MENIKAH DENGANMU

MENIKAH DENGANMU
Perubahan sikap Adit


__ADS_3

"Tuan Dave, ada yang membesuk anda." ucap pegawai kepolisian wanita saat menghampiri Dave di tahanan ya.


Dave mengembangkan senyuman. Akhirnya ada juga yang membesuknya. Dia berharap itu keluarganya atau pun Dinda. Dengan perasaan senang, dia mengikuti langkah pegawai itu untuk menuju ruang pertemuan yang dibatasi oleh kaca.


Wanita itu tersenyum melihat kedatangan Dave. Dia melihat dari kejauhan Dave mengembangkan senyuman. Tapi seketika senyuman yang tadi merekah kini layu. Wanita yang dama sekali tidak diharapkan oleh Dave.


"Bagaimana kabarmu Dave?" tanya Cindy tersenyum.


"Untuk apa kau kemari? aku tidak butuh kau membesukku." balas Dave ketus. Orang yang diharapkannya untuk membesuknya dipenjara sama sekali tidak pernah datang. Malah orang yang sama sekali tidak diharapkannya yang datang membesuk.


"Kau tidak senang aku datang?" tanya Cindy sedikit kesal. Dia melihat bagaimana reaksi Dave saat mengetahui bahwa dia lah yang sedang membesuknya.


"Tidak ada gunanya kau datang." ucap Dave.


"Apa adik, ups maksudku istrimu itu sudah datang membesuk?" tanya Cindy menyindir.


Dave hanya diam. Memang Dinda sama sekali tidak pernh membesuknya. Sudah lama sekali dia tidak bertemu Dinda. Rasa rindu dan cintanya terhadap Dinda semakin dalam.


"Untuk apa kau menanyakan itu? sudahlah, lebih baik kau pergi." suruh Dave yang sudah muak melihat wajah Cindy.


"Kenapa? Dave, Dave. Apa kau tidak tau bagaimana istrimu itu diluar? kau dipenjara, sedangkan dia sibuk dengan selingkuhan nya. Malang sekali nasibmu.Dave." ucap Cindy memprovokasi.


Jadi dia memang benar-benar sudah tidak menginginkan ku lagi? dia benar-benar ingin bercerai denganku?


Berdiri dari kursinya. "Sudahlah. Lebih baik kau pergi!" suruh Dave lagi. Dia melangkahkan kaki meninggalkan Cindy yang masih duduk.


"Dave, aku akan menunggumu. Aku tau Dinda tidak mencintaimu. Aku akan menunggumu." ucap Cindy dan mmbuat Dave sedikit tertegun.


"Maaf Cindy, aku sudah tidak mencintaimu lagi. Dihatiku hanya ada nama Dinda. Aku tidak peduli jika fia tidak mencintaimu. Tapi aku akan terus mengejar cintanya." ucap Dave lalu pergi meninggalkan Cindy yang tampak kesal.


"Sialan. Awas kau Dinda!" ucap Cindy penuh emosi.


"Dinda, kenapa kamu diam saja? apa sudah tidak suka lagi kakak bawa ke taman?" tanya Adit heran. Sedari tadi Dinda hanya banyak diam saat berada disampingnya.


"Ah tidak kak, bukan begitu. Dinda suka koq." balas Dinda cepat.


"Kamu nggak kenapa-napa kan?" tanya Adit khawatir.


"Dinda nggak apa-apa kak. Dinda baik-baik aja." balas Dinda.


Memegang kedua tangan Dinda lembut. "Dinda, kamu tau kan bagaimana perasaan kakak sama kamu? kakak hanya berharap kamu tidak mematahkannya." ucap Adit tulus.


Aku harus bagaimana? maaf kak, aku sama sekali sudah tidak mencintai kakak. Aku hanya mencintai suamiku.

__ADS_1


"Dinda?" panggil Adit melihat Dinda tidak menatapnya.


"Ah iya kak. Maaf." ucap Dinda gugup.


"Dinda, kamu kenapa sih? kenapa sikapmu berubah?" tanya Adit lagi.


"Melepaskan pegangan tangan. "Dinda tidak berubah kak. Dinda masih sama seperti Dinda yang dulu." balas Dinda.


Ingin sekali dia menangis. Tapi dia tidak mau memperlihatkannya dihadapan Adit. Dia sangat merasa serbasalah kepada Adit.


"Dinda, kapan kamu akan mengurus surat cerai nya?" tanya Adit dan mmbuat Dinda terkejut.


"Kenapa?" tanya Adit lagi melihat reaksi Dinda yang seakan kaget mendengar pernyataannya.


Kak Adit, Dinda minta maaf. Dinda tidak akan menceraikan Kak Dave.


"Kak Adit, Dinda minta maaf." ucap Dinda dan membuat Adit semakin kebingungan. Untuk apa juga Dinda meminta maaf kepadanya. Rasanya Dinda tidak ada salah kepadanya. Lalu kenapa dia malah minta maaf?


"Minta maaf kenapa Dinda? jangan bikin kakak bertambah bingung deh." ucap Adit bercanda.


"Dinda tidak mau bercerai dengan Kak Dave!" ucap Dinda dengan suara sayu menahan tangis.


Adit begitu kaget dan seakan tidak percaya dengan kata-kata yang keluar dari mulut Dinda. "Maksud kamu apa Dinda? kamu nggak lagi bercanda kan?" tanya Adit yang masih syok.


