
Hari ini merupakan hari libur. Hari ini juga Dave dan Dinda akan berangkat ke kota xx. Tidak lupa pula Dandi dan Nazumi ikut bersama mereka.
Mereka berangkat dari jam 6 pagi menggunakan mobil dan sampai pukul 1 siang di kota xx.
Sesampai di kota xx, mereka langsung mencari tempat makan karena sudah kelaparan. Apalagi perjalanan memakan waktu yang sangat lama.
Setelah selesai makan siang, mereka langsung berkunjung ke makan Naomi. Membacakan doa agar arwah Naomi tenang di alam sana.
Kini hanya tinggal satu tujuan yaitu menemui Adit. Butuh waktu dua jam mereka berkeliling kota mencari kediaman Adit.
"Rumahnya dimana sih?" tanya Dave yang mulai bosan. Sedaei tadi dia hanya mutar-mutar tanpa tujuan.
"Dinda juga nggak tau yang. Gimana kalau kita tanya sama orang?" saran Dinda dan dibalas setuju oleh Dandi dan Nazumi.
"Itu ada orang, coba tanya sama ibuk itu." ucap Nazumi.
Mobil pun mendekatkan kearah seorang ibu-ibu yang sedang berjalan kaki membawa galon di kepala nya. Sepertinya ibuk itu habis dari mengambil air.
Dinda turun dari mobil dan menghampiri ibuk-ibuk tadi. "Buk, boleh numpang tanya?" tanya Dinda dan dibalas anggukan oleh ibuk itu. "Ibuk kenal Adit? Anaknya buk Ningsih?" tanya Dinda lagi.
Ibuk itu tampak berfikir. "Maaf nak, Ibuk nggak kenal." balas ibuk itu.
"Oh yaudah. Makasih ya Buk." ucap Dinda lalu masuk kembali kedalam mobil.
"Gimana?" tanya Dandi.
"Ibuk utu nggak kenal," balas Dinda pasrah.
"Terus kita mau nyari kemana lagi?" tanya Dave.
"Mutar-mutar lagi aja Dave. Siapa tau ketemu dia dijalan." ucap Nazumi.
Dave hanya menghela nafas dan terus mengemudi. Mengikuti perintah demi perintah dari Dinda.
"Itu kak Adit," ucap Dinda.
Sontak mereka semua menoleh. Benar saja, saat itu mereka melihat Adit sedang berjalan memasuki sebuah gang bersama seorang perempuan hamil.
Dinda yang melihat bergegas membuka pintu mobil dan berlari mengejar Adit. "Kak Adit," panggil Dinda.
Dave yang melihat begitu khawatir karena Dinda sedang hamil.
Adit dan wanita hamil tersebut menoleh. "Dinda," balas Adit saat Dinda menghampiri dan diikuti mereka berlari menghampiri.
"Kamu kenapa bisa disini?" tanya Dandi heran. Ditatapnya kebelakang dan melihat ada Dave, Dandi dan seorang perempuan yang tidak dikenalinya berjalan menghampirinya.
"Mau ketemu kakak." balas Dinda.
__ADS_1
"Kamu kenapa lari-lari sih sayang? Kamu kan lagi hamil." ucap Dave yang datang langsung merangkul Dinda.
"Kamu hamil Dinda?" tanya Adit kembali.
"Hehehe, iya kak." balas Dinda.
"Ayo kerumah," ajak Adit. Mereka pun mengikuti Adit untuk dibawa kerumahnya.
Saat pertama kali mereka sampai dirumah Adit, Dinda sedikit kaget karena rumah Adit yang sekarang sangat jauh berbeda dengan rumah tempat tinggalnya dulu. Rumah Adit kali ini berbentuk minimalis dan yang pastinya bersih dan rapi.
"Ayo masuk," ajak Adit saat membukakan pintu.
Mereka langsung duduk di kursi yang sudah tersedia diruang tamu. Wanita hamil tadi langsung kebelakang untuk membuatkan minum.
"Kenapa kamu pindah kesini?" tanya Dave basa-basi.
Adit menghela nafas. Tidak mungkin juga dia mengatakan jika dia pindah karena Dinda.
"Aku hanya ingin hidup tenang," balas Adit.
Dinda melihat sekeliling dan sedang mencari sosok lain dirumah ini. Tapi nyatanya rumah ini tampak sunyi.
"Kak, dimana ibuk?" tanya Dinda.
