
Tok tok tok
"Dandi, bangun! nanti kamu terlambat pergi kerja," peringat Dinda sambil terus mengetuk-ngetuk pintu kamar Dandi agar segera bangun.
"Sayang, kenapa berisik sekali? " tanya Dave yang baru keluar dari kamar dengan muka bantal nya. Tidurnya terganggu dengan suara ketukan pintu yang hampir roboh.
"Dinda lagi bangunin Dandi. Lihat! dia nanti bisa terlambat," ucap Dinda sambil menunjuk jam dinding yang sudah pukul 7 pagi. Apalagi biasanya jam segini Dandi sudah bersiap-siap dan akan berangkat kerja.
Dandi yang merasa terganggu segera bangun lalu membuka pintu kamarnya. "Kenapa sih Dinda? aku bisa bangun sendiri!"ucap Dandi kesal. Dave dan Dinda yang mendengar sontak kaget dengan tingkah Dandi yang tiba-tiba berubah.
Ada apa dengan anak ini? apa efek malam tadi masih berlanjut hingga sekarang? ada masalah apa sih sebenarnya anak ini dengan Nazumi?
"Dandi, coba lihat udah jam berapa? nanti kamu telat," peringat Dinda lagi.
Dandi melirik jam dinding. Dia segera bergegas untuk mandi. Hari ini dia bisa terlambat.
"Kak, pergi sana cuci muka! jorok ih banyak ilernya." kekeh Dinda. Dia lalu menyiapkan sarapan pagi untuk mereka bertiga.
Hari semakin tinggi, Dinda dan Dave duduk di lesehan tampak gelisah. Sedari tadi mereka menunggu Dandi untuk sarapan bersama. Apalagi sekarang sudah masuk waktu jam kerja.
"Kenapa Dandi lama sekali? apa dia fikir kantor Bank itu miliknya?" kesal Dave. Perutnya sudah lapar, namun Dinda melarangnya untuk makan duluan.
"Dinda juga nggak tau kak. Biar Dinda panggil." Dinda pun bangkit dan melangkahkan kaki menuju kamar Dandi.
Belum sempat Dinda mengetuk pintu kamar, Dandi, pintu pun terbuka. Dinda kaget begitu pun Dandi yang sontak kaget. "Kenapa kamu lama sekali?" tanya Dinda penasaran.
"Nggak ada apa-apa." ucap Dandi lalu duduk untuk sarapan. Diikuti Dinda yang berjalan dibelakangnya.
"Kamu nggak takut di marah kalau datang terlambat?" tanya Dinda. Dia memasukkan nasi goreng kepiring Dave lalu kepiring Dandi. Pagi ini dia hanya memasak nasi goreng dan telor ceplok.
Dandi hanya diam. Dia memasukkan nasi goreng kedalam mulutnya sembari mengunyah perlahan.
Dave dan Dinda saling senggol. Mereka bingung dengan sikap Dandi. Apa ada masalah atau sedang tidak mood.
Dikantor, Nazumi bolak balik masuk ke ruang kerja Dandi dan pegawai-pegawai lainnya. Dia melihat meja kerja Dandi masih kosong. Apalagi sekarang para pegawai yang lain sudah mulai beraktifitas.
__ADS_1
Dia bingung dan khawatir. Fikiran nya kembali ke kejadian malam tadi. Apa mungkin Dandi berfikir dia akan memecatnya?
Kenapa kamu belum datang juga? apa kamu masih marah sama aku?
"Nazumi? kenapa kamu disini?" tanya Riko penasaran. Dilihatnya arah mata Nazumi. Ternyata dilihatnya meja kerja Dandi masih kosong.
"Kenapa anak itu masih belum datang jam segini? apa dia fikir kantor ini miliknya? sama sekali tidak patuh." ucap Riko kesal.
"Riko jika nanti dia sudah datang, suruh dia menghadap saya!" perintah Nazumi dan dibalas anggukan oleh Riko. Dia meninggalkan ruang kerja Dandi dan masuk keruangannya kembali.
Nazumi berdiri di jendela dan melihat kendaraan yang lalu lalang. Bibirnya tersenyum saat melihat Dandi berjalan memasuki kantor.
"Ternyata dia datang." dia buru-buru duduk di kursi nya sembari menunggu Dandi masuk ke ruangan nya. Apalagi tadi dia sudah menyuruh Riko agar Dandi segera menemuinya.
