MENIKAH DENGANMU

MENIKAH DENGANMU
Penyesalan


__ADS_3

Deringan ponsel membuyarkan aksi Adit. Awalnya dia hanya mengacuh, namun deringan ponselnya berkali-kali berdering dan membuatnya sedikit muak.


"Ada apa bu?" tanya Adit. Ternyata sedari tadi ibunya yang memanggil.


"Tak, tatak dimana? mana ayam Lika?" bukan ibunya melainkan Lika adiknya yang masih kecil menghubunginya.


Adit kembali tersadar. Dia menatap Dinda yang sudah acak-acak akibat ulah nya.


"Apa yang aku lakukan?" tanya Adit pada dirinya sendiri. Dia sekan tidak percaya dengan apa yang sudah diperbuatnya.


Kenapa aku seperti ini? bathin Adit seakan menyesal.


"Tak Adit?" panggil Lika dibalik ponsel.


"Ah iya, kenapa dek?" tanya Adit tidak fokus.


"Mana ayam Lika? tadi kata tatak mau belikan Lika ayam goyeng." balas Lika yang memang sedang menunggu kepulangan Adit. Apalagi Adit sudah berjanji akan membelikanya ayam goreng KFC.


"Iya dek, nanti kakak belikan. Tunggu ya?" ucap Adit lalu menutup panggilan.


Pandangannya fokus ke Dinda yang masih menangis. "Dinda, maafin kakak. Kakak tidak bermaksud berbuat seperti ini. Maafkan kakak." ucap Adit menyesal.


Selama ini Adit tidaklah pernah memaksa wanita lain untuk menuruti kehendaknya. Dia bukanlah laki-laki bejat atau semacamnya. Dia begitu menjaga kehormatan wanita. Apalagi dia selalu mengingat jika dia mempunyai dua adik perempuan yang harus dilindunginya. Bagaimana jika adiknya yang dia sayangi diperlakukan kurang baik oleh laki-laki diluar sana.


Dia tersadar, apa yang telah dilakukannya ini salah. Ini semua diluar kendalinya. Dia juga tidak tau kenapa dia bisa berbuat senekat ini pada Dinda.


Adit buru-buru pindah ke kursi kemudinya. Dia terus memukul-mukul kepalanya dan terus mengikuti perbuatannya. Memang dia tidak sampai merusak masa depan Dinda. Tapi melakukan hal kurang baik seperti yang dilakukan kepada Dinda barulah pertama kali dalam hidupnya.


"Bodoh!" ucapnya sambil terus mengutuki perbuatannya. Dia begitu sangat menyesal. Tidak seharusnya dia melakukan hal diluar kewajaran terhadap Dinda.


Dinda memang masih menangis karena masih syok. Tapi di lubuk hati paling dalam dia sangat tau jika Adit tidak mungkin berani melakukan hal-hal kurang ajar kepadanya. Apalagi Adit pernah mengatakan kepadanya untuk selalu menjaga wanita yang disayanginya. Apalagi Adit masih memiliki ibu dan dua adik perempuan.


Tapi apa yang baru dilakukan Adit kepadanya diluar pemikirannya. "Kak Adit." panggil Dinda yang masih sedih.


"Maaf Dinda, kakak tidak bermaksud." ucap Adit.

__ADS_1


Dinda diam, air matanya kembali jatuh. "Dinda tau." ucap Dinda. "Kakak juga pernah bilang sama Dinda untuk selalu menjaga adik-adik yang kakak sayangi. Kakak juga pernah bilang, kakak tidak akan pernah melakukan hal-hal diluar kewajaran sebelum kakak menikah." lanjut Dinda lagi.


Tanpa sadar Adit meneteskan air mata. Fikiran nya langsung terbayang sosok ibunya dan dua adiknya yang sangat dia sayangi.


"Kakak minta maaf, kakak tidak tau kenapa kakak bisa senekat itu." ucap Adit menyesal. "Sekarang, biar kakak antar kamu pulang." sambung Adit lagi.


Adit pun menghidupkan mesin mobil lalu pergi meninggalkan tempat yang sepi tersebut.


Sepanjang perjalanan, tidak ada suara diantara mereka. Adit fokus menyetir namun fikiran masih saja menyesali perbuatannya. Sedangkan Dinda sibuk membersihkan air matanya agar Dandi tidak curiga kepadanya.


15 menit kemudian, mobil Adit pun sampai didepan gang rumah Dinda dan Dandi. Memang gang tersebut tidak bisa dimasuki mobil dan hanya bisa berjalan kaki untuk masuk kedalam gang tersebut. Jarak depan gang ke kediaman Dinda tidak lah jauh. Hanya berjarak 200 meter saja.


Dinda langsung membuka pintu lalu turun dari mobil. Dia langsung pergi meninggalkan Adit yang masih berada didalam mobil tanpa ucapan dan kata-kata pamit.


Adit hanya memandangi punggung Dinda yang sudah menjauh. Dia juga tidak bisa berkata-kata. Adit pun akhirnya pergi meninggalkan gang rumah Dinda untuk menuju ke KFC dan kembali pulang.


