
"Benarkah?" tanya Dave tidak percaya.
Ternyata Dinda orang yang mudah pemaaf. Padahal sebelumnya ia sangat was-was jika Dinda tidak mau memaafkannya lagi.
Dave sangat senang Dinda memaafkan nya. Seketika ia langsung berlari menghampiri Dinda. Ingin sekali ia memeluk. Namun ia sudah berjanji tidak akan menyentuhnya. Bukankah Dinda sangat sensitif dengan sentuhan.
"Terima kasih." ucap Dave sambil mengacak-ngacak rambut Dinda. Kemudian berlari keluar meninggalkan Dinda yang mematung.
Setelah pesanannya sampai, Dave naik kembali untuk mengajak Dinda makan malam. Dinda menurut dan mereka pun turun kebawah.
Sepanjang jalan, Dinda sama sekali tidak melepas bunga yang dihadiahkan Dave untuknya. Ia tetap setia memeluk bunga tersebut dan membuat Dave semakin senang.
"Ayo makan. Aku sudah memesan ayam kaaci dan pizza untuk makan malam kita.
Air liur Dinda seperti mau menetes melihat makanan dihadapannya. Makanan yang sangat jarang ia jumpai dan ia makan saat masih tinggal bersama Dandi.
Dengan cepat Dinda melahap makanan didepannya.
"Enak?" tanya Dave dan dibalas anggukan oleh Dinda.
"Kalau kamu suka, aku akan selalu memesankan untukmu." balas Dave senang.
Melihat Dinda seperti ini saja sudah membuat hatinya senang. Ia juga sering mencuri-curi pandangan saat Dinda dengan antusias memakan makanannya. Seketika pandangannya beralih ke bibir Dinda yang belepotan terkena saos. Dengan cepat Dave meraih bibir Dinda dan membersihkan saos yang menempel disana.
Dinda berhenti mengunyah saat bibirnya disentuh secara tiba-tiba oleh Dave. Matanya terbelalak seakan tidak percaya dengan apa yang dilakukan Dave.
Dave yang fokus membersihkan sisa saos seketika bernafsu melihat bibir Dinda yang kecil dan seksi. Dave memiringkan kepalanya dan mendekat kearah bibir Dinda.
"Apa yang kau lakukan?" tanya Dinda panik. Ia dengan cepat mendorong kuat dada Dave hingga terjatuh. Ia tidak mau kejadian waktu itu terulang kembali.
Sial, kenapa aku melakukannya lagi? Kenapa aku begitu bernafsu saat melihat bibirnya? Sesal Dave.
"Dinda, maafkan aku. Aku tidak bermaksud untuk menciummu." Dave memukul-mukul kepalanya karena kesal.
Dinda dengan cepat meraih tangan Dave agar tidak menyakiti diri sendiri."Ja jangan lakukan itu. Aku sudah memaafkan." balas Dinda.
__ADS_1
Ia hanya perihatin Dave menyakiti dirinya sendiri. Ia juga berfikir bahwa Dave tidak berniat untuk menciumnya.
Dave semakin tersentuh. Ia tidak tau harus berkata apa lagi. Sudah beberapa kali dia menyakiti dan mencoba menyentuh Dinda, tapi dengan mudahnya Dinda memaafkan perbuatannya. Sungguh wanita yang luar biasa.
Waktu menunjukkan pukul sepuluh malam. Mereka memutuskan untuk tidur.
Dinda seperti biasa langsung berbaring dilantai. "Dinda, kemari lah.!" ajak Dave.
Dinda bangun dan langsung menghampiri.
"Tidurlah disini! Mulai malam ini kau akan tidur disini." ucap Dave sambil menepuk-nepuk disebelahnya.
Dinda tampak memikir. Tentu saja ia memikirkan hal-hal yang akan terjadi jika mereka tidur di ranjang yang sama. Ia juga sangat tau posisinya sekarang. Seorang istri yang harus menjalankan kewajiban untuk suaminya.
"Tenanglah, aku tidak akan macam-macam. Bukankah aku sudah berjanji padamu." balas Dave. Ia sangat tau apa yang di fikirkan Dinda saat ini.
Mau tidak mau, Dinda pun akhirnya menurut dan tidur di ranjang yang sama. Hanya guling yang menjadi pembatas jarak mereka. Akhirnya, hari semakin malam dan mereka pun terlelap.
Pagi itu, seperti biasa Dave akan berangkat bekerja. Namun sebelum berangkat, ia akan sarapan terlebih dahulu.
"Hmm, sudah kak." balas Dinda.
