MENIKAH DENGANMU

MENIKAH DENGANMU
Sidang


__ADS_3

Hari ini merupakan sidang Dave. Tampak keluarga besar Dave duduk di bangku yang sudah disediakan. Tidak terkecuali Dinda, Dandi dan Adit. Mereka sama-sama akan menjadi saksi dipersidangan tersebut.


Hampir dua jam persidangan itu berlangsung.


"Saudara Dave Atmawijaya akan dipenjara selama 5 bulan atas perbuatannya." ketuk palu oleh hakim.


Adit sedikit kurang puas dengan lama kurungan Dave. Menurutnya itu waktu yang sangat singkat dan seperti kurang adil. Ingin sekali dia memperotes. Tapi keputusan hakim sudah bulat dan tidak bisa diganggu gugat.


Dave hanya bisa pasrah dan tidak bisa berbuat apa-apa. Sebenarnya dia akan dimasukkan sel selama lebih dari 2 tahun. Tapi karena ada jaminan dari pihak keluarganya, maka masa tahanan Dave dikurangi.


Dinda sedikit lega karena masa tahanan nya dikurangi. Dengan begitu, dia tidak akan lama menunggu Dave bebas.


Setelah sidang putusan selesai, Dave meminta izin untuk menemui Dinda.


"Ada apa kak Dave?" tanya Dinda.


"Dinda, aku minta maaf atas segala perbuatanku selama ini. Aku sangat menyesal." ucap Dave.


Dinda meraih tangan Dave. "Kak Dave, Dinda udah maafin semuanya. Kakak nggak usah khawatir." balas Dinda.


Dave tertegun mendengar jawaban Dinda. Ternyata Dinda memiliki hati yang sangat baik. Dave segera memeluk tubuh Dinda erat. "Terima kasih Dinda." ucap Dave.


Adit yang sedang berbincang-bincang dengan salah satu polisi tanpa sengaja melihat Dave dan Dinda sedang berpelukan. Rasanya dia sangat terbakar api cemburu.


"Hebat sekali dia mencari kesempatan." melangkahkan kaki menuju ke mreka berada.


"Lepaskan!" paksa Adit memaksa melepaskan pelukan mereka.


"Kak Adit." kaget Dinda.


"Enak ya kamu, cari kesempatan." kesal Adit.


"Dia istriku. Wajar aku memeluknya. Kenapa? kau cemburu?" Dave mencoba memanas-manasi Adit.


"Kurang ajar." sebuah pukulan mendarat di wajah Dave.


"Kak Adit. Sudah! malu dilihat orang." Dinda mencoba meletakkan.


"Koq kamu malah membela dia sih Din?" heran Adit.


"Kak Adit, Dinda tidak membela siapapun. Jaga sikap. Ini masih ramai orang." peringat Dinda.


"Dave, bersiap-siaplah untuk menerima perceraian." ucap Adit bangga.


Dave hanya menunduk mendengar apa yang dikatakan Adit. Ternyata Adit sangat setia menunggu Dinda. Tentu ini waktu yang di nanti nanti kan oleh mereka. Dia hanya bisa pasrah jika Dinda menginginkan perceraian.


"Dinda, aku siap jika kamu menginginkan perceraian." ucap Dave pasrah lalu pergi meninggalkan mereka.

__ADS_1


"Pasti. Tunggu suratnya datang dan kamu akan menandatanganinya." sambung Adit senang.


Dinda hanya diam dan menunduk lesu. Kenapa kata-kata Adit begitu melukai hatinya.


Dinda sangat dilema. Sekarang dia berstatus istri Dave. Dulu dia sangat menantikan untuk segera bebas. Walaupun dia belum memiliki perasaan terhadap Dave, tapi dia berprinsip untuk menikah hanya sekali seumur hidup.


Dulu fikiran nya belum dewasa. Dia tidak pernah berfikir tentang perceraian dan dampak darinya. Yang dia hanya inginkan dulu hanyalah kebebasan. Sekarang dia mendapatkannya. Tapi setelah melaluinya, dia sekarang tau perceraian bukanlah jalan yang tepat untuk sekarang ini.


"Dinda, kamu kenapa? koq sedih gitu?" tanya Adit heran dengan raut wajah Dinda. Bukankah seharusnya dia sekarang bergembira dan senang? tapi kenapa dia malah murung.


"Dinda, kamu nggak akan berubah fikiran kan?" tanya Adit khawatir.


Dinda tidak menjawab dan hanya tersenyum. "Ayo kita pergi!" ajak Dinda. Mereka pun meninggalkan ruang sidang.


"Sekarang, ayo kita pulang!" ajak Adit sambil meraih tangan Dinda.


