
Dandi akhirnya sampai ke kediaman Adit. Wajah yang penuh dengan luka dan pakaian yang sudah compang camping.
Banyak pasang mata yang melihat kepulangan Dandi kerumah tersebut. Ada yang melihatnya dengan tatapan sedih dan ada juga yang melihatnya dengan tatapan penuh ketidaksukaan. Ya begitulah, apalagi dengan masa lalu Dandi dan yang baru terjadi. Mereka boleh saja mengatakan bahwa Dandi adalah pembawa sial di keluarga Adit. Tapi jangan pernah mengatakan Dinda juga demikian.
"Dari mana kamu?" tanya salah satu kerabat Adit dengan tatapan tidak suka.
Dandi berhenti dan duduk di kursi sambil terus mengelus-elus kakinya yang sakit. Ia melihat banyak pasang mata yang menatapnya. Ada perasaan tidak enak dan risih. Namun ia berusaha tetap tenang.
"Aku aku dari..."
"Udahlah mbak, jangan banyak tanya. Mbak nggak liat kondisi Dandi gimana? seharusnya kita obati dia dulu." potong Adit melihat kondisi Dandi yang memperihatinkan. Ia tidak ingin kerabatnya tersebut terlalu banyak bertanya. Walaupun ia tau kerabatnya tersebut tidak menyukai Dandi dan Dinda. Bukankah akan menjadi semakin rumit nantinya.
Adit pun membawa Dandi kekamar dan mengobati luka-luka disekitar wajahnya. Setelah itu, Adit menyuruh Dandi untuk membersihkan diri dan mengganti pakaian.
"Dimana Dinda?" tanya Adit saat Dandi selesai mandi.
Dandi diam dan berjalan dengan tertatih menghampiri Adit yang tampak sangat sedih dan terpukul.
"Dit, maafin aku ya," ucap Dandi sambil menepuk-nepung punggung Adit agar ia sedikit tenang. Ia tau, Adit sangat terpukul dengan kejadian tersebut. Apalagi ia harus menerima cemoohan orang-orang.
Adit menunduk dan sesekali menghembuskan nafas berat. Dandi pun mendengar jelas hembsan nafas tersebut.
"Dimana Dinda?" tanya Adit lagi. Namun pertanyaan kali ini terdengar pelan namun penuh ketegasan.
Dandi terkejut. Apa dia marah padaku?
"Dinda dibawa oleh Dave." balas Dandi dengan sedikit berat. Ia tau ini semua karenanya. Jika ia tidak pernah berurusan dengan Dave, maka semua ini tidak akan terjadi.
Adit bangun dan dengan cepat meraih kunci mobil yang terletak di atas meja.
"Mau kemana Dit?" tanya Dandi penasaran.
Adit tidak menjawab dan terus saja berjalan dengan cepat. Dandi yang tidak puas pun mengikutinya dari belakang dengan jalan yang masih pincang. Pasang mata melihat mereka yang seperti main kejar-kejaran.
"Adit, tunggu." panggil Dandi. Adit pun menghentikan langkahnya saat akan memasuki mobil.
"Tolong jangan ikuti aku. Kamu sedang sakit. Beristirahatlah." suruh Adit kepada Dandi.
__ADS_1
"Kamu mau kemana Dit?" tanya Dandi khawatir.
"Aku akan melaporkan kejadian ini kekantor polisi." jawab Adit cepat.
Saat Adit masuk kedalam mobil dan akan menutup pintu, Dandi dengan cepat menahannya.
"Jangan, kumohon jangan." pinta Dandi. Ia masih ingat betul pesan yang dikirim Dave kepadanya. Ia tidak ingin Dinda kenapa-napa nantinya. Begitupun Adit.
Adit tidak mau mendengar dan menepis tangan Dandi yang mencoba menahan kepergiannya. Ia pun berhasil menutup pintu mobil. Dengan segera ia menghidupkan mesin dan pergi dari tempat tersebut. Namun Dandi tetap saja mencoba mengejarnya. Hingga akhirnya ia sudah benar-benar pergi dari tempat tersebut.
"Aku nggak mau kamu kenapa-napa Dit. Kumohon jangan lakukan." lirih Dandi saat mobil Adit sudah tidak terlihat lagi. Ia tidak bisa menghalanginya untuk pergi. Ia juga tidak tau bagaimana nasib Dinda dan apa yang akan terjadi selanjutnya.
Adit sampai ke kantor polisi. Ia lalu melaporkan kejadian tersebut disana.
"Kamu Adit kan, yang waktu itu?" tanya Jang mengingat-ingat wajah Adit.
