
"Kemana lagi kita harus mencari Dinda pa? Mama khawatir dengannya pa." ucap Kikan.
"Bukannya kembaran nya masih hidup? mungkin saja kembaran nya yang membawanya pergi." balas Roy.
"Tapi kita tidak tau dimana kembaran nya membawa Dinda pergi." ucap Kikan berfikir.
"Apa kita tanya Dave aja ya Ma? pasti Dave tau dimana Dinda sekarang." usul Roy.
"Nggak pa. Mama nggak mau ketemu dia. Mama masih sakit hati sama Dave pa. Kita aja yang cari sendiri." sanggah Kikan tidak terima.
"Kemana lagi kita mau mencari Ma?" tanya Roy sedikit putus asa.
Gimana kalau Dion tanya sama Adit aja Ma?" ucap Dion memberi usul atas perdebatan orang tuanya.
"Siapa Adit? emang dia tau Dinda dimana?" tanya Kikan sedikit kurang yakin.
"Adit itu anak tante yang kita datangi tadi. Pasti dia tau dimana Dinda berada." ucap Dion dan membuat mereka sedikit terkejut.
"Kamu serius? bukannya kamu tadi udah mendengar gimana Ibunya marah?" ucap Kikan mengingat kembali.
"Ma, Pa, Adit tidak seperti Mamanya. Dion yakin pasti Adit mau membantu kita." ucap Dion mencoba meyakinkan.
"Terserah kamu aja. Tapi kemana kita harus menemuinya?" tanya Kikan lagi.
"Dion pernah melihat dia masuk disalah satu Bank. Dion yakin pasti dia bekerja disana." ucap Dion dan mereka pun menyetujuinya.
Mobil pun melaju menuju tempat tujuan yaitu sebuah Bank tempat yang diyakini Dion sebagai tempat bekerja Adit.
Selang beberapa menit, mobil pun terparkir dihalaman kantor Bank. Dion turun dari mobil sedangkan Kikan dan Roy hanya menunggu didalam mobil.
"Permisi?" sapa Dion kepada salah satu pegawai Bank tersebut.
Ganteng banget.
"Permisi. Mbak, mbak? Dion melambai-lambaikan tangannya ke wajah pegawai tersebut. Sepertinya pegawai tersebut sedang melamun.
"Ah iya Mas, ada yang bisa saya bantu?" tanya pegawai itu setelah tersadar dari lamunannya.
"Bisa saya bertemu Adit?" tanya Dion sopan.
"Sebentar ya Mas." balas pegawai itu.
__ADS_1
"Maaf sebelumnya, Mas siapa nya Pak Adit?" tanya pegawai itu lagi. Dia mengingat pesan Adit yang disampaikan kepada nya untuk tidak memberi izin ke sebarang orang untuk menemuinya.
"Saya temannya. Bisa kan saya bertemu?" tanya Dion lagi.
Pegawai itu pun mencoba menghubungi sekretaris Adit. Selang beberapa menit, "Mas, Pak Adit nya ada diruangannya." balas pegawai itu. Sekretarisnya telah memberi izin untuk Dion agar bisa menemui Adit.
Semoga Pak Adit tidak marah kepadaku dan Rika jika kami membiarkannya bertemu dengannya.
Dion pun berjalan menuju lift, masuk dan menekan tombol lantai dimana Adit bekerja setelah diberitahu oleh pegawai tadi.
Sesampainya disana, dia langsung disambut oleh sekretaris Adit.
"Mas Dion?" tanya sekretaris Adit.
"Iya, saya Dion. Adit nya ada?" tanya Dion lagi.
"Pak Adit nya ada didalam. Silahkan masuk saja." suruh sekretaris Adit.
Adit pun menurut lalu mengetuk pintu ruangan Adit.
"Masuk!" suruh Adit disebalik pintu.
Dion pun membuka pintu setelah diberi perintah untuk masuk.
"Kamu," ucap Adit mencoba mengingat.
"Saya Dion. Aku yang pernah datang kerumah kamu waktu itu menemui Dinda." ucap Dion.
"Kamu temannya Dinda itu ya? ya, ya, aku sudah mengingatnya." jawab Adit tersenyum.
"Silahkan duduk!" suruh Adit mempersilahkan Dion untuk duduk.
"Ada keperluan apa kamu menemui aku?" tanya Adit penasaran. Pria didepannya ini bukanlah teman akrabnya. Untuk apa juga dia menemuinya ditempat kerja. Apa dia hanya ingin menanyakan Dinda?
