MENIKAH DENGANMU

MENIKAH DENGANMU
Masa Lalu Dandi Part 2


__ADS_3

"Dia siapa?" tanya wanita itu kepada Dave.


Dave langsung menyenggol lengan Dandi agar dia memperkenalkan diri. "A aku Dandi." ucap Dandi gugup sambil mengulurkan jabat tangan.


Wanita itu tersenyum geli melihat tingkah bocah didepannnya ini. "Perkenalkan, aku Naomi. Panggil aja kak Naomi." balas Naomi.


Ingin sekali dia melompat dihamparan bunga sangking senangnya. Akhirnya dia bisa melihat secara langsung dan merasakan sentuhan tangan dengan cewek yang disukainya.


Senyum-senyum malu. "Kakak Naomi cantik." ucap Dandi. Sebenarnya dia sudah mengetahui nama wanita didepannya ini Naomi. Nama tersebut dia dapatkan dari tetangga teman sebangku nya saat masih duduk di bangku kelas sepuluh.


Plaak, dengan cepat Dandi menjitak dahi Dandi.


"Nih bocah sempat-sempatnya ngegombal. Maafin adik aku ya. Dia kebiasaan keg gini." ucap Dave.


"Nggak apa-apa koq. Adik kamu manis juga ya." ucap Naomi.


Jiwanya seakan melayang ke angkasa. Betapa bahagianya dia dipuji terang-terangan oleh wanita idaman nya. "Terima kasih kak Naomi" balas Dandi malu-malu.


Nih bocah kenapa sih? siapa sih sebenarnya yang lagi jatuh cinta? aku apa dia? aneh banget deh.


"Ngomong-ngomong, kamu kenapa nggak sekolah?" tanya Naomi yang melihat Dandi berpakaian seragam sekolah. Apalagi waktu sudah menunjukkan jam pelajaran pertama disekolah.


Dandi langsung melirik Dave memberi kode. Dia tidak ingin terlihat seperti murid bandel yang suka bolos didepan wanita idaman nya.


"Anu, dia tadi terlambat masuk. Jadi terpaksa aku jemput dan bawa kesini. Maaf ya kalau kehadiran dia membuat kamu terganggu." balas Dave.


Sialan lu bang. Lu yang ngajak gua bolos. Malah lu bilang lagi bawa gue kesini karena terpaksa. Awas lu ya bang!


Naomi meng geleng-geleng dan tersenyum. "Ah nggak koq. Aku sama sekali nggak terganggu. Malahan aku senang dia disini." sahut Naomi.


"Kenapa kamu senyum-senyum?" tanya Dave bisik-bisik pada Dandi. Dari tadi tingkahnya terlihat aneh.


Dandi segera tersadar dan langsung meng geleng-geleng kepalanya. "Nggak ada apa-apa bang." balas Dandi.


Aku ngapain sih? aku kan disini cuma nemenin bang Dave. Ngapain aku yang terlihat seperti sedang mengajak bang Dave ketemu cewek. Ya walaupun tuh cewek aku juga naksir.

__ADS_1


Hampir satu jam mereka berada dicafe dan mengobrol. Hingga akhirnya Naomi berpamitan karena ada kelas.


Berjalan keluar cafe menuju parkiran mobil. "Woy, kamu suka ya sama cewek tadi?" tanya Dave tanpa basa-basi.


Dandi spontan melambai-lambaikan tangan dan menggeleng. Dia tidak ingin bersaing dengan Dave. Biarlah kali ini Dave yang menang. "Nggak koq bang. Aku sama sekali nggak naksir sama cewek tadi." balas Dandi gugup.


Membuka pintu mobil dan duduk dibalik kemudi diikuti Dandi. "Kamu yakin? jujur aja. Abang nggak bakalan marah koq." ucap Dave.


Dandi menatap Dave tidak percaya. Semudah itu dia mengatakan? biasanya pria akan marah jika ada orang lain yang menyainginya untuk merebutkan seorang wanita yang sama-sama mereka sukai.


Menjalankan mobilnya meninggalkan area parkir. "Udah, slow aja sama abang. Abang bukan tipe orang yang takut disaingi." ucap Dave.


Meremas-remas jari tangannya. "Anu bang. Sebenarnya cewek yang aku taksir itu cewek tadi. Tapi abang jangan marah ya!" balas Dandi yang sebenarnya masih takut dan merasa serba salah pada Dave.


Dave hanya tertawa. "Kan abang udah bilang nggak akan marah. Itu hak kamu koq untuk menyukai wanita manapun. Walaupun sekarang kita menyukai cewek yang sama." sambung Dave lagi.