Adit membalas dengan tersenyum. Ia memang sudah kenal dan familiar dengan wajah Jang. "Iya saya Adit pak." balas Adit.
Jang menatap Adit dengan heran dan melihat sekitar tempat. "Ada keperluan apa kamu kemari?" tanya Jang penasaran.
Adit tidak menjawab dan hanya menghela nafas. Kenapa hidupnya terasa sangat berat sekarang.
"Dinda diculik." balas Adit dengan suara berat.
Jang memperlihatkan keterkejutannya. Bagaimana bisa Dinda diculik. Bukankah dia telah hidup aman bersama Adit dan keluarga. Ada masalah apa lagi. Siapa lagi yang menculik Dinda. Bukankah Dave pernah mengatakan bahwa dia sudah tidak tertarik lagi terhadap Dinda.
"Dave." balas Adit lagi.
Apa? bagaimana mungkin. Apa Dave sudah gila. Bagaimana bisa. Bukankah kamu sudah mengatakan tidak akan mengganggu Dinda lagi. Dasar gila. Gumam Jang kecewa.
"Apa kamu yakin?" tanya Jang mencoba meyakinkan. Mungkin saja itu hanya tebakan Adit saja. Bukankah selama ini Dave yang pernah menyiksa Dinda.
"Aku yakin pak. Dandi sendiri yang mengatakannya." balas Adit kembali.
"Dandi? kembaran Dinda?" tanya Jang meyakinkan. Adit pun mengangguk mengiyakan.
*****
__ADS_1
"Tuan, tolong lepasin Dinda." Dinda memohon agar Dave mau melepaskannya.
Dave hanya tersenyum menyeringai. Kali ini ia tidak mau menyakitinya. Ia akan melakukannya saat Dinda sudah menjadi istrinya. Tunggu saja waktu yang tepat.
Saat itu juga ponsel Dave berdering. Ia melihat ke layar ponsel. "Ngapain juga dia menelfon." ucapnya.
Jang pun menjawab panggilan tersebut dengan sedikit malas. Jika Jang menelfonnya, pasti dia hanya sibuk menanyakan urusannya saja.
"Ngapain?" tanya Dave malas.
"Dave, cepat katakan padaku? dimana kamu membawa Dinda?" tanya Jang sedikit emosi.
Sejak kapan dia begitu peduli dengan Dinda? gumamnya.
"Sejak kapan kau begitu ingin tau tentang Dinda?" tanya Dave penasaran.
"Aku tidak ada waktu. Cepat katakan dimana kau membawa Dinda?" tanya Jang mengulang pertanyaannya lagi.
Eh tunggu ... dari mana dia tau aku membawa Dinda. Apa jangan-jangan Dandi melaporkan kekantor polisi?
"Aku hanya membawanya ke suatu tempat." balasnya cuek.
"Dave, dengarkan aku. Kenapa kau membawanya. Bukankah kau sendiri yang mengatakan jika kau sudah tidak tertarik lagi dengan Dinda?" Jang mengingat kembali perkataan Dave.
Dave tersenyum dengan ingatan Jang. Tentu saja ia masih mengingat perkataannya waktu itu.
"Aku sungguh kagum denganmu Jang. Sejak kapan kau begitu khawatir jika aku menyakiti Dinda?" tanya Dave penasaran.
"Aku tidak tau. Aku mohon Dave. jangan lakukan itu. Aku hanya tidak ingin kau dilapor lagi." balas Jang.
Dave menghembus nafas kasar dan memutarkan bola matanya. Ia sangat yakin, hanya Dandi lah yang berani melaporkannya ke kantor polisi.
"Berani sekali dia melaporkanku. Tunggu saja. Akan aku buat dia semakin menderita." ucap Dave kesal.
"Tunggu Dave. Bukan Dandi orangnya. Ada orang lain yang melaporkanmu kekantor." ucap Jang.
Orang lain? orang lain mana lagi yang berani-berani menentang ku. Apa dia tidak tau siapa aku? Gumamnya lagi.
__ADS_1
"Siapa?" tanya Dave dengan penasarannya. Ia ingin tau siapa orang yang sudah berani melawannya. Apa dia sudah bosan untuk hidup.
"Aku tidak tau Dave. dilaporan juga tidak tertulis namanya. Aku mendapatkan informasi ini dari bawahanku. Aku yang mengambil alih kasus ini." ucap Jang. Ia terpaksa berbohong dengan mengatakan tidak mengetahui siapa orang yang sudah melaporkan Dave. Ia tidak ingin orang tersebut bernasib sama dengan Dandi dan Dinda. Tempat Dinda berlindung selama ini.