MENIKAH DENGANMU

MENIKAH DENGANMU
Merasa Dihantui


__ADS_3

Kikan dan Roy sangat tidak sabar ingin bertemu Dinda, begitu pun Dion yang juga sangat bersemangat. Setelah hampir sebulan lamanya tidak menemui Dinda.


"Ternyata tempatnya belum berubah pa." ucap Kikan kepada Roy saat turun dari mobil.


"Dimana kita akan menemui Dinda ma?" tanya Dion bingung melihat rumah yang begitu banyak. Dimana satu rumah yang akan mereka datangi.


"Mama juga nggak tau, gimana kalau kita tanya sama warga sekitar yang kebetulan lewat," balas Kikan lalu menghentikan seorang bocah yang sedang mengayuh sepeda.


"Hy adik kecil, boleh tante nanya sesuatu sama kamu?" tanya Kikan kepada bocah tersebut.


"Tanya apa tante? silahkan saja." jawab bocah itu.


"Dimana kami bisa menemui Dinda? kamu kenalkan Dinda kan?" tanya Kikan kembali.


Bocah tersebut mengangguk sambil menunjuk ke sebuah rumah berpagar yang tidak jauh dari mereka berdiri.


"Disana tante rumah kak Dinda." jawab bocah itu.


"Terima kasih ya." Kikan melambai tangan kepada bocah tersebut dan bocah tersebut pun pergi meninggalkan mereka.


Tok Tok Tok


Suara pintu terdengar dari luar. Dinda dengan cepat berlari menuju pintu.


"Siapa?" tanya Dinda sambil membuka pintu.


Mata Dinda berkaca-kaca saat melihat orang disebalik pintu tersebut. Perasaan rindu yang selama ini ia rasakan. Begitupun yang dirasakan Kikan saat ini.


Dinda mengajak Kikan, Roy dan Dion untuk masuk kedalam dan mempersilahkan mereka duduk disofa sambil menunggu untuk dibuatkan air.


"Tante, koq tau kalau Dinda disini?" tanya Dinda sambil meletakkan air yang telah ia buatkan keatas meja.


"Pak Jang yang mengatakan jika Dinda berada disini. Dinda, tante sangat kangen sama kamu. Kenapa kamu harus pergi dari rumah? Kamu tau betapa khawatirnya kami saat kehilangan kamu nak." ucap Kikan dengan mata yang berkaca-kaca.


Air matanya jatuh bercucuran saat memeluk tubuh mungil Dinda. Begitu pun Dinda yang juga larut dalam kesedihan.


"Dinda juga kangen sama tante, om dan kak Dion." balas Dinda yang terus memeluk erat tubuh Kikan.


"Dinda, bagaimana keadaan kamu sekarang?" tanya Dion saat mereka melepaskan pelukan.


"Dinda baik-baik saja kak. Dinda senang tinggal disini." jawab Dinda jujur.

__ADS_1


"Nak, kenapa kamu pergi dari rumah? apa ada sesuatu yang terjadi pada kamu?" tanya Roy penasaran. Bagaimana mungkin Dinda pergi meninggalkan rumah secara tiba-tiba tanpa ada sebab dan masalah.


"Om, maafin Dinda. Dinda sadar, Dinda bukan keluarga om dan tante. Dinda hanya tidak ingin selalu merepotkan om dan tante." jawab Dinda menahan tangis. Ia tidak mau mengatakan kebenaran yang terjadi karena tidak ingin Roy dan Kikan kaget.


Tidak mungkin juga mereka percaya dengan apa yang terjadi. Mereka akan berfikir ia hanya mengarang cerita semata.


"Dinda, ayo kita pulang!" ajak Kikan lagi sambil meraih kedua tangan Dinda.


"Maaf tante, Dinda nggak bisa ikut. Dinda udah sangat senang tinggal disini. Mereka lah sekarang keluarga Dinda. Apalagi rumah Dinda yang sekarang bersebelahan dengan rumah Dinda dan Dandi tinggal dulu." balas Dinda. Walau hati nya menginginkan kembali kerumah tersebut, namun ia tidak ingin lagi bertemu dan berurusan dengan Dave.


"Sayang, tante sangat berharap kamu bisa kembali lagi seperti dulu. Tapi tante tidak akan memaksamu untuk kembali. Itu hak Dinda untuk memilih. Tante cuma berharap kamu tidak melupakan tante dan om begitu pun kak Dion dan kak Dave. Karena kami semua sangat menyayangi Dinda" ucap Kikan tulus.


"Iya tante, Dinda juga menyayangi kalian semua. Dinda sangat berterimakasih karena selama ini tante dan keluarga sudah menerima kehadiran Dinda." balas Dinda.


Mereka pun saling melepaskan rindu satu sama lain. Tampak kebahagiaan dimata mereka.


"Dinda, kita pamit ya. Jika ada waktu mampir lah kerumah. Bagaimana pun disana tetap rumah Dinda juga." ucap Kikan sambil berpamitan diikuti Roy dan Dion.