"Aku hanya ingin mengetahui dimana Dinda sekarang." balas Dion cepat. Tujuannya kemari memang untuk menanyakan keberadaan Dinda kepada Adit. Sebab, Dinda pernah tinggal dirumahnya. Tentu dia tau dimana Dinda sekarang berada.
"Dinda? untuk apa kamu mencari nya?" tanya Adit sedikit penasaran.
Apa aku kasi tau aja ya kalau aku ini adik ipar Dinda? Ah, tidak-tidak. Kalau aku katakan yang sebenarnya, pasti dia tidak akan memberitahu dimana Dinda sekarang berada.
"Aku udah lama berteman dengannya. Aku sudah mencarinya kemana-mana. Tapi tidak ketemu. Aku ingin menemuinya." balas Dion.
__ADS_1
Kenapa dia ingin menemui Dinda? Bukannya mereka hanya berteman biasa? tapi kenapa wajahnya terlihat sangat khawatir?
"Bukankah kamu tau jika dia sudah menikah? untuk apa kamu mencarinya?" tanya Adit menyelidik.
Dia ini niat memberitahu atau tidak sih? kenapa banyak sekali pertanyaannya?
"Iya, aku tau jika dia sudah menikah. Aku sudah mendatangi apartemennya. Tapi dia sudah tidak tinggal disana lagi." balas Dion.
Apa pria ini bisa dipercaya? apa sebenarnya hubungan pria ini dengan Dinda?
"Kau tidak perlu khawatir. Dia ada bersama kembaran nya." ucap Adit tanpa memberi tahu keberadaan Dinda.
"Aku tau dia bersama kembaran nya. Tapi bisa kah kau memberitahu dimana Dinda dan kembaran nya tinggal?" tanya Dion lagi.
Laki-laki ini, kenapa ingin sekali tau keberadaan Dinda? tapi sepertinya laki-laki ini laki-laki yang baik.
"Baiklah. Aku akan memberitahu. Tapi bisakah kau bekerjasama denganku?" tanya Adit lagi.
Kerjasama? kerjasama apa maksudnya?
"Maksudnya? kenapa kau mau bekerjasama denganku? bukankah kita tidak akrab? aku sama sekali tidak mengerti kerjasama apa yang kau katakan." ucap Dion tidak mengerti.
Adit tersenyum. "Aku yakin kau orang baik. Aku hanya ingin kau membantuku agar Dinda dan suaminya cepat-cepat bercerai." ucap Adit dan membuat Dion sedikit kaget.
Apa, dia menginginkan Dinda dan Dave bercerai? ada apa dengannya? bukankah orang tuanya sudah tidak menyukai Dinda lagi?
"Bisa kan?" tanya Adit lagi.
"Aku ..." tidak bisa mengatakan. "Tapi kenapa kau ingin membuat Dinda dan suaminya bercerai. Bukankah tidak baik merusak rumah tangga orang lain?" ucap Dion sedikit khawatir.
Adit hanya tertawa dan membuat Dion semakin bingung. "Aku tau merusak rumah tangga orang lain itu dilarang. Tapi tidak kah kau tau jika aku dan Dinda saling mencintai? Dinda menikahi suaminya karena dipaksa." ucap Adit. "Kini suaminya telah dipenjara atas perbuatannya dimasa lalu. Jadi sekarang lah waktu nya agar kami bisa bersatu kembali." lanjut Adit menyelesaikan kata-katanya.
"Kenapa kau begitu ingin membuatnya bercerai? tidak kah kau menanyakan kepada Dinda? apakah dia setuju untuk bercerai dengan suaminya?" tanya Dion lagi. Dia ingat betul saat Dinda mengatakan jika dia tidak akan menceraikan Dave apapun yang terjadi.
"Aku dan Dinda saling mencintai. Dinda begitu menginginkan kebebasan. Sekarang lah saat nya aku membantunya untuk bebas." balas Adit senang.
"Aku akan memikirkannya. Tapi bisakah kau memberitahu dimana Dinda dan kembaran nya tinggal?" tanya Dion lagi.
Dion pun akhirnya keluar dari ruangan Adit. Setelah tadi Adit memberitahu dimana keberadaan Dinda dan kembaran nya.
Apa yang harus aku lakukan? apa aku harus membantunya? atau aku membiarkannya saja? sejujurnya aku juga tidak menyukai pernikahan mereka. Tapi bagaimanapun Dave adalah kakakku. Bagaimana mungkin aku sebagai adiknya mencoba menghancurkan rumah tangga kakak sendiri.
__ADS_1
Dion pun masuk kedalam mobil.setelah tadi keluar dari Bank. Mereka pun akhirnya meninggalkan area Bank untuk menuju kediaman Dinda dan kembaran nya.