
Sepanjang perjalanan pulang, Dion merasa sangat kesal dengan Dandi. Kenapa sih dia harus jadi pengganggu.
Kalau bukan karena Dandi, maka Dion pasti sudah menceritakan semua tentang keinginan mamanya.
"Ah sial, aku gagal." kesal Dion setelah tidak bisa menceritakan keinginan mamanya.
"Apa aku telpon saja?" Dion baru mengingat, jika tadi ia tidak sempat meminta nomor hp Dinda.
Sepanjang jalan Dion merasa kesal. Beberapa kali setir mobil menjadi sasaran kekesalannya. Bagaimana bisa unek-uneknya belum tersampaikan.
"Kalau tidak ada keperluan, kenapa dia datang? tanya Dandi kepada Dinda.
Dinda hanya membalas pertanyaan Dandi tersebut dengan senyuman. Bagaimana mungkin Dion bisa berbicara santai dengannya jika Dandi memantau. Tentu sangat tidak nyaman.
"Sebenarnya dia ada keperluan. Dia ingin berbicara hal yang penting. Karena Dandi memantau, makanya dia nggak jadi cerita." balas Dinda.
Sebenarnya ia juga kesal. Kenapa Dandi begitu posesif terhadapnya. Ia juga punya privasi. Kenapa semua urusannya Dandi harus ikut campur.
Pagi itu seperti biasanya, mereka sarapan pagi bersama.
"Hari ini mama mau ketempat Dinda." ucap Kikan disela-sela hening sarapan pagi.
"Mau ngapain ma?" tanya Dion penasaran.
"Mau pujukin Dinda." jawab Kikan singkat.
Hati Dion masih khawatir. Malam tadi ia tidak bisa mengatakan kebenarannya. Gara-gara Dandi mendengarkan pembicaraannya dengan Dinda.
"Kenapa cepat sekali?" tanya Dion lagi.
"Kamu kenapa? sepertinya tidak suka jika aku menikahi Dinda!" ucap Dave lugas.
Dion hanya terdiam. Sebenarnya ia tidak bermaksud untuk tidak suka. Hanya saja ia merasa Dinda tidak cocok dengan Dave.
"Ma, jika Dinda menolak tidak apa-apa. Dave akan berusaha mendekatinya agar mau menikah dengan Dave." Dave mengatakan dengan yakin.
Dave telah menyusun rencana agar bisa menikahi Dinda. Rencana itu akan ia lancarkan jika Dinda benar-benar menolaknya mentah-mentah.
Bagaimana ini? kenapa aku merasa Kak Dave seperti merencanakan sesuatu? tapi apa?. Gumam Dion mendengar ucapan Dave.
Dandi mendatangi kantor polisi. Ia ingin mengetahui kelanjutan atas laporan yang pernah ia ajukan.
__ADS_1
"Maaf mbak, apakah saya bisa bertemu kepala kantor?" tanya Dandi kepada pegawai polisi yang berjaga didepan.
Pegawai tersebut membawa Dandi ke ruangan kepala kantor.
Pintu dibuka, Dandi masuk setelah dipersilahkan oleh pegawai tersebut.
Jang yang sedang duduk santai dikursi kerjanya menatap seksama wajah Dandi.
Kenapa wajahnya tidak asing. Gumamnya dalam hati. Jang lalu mempersilahkan Dandi untuk duduk dibangku depan meja kerjanya.
"Silahkan." suruh Jang, mempersilahkan Dandi untuk duduk.
"Ada keperluan apa anda bertemu saya?" tanya Jang penasaran.
"Saya Dandi. Saya ingin mengetahui kelanjutan laporan yang pernah saya ajukan." balas Dandi.
Jang termenung. Ia memikirkan laporan yang mana dikatakan pria didepannya tersebut. Bukankah terlalu banyak laporan yang diadukan oleh masyarakat.
" Maaf sebelumnya, laporan mana yang anda maksud?" tanya Jang bingung.
Dandi hanya menghela napas kasar. Ingin rasanya ia memaki. Namun ditahan agar emosinya tidak meledak.
"Laporan atas nama Dave Atmawijaya." ucap Dandi dengan tenang. Jangankan melihat mukanya, menyebut namanya saja sebenarnya sudah tidak sudi.
Ternyata kau masih hidup? bagaimana ini? apa yang harus aku lakukan? bagaimana aku harus menjelaskan?. Pikirannya sudah tidak bisa tenang. Ia tidak tau bagaimana untuk mengatakan yang sebenar.
" Maaf, apa saya bisa mengetahui kelanjutan kasusunya?" tanya Dandi lagi. Ia melambaikan tangan kanannya ke wajah Jang. Sepertinya Jang sedang melamun.
"Ah, itu ..." ucap Jang terbata-bata. Ia sangat takut mengatakan. Memang ini salahnya karena sudah menutup laporan tersebut dan menggantikannya dengan laporan yang lain.