Iya, aku baru ingat. Aku harus tinggal dimana sekarang? aku sudah tidak ada tempat tinggal.


"Pulang kemana kak?" tanya Dinda.


"Pulang kerumah kita. Ayo!" ajak Adit lagi.


Dinda menahan tarikan tangan Adit. Dia kembali terkenang kata-kata ibu Adit saat dia datang kerumahnya.


Aku tidak boleh tinggal disana lagi. Ibu Adit sangat membenciku dan Dandi.


"Kenapa? terus kamu mau tinggal dimana lagi?" tanya Adit khawatir.


Aku juga bingung mau tinggal dimana.


"Dinda akan tetap tinggal di apartemen kak Dave." ucap Dinda dan membuat Adit sedikit kurang senang.


"Kamu gila Dinda? kenapa kamu harus tinggal disana? kamu kan akan bercerai dengannya." peringat Adit lagi.


Dandi melihat dari kejauhan Adit dan Dinda sedang bersama. Dia memutuskan untuk menghampiri mereka.


"Kenapa masih disini?" tanya Dandi.


"Dandi." Kaget Dinda.


"Aku tidak habis pikir sama Dinda. Bisa-bisanya dia mau tinggal diapartemen Dave." kesal Adit mengadu pada Dandi.


Dinda hanya diam. Dia tidak tau dengan jalan fikiran kembaran nya ini.


Dinda kenapa ya? padahal aku sudah berusaha untuk membebaskan dia dari Dave. Tapi kenapa dia malah mau tetap tinggal di apartemen Dave. Apa Dinda sudah mulai mencintai Dave? tapi bagaimana dengan Adit? berarti sia-sia perjuanganku selama ini?


"Dinda, kamu nggak boleh tinggal disana." larang Dandi. Adit yang mendengar seperti mendapat pembelaan dari Dandi.

__ADS_1


"Kenapa?" tanya Dinda heran.


"Koq kamu malah nanya kenapa sih? bukankah sekarang Dave tidak akan tinggal disana lagi. Untuk apa kau tinggal disana? itu bukan tempatmu." kata Dandi sedikit marah.


Dinda tertunduk. Benar, itu bukan rumahnya. Tidak seharusnya dia tinggal disana lagi. Apalagi Dave tidak ada menyuruhnya tinggal disana.


"Jadi Dinda harus tinggal dimana sekarang?" tanya Dinda lagi.


"Pulang kerumah kita." sambung Adit. Dia tetap akan membawa Dinda pulang kerumahnya.


"Tidak kak Adit, Dinda tidak bisa tinggal dirumah kakak." tolak Dinda lagi.


"Kenapa Dinda? kenapa kamu tidak mau tinggal dirumah kakak? bukankah itu juga rumahmu?" tanya Adit heran.


Aku tidak boleh mengatakannya. Cukup aku saja yang tau.


"Dinda... " dia tidak bisa mengatakan alasannya.


"Dinda akan tinggal bersamaku." potong Dandi atas perdebatan Adit dan Dinda.


Adit dan Dinda sama-sama menatap kaget.


"Apa?"


"Apa?"


"Kenapa?" tanya Dandi heran saat mereka menatapnya.


"Tempat tinggalmu kan kecil. Bagaimana kau bisa mengajaknya?" kata Adit sedikit tidak terima.


"Rumahku akan cukup nyaman jika hanya kami berdua yang tinggal." sambung Dandi.


"Yasudah, terserah kau saja. Yang penting Dinda nyaman." ucap Adit.


Sebaiknya aku ikut Dandi saja. Lebih aman.


"Baik, Dinda akan ikut Dandi." putus Dinda.


Akhirnya mereka pun pergi meninggalkan halaman pengadilan. Dandi dan Dinda diantar oleh Adit setelah tadi mampir terlebih dahulu di apartemen Dave untuk mengambil pakaiannya.


"Ini tempat tinggalmu?" tanya Adit sedikit prihatin. Rumah yang tampak seperti kurang layak untuk ditinggali.


"Rumah ini layak untuk di tinggali. Hanya rumah ini yang bisa aku tempati. Apalagi harga sewa bulanan nya sangat murah." ucap Dandi.


"Ayo masuk!" ajak Dandi. Mereka pun masuk ke malam rumah Dandi.


"Rumahnya lumayan besar." ucap Dinda. Setelah melihat sepertinya rumah ini masih layak di tinggali. Hanya perlu ditata agar rapi lagi.

__ADS_1


Setelah hampir 1 jam mereka bersenda gurau. Adit pun memutuskan untuk pulang. Dia segera berpamitan dan akhirnya pergi meninggalkan kediaman Dinda.


__ADS_2