MENIKAH DENGANMU

MENIKAH DENGANMU
Ancaman Dave


__ADS_3

Dandi dan Adit sedang duduk dikursi teras rumah. Setelah dipaksa oleh Adit. Ada sesuatu yang ingin dibicarakan Adit kepada Dandi.


" Mau ngomong apa? buruan!" suruh Dandi tidak sabaran.


Adit menggigit bibir atasnya, mencoba membuang rasa takutnya. Ia belum berani mengeluarkan suara, takut Dandi terkejut.


" Aku ingin serius sama Dinda," ucap Adit menjawab suruhan Dandi.


Dandi menatap Adit dengan tajam. Ia belum mengerti maksud dari kata ingin serius yang dilontarkan Adit kepadanya.


Adit hanya menelan ludah saat Dandi menatapnya. Ia takut jika Dandi akan marah kepadanya.


" Maksudnya?" tanya Dandi lagi, mencerna arti perkataan tersebut.


" Aku ingin menikahi Dinda. Aku sangat serius kepadanya." balas Adit sedikit gugup.


Dandi terdiam. Raut wajahnya berubah. Hatinya sedikit sakit mendengar keinginan Adit tersebut. Ia sangat menyayangi Dinda, hanya Dindalah satu-satu harta yang ia punya saat ini. Bagaimana mungkin Adit ingin memiliki dan memisahkan ia dari Dinda. Sungguh berat hati ini untuk melepaskan Dinda kepada orang lain.


Adit diam dan menantikan jawaban yang akan diberikan Dandi. Ia melihat raut wajah Dandi memperlihatkan kesedihan. Ia tau, tidak semestinya ia mengutarakan begitu cepat. Bukankah Dandi telah mengizinkannya untuk mendekati Dinda. Sepertinya tidak ada yang salah, jika ia menginginkan Dinda menjadi istrinya.


Dandi tidak menjawab, ia lalu bangun dari duduknya dan pergi masuk kedalam rumah meninggalkan Adit yang masih menunggu jawaban darinya. Adit hanya menatap kepergian Dandi dengan raut wajah bingung.


" Kenapa? apa aku ada salah bicara?" tanya Adit pada dirinya. Ia pun mengikuti Dandi untuk masuk kerumah.


Dinda yang sedang menonton televisi menatap bingung tingkah Adit dan Dandi yang seperti main kejar-kejaran.


" Tunggu Dandi," panggil Adit saat Dandi akan masuk kekamarnya.


Dandi tak menoleh dan tetap masuk kekamar tanpa menghiraukan panggilan dari Adit tersebut. Berkali-kali Adit mengetuk pintu dan memanggilnya. Namun sama sekali tidak ada jawaban dan pintu sama sekali tidak dibuka. Saat Adit ingin membuka pintu kamar tersebut, ternyata kamar tersebut sudah dikunci dari dalam.


Karena Dandi tidak membuka pintu, ia pun pergi meninggalkan tempat tersebut dan duduk didepan televisi bersama Dinda.


" Kakak kenapa sama Dandi? apa kalian berantem?" tanya Dinda penasaran.


" Nggak, kita nggak berantem." jawab Adit. Ia hanya tertawa kecil mendengar pertanyaan Dinda. Bagaimana mungkinereka berantem. Ia hanya bingung, kenapa Dandi meninggalkannya sendiri tanpa menjawab pertanyaan yang sangat ia tunggu.

__ADS_1


" Kenapa kakak ngejar-ngejar Dandi? Dinda juga melihat wajah Dandi seperti marah," ucap Dinda lagi dan membuat Adit terkejut.


Apa Dandi benar-benar marah denganku?. Tapi kenapa dia marah?. Bukankah aku hanya mengatakan keinginanku untuk menikahi Dinda. Gumam Adit bingung.


" Kalian sedang mengobrol apa diluar?. Dinda juga nggak pernah melihat kalian bersama seperti tadi." ungkap Dinda dengan rasa penasarannya.


Aku sangat menginginkan kamu menjadi pendamping hidupku untuk selama-lamanya.


Adit hanya tersenyum dan tidak menjawab pertanyaan Dinda. Ia belum ingin Dinda mengetahui keinginannya. Rasanya terlalu cepat jika Dinda harus tau. Takutnya Dinda akan kaget dengan keinginannya tersebut tersebut.


Dandi menatap langit-langit kamar dengan tatapan sendu. Tanpa sadar air matanya jatuh. Tidak tau kenapa hatinya begitu sakit mendengarkan keinginan Adit.


Saat itu, ponselnya bergetar. Sebuah pesan masuk dari seseorang. Dandi menggapai ponselnya yang berada tidak jauh dari darinya. Segera ia membuka dan membaca pesan tersebut.