"Ibuk dan bapak tidak tinggal disini. Mereka tinggal dirumah lain." balas Adit.
Saat itu juga wanita hamil itu datang dengan membawa minuman untuk mereka.
"Perkenalkan, ini istriku Sarah,"ucap Adit memperkenalkan istrinya kepada mereka.
Sarah langsung mengulur tangan untuk berjabat satu persatu kepada mereka.
"Sudah hamil berapa bulan Sarah?" tanya Dinda.
Duduk disebelah Adit, "Sudah empat bulan mau masuk lima bulan." balas Sarah tersenyum.
Dinda sedikit penasaran kenapa Adit begitu cepat menikah dengan Sarah apalagi sekarang Sarah sudah hamil empat bulan. Bukannya pada waktu itu Adit masih mencintainya. Atau....
"Kak, koq bisa cepat nikah sama Sarah? Bukannya waktu itu kakak belum move on dari Dinda?" tanya Dinda sambil bisik-bisik. Mata elang Dave tidak luput dari pergerakan Dinda.
Adit terkekeh mendengar bisikan Dinda. Hal itu membuat Dave sedikit geram.
"Ehem," dehem Dave kepada Dinda.
Adit membisikkan sesuatu kepada Sarah. Sarah tersenyum dan dibalas anggukan.
"Dave, bisa aku bicara sebentar dengan Dinda?" kata Adit meminta izin.
__ADS_1
Dave membesarkan matanya. Untuk apa Adit ingin bicara dengan istrinya.
"Sayang, sebentar aja ya." mohon Dinda yang tau arti tatapan tersebut. Yang jelas sekarang Dave sedang cemburu.
Akhirnya mau tidak mau Dave mengizinkannya. Tidak jauh, hanya didepan teras rumah saja. Jadi dia lebih leluasa melihat mereka walau dia tidak mendengar apa yang sedang mereka bicarakan disana.
"Dari mana kamu tau kalau kakak tinggal disini?" tanya Adit.
"Dari Dandi kak. Minggu kemaren dia kesini ziarah ke makan Naomi. Kebetulan saat ingin pulang dia melihat kakak sedang berjalan dengan Sarah." balas Dinda.
"Jadi begitu," ucap Adit.
"Kakak kenapa pindah nggak bilang-bilang? Dinda capek mencari kakak selama ini." marah Dinda.
"Kamu tau sendiri alasannya kan?" ucap Adit dan dibalas anggukan oleh Dinda. "Kakak sekarang sudah punya Sarah istri kakak. Waktu itu kakak hanya mementingkan ego saja. Tapi setelah kakak pindah kesini dan bertemu Sarah, semua itu hilang. Kakak sudah bisa melupakan kamu dan akhirnya menikah dengan Sarah."
"Tapi... " ucap Adit menggantung.
Dinda mengerutkan dahinya bingung, "Tapi apa kak?" tanya Dinda penasaran.
"Ibu dan bapak tidak setuju kakak menikah dengan Sarah. Itu sebabnya kakak pindah dan mencari tempat tinggal lain." balas Adit.
Kenapa ibuk tidak setuju? Bukankah dia hanya tidak menyukainya saja? Lalu kenapa setelah anaknya mendapatkan cinta baru dan mereka tidak setuju? Apa kriteria sangat penting bagi mereka?
"Kenapa kak?" tanya Dinda.
"Sarah anak yang tidak tau asal usulnya. Dia lahir dari seorang ibu tanpa seorang suami. Itu sebabnya ibuk dan bapak tidak menyukainya." ucap Adit sedih.
"Sabar ya kak. Pasti suatu saat ibuk dan bapak akan menerima Sarah." ucap Dinda menyemangati.
"Itu siapa?" tanya Adit penasaran karena tidak mengenal perempuan yang datang bersama mereka.
Dinda menoleh kearah yang ditunjuk Adit. "Itu Nazumi, calon istri Dandi." balas Dinda.
Calon istri? normal juga dia rupanya
"Kenapa kak?" tanya Dinda saat melihat Adit tertawa.
"Tidak apa-apa. Kakak hanya berfikir jika dia tidak normal selama ini." balas Adit yang masih tertawa.
"Jangan kuat-kuat, nanti Dandi marah." peringat Dinda.
"Aah," pekik Dandi.
"Kenapa Dandi?" tanya Nazumi panik.
"Telingaku sakit." balas Dandi. "Sepertinya ada yang lagi menceritakan ku," duga Dandi.
__ADS_1