
Waktu menunjukkan pukul delapan malam. Dave dan Keluarganya sedang duduk menonton televisi. Sesekali Kikan melihat kearah jam dengan wajah khawatir.
"Mama kenapa sih?" tanya Dave yang aneh dengan sikap Kikan.
"Mama lagi nunggu Dinda pulang." balas Kikan.
Dave hanya bisa menghela napas dengan wajah tidak suka.
tok tok tok
Tiba-tiba suara pintu ada yang mengetuk.
"Dinda." Kikan yang mendengar dengan cepat beranjak dan berlari untuk membuka pintu tersebut.
Wajah Roy dan Dion menunjukkan kesenangan, tidak dengan Dave yang hanya memasang wajah seolah tidak acuh.
"Din... " Senyuman Kikan menghilang dikala orang yang mengetuk pintu rumahnya bukanlah orang yang ditunggu kedatangannya.
Begitu pun Roy dan Dion, mereka memasang wajah kecewa setelah mengetahui siapa orang disebalik pintu tersebut.
"Tante, selamat malam." Cindy menyapa lalu masuk kerumah setelah dipersilahkan masuk oleh Kikan.
Cindy berjalan mengikuti langkah Kikan lalu duduk bersama mereka.
Ngapain juga dia datang. Bikin sakit mata saja.
Dave mengerutu dengan kedatangan Cindy yang seperti mencari kesempatan dalam kesempitan agar bisa meluluhkan hati kedua orang tuanya.
Cindy tersenyum kepada Kikan dan Roy lalu kepada Dion dengan senang hati.
Dave hanya membalas wajah cuek saat Cindy menatapnya.
"Ngapain kamu kemari?" tanya Dave dengan wajah jutek.
"Nak, jangan seperti itu kepada Cindy. Dia datang kesini baik-baik." ucap Kikan yang kurang suka dengan sambutan Dave kepada Cindy.
"Nggak apa-apa koq tante. Cindy tau Dave mungkin kaget aja Cindy datang secara tiba-tiba." balas Cindy mencoba tersenyum ramah.
"Ada urusan apa Cindy datang malam-malam kerumah?" tanya Kikan dengan sopan agar Cindy tidak tersinggung.
"Nggak ada koq tante, Cindy cuma mau kenalan sama adik cewek Dave. Cindy penasaran aja sekalian mau dekat." jawab Cindy dengan senyum pepsodennya.
Kikan murung saat Cindy mengatakan tujuannya datang kerumah. Hatinya sakit kala mengenang Dinda.
"Kenapa tante? apa Cindy ada membuat hati tante sakit?" tanya Cindy yang bingung dengan ekspresi Kikan.
__ADS_1
"Nggak ada koq Cindy, cuman Dinda nya nggak ada dirumah." balas Kikan dengan tegar.
"Hah, emang kemana Dinda nya tante?" tanya Cindy lagi saat orang yang ingin ditemuinya tidak berada dirumah.
"Dinda hilang, enggak tau kemana. Tante udah lapor polisi, namun sampai saat ini dia belum juga ditemukan. Tante kangen sama Dinda." air mata Kikan kembali bercucuran saat mengenang Dinda. Kasih sayang nya kepada Dinda sangatlah tulus.
Cindy membesarkan pupil matanya seakan tidak percaya dengan apa yang terjadi dengan keluarga Dave. Dave sama sekali tidak pernah bercerita. Kini ia menjadi sangat kesal kepada Dave.
Apaan sih Dave, sama sekali tidak pernah cerita. Padahal aku ini akan menjadi calon istrinya.
Cindy mengerutu sambil tersenyum saat membayangkan ia dan Dave akan menikah.
Dave yang sadar dengan tingkah Cindy lalu melemparkan bantal sofa dan membuat Cindy kaget. Hayalan dan mimpinya membayangkan sebuah pernikahan hancur berantakan.
"Aduh, sakit tau." Cindy marah-marah dengan manja kepada Dave. Dave hanya cuek.
Seketika suasana yang tadinya hening menjadi riuh saat suara tawa terdengar dari mulut Kikan dan Roy.
Setidaknya tingkah Cindy dan Dave masih bisa mengobati kerinduan mereka kepada Dinda.
****
Jang tampak gelisah dan tidak tenang. Perasaannya bercampur aduk. Perasaan khawatir kepada Dinda dan serbasalah kepada Dave.
Tok tok tok
"Masuk!" suruh Jang.
Jang memasang wajah bingung dan khawatir atas kedatangan Dave secara tiba-tiba dikantornya. Biasanya jika Dave ingin bertemu, maka sebelum itu Dave akan memberi kabar terlebih dahulu.
"Kenapa dengan wajahmu itu?" tanya Dave tidak terima.
"Tidak ada apa-apa, aku hanya kaget kau datang tidak memberitahuku terlebih dahulu." balas Jang sedikit gugup.
"Begitukah? aku pikir kau seperti tidak suka dengan kehadiranku disini." balas Dave lagi.
