MENIKAH DENGANMU

MENIKAH DENGANMU
Siapa yang harus dipercaya


__ADS_3

"Rajin sekali kau menjengukku? kenapa? apa sekangen itu kau denganku?" goda Dave pada Dinda.


Dinda hanya tersenyum. Dia memang sangat merindukan suaminya itu kapanpun. Itu sebabnya dia selalu menjenguknya saat waktu besuk.


Meremas-remas jari tangannya. "Mmmmm" kata-katanya tertahan di tenggorokan.


"Ada apa Dinda?" tanya Dave saat melihat wajah istrinya terlihat gelisah.


"Tidak apa-apa. Aku hanya..." kata-katanya masih belum bisa keluar dari mulutnya.


"Kamu kenapa? ada yang ingin kau tanyakan?" tanya Dave lagi.


Bagaimana ini, kenapa ini? kenapa aku gugup sekali?


"Kaka Dave, boleh Dinda bertanya?" tanya Dinda gugup.


Menaikkan satu alisnya. "Mau nanya apa?" tanya Dave kembali.


"Ini tentang Dandi." ucap Dinda.


Dave pun langsung terbatuk-batuk mendengar kata-kata dari Dinda.


Ada apa dengan anak itu? kenapa Dinda harus bertanya denganku?


"Kenapa dengannya?" tanya Dave.


"Kakak jangan marah tapi ya?" tanya Dinda menegosiasi.


Menghembus nafas. "Ya silahkan. Aku tidak akan marah!" balas Dave.


Jeda sejenak. "Sebenarnya ada hubungan apa kakak dan Dandi dimasa lalu?" tanya Dinda. Dia berharap Dave mau menceritakan semuanya.


"Kenapa tidak kau tanyakan saja dengan dia?" ucap Dave.


"Dinda udah sering nanya. Tapi dia tidak pernah mau cerita. Dia menjadi tertutup semenjak kita pisah sekolah." balas Dinda kesal.

__ADS_1


Ternyata kau masih punya malu Dandi. Tapi tunggu, dari mana Dinda bisa tau jika diadan Dandi pernah dekat?


"Dari mana kau tau aku dan Dandi..." tanya Dave penasaran.


"Dinda pernah melihat foto kalian berdua yang Dinda dapatkan saat memberes tempat kerja kakak waktu itu." balas Dinda.


Seharusnya aku sudah membuangnya jauh-jauh. Kenapa juga aku harus menyimpannya. Seharusnya Dinda juga tidak akan tau prihal ini. Apa yang harus aku katakan?


"Kak Dave?" Dinda melambai-lambaikan tangannya. "Kak, apa yang terjadi sebenarnya?" tanya Dinda lagi.


Dave menghela nafas. "Apa kau akan percaya apa yang aku katakan nanti?" tanya Dave untuk memastikan.


Dinda hanya mengangguk. "Dinda percaya!" balas Dinda yakin. Tidak tau kenapa dia sangat yakin jika Dave tidak akan berbohong kepadanya. Mungkin saja karena rasa penasarannya begitu meronta-ronta.


"Aku dan Dandi dulu sahabatan. Aku sudah menganggapnya sebagai adikku. Tapi... " ucap Dave menggantung.


"Tapi kenapa kak? kenapa kalian jadi musuhan sekarang?" tanya Dinda yang semakin penasaran.


"Sebenarnya... " Dave pun menceritakan apa yang sebenarnya terjadi antara dia dan Dandi dimasa lalu. Dinda mendengarkan seksama. Tampak wajahnya terkadang berubah ekspresi. Terkadang tersenyum saat mendengarkan cerita prihal yang manis-manis dan terkadang wajahnya terkejut dan sedikit cemberut jika merasa janggal dihatinya.


"Apa kau percaya?" tanya Dave lagi saat dia sudah selesai menceritakan semuanya.


Tidak mungkin Dandi seperti itu.


Berdiri dari duduknya. "Dinda pamit kak. Terima kasih sudah mau menceritakan semuanya." ucap Dinda lalu pergi meninggalkan Dave yang masih menatapnya bingung.


Ada apa dengannya? apa dia tidak percaya yang aku katakan? atau mungkin dia kesal dengan isi ceritanya?


Setelah selesai membesuk Dave di lapas, Dinda memutuskan untuk langsung pulang kerumah. Kepalanya seakan terasa mau pecah memikirkan apa yang telah dia dengar dari suaminya itu.


Dinda memutuskan untuk masuk kekamar Dandi dan mencari bukti-bukti yang tidak pernah dia ketahui selama ini.


Dia mulai membongkar isi laci Dandi dan membongkar isi lembari. Dia ingin mencari sesuatu yang menurutnya sebagai bukti masa lalu Dandi.


