MENIKAH DENGANMU

MENIKAH DENGANMU
Nonton Film


__ADS_3

Jam menunjukkan pukul delapan malam. Dinda telah selesai memasak makan malam. Kini tinggal menunggu Dave pulang dan makan bersama.


"Kapan kak Dave pulang?" berjalan menuju sofa dan meraih remote televisi. Lalu duduk disana sambil menukar-nukar siaran.


Sambil bermalas-malasan dan sesekali melirik jam dinding. "Kapan sih pulang nya? Aku lapar sekali." sambil memicingkan bibir sedikit kesal.


Suara disebalik pintu mengalihkan perhatian Dinda. Dia berdiri dan langsung berjalan kearah pintu tersebut. Berdiri dengan jarak dua meter dari pintu. Pasti Dave sudah pulang, begitu pikirnya.


Sebuah senyuman tersimpul dari Dave yang baru saja membuka pintu. Lalu Dave masuk dan kemudian menutupnya kembali.


"Kak Dave sudah pulang?" sapa Dinda membalas senyuman Dave. Awalnya dia ragu ingin membalas, namun karena difikirannya Dave sudah sedikit berubah dia pun mulai terbiasa dengan sikap manis Dave kepadanya.


"Aku akan keatas dan mandi. Kau tunggulah disini. Nanti kita makan bersama." ucap Dave sambil berjalan menaiki tangga. Badannya sudah terasa lengket karena seharian bekerja. Apalagi tadi sempat berdebat dengan Adit.


"Apa yang harus aku lakukan?" mondar mandir didepan kamar mandi sambil terus berfikir. Pikirannya begitu bergelut dengan kejadian siang tadi. Dia tidak tau bagaimana caranya untuk menyampaikan kepada Dinda.


"Ahh sial." buru-buru Dave melangkahkan kaki menuju kamar mandi. Dia harus mandi dan menyegarkan diri. Sudah tidak mau lagi memikirkan hal-hal yang dirasa akan merugikan nya.


Dinda sudah duduk di kursi meja makan sambil sesekali melirik kearah tangga. Menunggu kedatangan Dave untuk makan malam.


Tidak lama kemudian, tampak Dave turun dengan pakaian santai. Pakaian yang biasa dipakai dirumah.


"Kau sudah lapar?" tanya Dave saat melihat Dinda seperti sudah tidak sabaran.


Dinda hanya mengangguk dan sedikit tertunduk menahan malu. "Iya kak."


Dengan cepat Dinda mengambil nasi dan memasukkan kepiring Dave. Lalu memasukkan lauk dan sayur juga.


Dave mengambil piring yang diserahkan Dinda. " Apa kau sekarang bahagia?" menaruh kan didepannya diataseja, sambil mengambil sendok dan garpu lalu mengaduk-aduk nasi dan lauk. Kemudian memasukkan kedalam mulutnya dan mengunyahnya lalu menelannya.


Apa maksud Kak Dave?


Dinda kemudian menyuapkan nasi ke mulut dan melahapnya. Dia hanya diam tidak menjawab.


"Dinda? Apa kau tidak dengar?" tanya Dave dengan suara sedikit lembut.


"Ah iya kak." jawab Dinda sedikitragu. Sebenarnya fia juga tidak paham maksud yang dikatakan Dave itu.

__ADS_1


"Apa nya yang iya?" kembali meyuapkan nasinya kemulut. Dan tinggal satu suapan, nasi dipirngnya sudah habis tak bersisa.


"Maaf kak Dave, Dinda ngga ngerti." menunduk sambil meremas-remas jari-jari tangannya dibawah meja. Takut jika Dave tiba-tiba marah kepadanya.


Dave tersenyum, "Aku bertanya, apa kau sekarang bahagia?" dapat dilihat wanita didepannya seperti sedikit takut kepadanya.


"Maksudku, apa kau sekarang bahagia tinggal bersamaku?" menjelaskan maksudnya agar Dinda lebih mengerti.


Dinda menegakkan kepalanya dan menatap Dave sambil mengerutkan dahi. "Hmmm." masih meremas-remas jarinya.


Bahagia apanya, sama sekali aku tidak bahagia tinggal bersamamu. Dipaksa menikah dan disekap dirumah yang lebih tepatnya seperti penjara.


"Aku tau apa yang kau rasakan. Tidak apa-apa, aku memakluminya." sambil memberikan senyuman.


Apa? Kau tau apa yang aku rasakan. Tapi kau tetap menyekapku disini. Seharusnya kau memberiku sedikit kebebasan agar aku tidak bosan.