"Pak, bagaimana?" tanya Dandi lagi. Kini nada suaranya sudah agak naik dari sebelumnya. Sudah tidak mampu lagi menahan emosi. Sedari tadi polisi didepannya tidak menjawab pertanyaannya.
"Kasusnya sudah ditutup. Dia terbukti tidak bersalah, karena tidak ada bukti dan saksi mata." jawab Jang cepat.
"Apa? bagaimana bisa?" tanya Dandi heran. Bagaimana mungkin Dave tidak bersalah. Jelas-jelas ia tau Dave orang seperti apa. Manusia kejam bermuka dua.
"Dave pernah ditahan selama seminggu. Namun karena tidak ada bukti yang mengarah kepadanya, maka dia dibebaskan kembali." balas Jang.
Jang tau ini salah. Tapi hanya itu yang bisa ia lakukan. Mengganti laporan atas tindakan kekerasan dan prostitusi menjadi Korupsi dan penggelapan uang.
"Boleh saya lihat kembali laporannya?" pinta Dandi tidak puas.
__ADS_1
Jang dengan berat hati memberi berkas laporan tersebut. Hatinya sangat gelisah. Bagaimana reaksi Dandi jika ia mengetahui isi dari laporan tersebut.
Dandi mengambil dan mulai membuka lembar demi lembar laporan tersebut. Betapa terkejutnya ia saat membaca isi dari laporan itu. Sama sekali tidak sesuai dengan apa yang pernah ia katakan saat pertama kali melapor.
Dasar! bagaimana bisa kau mempermainkan hukum?. Aku tidak akan melepaskanmu kali ini. Tekatnya kuat ingin menjerumuskan Dave ke penjara. Gara-gara Dave, ia kehilangan rumah dan harta benda.
*****
Kikan dan Roy turun dari mobil saat sudah sampai didepan halaman rumah Dinda. Ia berjalan dengan perasaan gembira. Ia sangat ingin Dinda menjadi menantunya.
Kikan menekan bell rumah agar pintu segera dibuka. Dinda berlari saat mendengar suara bell berbunyi beberapa kali.
"Siapa yang datang?" tanya ia penasaran. Sejak ia tinggal dirumah Adit, sangat sering sekali bell rumah Adit berbunyi. Entah itu tamu keluarga Adit ataupun orang lain yang ingin menemuinya.
Pintu akhirnya terbuka. Raut wajahnya kembali tersenyum. Apalagi tamunya kali ini adalah orang yang sangat ia nantikan. Bukankah baru kemaren Kikan dan Roy mengunjunginya. Namun ia masih merindukan orang tua angkatnya ini.
"Tante, om. Silahkan masuk." ajak Dinda sopan. Ia mempersilahkan Kikan dan Roy untuk duduk.
"Ada apa tante dan om kemari? bukankah baru kemaren tante dan om menjenguk Dinda?" tanya Dinda penasaran.
"Tante ada kabar bahagia nak," ucap Kikan tanpa basa-basi.
Dinda bengong. Kabar bahagia apa yang dimaksud Kikan. Bukankah selama ini, mereka selalu memberikan kebahagiaan. Lalu kabar bahagia apa lagi yang dimaksud mereka.
"Maksud tante?" tanya Dinda yang kebingungan.
"Sayang, tante sangat senang kamu bahagia. Tapi tante akan bertambah senang jika kamu menikah." ucap Kikan sambil memegang kedua tangan Dinda lembut.
Pikiran Dinda langsung membayangkan Adit. Orang yang ia cintai saat ini. Keinginan menikah itu memang ada. Namun, Adit belum membicarakan hal itu kepadanya.
"Tante, Dinda pasti akan menikah. Tapi orangnya belum membicarakan hal itu sama Dinda." jawab Dinda sambil terus membayangkan Adit.
Kikan terdiam. Orang siapa yang dimaksud Dinda? bukankah dia belum mengatakan siapa orang yang imgin menikahi Dinda. Inilah saatnya ia mengatakan keinginannya yang sebenar.
"Nak, kamu mau kan menikah dengan Dave?" ucap Kikan.
Tubuh Dinda gematar mendengar nama Dave keluar dari mulut Kikan. Bagaimana mungkin ia menikah dengan Dave. Ia tidak ingin lagi masuk kejurang yang sama.
"Maaf tante, Dinda nggak bisa." Dinda menolak halus ajakan tersebut. Ia sudah tidak ingin lagi masuk kelubang singa untuk kali kedua. Bagaimana nasibnya nanti jika ia benar-benar menikah dengan Dave. Bayangan penyiksaan sudah terpikir dibenaknya.
"Kenapa Dinda?" tanya Kikan penasaran. Bagaimana bisa Dinda menolak ajakan tersebut. Bukankah anaknya baik dan sangat cocok jika Dinda menjadi istrinya. Tapi kenapa ada penolakan?
__ADS_1
"Dinda ..."