Waktu menunjukkan pukul 11 siang. Nazumi masih tetap stay di ruangan nya mengerjakan pekerjaannya yang menumpuk. Sesekali dia melirik kearah pintu.
"Kenapa dia belum datang-datang menemuiku? apa Riko tidak memberi tahu nya?" ucap Nazumi penasaran.
Karena merasa gelisah, dia memutuskan untuk memanggilnya langsung.
"Kenapa kamu kesini lagi?" tanya Riko yang kebetulan lewat.
"Apa kau tidak menyampaikan pesanku kepada Dandi?" tanya Nazumi penasaran.
"Aku sudah menyampaikannya pagi tadi saat dia datang. Apa dia belum juga menemui mu?" tanya Riko.
Nazumi menggelang. "Ah anak itu kenapa sekarang menjadi pembangkang kepada atasan?" kesal Riko.
"Tunggu, aku akan memanggilnya." ucap Riko.
"Jangan!" larang Nazumi saat Riko akan melangkahkan kaki ingin pergi. "Jangan panggil dia. Sepertinya dia sedang sibuk. Nanti saja saat dia sudah tidak sibuk." ucap Nazumi lagi.
"Baiklah." balas Riko lalu meninggalkan Nazumi yang masih berdiri didepan pintu ruangan Dandi dan para pegawai lainnya.
Ekor mata Dandi melihat jika Nazumi sedang melirik kearahnya. Saat ekor matanya melihat Nazumi berbalik akan pergi, baru dia menatap kearah pintu dengan tersenyum kecut.
__ADS_1
Kini sudah waktunya istirahat, Dandi berencana akan makan siang di cafe depan Bank. Saat dia berdiri, ponselnya berdering. Ada pesan masuk.
Dia segera mengecek dan membaca pesan tersebut. Siapa tau penting.
08xxxxxxxxxx
Dandi, ini aku Nazumi. Kenapa kau tidak menemuiku?
Aku minta maaf jika kata-kataku malam tadi tidak kamu sukai. Tapi itu semua aku katakan dengan jujur.
Aku mohon, temui aku sekarang diruanganku. Ada sesuatu yang akan aku katakan. Ini menyangkut masa lalu mu.
Aku tunggu!
Dandi tersenyum kecut setelah membaca pesan tersebut.
Tidak perlu mengingat masa lalu mu lagi. Aku sudah melupakannya.
"Dari mana dia mendapatkan nomor ponselku?" ucap Dandi penasaran.
Dia tidak memperdulikan permohonan Nazumi dan tetap akan pergi ke cafe depan Bank. Dia sudah tidak peduli jika nantinya Nazumi akan memecatnya.
Nazumi menunggu di ruangan nya dengan sedikit gelisah. Sebenarnya dia begitu berdebar dan sedikit takut untuk mengirimkan pesan tersebut. Hingga akhirnya pesan tersebutpun terkirim ke nomor Dandi yang dia dapatkan dari Riko.
Nazumi mengetuk-ngetuk meja kerjanya sembari menatap pintu menunggu kedatangan Dandi. Dia sudah menyusun kata-kata dan permintaan maaf atas kesalahan yang dia perbuat.
"Kenapa lama sekali?" ucap Nazumi sambil melirik jam yang sudah hampir habis waktu istirahat.
Dia menatap kejendela dan mendapati Dandi baru saja keluar dari cafe depan. "Jadi dia makan disana? kenapa aku bodoh sekali sih," Nazumi mengutuki dirinya. Tentu saja waktu istirahat digunakan oleh para pegawai untuk makan siang. Pasti Dandi sudah sangat lapar dan mengabaikan pesannya.
Kenapa aku begitu gegabah sih? seharusnya aku tidak menyuruhnya menemui ku diwaktu jam istirahat.
Dandi masuk dan duduk kembali dimeja kerjanya. Sebuah pesan kembali masuk. Masih dari nomor yang sama dan dipastikan dari Nazumi lagi.
Aku minta maaf telah menyuruhmu menemui ku di jam istirahat. Aku salah!. Aku minta, temui aku sebentar lagi diruanganku.
__ADS_1
Setelah membaca pesan dari Nazumi, Dandi meletakkan kembali ponselnya didalam ransel. Kini sudah waktunya jam kerja dan dia akan tetap fokus untuk bekerja tanpa memperdulikan suruhan Nazumi. Dia sudah memutuskan untuk menghindari Nazumi jika itu tidak menyangkut pekerjaan.