Dinda menggeleng-gelangkan kepalanya. " Tidak kak, Dinda tidak sedang bercanda. Dinda serius." balas Dinda dengan air mata yang sudah jatuh. Dia sudah tidak bisa lagi menahan air matanya.


"Maaf kak Adit, Dinda sangat mencintai kak Dave." balas Dinda.


"Apa?"


"Cinta?"


"Dinda, kamu masih waraskan? kamu bilang apa tadi? cinta?"


"Apa kamu lupa bagaimana dia memperlakukan mu selama ini? apa kamu lupa jika dia yang sudah menghancurkan kehidupan kalian? itu.yang kamu bilang cinta?" ucap Adit kesal.


"Maaf kak Adit." hanya kata maaf yang bisa diucapkan Dinda. Dia sudah tidak bisa lagi berkata-kata. Dia begitu sangat serbasalah dan merasa sangat kasihan kepada Adit.


"Jadi ini sebabnya sikapmu terhadap kakak berubah? dihatimu sudah tidak ada nama kakak lagi?" tanya Adit mencerca. Dia begitu sangat tidak terima dengan semua ini. Ternyata cintanya selama ini hanya bertepuk sebelah tangan.


"Dinda tau kakak kecewa. Tapi Dinda tidak bisa membohongi perasaan Dinda." ucap Dinda.


"Jadi, perjuangan kakak selama ini hanya sia-sia?" tanya Adit marah.

__ADS_1


"Maaf kak." berkali-kali dia mengatakan maaf agar Adit bisa menerimanya.


"Maaf? hanya dengan kata maaf kamu pikir semuanya bisa selesai begitu aja?" tanya Adit yang semakin emosi.


Kali ini Dinda tidakenjawab dan hanya menundukkan kepalanya. Dia juga begitu takut. Dia tidak menyangka Adit akan bereaksi seperti sekarang. Adit yang sangat lemah lembut kepadanya tiba-tiba berubah menjadi pria arogan.


"Baiklah. Kalau gitu, kamu harus mendapatkannya. Kakak tidak butuh kata-kata maaf darimu." Adit langsung menarik tangan Dinda dengan kasar menuju mobil.


"Kak, apa yang kakak lakukan? lepaskan!" pinta Dinda. Dia begitu kaget melihat sikap Adit yang tiba-tiba berubah menjadi kasar kepadanya.


Membuka pintu mobil dan melempar tubuh Dinda kedalam. Dia lalu mengitari mobil dan masuk kedalam. Dia melajukan kendaraannya pergi meninggalkan taman kota tempat mereka tadi.


"Kak, kita mau kemana?" tanya Dinda panik. Dia menyadari Adit membawanya kearah jalan yang berbeda.


Adit diam tidak menjawab pertanyaan Dinda dan hanya fokus menyetir.


Air mata Dinda semakin deras. Tangisan nya kini semakin pecah. "Kak, kita mau kemana? Dinda mau pulang." ucap Dinda tersedan-sedan karena tangisan nya.


Adit masih tetap diam dan terus melaju kan kendaraannya.


Dinda yang panik lalu mengambil ponselnya untuk menghubungi Dandi. Belum sempat dia menelpon Dandi, ponselnya sudah dirampas terlebih dahulu oleh Adit.


"Kak Adit, kenapa kakak seperti ini?" tanya Dinda yang semakin panik.


"DIAM, aku bilang DIIIAAAAAMM" bentak Adit dan membuat Dinda semakin ketakutan. Bahkan Adit menyebut dengan sebutan aku.


Dinda diam, namun suara isak tangisnya masih terdengar.


"Maaf, aku terpaksa melakukannya." ucap Adit saat mobilnya berhenti didaerah yang sangt sunyi.


Dinda melihat sekitar dengan perasaan panik. Dia ingin membuka pintu mobil, namun pintunya terkunci. Hingga dia tidak bisa untuk keluar.


"Apa yang kakak lakukan? lepaskan kak!" pinta Dinda saat tangan Adit mulai menjajahi area tubuhnya.


Adit tidak menghiraukan dan masih sibuk menyentuh lekuk tubuh Dinda. Dia mulai memainkan jarinya diarea bibir Dinda dengan lembut.


"Kak, tolong jangan seperti ini. Kenapa kakak berubah?" ucapnya disela-sela berusaha menepis tangan nakal Adit.


"Aku tidak pernah berubah. Aku tetap Adit yang dulu. Hanya kau yang berubah." balas Adit emosi. "Sekarang, kau harus mendapatkan hukumannya." ucap Adit. Dia langsung menarik belakang leher Dinda lalu menciumnya dengan sangat buas.


Dinda terus berusaha melepaskan ciuman tersebut. Tapi dia sama sekali tidak mampu karena Adit sudah menguncinya. Dia hanya memukul-mukul dada bidang Adit agar Adit melepaskannya.


Adit melepaskan ciuman buasnya. Matanya terpaku melihat wajah Dinda yang sembab dan dipenuhi dengan air mata.

__ADS_1


Adit segera mengelap air mata Dinda dengan lembut. Namun Dinda segera menepis tangan Adit dengan kasar. Sepertinya dia begitu sangat sensitif terhadap sentuhan dari Adit.


Adit yang kesal dengan perlakuan Dinda tanpa memperdulikan tangisan Dinda yang semakin kuat, dia langsung membaringkan tubuh Dinda dan menduduki tubuh Dinda lalu mnencumbunya dengan kasar.


__ADS_2