MENIKAH DENGANMU

MENIKAH DENGANMU
Bertemu Lagi


__ADS_3

"Kamu yang beli semua ini?" tanya Dandi saat melihat begitu banyak barang-barang belanjaan kebutuhan untuk mereka sehari-hari.


"Iya, kenapa? ada uang kamu juga koq. Hehehe." balas Dinda cengengesan. Tentu saja disana ada uang Dandi juga yang sudah diterimanya minggu lalu saat Dandi gajian.


"Aku pikir uang kamu semua. Yaudah, ayo kita susun," ucap Dandi sambil mulai mengeluarkan barang-barang dalam plastik dan menaruhnya ketempat yang sudah disediakan.


"Dan, tadi waktu aku di supermarket, aku nggak sengaja nabrak seseorang," Dinda mulai bercerita.


"Laki-laki atau perempuan? marah atau nggak?" tanya Dandi menyelidik.


"Perempuan Dan. Baik koq orangnya, Malah nggak marah sama sekali saat aku nggak sengaja nabrak dia. Dia menasehati untuk tetap berhati-hati." balas Dinda. "Masih ada juga rupanya orang kaya ramah dan sopan." sambung Dinda lagi.


"Dari mana kamu tau dia kaya atau nggak nya?" tanya Dandi penasaran.


"Saat aku keluar bawa belanjaan, aku nggak sengaja liat dia masuk mobil. Malah dibukain sama pengawalnya. Apa nggak kaya namanya ?" ucap Dinda lagi saat mengingat apa yang dilihatnya sore tadi.


"Oh." balas Dandi singkat. Menurutnya itu sama sekali tidak menarik.


"Dandi, aku serius ini. Masa jawabannya cuma oh doang. Sebel deh," cemberut Dinda.


"Terus aku harus ngapain kalau dia kaya?" tanya Dandi yang masih sibuk merapikan barang belanjaan.


"Ya nggak harus ngapa-ngapain sih. Cuma aku liat mbak tadi cantik banget lho." sambung Dinda lagi. Memang wanita yang ditemuinya saat di supermarket tadi sangat cantik. Malah lebih cantik wanita tadi dari pada dirinya. Begitulah pikirnya.


"Udah deh Din, nggak perlu terlalu di fikirkan. Kenal juga nggak." ucap Dandi bosan.


"Tapi menurutku dia cocok lho sama kamu. Kamu jomblo kan?" ucap Dinda mengejek.


"Udah deh Din. Nggak usah aneh-aneh. Aku kedalam dulu," ucap Dandi pergi masuk ke kamar nya. Rasanya melayan cerita Dinda hanya membuat kepalanya semakin pusing.


"Ihhh kan." ucap Dinda yang semakin kesal. Dandi sama sekali tidak tertarik dengan ceritanya. Apalagi selama ini dia tidak pernah melihat Dandi menggandeng seorang perempuan. Masih berharap Dandi masih normal.


"Aku penasaran, siapa nanti yang akan menjadi istri Dandi? selama ini aku tidak pernah melihatnya dekat dengan wanita manapun. Apa dia masih mencintai masa lalunya itu? tapi kan dia udah..." Dinda menggantungkan ucapannya saat mengingat kata-kata yang diceritakan suaminya waktu itu.


"Ah tidak-tidak, aku tidak boleh mengingatnya lagi." ucap Dinda membuyarkan fikiran-fikiran buruknya tentang masa lalu Dandi.

__ADS_1


Matahari menampakkan sinarnya. Suara kokokan ayam membangunkan Dinda dari tidur nyenyaknya. Rasanya baru sebentar dia terlelap dan kini pagi sudah menyapa. Dia harus segera mengantar kue-kue yang sudah dibuatnya hingga tengah malam tadi. Setiap hari dia akan begadang hingga dini hari untuk menyiapkan kue-kue yang akan dijualnya esok pagi.


"Dan, bangun!" suruh Dinda saat mengedor-ngedor pintu kamar Dandi. Memang sudah kebiasaannya saat bangun langsung mengedor-ngedor pintu kamar Dandi untuk membangunkannya.


"Jam 7, aku sudah terlambat. Berarti Dandi sudah berangkat." ucap Dinda. Hari ini dia bangun kesiangan.


Dinda bergegas untuk segera mandi lalu mengantarkan kue-kue yang sudah dibuatnya ke warung-warung.


Setelah selesai, dia langsung kembali kerumah untuk membereskan dan membersihkan rumah.


Sambil melirik kamar Dandi. " Apa dia udah pergi? tapi kenapa tidak sarapan?" menatap sepiring kue utuh yang sudah disiapkan diatas meja untuk sarapan Dandi sebelum pergi bekerja. Dia sengaja menyisihkan kue buatannya untuk sarapan pagi dia dan Dandi.


"Apa dia masih tidur?" Dinda melangkahkan laki menuju kamar Dandi. Mengetuk-ngetuk pintu namun tidak ada jawaban.


Karena tidak ada jawaban, Dinda membuka pintu kamar Dandi yang ternyata tidak dikunci.


