MENIKAH DENGANMU

MENIKAH DENGANMU
Apartemen Dave part 2


__ADS_3

Pagi itu, Dinda bangun lebih awal. Ia bingung harus melakukan apa. Ingin keluar namun pintu sudah dikunci rapat. Ingin membangunkan Dave, tapi takut disembur.


Ia melangkahkan kaki kearah kamar mandi disana. Ia sama sekali belum mandi dari semalam. Apalagi pakaian pengantin yang ia pakai belum diganti-ganti.


Dinda pun masuk kedalam kamar mandi dan membersihkan diri. Setelah lima belas menit ia didalam, Dinda pun keluar menggunakan kemban handuk. Ia tidak tau handuk siapa yang ia pakai. Ia menemukannya diatas meja samping pintu kamar mandi. Tidak penting milik siapa, yang penting ia bisa mengeringkan badan menggunakan handuk tersebut.


Saat itu, Dave bangun dari tidurnya. Dinda yang menyadari lalu masuk kembali kedalam kamar mandi. Ia takut dengan apa yang dipakainya sekarang akan membuat Dave melakukan sesuatu kepadanya.


Seperti biasanya saat bangun tidur, Dave akan langsung mandi. Saat ia menuju kamar mandi dan menekan ganggang pintu, pintu tersebut dikunci dari dalam.


"Hey, siapa didalam?" tanya Dave sambil terus mengedor-ngedor pintu.


Bagaimana ini? apa aku keluar saja. Tidak mungkin aku menggunakan pakaian itu lagi. Gumamnya Dinda panik.


Dinda sama sekali tidak menjawab pertanyaan Dave. Perasaannya sungguh cemas dan khawatir.


"Hey, keluar. Jika kau tidak keluar, pintu ini akan aku dobrak." ucap Dave kesal. Baru saja bangun tidur, sudah ada yang berani memancing kesabarannya.


Akhirnya pintu tersebut dibuka Dinda. Namun, Dinda tidak keluar dan terus saja menahan pintu saat Dave mencoba masuk.


"Jangan Tuan. Dinda ..." belum sempat ia menyelesaikan kata-katanya, pintu pun dibuka dengan paksa oleh Dave.


Dinda yang panik lalu menyilangkan kedua tangannya ke dada. Perasaannya sungguh panik. Apalagi Dave menatapnya dari ujung kaki hingga naik ke kepala. Tatapan seperti seorang mesum.


"Keluar! aku sama sekali tidak tertarik dengan tubuh jelekmu itu." usir Dave.


Dinda pun keluar dengan tergesa-gesa. Takut nantinya Dave berubah pikiran menjadi liar.


Dinda keluar dan memandangi sekitar kamar. Ia baru mengingat, jika ia sudah tidak punya pakaian lagi. Pakaian pengantin yang dipakainya tadi sudah kotor dan bau. Kini ia hanya berdiri disudut jendela. Menutupi tubuhnya dengan tirai besar disana.


Setelah hampir sepuluh menit dia berdiri, Dave pun keluar dengan telanjang dada. Terlihat bentuk tubuhnya yang sempurna dan otot-otot perutnya seperti roti sobek.


Dasar wanita gila. Apa lagi yang dilakukannya disana. Gumam Dave saat melihat Dinda bersembunyi dibalik tirai jendela.


Dave berjalan menuju lembari pakaiannya. Memilih pakaian yang sesuai yang akan dikenakan. Ia pun memilih setelan pakaian jas warna biru kesukaannya. Setelah Dave selesai mengenakan pakaiannya, ia pun berjalan menghampiri jendela. Membuka tirai tersebut dengan kasar.

__ADS_1


"Ngapain kamu?" tanya Dave dengan suara tinggi. Dinda hanya menatap sekilas dan terus saja menyilangkan kedua tangannya kedada.


"Ma ma maaf Tuan, Dinda tidak punya pakaian." jawabnya jujur. Kali ini ia merasa sangat kedinginan. Apalagi hari masih pagi dan AC didalam kamar tidak dimatikan.


Dave menatap Dinda yang sepertinya ketakutan. Pikiran liarnya muncul saat melihat bentuk tubuh Dinda yang sempurna. Kulit putih dan paha yang mulus. Namun dengan segera ia membuang pikiran kotornya tersebut. Tujuannya untuk menyiksa, bukan untuk memperkosa. Takut nantinya masalahnya akan semakin rumit.


Dave memutar bola matanya. Dengan segera ia meraih ponsel dan menghubungi Celine sekretarisnya.


"Belikan semua yang berhubungan dengan wanita." pinta Dave kepada Celine.


"Yang berhubungan dengan wanita itu banyak pak. Apa yang harus saya beli?" tanya Celine bingung.


