MENIKAH DENGANMU

MENIKAH DENGANMU
Cita-cita


__ADS_3

Dandi akhirnya sampai dikantor tepat waktu. Tadinya dia terpaksa berlari mengejar bus yang sudah meninggalkannya jauh. Itu semua terjadi karena dia harus berbelok lagi pulang kerumah untuk mengambil dasinya yang tertinggal. Hingga dia kelewatan bus.


Dandi duduk ditempat kerjanya. Memulai pekerjaannya yang sudah menumpuk. Setelah kepala direktur diganti, begitu banyak nasabah yang datang Di bank tersebut. Hingga membuatnya kewalahan melayani.


"Saat dia memeriksa berkas dari nasabah, tiba-tiba Nazumi memanggilnya.


"Dandi, ikut saya sebentar!" panggil Nazumi.


Dandi pun bangkit dan melangkahkan kakinya mengikuti Nazumi.


Selama hampir sebulan Dandi bekerja sebagai pegawai, Dandi tidak memperlihatkan kecurigaannya terhadap Nazumi. Dia tetap menjalankan perannya seperti biasa. Apalagi Nazumi masih memperlakukannya sama seperti pegawai lainnya.


Dandi duduk di kursi ruangan kepala direktur setelah dipersilahkan oleh Nazumi.


"Ada apa mbak memanggil saya?" tanya Dandi sedikit heran. Tidak biasanya dia dipanggil secara khusus oleh kepala direktur langsung.


Nazumi hanya tersenyum sambil sesekali memainkan pena yang dipegangnya.


Kenapa dengannya? apa dia akan mengakui sandiwaranya setelah pura-pura tidak mengenaliku?


"Tidak ada apa-apa, aku sengaja memanggilmu untuk mengatakan sesuatu," ucap Nazumi.


Aku tidak akan kaget jika kau akan mengatakan kebenarannya. Karena aku lebih dulu tau.


"Mau mengatakan apa ya mbak?" tanya Dandi dengan raut wajah dibuat terkejut.


Tok tok tok,


"Masuk!" suruh Nazumi saat pintu ruangannya diketuk.


Ternyata kepala manager yang telah mengetuk pintu ruangannya. Dia membuka pintu dan masuk dengan wajah sedikit kaget.


"Ada apa Riko?" tanya Nazumi.


Riko tampak menatap Dandi yang masih duduk disana. Dandi membalas senyuman saat dirinya ditatap.


Kenapa dia menatapku seperti itu?


"Tidak ada apa-apa Nazumi, aku hanya ingin memberimu ini," ucap Riko sambil menyodorkan sebuah kotak kecil.


"Ini apa?" tanya Nazumi bingung.


Riko tersenyum sambil sesekali melirik kearah Dandi. "Ini hadiah untuk anak kamu. Aku membelikannya kalung," ucap Riko.


Anak? jadi Nazumi sudah punya anak? wajahnya masih seperti dulu. Tetap muda dan cantik.

__ADS_1


"Terima kasih. Kamu tidak perlu repot-repot memberinya hadiah." balas Nazumi. Dia menerima hadiah tersebut dan memasukkan kedalam tasnya.


"Aku permisi dulu." ucap Riko tersenyum lalu keluar dari ruangan Nazumi. Namun tatapannya masih tetap melirik Dandi.


Ada apa dengannya? kenapa sering sekali melirikku? atau jangan-jangan....


Dandi bergedik ngeri. Dia masih normal dan tidak mungkin pula Riko homo. Itu tidak boleh sampai terjadi.


"Kamu kenapa Dandi?" tanya Nazumi heran dengan tingkah Dandi.


Dandi yang sadar buru-buru memposisikan duduknya kembali. "Saya tidak apa-apa mbak." balas Dandi.


"Oh ya, mbak mau menyampaikan apa sama saya?" ingat Dandi lagi.


Nazumi tampak berfikir dan masing menggantungkan kata-katanya. "Apa malam nanti kamu ada waktu?" tanya Nazumi.


"Malam nanti? malam nanti saya tidak ada kemana-mana. Ada apa ya mbak?" tanya Dandi penasaran. Untuk apa pula Nazumi menanyakan hal itu.


"Jika kamu ada waktu malam nanti, temui saya pukul 7 di cafe xx." ucap Nazumi. "Kamu boleh keluar sekarang!" suruh Nazumi.


Dengan wajah kebingungan, Dandi akhirnya menurut dan keluar dari ruangan Nazumi. Dia masih bingung kenapa Nazumi ingin mengajaknya Bertemu. Bisa saja kan dikantor jika ingin menyampaikan sesuatu. Lalu kenapa harus bertemu ditempat lain.


"Kamu ngapain didalam sama Nazumi?" tanya Riko yang mengagetkan Dandi. Dia menunggu Dandi didepan pintu hingga keluar.


"Aku nggak ngapa-ngapain. Kepala direktur hanya memanggilku," ucap Dandi.


Dandi menggeleng. Memang Nazumi tidak ada mengatakan sesuatu. Dia hanya menyuruhnya untuk datang menemuinya malam nanti. Tidak mungkin juga dia harus mengatakannya dengan Riko. Takutnya Riko juga akan mendatanginya disana.


