah memantau mereka. Sekarang Dandi sedang berada bersama kembarannya."
" Bagus, sekarang kau mencoba mempermainkan ku? tunggu saja, aku akan buat kau tidak berdaya lagi dengan mengambil kembali kembaran mu itu." Dave dengan senyuman menyeringainya setelah menutup sambungan telepon dari anak buahnya.
Jangan lupa vote dan rate bintang 5 nya ya,
__ADS_1
Like nya jangan lupa😊