Akhirnya mereka pun meninggalkan kediaman Dinda dan kembali kerumah Atmawijaya.


Dinda tersenyum bahagia karena sudah bisa bertemu dengan orang-orang yang ia rindukan. Sekarang ia bisa bernafas lega karena Dave sudah tidak akan menyakitinya selagi ia tidak kembali kerumah tersebut dan berurusan dengannya.


****


Setelah pulang bekerja, ia memutuskan untuk pergi ke kafe tempatnya dan Bagas biasa nongkrong dulu.


Sesampai disana, ia langsung duduk dan memesan pesanan.


"Dandi?" ucap Dave kaget saat melihat seseorang yang sangat mirip dengan almarhum Dandi.


Dave bangun dan mengikuti kemana arah orang yang sangat mirip dengan Dandi tersebut.


"Apa aku dihantui arwah Dandi?" ucap Dave saat kehilangan jejak orang tersebut.


Dave kembali kedalam cafe sambil terus menatap bingung kearah belakang. Bagaimana bisa orang yang sudah mati bisa menghantui nya.


"Kau akan mempertanggungjawabkan perbuatanmu selama ini." ucap pria misterius tersebut saat menghilangkan diri dari pandangan Dave. Ia mengepal tangannya dengan sangat erat.


Dave masih gelisah dan sesekali menatap kearah luar sembari mencari-cari orang yang dilihatnya barusan.


"Apa aku salah lihat? tapi tidak mungkin orang yang sudah mati bisa hidup kembali." dengus nya dengan kesal.

__ADS_1


Dave tidak ingin hal-hal mistis akan menghantui nya karena kematian Dandi.


Tepat disana, Cindy yang juga mendatangi kafe tersebut melihat Dave yang sedang duduk sendirian.


"Jodoh nggak bakalan kemana." ucap Cindy tersenyum yakin lalu menghampiri Dave dan membuat Dave kaget dengan kedatangannya.


"Boleh aku duduk?" tanya Cindy lalu menarik kursi yang berada didepan Dave.


"Disana masih banyak tempat kosong. Bisa kan jangan pernah menampakkan diri dihadapanku lagi?" ucap Dave sambil menunjuk sebuah bangku kosong yang agak jauh dari tempatnya duduk.


Cindy tidak memperdulikan suruhan Dave dan tetap duduk didepan Dave. Ia akan berusaha mendekati Dave kembali bagaimana pun caranya. Baik dihina atau dipermalukan sekali pun ia akan tetap terima.


Dave hanya terdiam dan memalingkan pandangannya dari Cindy yang sedang menatap wajahnya.


"Tolong jangan bikin aku risih dengan tatapanmu itu. Aku kemari ingin menjernihkan fikiran. Jangan karena kau suasana hatiku semakin kacau." ucap Dave kesal. Ia sama sekali tidak suka Cindy menatapnya seperti itu.


Cindy hanya tertawa geli melihat ekspresi Dave. Bukan tanpa sebab Cindy menatapnya. Tentu ia sedang mencermati dan mencari titik terlemah Dave.


"Ayolah Dave jangan seperti itu. Aku hanya ingin kita baikan. Aku bosan jika dimusuhi begini terus." ucap Cindy memohon.


Saat menatap kearah luar, Dave kembali menangkap sosok yang ia kajar tadi. Mata Dave terus menangkap pergerakan orang tersebut dengan jelas. Meneliti apakah orang tersebut adalah Dandi atau bukan.


"Kamu liatin apa?" tanya Cindy penasaran saat melihat Dave seperti memantau sesuatu.


"Bukan apa-apa, bukan urusanmu juga" balas Dave ketus.


"Dave, tolong jangan seperti ini terus kepadaku. Aku hanya ingin kita dekat seperti dulu. Hargai perasaan aku Dave." ucap Cindy sedih karena Dave mengacuhkannya.


Dave yang seperti tidak tahan dengan rengekan Cindy pun lalu berdiri dan meninggalkan Cindy.


"Dave, Dave," panggil Cindy saat Dave hendak memasuki mobilnya.


"Mau apa lagi kamu?" tanya Dave kesal.


"Dave, kamu boleh membenciku. Tapi tolong jangan mengacuhkan aku. Hargai perjuangan dan perasaanku Dave. Aku mohon!" rengek Cindy dan membuat Dave semakin bosan.


Dave lalu masuk kedalam mobil dan meninggalkan Cindy sendirian yang sedang menangis.


"Tega kamu Dave." ucap Cindy lirih.


Dari arah belakang, seorang pria mengawasi dari kejauhan dan kemudian mencoba menghampiri.

__ADS_1


"Mbak," orang tersebut menepuk punggung Cindy dan membuat Cindy sangat kaget dengan reflek membalikkan tubuhnya.


"Kamu siapa?" tanya Cindy kebingungan.


__ADS_2