
Pagi itu, pihak kepolisian datang ke kediaman orang tua Dave. Seperti biasa mereka sangat syok. Masalah apalagi yang menimpa putranya itu. Padahal belum beberapa bulan anaknya dijebloskan ke penjara dengan tuduhan palsu yang dibuat oleh orang-orang yang tidak bertanggung jawab.
"Buk, tolong kerjasamanya. Dimana anak ibuk?" tanya polisi itu.
"Anak saya tidak bersalah. Tidak mungkin anak saya yang melakukannya. Pasti ada orang yang memfitnahnya." bakas Kikan membela.
"Maaf buk, sebaiknya kita selesaikan dulu dikantor. Kita akan selidiki semuanya. Tapi kami harus membawa anak ibuk kekantor polisi terlebih dahulu." menjelaskan atas pembelaan Kikan. "Dimana anak ibuk? kami harus membawanya." sambil memberi arahan kepada bawahannya untuk menggeledah isi rumah Atmaeijaya. Untuk mencari keberadaan Dave dan mencari bukti.
"Hey, apa yang kalian lakukan? ini rumahku. Kalian tidak boleh sembarangan!" murka Kikan. Dia mencoba untuk menghalangi para polisi yang sudah mulai menggeledah satu persatu isi rumahnya.
"Apa yang kalian cari? anak saya tidak bersalah." ucap Kikan lagi.
"Ibu tenang dulu. Saya mohon kerjasamanya. Sekarang katakan dimana anak ibuk?" tanya polisi itu lagi.
Tidak, aku tidak boleh memberitahu dimana Dave berada. Dia berada dalam bahaya sekarang. Aku tidak ingin anakku masuk penjara.
"Tidak, saya tidak akan pernah mengatakan dimana anakku berada." ucap Kikan lantang.
Setelah hampir setengah jam polisi itu berdebat dengan Kikan, para polisi lain yang tadi bertugas menggeledah akhirnya keluar.
"Bagaimana?" tanya atasan polisi itu.
Bawahannya hanya menggeleng. "Kami tidak menemukan bukti apapun." jawab mereka.
"Dengarkan? anak saya tidak mungkin melakukan perbuatan keji itu. Kalian telah salah menuduh orang. Sekarang, kalian pergi dari rumah saya!" usir Kikan. Dia sudah tidak sanggup lagi melihat kekacauan yang terjadi dirumahnya. Apalagi para tetangga mulai mengintip kerumahnya. Pasti akan dengan cepatnya gosip akan tersebar.
"Baik, kami akan pergi dari sini. Tapi sebelum itu, katakan dimana anak ibuk berada? kita butuh dia untuk dimintai keterangan. Jika ibuk tidak rela anak ibuk dibawa kekantor polisi, bagaimana kami bisa memutuskan jika anak ibuk tidak bersalah." ucap ketua polisi itu lagi. Tugas sebagai polisi tidaklah begitu mudah. Apalagi sekarang mereka harus berhadapan dengan pewaris Atmawijaya. Mereka harus sportif dan tidak pandang bulu. Atas tuduhan yang sudah dilaporkan, harus disertakan dengan bukti dan saksi yang konkrit.
Aku yakin, pasti anakku tidak bersalah. Tidak mungkin dia melakukan itu semua. Setelah kejadian itu Dinda aku bawa kerumah ini. Aku rawat dengan penuh cinta. Dave juga menerima kedatangannya. Tidak mungkin Dave yang melakukan ini semua. Tidak mungkin!
"Bagaimana buk, bisa kami ketahui dimana anak ibuk berada sekarang?" tanya Ketua polisi itu lagi. Sejak tadi pertanyaannya tidak pernah dijawab-jawab. Hingga dia harus mengulang-ulang pertanyaannya lagi.
Selang beberapa menit setelah berdebat dan Kikan bersikeras tetap membela anaknya, sebuah mobil sport masuk ke pekarangan rumah Atmawijaya.
__ADS_1
Itu kan Dave. Kikan sangat yakin dan juga sangat mengenali mobil milik anaknya.
Dave membuang nafas kasar saat baru sampai dipekarangan rumahnya, begitu banyak polisi sedang berada dirumahnya.
Dave turun dari mobil dan melangkahkan kakinya berjalan menuju dimana mereka berkumpul.
"Ada apa ini?" tanya Dave pura-pura terkejut. Dia sudah tau pasti maksud kedatangan polisi kerumahnya.
"Kami dari kepolisian setempat, akan membawa anda kekantor." balas polisi.
"Ada apa ya? kenapa saya harus dibawa kekantor polisi? emang saya salah apa?" tanya Dave pura-pura.
"Sebaiknya anda ikut kami kekantor. Disana kami akan jelaskan tuntutannya." balas polisi itu.
Kikan menggelang-gelangkan kepala menatap anaknya. Memberitahu agar anaknya tidak pergi kesana.