Mereka pun berbincang-bincang dengan santai nya. Sesekali terdengar suara tawa dari mereka.
"Apa tujuanmu datang kemari?" tanya Jang.
"Aku ingin kau mencabut laporan orang tuaku untuk mencari Dinda. Aku sudah muak dengannya." pinta Dave.
"Kenapa? apa kau akan menyakitinya lagi?" tanya Jang sedikit khawatir dan dibalas gelengan kepala oleh Dave.
Jang bingung sekaligus sedikit tenang dengan jawaban yang diberikan Dave kepadanya. Setidaknya Dave tidak akan menyakiti Dinda lagi. Tapi kenapa?
__ADS_1
"Alasannya kenapa? sepertinya kau bukan Dave yang aku kenal." tanya Jang kebingungan dengan pernyataan Dave.
"Aku sudah tidak tertarik lagi kepadanya. Setidaknya aku bersyukur karena dia sudah pergi dari kehidupan keluargaku. Maka semua rahasiaku tidak akan diketahui oleh orang tuaku." jawab Dave santai.
Dave sudah tidak tertarik lagi untuk mencari Dinda. Yang hanya dipikirkan Dave hanyalah bagaimana cara menjauhkan Dinda dari keluarganya. Agar segala perbuatannya tidak diketahui oleh orang tuanya.
Jang tersenyum karena Dave sama sekali tidak berniat menyakiti Dinda lagi. Namun disisi lain Jang juga sedih karena tidak akan pernah bertemu lagi dengan Dinda.
Apa aku sendiri saja yang mencari Dinda dan membawanya ketempat yang aman?
"Dave, apa kau tidak ingin menjauhkan dari pekerjaan kotor itu?" tanya Jang sedikit iba.
Dave terkejut dengan apa yang dikatakan Jang barusan. Selama ia mengenal Jang, tidak pernah sekali pun ia dinasehatinya apalagi menyuruhnya berhenti dari pekerjaan tersembunyi tersebut.
"Apa aku salah dengar?" tanya Dave dengan mengarahkan telinganya ke arah Jang.
Jang hanya tertawa kecil. Ia sudah pasti paham dengan respon Dave yang seperti tidak percaya dengan yang dikatakannya barusan.
"Pendengaranmu tidak salah Dave. Aku hanya ingin kau tinggalkan pekerjaan itu. Aku hanya tidak ingin kau nanti terjerat kasus yang membuat malu keluargamu." balas Jang dengan tenang.
Jang sendiri tidak tau apa yang terjadi dengan pola pikirnya baru-baru ini. Perasaan ingin melindungi orang-orang yang tertindas sangatlah besar. Bisa dikatakan Jang sedang dimasa kembali ke jalan yang benar. Benar-benar menjalankan tugas yang baik sebagai seorang polisi.
"Aku tidak tau kenapa aku berfikir begitu. Aku hanya merasa damai dan senang jika aku tidak menyalah gunakan kekuasaanku." terang Jang dengan jelas.
Semenjak ia bertemu dan berkenalan dengan Dinda, perasaannya menjadi tenang. Apalagi dengan kepolosan yang ditunjukkan Dinda kepadanya. Besar sekali keinginannya untuk melindungi Dinda.
Dave terdiam dan tampak berpikir. Sebenarnya dihati paling dalam ia sungguh ingin meninggalkan pekerjaan tersebut. Tapi untuk saat ini belum bisa sama sekali ia tinggalkan.
Perasaan cemas dan khawatir tentu sangat ia pikirkan. Apalagi jika kedua orangtuanya tau.
"Aku tidak tau Jang, aku belum bisa memastikannya." balas Dave.
Malamnya
Dave sudah sampai didepan aparteman Cindy. Ia duduk santai didalam mobilnya menunggu kedatangan Cindy.
Tidak lama kemudian, Cindy datang dengan pakaian berwarna merah dengan belahan dada yang terbuka dan membuat Dave menelan ludah.
"Pakaian seperti apa yang kau pakai ini?" tanya Dave sedikit risih. Ia hanya tidak ingin nafsunya bangkit melihat belahan dada Cindy yang sangat empuk untuk diraba.
Cindy hanya tersenyum. Ia hanya menguji Dave dengan pakaian yang dikenakan saat ini. Ia juga tau bagaimana cara membangkitkan nafsu Dave yang liar tersebut. Namun sepertinya Dave sedang menahannya.
Dave menjalankan mobilnya menuju arah yang diperintahkan Cindy. Ia mau tidak mau harus menurut kepada Cindy karena sudah berjanji akan bertemu. Walau sebenarnya ia sangat tidak ingin menemuinya. Entah kemana Cindy ingin membawanya. Semoga saja Cindy tidak memancing nafsunya.
Jangan lupa Vote dan rate bintang 5 nya ya teman-teman.
__ADS_1
Like nya juga jangan pelit-pelitlah😊. Hehe
Terimakasih udah selalu menjadi pembaca setia karya author.