"Iya bang. Aku juga nggak tau kenapa aku bisa suka sama dia. Tapi aku sadar diri koq bang. Aku nggak bakalan dianggap sama dia. Apalagi aku lebih muda dari dia." ucap Dandi pasrah. Tidak mungkin Naomi mau menerimanya. Apalagi umur mereka terpaut 5 tahun.


"Kamu jangan pesimis gitu. Kata kan sejujurnya sama dia." ucap Dave menyemangati.


"Abang memang udah ungkapin perasaan abang sama dia. Tapi dia belum menjawab sama sekali. Itu hak dia mau milih abang atau milih kamu. Kalau seandainya dia malah milih kamu juga abang nggak bakalan marah koq. Masih banyak cewek lain." balas Dave. Dia juga tidak ingin terlihat egois. Apalagi dia tau ini merupakan pengalaman pertama bagi Dandi. Dia juga tidak ingin merusak kesempatan yang ada untuk Dandi kali ini. Biarkanlah Dandi bahagia dengan caranya.


"Kalau dia milih abang?" tanya Dandi sedikit khawatir.


"Kalau dia milih abang ya rezeki abang. Kamu nggak boleh iri ya. Masih banyak koq cewek lain diluar sana." balas Dave.


Dandi hanya diam. Memang masih banyak wanita lain diluar sana. Tapi hatinya tetap milik Naomi. Sudah tiga tahun dia menyimpan nama Naomi dihatinya. Sangat sulit untuk mengganti nama orang lain dihatinya lagi.


Waktu menunjukkan pukul setengah tiga sore. Ini merupakan waktu pulang sekolah. "Bang, ayo pulang. Nanti takut bunda curiga." ucap Dandi gelisah.


"Yaudah ayo. Ribet amat sih bawa bocah." sungut Dave. Mereka pun meninggalkan PS yang mereka kunjungi tadi untuk bermain game.


"Bang, makasih ya." ucap Dandi turun dari mobil saat sudah sampai tepat didepan rumahnya.


"Tunggu!" panggil Dave saat Dandi akan menutup pintu mobilnya.

__ADS_1


"Kenapa bang?" tanya Dandi lagi.


"Malam nanti abang jemput. Abang antar kamu ketemu Naomi." ucap Dave.


Berdiri mematung. "Aku takut bang. Lain kali aja ya bang." tolak Dandi. Dia masih merasa takut untuk mengatakan isi hatinya kepada Naomi.


"Jangan nyia-nyiain kesempatan. Nanti kalau dia nerima abang duluan nanti kamu nyesal." ucap Dave lagi.


Dandi menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal. "Yaudah bang. Nanti malam aku ikut!" balas Dandi lagi.


"Yaudah, abang pulang dulu." ucap Dave sembari meninggalkan kediaman Dandi.


"Assalamualaikum." ucap Dandi saat masuk kerumah.


"Tumben lama Dan? biasanya kamu duluan yang pulang baru aku." ucap Dinda heran.


"Aku tadi piket dulu makanya lama." balas Dandi berbohong.


"Kamu diantar siapa tadi? temanmu orang kaya kayaknya ya." ucap Dinda penasaran. Dia memang tadi sempat melihat ada mobil terparkir didepan jalan rumahnya saat itu juga Dandi turun dari sana.


"Nggak koq. Itu mobil ayah temanku. Tadi dia ngajak pulang bareng." balas Dandi lagi lalu berlari menuju kamarnya.


"Kan sama aja itu namanya. Berarti teman kamu juga kaya. Kalau bapaknya kaya otomatis anaknya juga kaya." ucap Dinda menatap punggung Dandi yang sudah menjauh darinya.


Malam itu, Dandi begitu gelisah dikamarnya. Beberapa kali dia bolak-balik berjalan untuk mengurangi rasa gugupnya. Dia sudah bersiap-siap akan pergi. Apalagi barusan dia menerima pesan dari Dave bahwa dia sudah menunggu didepan jalan.


"Mau kemana Dan?" tanya Dinda saat melihat Dandi berpakaian rapi.


"Mau keluar sebentar." balas Dandi.


"Kemana?" tanya Dinda penasaran.


"Ketemu teman." balas Dandi lagi.


"Ketemu teman koq minyak wanginya sebotol? mau ketemu teman apa ketemu cewek?" goda Dinda sambil melirik sebuah kotak kecil ditangan Dandi.

__ADS_1


Dandi buru-buru menyembunyikan kotak kecil tersebut. Dengan langkah cepat dia langsung meninggalkan Dinda yang masih menggodanya. Jika kelamaan disana, maka akan semakin banyak lagi pertanyaan-pertanyaan yang akan diajukan Dinda kepadanya.


__ADS_2