Dave tersenyum kepada Kikan. "Tidak apa-apa ma. Dave akan kesana. Mungkin dengan Dave kesana semuanya akan jelas." ucap Dave untuk meyakinkan Kikan yang tampak gelisah.
"Tapi bagaimana jika nanti kamu dipenjara seperti waktu itu. Mama nggak mau kamu masuk penjara lagi." ucap Kikan sedih. Mengingat kembali bagaimana saat anaknya dijebloskan ke penjara dengan tuduhan-tuduhan yang sama sekali tidak pernah dilakukan anaknya.
Selang beberapa jam, Dion yang saat kejadian tidak berada dirumah karena sudah berangkat kerja pulang kembali kerumah. Ada berkas yang tertinggal diruang kerjanya.
Melihat sekitar rumah. "Orang pada kemana sih? koq sepi." ucap Dion heran saat masuk kerumah menuju ruang kerjanya dilantai dua.
"Bik, koq rumah sepi? mama kemana?" tanya Dion kepada salah seorang pelayan dirumahnya saat turun dari lantai dua.
Wajah wanita itu tampak sedikit panik. "Ada apa Bik?" tanya Dion lagi. Dia begitu penasaran dengan raut wajah pelayan dirumahnya yang tampak seperti menyembunyikan sesuatu.
"Anu tuan, itu... " sedikit ragu untuk mengatakan. Takut jika anak angkat tuan besarnya kaget.
"Ada apa Bik? katakan saja." tanya Dion lagi.
"Tuan dan Nyonya pergi kekantor polisi." jawab pelayan itu.
__ADS_1
Kantor polisi? ada apa?
"Maksud Bibik?" Dion sedikit tidak mengerti dengan yang dikatakan pelayan itu.
"Jadi gini Tuan. Tadi pagi ada ramai sekali polisi yang datang kerumah ini. Mereka membawa Tuan Dave kesana." jelas pelayan itu dengan sedikit gugup.
"Koq bisa Bik? emang kak Dave bikin salah apa?" tanya dia lagi. Kenapa sudah dua kali polisi datang kerumahnya. Itupun mencari keberadaan Dave. Apa Dave benar-benar melakukan kesalahan.
"Kalau itu saya kurang tau Tuan. Tapi tuan Dave sendiri yang datang saat polisi mencarinya disini." jawab pelayan itu jujur.
"Baiklah Bik. Terima kasih informasinya. Kalai gitu saya berangkat dulu." berpamitan dan meninggalkan kediaman Atmawijaya untuk kembali ke kantor nya.
Sepanjang perjalanan, fikiran Dion terus saja dihantui pertanyaan-pertanyaan. Dia begitu penasaran dengan tuduhan apalagi yang dilakukan Dave.
Menepikan mobil untuk berhenti dan mengambil ponsel disaku celananya. Menghubungi sekretarisnya. "Hallo Ratih, tolong kamu undur jadwal pertemuan dengan klien hari ini. Saya ada urusan diluar dan saya juga tidak akan kembali kekantor. Tolong kamu hendel semuanya." mematikan panggilan lalu menjalankan kembali kendaraannya menuju kantor polisi.
Sementara dikantor polisi.
"Apa yang terjadi? kenapa laporan itu bisa diangkat kembali? bukankah itu sudah sangat lama."tanya Dave berbisik kepada Jang yang juga berada diruangan itu.
Jang hanya menaikkan kedua bahunya serempak. Dia juga tidak tau kenapa laporan itu bisa sampai ke atasan nya.
Apa mungkin ada yang menemukan berkas yang aku sembunyikan? jika tidak, mana mungkin Dave dibawa kemari. Siapa yang berani masuk keruanganku tanpa izin.
"Aku permisi dulu." berdiri meninggalkan ruangan introgasi.
Saat Jang sampai di ruangan nya, dia mulai mencari berkas yang sudah pernah disembunyikan. Benar saja, berkas itu sudah tidak ada.
"Ah sial. Siapa yang sudah mengambilnya?" dia terus berfikir siapa kemungkinan yang mengambil dan berani masuk ke ruangan nya.
Jang segeraemeriksa CCTV. Tapi hasilnya nihil. Dia sama sekali tidak bisa menemukan bukti dan orang yang mencurigakan.
Cuma yang diingatnya beberapa bulan lalu, Dandi pernah masuk dan bertemu di ruangan nya. Tapi setelah melihat CCTV, tidak ada gelagat mencurigakan yang ditunjukkan Dandi. Dia datang hanya ingin memastikan laporannya sudah diproses atau belum.
__ADS_1
"Siapa yang mengambil berkas itu?"
"Aku tidak tau harus senang atau harus kecewa laporannya sudah diproses." disisi Dave sahabatnya yang harus siap dibantu. Tapi disisi lain, ini menyangkut nama Dandi dan Dinda. Orang yang begitu di khawatir nya saat ini.