Dinda memutuskan akan memanggil Dave dengan sebutan kakak. Sebelumnya Dinda pernah memanggil Dave dengan sebutan kakak. Namun pada saat itu Dave sangat membenci Dinda dan tidak suka dipamggil dengan sebutan kakak.
Dave tersenyum mendengar jawaban Dinda. Lebih lagi dengan panggilannya yang kini sudah berganti. Entah kenapa ia begitu senang saat Dinda memanggilnya dengan sebutan kakak.
"Ayo makan!" ajak Dave saat ia meraih kursi untuk duduk disana. Dinda pun menurut.
Dinda dan Dave sama-sama diam. Mereka sama-sama tidak mengambil nasi untuk dimasukkan kepiring.
Dinda sebenarnya sudah lapar. Namun ia tetap diam sembari menunggu Dave terlwbih dahulu mengambil nasi ke piring nya.
Suasana seperti apa ini? Kenapa dia hanya diam saja. Apa dia tidak lapar? Kenapa juga dia menatap dan senyum-senyum kepadaku? Gumam Dinda bingung.
"Kenapa hanya diam saja? Ayo lakukan?" ucap Dave membuyarkan suasana yang hening.
"Maksud kakak?" tanya Dinda sedikit bingung.
__ADS_1
Dave menghela nafas kasar. Ternyata wanita di depan nya sama sekali tidak peka. Padahal ia hanya menginginkan Dinda melakukan tugas sebagai istri yang baik. Sama seperti istri-istri pada umumnya.
"Siapkan makanan untukku!" ucap Dave lagi.
Dinda sama sekali tidak mengerti maksud yang dikatakan Dave. Bukankah dia sudah memasak sarapan pagi untuk Dave dan menghidangkannya dimeja. Tapi kenapa dia meminta dihidangkan lagi? Dihidangkan seperti apa lagi maksudnya?
Karena melihat Dinda sama sekali tidak bereaksi, ia mengangkat dn menyodorkan piring nya kearah Dinda sebagai kode.
"Ah iya iya kak." ucap Dinda senyum. Kini ia sudah paham maksud dari Dave.
Dinda lalu mengambil nasi dan memasukkan ke piring Dave. Tidak lupa juga memasukkan lauk dan sayuran. Setelah selesai, barulah Dinda beralih ke piring nya.
Ini baru pertama kali Dinda melakukannya. Selama ini, Dinda hanya bertugas memasak dan menghidangkan saja. Setelah selesai maka dia akan menunggu Dave hingga meninggalkan meja.makan. Jika Dave pergi, barulah dia akan meberes dan gilirannya untuk makan.
"Selamat makan." ucap Dave lalu memasukkan suapan di mulutnya. Dinda hanya tersenyum kecil dan mereka pun makan bersama.
"Mulai hari ini, aku minta kamu seperti ini terus." ucap Dave disela-sela mengunyah.
Dinda hanya melongo mendengar perintah Dave. Padahal selama ini dia tidak menginginkan semua itu. Timbul rasa senang dihatinya. Dave telah menghargai usahanya menjalankan tugas sebagai istri yang baik. Walaupun pernikahannya atas dasar paksaan dan ia juga sama sekali tidak mencintai Dave.
"Baik kak." balas Dinda senang.
Dave tersenyum mendengar jawaban Dinda. Ternyata istrinya penurut dan tidak membantah.
Setelah selesai sarapan, Dave pemit untuk pergi bekerja.
"Dinda, aku berangkat kerja dulu ya." pamit Dave sambil mengulurkan tangannya.
Dinda diam dan menatap bingung uluran tangan Dave. Dengan sedikit canggung dan ragu-ragu, Dinda meraih dan mencium punggung tangan Dave. Ini juga baru pertama kali dia lakukan setelah menjadi istri sah Dave.
"Hati-hati kak." balas Dinda sembari melambaikan tangan.
Setelah sepeninggalan Dave, Dinda lngsung menjalankan rutinitas hariannya. Ia lalu mencuci tumpukan piring sarapan mereka tadi. Setelah selesai ia segera mandi dan membersihkan diri.
Jam menunjukkan pukul satu siang. Waktunya makan siang. Kali ini, Dinda tidak memasak dan hanya memakan sisa lauk sarapan paginya tadi. Setiap pagi dia akan memasak lebih untuk makan siangnya. Ketika makan malam baru dia akan memasak lagi.
Semakin lama Dinda semakin bosan. Kenapa Dave tidak memberinya kesempatan untuk keluar dari Apartemen. Padahal ia sama sekali tidak ada niatan untuk melarikan diri jika diberi kesempatan. Ia hanya ingin bertemu Dandi dan Adit saja. Sudah sangat lama dia merindukan mereka berdua.
__ADS_1