
Dave masih bergelut dengan nafsu buasnya. Berkali-kali Dinda mencoba melepaskan diri, namun sama sekali tidak berhasil. Tenaganya sangat tidak kuat ingin melawan Dave yang kekar.
"Tolong, jangan sentuh aku. Aku mohon!" pinta Dinda tersendu-sendu saat Dave berhasil membuka kancing bajunya.
Dave menghentikan gerakannya dan menatap wajah sembab Dinda dengan lekat. Sesekali ia tertawa mengejek saat Dinda terus saja memohon kepadanya.
"Sepertinya ini akan menjadi malam pertama yang sangat menyenangkan." ucapnya dengan tatapan mesumnya.
Dave kembali menjalankan aksinya. Ia kembali mencium bibir Dinda dengan sangat nafsu. Kemudian ia mulai menyusuri mengecup lembut leher hingga ke dada Dinda.
"Mohon... kumohon jangan! Aku tidak ingin kau melakukannya!" lirih Dinda.Dinda sudah kehabisan tenaga untuk menyingkirkan tubuh Dave yang kekar. Bagaimanapun ia melawan dan mempertahankan diri, Dave sama sekali tidak bisa disingkirkan.
Dinda mulai menangis karena sangat panik saat Dave mengangkat kedua tangannya keatas kepalanya.
Dave menggunakan satu tangannya untuk menyatukan kedua pergelangan Dinda dalam cengkeraman yang kuat. Satu tangannya lagi bergerak membuka pakaian Dinda dengan gerakan tidak sabaran. Hingga tidak menyisakan satu benang pun.
Malam ini, Dave tidak ingin menahan-nahannya lagi. Apalagi ia sangat membutuhkan dan Dinda sudah sah menjadi istrinya. Ia sudah tidak memperdulikan tangisan Dinda yang menjadi satu-satunya untuk mempertahankan kehormatannya.
Dave meraih tubuh Dinda dan akan melakukan kehendaknya. Namun, Dave menghentikan aksinya saat melihat Dinda tidak bereaksi.
"Apa dia pingsan?" tanya Dave sedikit panik. Padahal ia belum sempat melakukan aksinya.
Dave turun dari ranjang dan menutupi tubuh Dinda yang terbuka tanpa sehelai benang. Ia meraih kembali handuk yang sudah dilepas dan kembali mengikatnya di pinggang.
Dave duduk disamping ranjang dan Berkali-kali ia mengusap wajahnya seakan menyesal dengan perbuatannya.
"Bodoh." Dave mengutuki dirinya seakan telah gagal mengontrol nafsunya yang buas.
Dave membalikkan badan dan menatap wajah Dinda yang terlihat sendu. Tampak kesedihan dan penderitaan dibalik wajah tersebut. Ia meraih dan mengusap pipi Dinda dengan lembut.
"Maafkan aku Dinda, aku tidak bermaksud memperlakukan mu seperti itu." ucapnya penuh penyesalan.
Hampir saja ia tidak bisa mengontrol nafsunya. Jika hal itu terjadi, maka ia akan menghadapi situasi yang sangat sulit. Apalagi jika Dinda sampai hamil dan mengandung benihnya.
__ADS_1
"Dasar payah. Kenapa aku tidak memikirkan masalah yang akan terjadi kedepannya." ucap Dave lagi.
Dave lalu pergi membersihkan diri kembali. Setelah selesai, ia mengenakan pakaian dan keluar dari kamar.
"Kau menghidangkan makan malam untukku?" tanya Dave saat melihat hidangan yang tersedia dimeja makan.
Dave hanya menatap makanan yang terhidang namun tidak menyentuhnya. Ia sama sekali tidak merasakan lapar. Otaknya kini buntu dan butuh ketenangan. Ia memutuskan untuk keluar dan bersenang-senang bersama teman-temannya di bar.
Dinda terbangun dari pingsannya. Ia perlahan-lahan membuka matanya yang masih berat. Ia masih berusaha mengumpulkan nyawanya kembali.
Setelah nyawanya kembali, ia mengingat kejadian yang telah menimpanya. Ia menatap selimut yang menutup tubuh mungilnya. Ia kembali menangis melihat kondisinya sekarang tanpa sehelai benang dan hanya ditutupi dengan selimut.
"Dasar brengsek. Aku tidak akan pernah memaafkanmu." ucap Dinda marah. Tubuhnya gemetar merasa sangat ketakutan setelah mengingat kembali apa yang telah dilakukan Dave kepadanya.
Dinda turun dari ranjang dan kembali memungut pakaiannya yang berserakan dilantai. Lalu ia mengenakan kembali pakaiannya.