"Mana Adit?" tanya Dandi yang heran melihat Dinda pulang sendirian. Biasanya Adit akan mampir jika sudah mengantar Dinda pulang.


"Dia sudah pulang." balas Dinda lalu masuk kekamar.


"Dia tidak bisa mampir. Dia ada janji sama adiknya." balas Dinda. Dia tau siapa yang menelfon Adit dan sudah mendengar pembicaraannya.


"Kamu kenapa? kenapa mata kamu merah?" tanya Dandi lagi saat masuk nyelonong kekamar Dinda.


"Nggak ada apa-apa. Tadi mata Dinda kena debu. Makanya merah." balasnya berbohong. Dia tidak ingin mengatakan hal yang sebenarnya. Dengan mengatakan hal yang sebenar, maka Dandi akan murka kepada Adit. Dia tidak ingin mereka sampai berantem karena dirinya. Lagi pula Adit melakukan hal tersebut karena tidak sengaja dan diluar kendalinya. Tapi dia sangat bersyukur karena Adit tidak sampai merusak nya.


"Oh gitu toh. Jadi gimana? jadi kamu jenguk Dave?" tanya Dandi sebelum keluar dari kamar Dinda.


"Belum tau Dan. Nanti saja.kalau ada waktu." balas Dinda.


Kalau ada waktu? bukannya kamu terus-terusan merengek pada ku mau menjenguk Dave. Tapi sekarang kenapa malah berubah? aneh.


Matahari sudah terbenam, malam pun sudah tiba. Dinda duduk dibibir kasur nya sambil termenung. Dia baru selesai mandi dan berpakaian.


"Dinda?" panggil Dandi sambil mengetuk-ngetuk pintu.

__ADS_1


"Ya." balas Dinda yang tersadar. Dia lalu berdiri dan membuka pintu.


"Ada apa?" tanya Dinda.


Mengibas-ibas kartu ATM nya. "Ayo makan diluar. Aku baru gajian." ajak Dandi yang memang sudah menerima uang gajian. Dia sudah berjanji akan membawa Dinda makan diluar saat gajian.


Menatap kartu yang dipegang Dandi. "Kamu pergi aja. Aku dirumah saja." tolak Dinda.


"Kenapa? aku udah janji lho mau ngajak kamu makan diluar jika aku gajian. Apa kamu lupa?" tanya Dandi lagi yang heran.


"Aku ingat Dandi. Tapi hari ini aku tidak bisa. Aku sudah kenyang. Kalau kamu mau, kamu aja makan sendiri diluar." balas Dinda lagi. Dia sudah kehilangan selera makan semenjak kejadian tadi siang.


"Yaudah. Kalau gitu nanti aku bawa pulang makanan buat kamu." ucap Dandi.


"Nggak usah Dan. Lain kali aja aku makan diluar bareng kamu. Hari ini aku memang sudah kenyang." tolak Dinda lagi. Dari pada nanti makanan yang dibawa pulang oleh Dandi tidak dimakan dan basi. Malah itu akan sangat mubazir.


"Kalau gitu nggak jadi deh. Kalau kamu nggak mau, aku juga nggak jadi makan diluar. Aku maunya makan bareng kamu. Apalagi aku udah janji sama kamu." ucap Dandi lagi.


"Terus kamu makan apa kalau nggak keluar?" tanya Dinda lagi. Memang hari ini dia tidak memasak atas suruhan Dandi. Dia tau Dandi kuat makan. Jika Dandi tidak keluar mencari makan, nanti Dandi mau makan apa? sedangkan dia belum membeli stok untuk kebutuhan makan harian.


"Puasa aja." ucap Dandi kesal. Dia sangat kesal Dinda menolak ajakannya. Padahal dia sudah berjanji.


"Yaudah, kalau gitu ayo kita makan diluar." ucap Dinda lagi. Mau tidak mau dia harus menurut. Dia tidak ingin Dandi tidak makan dan sakit karenanya. Itu malah akan semakin merepotkan nya. "Aku siap-siap dulu ya."


"Kita mau makan dimana?" tanya Dinda saat mereka berjalan beriringan.


"Aku mau ajak kamu makan dicafe." ucap Dandi.


"Ngapain kesana. Lagian makanan disana mahal-mahal. Nanti uang kamu habis." tolak Dinda lagi. Dari pada makan diCafe atau restoran, lebih baik makan diwarung-warung yang memang harganya murah.


"Sekali-sekali kan nggak apa-apa. Lagian dulu kita juga sering koq makan ditempat-tempat mewah." ucap Dandi.


Saat orang tua mereka masih ada, ayah ataupun bunda mereka sering membawa mereka untuk makan dicafe atau restoran.


"Kenapa Dinda?" tanya Dandi heran melihat Dinda yang hanya diam.

__ADS_1


Dinda hanya menggeleng-gelengkan kepalanya. Kata-kata Dandi membuatnya semakin merindukan kedua orang tuanya.


__ADS_2