Setelah hampir bergelut dengan pekerjaannya, Dinda merasa putus asa karena apa yang ingin dicarinya tidak ada.

__ADS_1


"Kenapa nggak ada sih? masa foto selembar aja nggak ada." ucap Dinda kesal.


Karena putus asa dan apa yang dicarinya tidak ketemu, dia pun kembali memberes kamar Dandi yang sudah berantakan dibuatnya. Takut nanti Dandi curiga terhadapnya. Apalagi Dandi sangat tidak suka ada orang yang menyentuh barang-barangnya tanpa izin. Baik itu orang lain, maupun keluarga sendiri.


Malam pun tiba. Mereka sedang makan malam di tempat seadanya. Kali ini mereka makan hanya beralaskan tikar. Tidak ada suara dari keduanya. Hanya suara gesekan sendok yang saling beradu dengan piring.


"Kamu kenapa?" tanya Dandi yang melihat Dinda yang hanya tertunduk.


Menegakkan kepalanya dan menggeleng pelan. "Tidak apa-apa Dan." balas Dinda.


"Yasudah. Setelah ini aku akan keluar. Kamu tidak perlu menungguku dan langsung tidur. Aku akan pulang agak malam." ucap Dandi disela-sela menghabiskan makan malamnya.


"Kamu mau kemana?" tanya Dinda tiba-tiba.


"Aku mau menemui seseorang. Maksudku, aku mau menemui teman kerjaku." balas Dandi.


Setelah mereka selesai makan malam dan Dinda selesai membereskan piring kotor, Dandi pun berpamitan dan pergi meninggalkan Dinda dirumah.


Dinda tidak merasa curiga kemana Dandi akan pergi. Tidak mungkin Dandi kembali seperti dulu. Dia yakin jika Dandi memang benar-benar hanya akan bertemu dengan temannya.


Jam menunjukkan pukul 12 malam. Dinda sama sekali tidak bisa memejamkan mata. Perasaannya begitu gelisah. Sampai jam segini Dandi sama sekali belum pulang.


"Kemana dia? kenapa belum pulang juga?" ucap Dinda khawatir.


Setelah beberapa menit, Dinda mendengar suara pintu terbuka. Klik, dia yakin jika itu adalah Dandi. Dinda mencoba memejamkan mata dan pura-pura tertidur. Dia yakin pasti Dandi akan datang mnghampirinya untuk memastikan apakah dia sudah tidur ataupun belum. Benar saja, dia mendengar Dandi membuka pintu kamarnya.


Dandi duduk disamping ranjang Dinda. Sambil mengelus-elus dahi dan rambut Dinda secara bersamaan. "Ternyata kamu sudah tidur pulas. Maaf selama ini aku tidak pernah perhatian dan berbagi kisah denganmu. Maafkan aku yang menjadi tertutup setelah kita pisah sekolah." menyelimuti tubuh Dinda hingga sampai kebahu. "Aku juga tau kamu pasti menanyakan semuanya kepada Dave rasa penasaranmu selama ini. Aku juga tau pasti kau sudah mengacak-acak kamarku. Tidak apa-apa, aku tidak marah. Aku tau dan mengerti kamu seperti apa. Tapi... " Dandi mulai menggantungkan kata-katanya.


"Aku tau kamu mencintai Dave. Aku juga tidak bisa melarangmu. Itu hak mu. Kamu juga berhak untuk bahagia. Tapi sebelumnya maaf. Aku tidak peduli apakah kamu mau mendengar kata-kata ku atau tidak. Maaf jika ini terdengar seperti menghasut." menghela nafas. " Sebaiknya kamu tidak terlalu percaya dengan apa yang dikatakan Dave tentangku." sambung Dandi.


Dandi bangun dari duduknya dan berjalan meninggalkan Dinda. "Selamat malam. Semoga tidurmu nyenyak." menutup kembali pintu dengan rapat.


Sesaat setelah Dandi pergi, Dinda kembali membukakan mata. Dia seakan kehabisan nafas akibat pura-pura tidur. Tapi untunglah Dandi tidak menyadarinya.


Dinda kembali mengumpulkan nyawanya dan mencerna kata demi kata yang barusan didengarnya dari mulut Dandi.

__ADS_1


Dia juga tidak tau bagaimana Dandi bisa mengetahui semuanya. Padahal dia sudah sangat berhati-hati agar tidak ketahuan.


Tapi apa yang disampaikan Dandi diakhir membuatnya semakin bingung. Siapa sebenar yang harus di percaya nya saat ini. Suaminya atau kembaran nya?


__ADS_2