
Sebenarnya Dinda sangat mengantuk. Namun karena harus membereskan kamar dan tempat kerja Dave maka mau tidak mau dia harus melakukan. Dia harus siap sebelum waktu tidur. Jika tidak siap, maka dia yang akan kecapean. Belum lagi nanti jika Dave tiba-tiba pulang dan dia belum menyelesaikan tugasnya.
"Apa dulu yang harus aku lakukan? beres kamar atau bereskan tempat kerja dulu?"tanya dia sembari membilang jarinya sebagai poling.
"Ah baiklah. Aku akan membereskan kamar terlebih dahulu." dia pun berjalan memasuki kamar dan mulai merapikan. Mengganti sampul bantal dan mengganti seprai kasur dengan yang baru. Tidak lupa juga di mengganti posisi kasur agar berubah dan terlihat lebih tapi.
"Aduh capek." mengusap dahinya dengan tangan kanannya yang bercucuran keringat.
Setelah hampir dua jam dia bergelut membereskan kamar, maka kamar yang sudah dibereskan terlihat sangat rapi dan sudah bersih.
"Haus." ucap Dinda mengeluh. Kini dia merasa sangat dahaga dan pastinya capek.
Dengan langkah kaki yang terasa berat, Dinda turun kebawah. Membuka kulkas dan mengambil sebotol air mineral. Dengan sekali teguk, dia menghabiskan separuh air mineral tersebut.
"Ah, lega sekali." kini hausnya sudah hilang dan tenaganya sedikit demi sedikit terkumpul kembali.
"Masih ada tempat kerja kak Dave lagi yang harus aku bersihkan." berjalan dengan semangat.
Ruang kerja Dave terletak dilantai dua. Lebih tepatnya berada disamping kamar. Tempat tersebut tidak berpintu dan hanya berupa lorong seukuran empat meter.
Dinda mulai melakukan tugasnya. Dia mulai menyusun berkas-berkas yang berserakan. Mengumpulkan dan menyatukan semua berkas-berkas tersebut.
Jika bagian atas meja sudah selesai dirapikan, maka tinggal bagian lemari meja itu sendiri lagi yang harus diperiksanya. Benar saja. baru saja Dinda membuka lembari bawah, semua berkas-berkas berjatuhan. Ternyata Dave menumpuk nya menjadi seperti tumpukan sampah.
Dengan sabar Dinda mengumpulkan dan merapikan kembali. Membongkar semua isi lembari dan mulai menatanya.
Saat dia mulai menyusun berkas-berkas, tidak sengaja dia menjatuhkan sebuah amplop yang sudah dicoret-coret.
"Apa ini? kenapa dicoret-coret. Eh, ada isinya." mengguncang-guncang amplop tersebut.
Sebenarnya dia tidak begitu penasaran dengan isi amplop tersebut. Tapi karena dia mengguncangnya terlampau kuat, maka isinya pun keluar dengan sendirinya dengan posisi terbaik.
__ADS_1
"Foto?" mengambil dengan tangan kanannya.
Dinda sedikit kaget melihat siapa difoto tersebut. Tentu saja itu foto Dave. Tapi yang membuatnya kaget tentu saja orang disebelah Dave tersebut.
"Dandi? kenapa mereka bisa foto berdua?" mengernyitkan dahinya penasaran. Apalagi foto yang dilihatnya sudah cukup lama. Foto ketika Dandi mengenakan seragam SMA dan Dave mengenakan Almamater. Tampak Dave sedang merangkul Dandi. Tampak seperti teman yang akrab.
"Apa mereka dulu sangat dekat? tapi kenapa sekarang mereka musuhan?" mencoba menerka rasa penasarannya.
Jam menunjukkan pukul 7,30 malam. Dinda telah selesai melaksanakan tugasnya. Dia sudah selesai mandi dan sudah selesai makan malam.
Badannya terasa sakit semua. Apalagi tadi dia habis bertempur. Kini dia merabahkan tubuhnya disofa.
Meletakkan pergelangan tangannya didahi. Kini fikiran nya penuh dengan pertanyaan-pertanyaan. Tapi dia tidak berani untuk menanyakan langsung ke orang nya.
Sebelum itu, Dinda sudah mengambil foto yang ditemuinya dan menyimpannya agar tidak ketahuan oleh Dave. Jika nanti waktunya tepat, maka dia akan memberanikan diri untuk bertanya.
"Apa aku tanya Dandi saja? ah tidak-tidak. Dia tidak akan senang jika aku menanyakan itu." mengurungkan niatnya.
"Kenapa aku tidak pernah mengenali teman-teman Dave masa itu?" menghembus nafas kesal.
