
"Bang, bang Dave. Abang dimana?" tanya Dandi tidak sabaran.
"Abang lagi sama Naomi ini. Kenapa?" tanya Dave penasaran.
"Bang, lebih baik abang tinggalin aja si Naomi. Dia bukan perempuan baik-baik!" ucap Dandi lagi.
Melirik kearah Naomi yang duduk disebelahnya. "Kamu ngomong apa sih Dandi? koq jadi begini?" tanya Dave meminta penjelasan.
"Naomi... " belum sempat dia menjelaskan, ponselnya sudah dirampas Naomi terlebih dahulu.
"Kamu telponan sama siapa?" tanya Naomi yang tidak senang.
"Itu Dandi yang. Sini balikin. Dia mau ngomong sama aku," ucap Dave sambil meraih ponselnya kembali.
"Hallo Dandi, ini Naomi. Maaf ya, Kita lagi sibuk. Nanti aja telpon lagi." Naomi pun menutup panggilan.
"Kenapa dimatiin?" tanya Dave.
"Kenapa sih dia suka ganggu? kamu juga, suka sekali ngajak-ngajak dia kalau kita keluar." ucap Naomi kesal.
"Ya kan nggak apa-apa. Lagian dia udah aku anggap kaya adikku sendiri." balas Dave dan membuat Naomi tidak senang.
"Emang tadi dia ngomong apa?" tanya Naomi penasaran.
Apa ya maksud Dandi ngomong kaya gitu? nggak mungkin Naomi bukan perempuan baik-baik.
"Nggak ada apa-apa koq. Dia cuma mau ngajak main PS aja," balas Dave.
Keesokan harinya, Dave dijemput oleh Dave sepulang sekolah. Dandi yang meminta dia m njemputnya karena ingin mengatakan kebenarannya.
"Tumben nih nyuruh abang jemput?" tanya Dave penasaran. Biasanya Dandi tidak pernah menyuruhnya menjemput. Jika ditawarkan untuk dijemput biasanya Dandi menolak.
"Ya lagi pengen nyusahin abang aja hari ini," balas Dandi sambil menutup kembali pintu mobil.
"Langsung abang antar pulang atau keluyuran dulu?" tanya Dave memastikan. Takutnya jika dia langsung mengajak Dandi untuk pergi dia menolak.
"Kita ketempat biasa aja bang. Ada yang harus aku sampaikan sama abang." ucap Dandi dan membuat Dave sedikit menaikkan alisnya karena bingung.
__ADS_1
Mau ngomong apa nih bocah? kayak penting amat?
"Yaudah, ngomong langsung aja sekarang. Jangan bikin abang penasaran. Kelamaan nunggu ke stadion nya." ucap Dave tidak sabaran.
Dandi hanya diam Dia masih menutup rapat mulutnya. Hingga akhirnya sampailah mereka ketempat tujuan.
"Mau ngomong apa? buruan! udah kaya orang pacaran aja harus kesini," ucap Dave sedikit kesal.
"Bang, jauhi Naomi!" ucap Dandi.
Dave kaget mendengar penuturan Dandi. Dia tau Dandi menyukai Naomi. Tapi bukannya dia sudah kalah dan kenapa juga menyuruhnya untuk menjauhi pacarnya sendiri. Apa Dandi berusaha untuk menjatuhkannya?
"Kamu ngomong apa sih Dan? abang benar-benar nggak ngerti sama kamu." ucap Dave kebingungan.
"Naomi bukan cewek baik-baik. Dia berselingkuh dari abang." tutur Dandi.
Seketika emosi Dave naik. Dia kaget saat Dandi mengatakan Naomi berselingkuh darinya. Itu sama sekali tidak mungkin. "Apa kamu bilang? kalau ngomong jangan sembarangan ya!" ancam Dave sambil menarik kerah baju Dandi.
Dandi sedikit kaget dengan reaksi Dave. Tidak pernah sekalipun selama mereka bersahabat Dave memperlakukannya seperti ini ketika emosi. Lalu hanya karena mengatakan kebenaran tentang Naomi dia menjadi seperti ini. Apa sebegitu terpengaruh nya Dave dengan kepolosan Naomi yang hanya topeng itu?
"Bang, aku mengatakan yang sebenarnya. Aku bersumpah!" ucap Dandi.
"Bang, jangan terlalu percaya dengan kepolosannya. Semua itu hanya topeng. Aku juga selalu memergokinya masuk ditempat haram itu." ucap Dandi lagi.