Sepanjang yang dikatakan Dave, Dinda hanya diam tertunduk lesu. Tidak berani menjawab dan juga tidak berani mengatakan apa yang dirasakan sebenarnya.


"Aku mengizinkanmu untuk keluar jika kau merasa bosan."


Dave lalu berdiri dan melangkahkan kaki menuju sofa. "Tapi kau akan terus diawasi oleh para pengawal. Aku akan mengirimkan pengawal untukmu besok." duduk dan meraih remote televisi.


Kenapa harus pakai pengawal sih? Aku nggak bakalan lari juga kali. Tapi koq aku senang ya. Sambil tersenyum.


Berdiri dari kursi dan membereskan piring-piring bekas makan barusan. " Iya kak, Makasih." balas Dinda.


Dinda selesai membereskan sisa makan malam dan selesai mencuci piring. Mencuci tangan dan memercik-mercik tangannya. "Aku harus kemana ya? Mau nonton tapi ada dia. Mau kekamar dia aja belum naik." sesekali menoleh kebelakang dimana Dave duduk santai.


"Mau kemana?" tanya Dave saat melihat Dinda melangkahkan kaki pergi dari area dapur.


Berhenti ketika Dave memanggilnya.Aku mau kemana ya? Aku juga bingung.


"Ma mau keatas kak." tidak tau harus menjawab apa. Palingan kalau keatas mondar-mandir diluar kamar doang


"Kemari lah. Sini duduk." Ajak Dave, sambil menepuk-nepuk sofa disebalahnya yang kosong.


Haa!!

__ADS_1


Sedikit ragu, Dinda melangkahkan kakinya dimana Dave memanggilnya. Duduk disebelah Dave menatap lurus kedepan.


Kenapa aku berdebar ya? Kak Dave nggak bakalan macam-macam kan sama aku?


Dave hanya tertawa melihat raut wajah Dinda. Kaku dan tampak seperti panik.


"Kenapa kaku begitu? Santai saja!" ucapnya sambil terus tertawa.


Bagaimana aku bisa santai kalau kau duduk begitu rapat denganku. Bisa nggak sih agak jauhan. Aku risih!


Sambil menukar-nukar siaran televisi. "Mau nonton apa?" tanya Dave sambil melirik Dinda yang masih fokus menatap kedepan.


"Terserah kak Dave saja." balas Dinda. Dia juga tidak tau mau menonton apa. Siaran televisi yang itu-itu saja sudah membuatnya muak. Hanya saja karena tidak ada aktivitas, mau tidak mau tetap menonton nya.


"Apa kau suka film horor?" tanya Dave lagi. Dia sudah tau jika Dinda bosan menonton siaran televisi yang hanya itu-itu saja yang di ulang.


Horor? Aku tidak berani! Sialnya aku tidak berani membantah. Coba aja deh. Siapa tau seru.


"Suka kak." jawab Dinda cepat. Siapa tau dengan menonton film horor bisa membuat moodnya sedikit baik.


"Baiklah." Dave lalu mengambil kotak CD film horor yang sudah dibelinya beberapa bulan lalu. Namun belum sempat melihat karena tidak ada waktu.


Dave lalu memutar film tersebut dan kembali duduk disofa. Karena seperti ada yang kurang, Dave lalu berdiri. "Tunggu sebentar. Aku akan mengambil minuman dan beberapa cemilan."berjalan menuju dapur dan mengambil minuman di kulkas dan beberapa cemilan dilembari tempat penyimpanan makanan. Minuman dan cemilan yang dibelinya kemaren saat pulang bekerja.


Dave kembali melangkah kesofa sambil memegang minuman dan cemilan ditangannya.


"Nonton sambil makan pasti seru." meletakkan minuman dn cemilan diatas meja.


Film dimulai, Dinda tampak gelisah. Sepertinya dia menyesal sudah mengatakan iya tadi.


Film apa ini? Kenapa seram sekali. Menutup mukanya dengan bantal sofa. Sensasi seran dan debaran yang tampak nyata. Padahal itu hanya sebuah film.


Apa, apa yang terjadi? aku tidak berani menatap.


"Aaaa aaaaaaa aaaaaa." Dinda ketakutan setengah mati saat melihat hantu difilm yang diputar. Tanpa sadar dia sudah memeluk Dave.


Dave terkejut saat tubuhnya seperti dipeluk. Menggerakkan kepala dan menatap lekat kearah orang yang memeluknya. Ternyata Dinda memeluknya menyembunyikan wajah didada bidangnya. "Dinda, apa yang kau lakukan?" sejujurnya, jantungnya berdegup sangat kencang.

__ADS_1


__ADS_2