Dinda keluar dari kamar dengan sangat hati-hati. Ia mengintip kearah luar memastikan apakah Dave berada dibawah. Setelah memastikan orang yang dimaksud tidak ada, Dinda memberanikan untuk turun kebawah.
"Kau tidak pernah menghargai ku." ucap Dinda sedih saat ia masih melihat makanan yang utuh diatas meja.
Setelah sekian lama menunggu, akhirnya Dinda kalah melawan kantuk yang melanda sejak tadi. Ia pun tertidur pulas tanpa mengetahui apakah Dave pulang atau tidak.
*****
Dandi sedang mengepel lantai ruangan kantor. Tiba-tiba air didalam ember tidak sengaja ia senggol dan akhirnya tumpah membasahi ruangan tersebut.
"Kenapa jadi begini?" ucap Dandi panik. Ia segera berlari kebelakang mengambil pel yang kering dan kembali keruangan untuk mengeringkan lantai yang sudah basah tersebut.
Perasaannya sedang tidak baik dan merasa sedikit cemas. Ia merasa seperti ada sesuatu yang telah terjadi. Ia mengelus-elus dadanya agar perasaan cemas yang dirasakan hilang.
"Apa Dave melakukan sesuatu pada Dinda?" tanya ia penasaran. Sebelumnya ia tidak pernah merasakan perasaan cemas seperti ini. Namun, sekarang perasaan itu tiba-tiba saja datang.
__ADS_1
Dave buru-buru membuang fikiran anehnya. Tidak mungkin Dave melakukan hal-hal diluar kewajaran. Bukankah Dave hanya memperlakukan Dinda sebagai pembantunya. Yang harus patuh dan menurut kepada tuannya.
Disebalik pintu, Adit tampak berdiri dan memperhatikan tingkah Dandi yang tampak aneh baginya. Dengan lantai yang dipenuhi air dan masih belum kering. Ia juga menihat wajah Dandi tampak seperti cemas dan sesekali mengelus-ngelus dadanya.
"Kamu kenapa?" tanya Adit.
Dandi tersadar dari lamunannya dan menoleh kearah sumber suara yang sedang berdiri didepan pintu sambil menyender dan melipat tangan ke dada.
"Adit, sejak kapan kamu berdiri disana?" tanya Dandi bingung. Sejak kapan Adit berada disana. Bukankah baru sebentar saja ia masuk dan membersihkan kembali lantai yang masih basah.
"Saat kamu masuk." balas Adit santai.
Mereka saling bertatapan. Sebenarnya Dandi ingin mengatakan perasaan cemas yang ia rasakan terhadap Dinda. Namun ia tidak ingin Adit semakin khawatir. Apalagi sekarang Dinda sudah menjadi istri Dave.
"Dandi... " Adit menggantungkan kata-katanya.
"Ada apa?" tanya Dandi penasaran. Wajah Adit memperlihatkan seperti ingin menanyakan sesuatu kepadanya dan terlihat kecemasan dari raut wajahnya.
"Apa Dinda baik-baik saja?" sambung Adit menuntaskan pertanyaan yang tadinya masih menggantung.
Perasaan rindu akan sosok Dinda tentu saja masih dirasakan Adit. Rasa sayang dan cintanya terhadap Dinda tidak pernah berkurang sampai sekarang. Walaupun kenyataannya sekarang Dinda telah menjadi istri orang lain. Karena cinta telah membutakan segalanya.
Dandi menghela napas panjang. Bagaimana bisa ia mengetahui apakah Dinda baik-baik saja disana. Sedangkan ia sendiri sama sekali tidak bisa berkomunikasi dengan Dinda. Dave sudah memutuskan semua alat komunikasi Dinda agar tidak bisa menghubunginya. Dave juga telah menganti nomor baru dan ia tidak memilikinya.
"Maaf Dit, aku tidak bisa mengetahui apakah Dinda baik-baik disana." jawab Dandi tertunduk sedih.
"Dave telah memutuskan semua komunikasi Dinda. Ia juga tidak memberi kita kesempatan untuk menemui Dinda." sambung Dandi lagi.
Dandi sangat merasa sangat bersalah kepada Adit. Apalagi ia menjadi penyebab terputusnya hubungan mereka.
"Aku akan menemui Dinda bagaimanapun caranya." balas Adit yakin. Ia tidak ingin Dave menutup jalur untuk bisa menemui Dinda. Sepertinya tidak salah menemui Dinda. walaupun ia tau status Dinda telah menjadi istri orang lain.
**Jangan lupa vote dan rate bintang 5 nya ya.
__ADS_1
like nya juga jangan pelit-pelit😊**