Flashback
Sebuah keluarga sedang berkumpul diruang keluarga. Tampak mereka sedang bercengkerama. Terlihat raut wajah bahagia di wajah mereka.
"Dinda, kamu nanti mau masuk sekolah mana sayang? mau satu sekolah sama Dandi aja?" tanya Diana, ibu kandung Dinda dan Dandi.
Dinda menopang dagu nya seraya berfikir. "Dinda nggak mau satu sekolah sama Dandi." sambil menatap Dandi kesal. Yang ditatap hanya memberi senyuman.
"Kenapa sayang? bukan kah biasanya kalian tidak mau berpisah? tapi kenapa sekarang kalian ingin pisah sekolah?" tanya Diana penasaran.
"Dinda nggak mau masuk disekolah pilihan Dandi. Dinda nggak suka disana. Sekolah itu tidak cocok untuk Dinda." jawab Dinda.
__ADS_1
"Kenapa? bukannya sekolah pilihanku itu bagus? lagiankan itu sekolah favorite. Kenapa Dinda nggak mau?" tanya Dandi sedikit kesal atas penolakan Dinda.
"Karena... " menggantungkan jawabannya. " Pokoknya Dinda nggak mau sekolah disana. Jika Dandi mau sekolah disana, ya silahkan. Tapi Dinda nggak mau sekolah disana." jawab Dinda.
"Alasannya nggak masuk akal deh." mendengus kesal. "Terserah kamu aja. Intinya nanti jangan menyesal ya?" ucap Dandi mencoba memprovokasi Dinda.
Melempar bantal sofa ke wajah Dandi. " Nggak, aku nggak bakalan nyesal." balasnya cepat.
Sebenarnya dia juga ingin masuk kesekolah pilihan Dandi. Dia ingin mereka sama-sama bersekolah disana. Tapi karena dia tidak ingin bertemu dengan mantannya yang juga masuk disekolah itu, maka dia mengurungkan niatnya untuk satu sekolah dengan Dandi.
Sebenarnya dia berat untuk berbeda sekolah dengan Dandi. Apalagi selama ini mereka selalu bersama. Mulai dari bayi hingga tamat jenjang SMP. Tapi karena tidak ingin bertemu Raffi, mantan pacarnya ketika SMP. Apalagi mengingat perlakuan Raffi kepadanya dulu saat masih menjalin hubungan.
Sebenarnya dia ingin menceritakan bagaimana perlakuan Raffi kepada Dandi saat mereka masih pacaran. Tapi karena takut akan terjadi sesuatu, maka dia tetap menyembunyikannya hingga sekarang.
"Yasudah kalau kamu tidak mau satu sekolah sama Dandi. Tapi pesan Bunda, kalian harus tetap akur dan selalu menjaga diri." ucap Diana sambil membelai rambut Dinda lalu memeluk kedua anaknya.
"Ayah, bagaimana dengan pekerjaan ayah dikantor?" tanya Diana kepada Daniel suaminya.
"Baik-baik saja bunda. Perusahaan tempat Ayah bekerja akan menaikkan jabatan para pegawai yang memenuhi target." balas Daniel.
"Dinda yakin, pasti Ayah akan naik jabatan. Ayah kan rajin dan giat dalam bekerja." puji Dinda kepada Ayahnya.
"Semoga saja sayang." memeluk kedua anaknya dengan sayang.
Flash on
Tanpa sadar, Dinda menjatuhkan air matanya dikala mengingat masa-masa bahagia ketika kedua orang tuanya masih hidup. Andai saja mereka masih hidup, pasti kehidupannya dan Dandi tidak akan pernah seperti sekarang. Pasti sekarang dia sudah bisa menyelesaikan kuliahnya dan merasakan memakai toga dan wisuda.
Tapi semua itu hanya hayalan yang tidak mungkin bisa terjadi. Setelah kepergian orang tuanya, begitu banyak orang yang mencoba menjatuhkannya. Begitupun dengan kerabat-kerabat orang tuanya.
Setelah kepergian orang tuanya, maka kerabat-kerabat orang tuanya berlomba-lomba untuk menguasai harta peninggalan orang tuanya yang ditinggalkan untuk mereka.
__ADS_1
Tapi, karena tidak bisa melawan dan tidak tau apa-apa, mereka merelakan semua harta berharga yang ditinggalkan orang tuanya diambil secara cuma-cuma.
Setidaknya mereka masih bersyukur diberikan sejumlah uang dan rumah tempat tinggal. Walaupun tidak sebesar dan semegah tempat tinggal lamanya ketika masih berkumpul bersama. Tapi sekarang, rumah itupun sudah hancur dan rata dengan tanah.