Plaaaak
Dengan emosi Dave menghantam wajah Dave dengan tangannya.
Dandi tersungkur dan hidungnya mengeluarkan darah segar. Dia berusaha bangkit dan menyeka darahnya. "Bang, aku tau abang marah. Tapi aku bersumpah aku mengatakan dengan jujur." ucap Dandi lagi. Dia tidak melawan dan hanya terus memberi penjelasan.
"Abang nggak mau hanya omong kosong. Abang mau bukti!" ucap Dave yang masih emosi.
Mengeluarkan ponselnya dari ransel. "Aku punya buktinya bang. Ini buktinya," sambil menunjukkan foto-foto yang sudah diambilnya saat membututi Naomi.
"Nggak mungkin ini Naomi. Muka nya aja nggak jelas. Pasti kamu bohong kan?" ucap Dave yang sejatinya tidak mempercayai dengan foto-foto yang ditunjukkan Dandi kepadanya. Apalagi foto tersebut tidak memperlihatkan dengan jelas wajah Naomi yang sbenar.
"Sumpah bang, ini Naomi!" ucap Dave meyakinkan Dave. Tapi tampaknya Dave sama sekali tidak percaya.
__ADS_1
"Maaf Dan, abang nggak percaya. Nggak mungkin Naomi seperti itu." ucap Dave lagi.
"Kalau abang nggak percaya, abang boleh lihat langsung ketempat itu. Aku selalu memergokinya saat pulang sekolah." ucap Dandi tidak mau menyerah. Dia bertekat akan membuktikan kebenarannya. Dengan begitu Dave akan melihat dengan mata kepalanya sendiri.
Mereka pun meluncur menuju ketempat yang sudah direncanakan. Mereka memantau dari seberang jalan.
"Mana Dan? koq nggak ada? kamu pasti bohong kan?" ucap Dave yang sudah bosan menunggu.
Kenapa nggak ada sih? biasanya jam segini juga dia udah nongol.
"Tunggu sebentar lagi aja bang. Mungkin sebentar lagi dia muncul." ucap Dandi sambil menoleh kiri kanan mencari keberadaan Naomi. Namum orang yang ditunggu tak kunjung menampakkan wajahnya.
Hampir tiga jam mereka menunggu. Langit sudah menampakkan gelapnya. Dave begitu muak dan Dandi tampak begitu gelisah.
"Mana? mana buktinya Dandi?" ucap Dave yang kesal. Capek-capek menunggu tapi orang yang tunggu tidak terlihat batang hidungnya.
"Biasanya dia kesana bang. Aku juga nggak tau kenapa dia nggak ada. Atau mungkin dia udah didalam. Coba abang periksa. Aku nggak bisa kesana." Dandi mencoba memberi saran.
Dengan malas, Dave pun menuruti perintah Dandi. Mau tidak mau dia masuk kesana. Padahal dia sudah berjanji tidak akan pernah masuk kesana lagi.
Dandi masuk dan ngan tergesa-gesa. Dilihatnya didalam yang penuh dan sesak. Belum lagi hentakan musik yang memekakkan telinga.
"Hy sayang, mau ditemenin?" ucap wanita penggoda yang menghampirinya.
Dengan jijik Dave melepaskan tangan wanita yang sudah menyentuhnya. "Pergi! aku tidak butuh kalian." ucap Dave kesal.
Dia melihat sekeliling dan mencari-cari keberadaan Naomi. "Aku yakin, dia tidak mungkin berada ditempat seperti ini." ucap Dave.
Setelah orang yang dicarinya tidak ketemu, dia memutuskan untuk kembali keluar.
"Mana Dandi? nggak ada Naomi disana." marah Dave.
Nggak mungkin. Pasti dia ada disana.
"Bang sudah melihat kesemua tempat? mungkin aja abang nggak memeriksa," ucap Dave.
"Abang udah memeriksa semuanya. Sampai kamar-kamar tempat pesta sex juga udah abang periksa. Nggak ada Naomi nya Dandi. Nggak ada!!!!" ucap Dave meyakinkan Dandi jika yang dikatakan Dandi semua itu tidak benar.
__ADS_1
Bagaimana lagi aku bisa membuktikannya . Bang Dave sama sekali tidak percaya.
"Yaudah, abang antar kamu pulang. Bosan abang kaya gini sama kamu. Omongannya sama sekali tidak bisa dipercaya." ucap Dave dan membuat Dandi sedih.