08XXXXXXXXXX :


Aku tau kau masih hidup. Aku juga tau kau bersama Dinda. Tapi kau harus ingat, aku tidak akan pernah melepaskan kalian berdua. Aku akan kembali membuat kalian berdua menderita. Berani sekali kau menantangku.


Matanya menatap tajam, raut wajah bengis saat ia membaca habis pesan tersebut. Dandi melempar ponselnya dengan marah dan membuat Adit dan Dinda yang berada diluar terdengar dengan suara bantingan ponsel tersebut.


" Dandi, apa kau baik-baik saja?" tanya Dinda khawatir. Ia terus menerus mengetuk pintu kamar hingga akhirnya pintu tersebut terbuka. Adit yang berada dibelakang Dinda hanya diam dan memasang raut wajah serbasalah.


" Dandi ... kamu kenapa?" tanya Dinda lagi saat ia dipeluk Dandi. Ia merasa Dandi sedang tidak baik. Jika Dandi memeluknya, maka pasti ada sesuatu.


" Dinda, aku janji akan menjagamu sampai kapanpun." ucap Dandi sambil terus memeluk Dinda erat.


Adit hanya berdiri didepan mereka. Ia juga ikut sedih melihat Dinda dan Dandi. Ingin sekali ia ikut memeluk, tapi sepertinya ia tidak ingin merusak suasana haru mereka.


Suara bell terdengar berkali-kali. Adit lalu berlari untuk membuka pintu.


Dandi segera melepaskan pelukan tersebut dan ikut pergi mengikuti Adit. Saat Adit ingin membuka pintu, Dandi dengan cekatan menahannya.


" Biar aku saja yang buka." ucap Dandi. Setelah pesan dari Dave tersebut, ia sangat posesif terhadap Dinda. Ia hanya takut Dave mendatanginya dan akan menyakiti mereka lagi.


Pintu dibuka Dandi dengan perlahan, takut jika Dave tiba-tiba datang. Apalagi jika Dave datang bersama anak buahnya.

__ADS_1


" Selamat malam." sapa pria tersebut.


Dandi mengangkat satu alisnya, sambil melihat sekeliling. Takut jika Dave memang sedang mengintainya dan orang yang dihadapannya sekarang adalah suruhannya.


" Siapa kau? ada keperluan apa kau kemari?" tanya Dandi dengan sinisnya.


" Aku Dion." jawab Dion sopan. Dion tersenyum, ia sudah menduga pasti yang berada dihadapannya sekarang adalah kembaran Dinda.


" Kak Dion." sapa Dinda kaget.


Akhirnya, Dion pun masuk setelah dipaksa oleh Dinda. Walau sebelumnya Dandi melarangnya untuk masuk dan bertemu Dinda.


" Dimana tante sama oom? apa mereka tidak ikut?" tanya Dinda penasaran melihat Dion datang sendirian.


" Mereka tidak ikut. Kakak sengaja datang sendiri." jawab Dion.


" Ada keperluan apa kau datang kemari?" tanya Dandi memotong pembicaraan mereka. Sepertinya Dandi sangat posesif jika ada laki-laki yang mendekati Dinda.


" Maaf jika kedatanganku mengganggu mu. Aku hanya ingin membicarakan hal penting bersama Dinda." jawab Dion sopan.


" Duduk dan bicara disini saja! aku akan memantau kalian disini." ucap Dandi. Ia duduk bersama mereka.


Dion yang sebenarnya ingin membicarakan sesuatu berdua sama Dinda, menelan ludah mendengar suruhan Dandi.


Bagaimana aku bisa menyampaikan hal yang begitu penting kepada Dinda, jika kau memantau dan mendengarkan pembicaraan kami. Gumam Dion. Ia tidak ingin ada siapa-siapa tau tentang hal yang ingin dikatakan kepada Dinda. Jika Dandi bersama mereka, maka sama sekali tidak akan pernah ia katakan.


" Gimana kabarmu Dinda?" tanya Dion untuk menghilang gugupnya.


Dinda hanya tertawa dengan reaksi dan tingkah Dion. Ia tau jika Dion sedang tidak nyaman. Apalagi ada Dandi yang sedang mendengarkan pembicaraan mereka.


" Dinda baik-baik saja kak." balas Dinda dengan senyuman manisnya.


Dion sesekali melirik kearah Dandi. Sangat ingin rasanya ia menendang jauh Dandi. Bagaimana bisa ia berbicara santai kepada Dinda jika dia terus saja memantau.


" Kakak ingin membicarakan apa sama Dinda?" tanya Dinda penasaran.

__ADS_1


Dandi menatap dengan tatapan penasaran. Ia ingin mendengar dan mengetahui isi pembicaraan penting mereka.


" Sebenarnya ..."


__ADS_2