"Aku tidak tau. Intinya, belikan saja yang berhubungan dengan pakaian. Beli yang banyak." suruh Dave kesal.


"Pakaian? saiz berapa pak?" tanya Celine lagi. Bagaimana mungkin dia bisa membeli jika saiz nya tidak ia ketahui.


Dave menghembus napas kasar. Ternyata wanita begitu ribet. "Belikan saja ukuranmu!" balas Dave saat melirik kearah Dinda. Bukankah postur tubuh Dinda tidak jauh beda dengan Celine pikirnya.


Setelah setengah jam, bell apartemennya berbunyi. Dave segera turun dan membuka pintu.


"Kenapa banyak sekali?" tanya Dave sambil melihat koper yang begitu besar. Padahal jumlah bajunya tidak sebanyak ini jika dimasukkan kedalam koper.


"Bapak bilang suruh beli yang banyak. Ya saya beli hingga muat sampai tiga koper." balas Celine.


Tentu saja bukan hanya baju saja yang Celine beli. Disana juga ada celana, rok, pakaian dalam, mukena dan kebutuhan-kebutuhan yang berhubungan dengan wanita.


"Yasudah kamu boleh pergi!" usir Dave sambil mendorong Celine keluar. Celine pun keluar dan pintu pun ditutup kembali.


"Dasar payah." ucap Dave kesal sambil membawa satu koper keatas.


"Ini pakaianmu. Dibawah masih ada dua. Nanti kamu ambil sendiri." ucap Dave sambil melempar koper tersebut.


"Terima kasih Tuan." ucap Dinda. Ia pun keluar dari tirai dan berjalan dengan perlahan untuk mengambil koper yang sudah dilempar Dave tadi.


"Aku sekarang akan pergi kerja. Kau tetap disini dan jangan coba-coba melarikan diri. Jika kau berani melakukan seperti malam tadi, aku tak akan segan-segan mencelakaimu. Paham!" bentak Dave dan dibalas anggukan cepat oleh Dinda.

__ADS_1


Dave pun pergi dan kini hanya Dinda seorang diri tinggal didalam apartemen.


"Dasar pria kejam. Tidak punya hati." ucap Dinda kesal. Ia segera membuka koper dan mengambil pakaian yang akan dikenakan. Setelah ia mengenakan pakaian, ia lalu turun dan mengambil koper yang tersisa. Lalu ia membawanya keatas dan menyusun koper tersebut disudut yang kosong.


Dinda turun kembali, kini ia merasa sangat lapar. Ia sama sekali belum makan dari semalam. Tentu saja cacing diperutnya sudah berontak.


"Aku lapar. Apa disini ada makanan?" Dinda masuk ke dapur dan membuka kulkas yang ternyata kosong.


"Kenapa tidak ada makanan? kenapa dia menyiksaku seperti ini?" Dinda terus memegang perutnya. Kini perutnya terasa sangat sakit.


Dinda berjalan kembali untuk naik keatas. Namun langkahnya kakinya begitu berat. Mukanya pun begitu tampak pucat. Saat Dinda sampai di pintu kamar, ia terjatuh karena sudah tidak kuat lagi. Ia bangun kembali dan mencoba berdiri. Walaupun berkali-kali jatuh, namun berkali-kali pula ia bangkit.


Dinda segera membuka koper yang belum sempat ia buka. Berharap ada makanan didalamnya. Ia membuka dengan tangan yang sudah lemah.


"Alhamdulillah." ucap syukurnya saat di koper tersebut ada roti dan beberapa minuman khusus wanita.


Dinda dengan cepat membuka bungkusan roti dan makan dengan lahapnya. Setelah kini perutnya membaik dan laparnya sudah hilang, ia kembali mengemasi koper yang sudah ia acak-acak.


*****


Dave sampai dikantornya. Kini ia duduk santai di bangku kerjanya.


Tok tok tok


Pintu tersebut diketuk dan dibuka oleh Celine setelah Dave mengizinkannya masuk.


"Ini sarapan bapak." ucap Celine sambil meletakkan diatas meja kerja Dave. Ia membawakan sarapan tersebut setelah salah satu bawahan Dave membelikan untuknya.


Saat ia melihat makanan yang tersedia dimeja kerjanya, tiba-tiba ia teringat Dinda. Bukankah dia sama sekali tidak memberi Dinda makan dan minum dari semalam. Bagaimana jika dia mati kelaparan.


"Apa kamu ada membeli makanan dan memasukkannya kedalam koper yang kamu bawa tadi?" tanya Dave sedikit panik.


"Ada pak. Saya membeli roti. Saya sengaja membelikannya untuk stok bapak dirumah." balas Celine tersenyum.


"Ah syukurlah." ucap Dave lega. Setidaknya Dinda tidak akan mati kelaparan.

__ADS_1


__ADS_2