"Eh," ucap Dinda kaget saat melihat Dandi masih terbaring di kasur nya. Dandi masih tidur dan belum bangun. Bukankah dia sudah terlambat untuk berangkat bekerja.


"Dan, Dan, ayo bangun! Kamu sudah terlambat," ucap Dinda sambil mengguncang-guncang tubuh Dandi agar segera bangun.


Dinda mengambil ponsel Dandi lalu menelpon kantor tempat Dandi bekerja untuk memberitahu jika Dandi tidak bisa bekerja karena sakit. Kebetulan Dandi sudah menyimpan kontak kantor tempatnya bekerja.


"Iya, nanti saya akan kesana untuk menggantikan Dandi," ucap Dinda setelah itu panggilan pun terputus.


Dandi membuka matanya perlahan. Kepalanya masih terasa berat dan badannya terasa panas. "Dinda, kamu sudah bangun? sudah jam berapa?" tanya Dandi sambil berusaha untuk bangun.


"Eh, kamu jangan bangun. Kamu sakit Dan." ucap Dinda.


"Aku harus bekerja Din. Ya tuhan, aku sudah terlambat." ucap Dandi panik saat melirik jam dinding kamarnya. Jam sudah menunjukkan pukul 8 pagi dan dia sudah telat satu jam.


"Sudah-sudah, kamu jangan khawatir. Aku sudah memberitahu pihak kantor jika kamu sedang sakit dan mereka mengizinkan. Tunggu disini aku ambil kompres." Dinda pun keluar untuk mengambil air dan handuk kecil. Setelah itu dia kembali lagi kekamar Dandi. Mengompres kepala Dandi agar panasnya turun.


"Kamu mau kemana?" tanya Dandi saat melihat Dinda mengantarkan sarapan dan sudah berpakaian rapi.


"Aku akan ke Bank," balas Dinda.

__ADS_1


"Ngapain kamu kesana?" tanya Dandi penasaran. Jika ingin menemui Adit, bukannya Adit sudah tidak ada disana lagi. Lalu untuk apa Dinda kesana? apa dia akan menggantikan tugasnya sebagai cleaning service?


"Aku tidak mau kamu menggantikan pekerjaanku! biar aku saja yang mengerjakannya." Dandi melarang. Dia perfikir Dinda akan mengganti pekerjaannya karena dia sedang sakit.


"Aku kesana bukan untuk menggantikan pekerjaanmu Dan" balas Dinda meyakinkan.


"Lalu?" tanya Dandi penasaran.


"Tadi pihak kantor menyuruh aku untuk menggantikan kamu. Katanya ada rapat bagi semua bawahan dan pekerja cleaning service seperti kamu." ucap Dinda menjelaskan.


"Rapat? koq aku nggak tau?" ucap Dandi sedikit bingung. Bukannya yang namanya rapat hanya untuk para atasan dan yang berstatus pegawai. Tapi kenapa para bawahan dan cleaning service sepertinya harus rapat?


"Mereka juga baru memberitahu tadi Dan. Katanya ini sangat mendadak dan aku harus menggantikan mu sementara. Yaudah ya, makan sarapannya !Aku pergi dulu, takut terlambat." ucap Dinda lalu pergi meninggalkan Dandi yang masih merasa sedikit bingung.


Dinda sampai dikantor Bank tempat Dandi bekerja. Sesampai disana dia langsung diarahkan untuk memasuki ruangan rapat. Tampak ada sekitar 10 orang cleaning service dan semua para pegawai Bank juga berada disana.


Awalnya Dinda bingung, kenapa mereka semua digabungkan. Tapi dia tetap masuk dan duduk di kursi yang sudah disusun disana.


Mereka semua sudah duduk di bangku masing-masing. Kini menunggu Direktur masuk dan memberikan isi rapat dalam pertemuan ini.


Mata Dinda langsung tertuju ke pintu saat seseorang masuk disana. Saat lentera mata mereka saling bertemu, keduanya hanya tersenyum. Bukannya dia mbak-mbak yang aku temui di supermarket kemaren? kenapa sekarang dia ada disini? bathin Dinda menerka-nerka.


Semua mata tertuju padanya. Ingin mengetahui apa yang akan disampaikan pada pertemuan ini dan untuk apa mereka dikumpulkan bersama? Tampak mereka saling berbisik-bisik satu sama lain.


*Siapa dia? apa dia kepala Direktur yang baru?


Apa dia putri pemilik Bank ini?


Cantik sekali dia? apa dia sudah menikah? tapi wajahnya sangat muda*.


"Selamat pagi semuanya," sapa wanita itu membuka suara.


"Selamat pagi." balas mereka serempak.


"Perkenalkan, saya Nazumi Natsir kepala Direktur baru di Bank ini. Senang bertemu dengan kalian semua." ucap Nazumi kembali.

__ADS_1


Nazumi? ternyata namanya Nazumi. Nama yang cantik, persis seperti orangnya. Puji Dinda dalam hati.


__ADS_2