Menepuk-nepuk bahu Dandi. "Bagus kalau begitu." ucap Riko lalu meninggalkannya yang masih mematung.


"Iiiiiiii," ucap Dandi yang merasa sedikit geli dengan perlakuan Riko. Dia mengibas-ngibas bahunya bekas tangan Riko tadi.


*****


"Dinda, kamu masak apa?" tanya Dave saat menjengah Dinda yang sedang memasak di dapur.


"Dinda masak sambal cumi kak. Kakak suka kan cumi?" tanya Dinda.


"Iya, aku suka!" balas Dave.


Dave duduk dilantai yang sudah beralaskan tikar. Melihat punggung istrinya yang sedang memasak sambil berdiri.


"Dinda, kapan kita pulang?" tanya Dave manyun.


Dinda menoleh dan tersenyum. "Beberapa hari lagi ya kak," balas Dinda.

__ADS_1


"Beberapa hari lagi itu kapan tepatnya?" tanya Dave lagi. Baru semalam menetap dirumah ini membuatnya bosan. Apalagi tidak ada fasilitas seperti dirumahnya.


"Sabar ya kak! Dinda tau kakak nggak betah. Tapi Dinda masih kasihan untuk meninggalkan Dandi sendirian," ucap Dinda sambil mengaduk-aduk masakannya.


Dave bangkit lalu memeluk istrinya dari belakang. "Bagaimana kalau kita ajak Dandi tinggal bersama kita?" ucap Dave memberikan idenya.


Dinda tersenyum lalu menggelengkan kepalanya. "Kenapa?" tanya Dave heran. Bukankah Dinda tidak bisa jauh-jauh dari Dandi. Lalu kenapa dia tidak mau membawa Dandi kerumah dan tinggal bersama.


"Dandi tidak akan mau. Lagi pula tidak baik membawa orang lain tinggal bersama kita. Walaupun itu saudara atau mertua. Dandi pasti akan menolaknya mentah-mentah. Apalagi di apartemen cuma ada satu kamar," balas Dinda.


"Lalu bagaimana? aku bosan disini sayang," ucap Dave memelas.


"Tahan ya kak. Bagaimana pun kita harus bincang dulu sama Dandi. Kan kakak dan Dandi sudah baikan. Nanti gimana perasaannya saat tau Dinda akan dibawa oleh kakak." balas Dinda.


"Iya, nanti malam kita bincang lagi dengannya." ucap Dave kembali.


Dave melepaskan pelukannya dan kembali duduk dibawah. Memainkan ponselnya untuk menghilangkan kejenuhan sembari menemani istrinya memasak.


Dinda melirik Dave yang tampak asyik memainkan ponselnya. Sesekali dia terkekeh dengan tingkah suaminya itu. Kenapa dia begitu menggemaskan walau hanya sedang diam.


Hari sudah siang dan sudah waktunya makan siang. Tanpa menunggu-nunggu lagi, Dave pun langsung melahap masakan yang sudah dihidangkan Dinda dihadapannya. Perutnya sudah begitu lapar dan harus diisi tenaga. Apalagi pagi tadi setelah bertempur dia sama sekali belum sarapan.


Setelah selesai makan, Dinda kembali membereskan piring kotor dan mencucinya.


"Dinda, cita-cita kamu apa?" tanya Dave saat mereka duduk di teras rumah. Menikmati angin sepoi-sepoi.


Dinda sedikit kaget dengan pertanyaan Dave yang tiba-tiba. "Kenapa emangnya kak?" tanya Dinda heran.


"Aku hanya bertanya. Siapa tau aku bisa mewujudkan cita-cita kamu," balas Dave.


Dinda kembali mengingat keinginan dan cita-citanya saat kedua orang tuanya masih ada. Apalagi kedua orang tuanya sangat mendukung cita-citanya itu.


"Kamu kenapa sayang?" tanya Dave panik saat melihat Dinda yang tampak sedih. Apa mungkin dia salah bicara hingga membuat Dinda sedih?


Dinda menggeleng, "Dinda nggak apa-apa kak. Dinda hanya kangen sama ayah dan bunda. Dinda sedih hingga sekarang Dinda belum bisa mewujudkan cita-cita Dinda yang sangat didukung oleh mereka." ucap Dinda sedih. Air matanya jatuh membasahi pipi.


"Apa cita-cita kamu?" tanya Dave sambil menyeka air mata Dinda yang jatuh. Dia tidak ingin melihat istrinya terus bersedih.


"Dinda ingin buka toko kue kak," ucap Dinda senggugukan.


Hanya toko kue? masalah kecil itu mah. Sekali petik juga pasti jadi.


"Dinda mau buka toko kue yang ada cabangnya di seluruh dunia." sambung Dinda dan membuat Dave membuka mulutnya kaget.


Apa? seluruh dunia? harus habis berapa duit untuk membuka toko yang cabangnya sampai seluruh dunia? sungguh cita-cita yang sangat mulia.

__ADS_1


Hy teman-teman, jangan lupa vote, rate dan Like nya ya😊


__ADS_2