
"Ada apa dengan kak Adit? kenapa sampai pindah dan resain dari pekerjaan kakak? apa semua ini karena Dinda?" tanya Dinda yang merasa sangat serbasalah. Dia mengingat kembali bagaimana kecewanya Adit saat dia mengatakan isi hatinya yang sebenar.
"Aku tidak mau seperti ini. Aku harus mencarinya. Tapi, kemana aku bisa mencarinya." tanya Dinda lagi.
Dinda akhirnya memutuskan untuk mendatangi Dave. Dia tau hanya Dave yang bisa dihandalkan untuk saat ini. Apalagi dia sudah sangat lama sekali tidak pernah mengunjungi suaminya itu.
"Tuan Dave, ada yang mengunjungi anda." ucap pegawai wanita yang mendatanginya di sel.
"Aku tidak mau. Suruh saja dia pergi!" ucap Dave ketus. Dia meyakini yang menjenguknya adalah Cindy. Dia sudah tidak mau lagi melihat mukanya.
"Bukan wanita waktu itu. Ini wanita lain." balas polisi itu.
Wanita lain? siapa?
"Ayo!" ucap Dave tidak sabaran. Perasaannya kembali membaik. Dia sangat berharap yang mengunjunginya kali ini adalah Dinda.
Aku tau kau pasti akan mengunjungiku.
Tebakannya sangat benar. Ternyata Dinda lah yang menjenguknya. "Dinda?" sapa Dave senang.
"Ya kak Dave. Dinda datang untuk mengunjungi kakak." balas Dinda tersenyum.
"Aku tau pasti kamu akan mengunjungi ku." ucap Dave lagi.
"Kak?" panggil Dinda.
"Ada apa Dinda?" tanya Dave penasaran.
"Kakak mau kan nolongin Dinda?" tanya Dinda.
"Nolongin apa Dinda? apa yang bisa aku lakukan? sedangkan aku dipenjara." balas Dave. Kenapa juga Dinda ingin minta bantuan kepadanya. Padahal Dinda melihat sendiri jika dia sedang dipenjara.
"Ini tentang kak Adit." ucap Dinda.
Hati Dave langsung hancur berkeping-keping. Ternyata tujuan Dinda mengunjunginya bukanlah karena keinginan hatinya melainkan hanya untuk membuatnya sakit hati.
"Tunggu kak," panggil Dinda saat Dave mulai berdiri. Dia tau pasti Dave sangat marah mendengar apa yang diucapkannya.
"Kak, ini penting! Ini demi kita." sambung Dinda lagi.
"Demi kita? aku tau kau ingin bercerai denganku. Tapi maaf aku tidak bisa membantumu jika berhubungan dengan selingkuhan mu itu." ucap Dave ketus.
__ADS_1
"Bukan seperti itu kak," ucap Dinda mencoba menjelaskan.
"Apanya yang bukan? Aku ini masih berstatus suamimu. Kamu sama sekali tidak pernah menjengukku. Tapi sekarang kau datang hanya karena selingkuhan mu itu." ucap Dave lagi.
"Kak, Dinda tidak pernah selingkuh!" sangkal Dinda.
"Kau benar." balas Dave.
Apa yang dikatakan Dinda ada benarnya juga. Dinda memang tidak pernah selingkuh dan masih tetap setia dengan lelakinya. Dia lah penyebab kerusakan hubungan mereka. Tapi karena sekarang Dinda berstatus istrinya, dengan mudahnya dia mengatakan laki-laki itu sebagai selingkuhan nya. Memang sedikit terdengar jahat, tapi itulah kenyataannya sekarang.
"Kak, Dinda mencintai kakak!" ucap Dinda dan membuat Dave sedikit kaget.
"Cinta?" Dave mengulang perkataan Dinda. Dia begitu bingung dan sedikit merasa senang. Tapi dia juga merasa sedikit kesal.
"Lalu kenapa kau baru menjengukku sekarang setelah aku sebulan dipenjara?" tanya Dave lagi.
Dinda menghela nafas panjang. Dia mengumpulkan tenaga untuk mengatakan semuanya. "Dinda sebenarnya sudah lama sekali ingin menjenguk kakak. Dinda juga sangat kangen sama kakak. Tapi, Dinda belum memiliki keberanian untuk datang dan mengatakan isi hati Dinda yang sebenarnya." balas Dinda.
Dave kembali duduk di bangkunya. "Apa kata-katamu bisa dipercaya? kau sedang tidak mencoba mempermainkan ku agar aku mau menolongmu?" tanya Dave mencoba meyakinkan.
"Tidak kak, Dinda benar-benar mencintai kakak. Dinda tidak ingin bercerai dengan kakak!" sambung Dinda lagi.
"Sakit," ucapnya saat mencubit pipinya dengan kuat. "Aku tidak sedang bermimpi." sambungnya lagi.
"Kakak tidak sedang bermimpi. Ini beneran nyata." ucap Dinda sedikit menahan tawa dengan tingkah suaminya itu. Ini pertama kalinya dia melihat tingkah lucu Dave seperti itu.
"Tidak-tidak, aku tidak percaya. Kau bisa saja berbohong dan membuatku semakin terbuai." sanggah Dave lagi.
"Tidak kak, Dinda beneran. Dinda beneran cinta sama kakak." ucap Dinda lagi.
"Beneran?" tanya Dave lagi. Dia tidak ingin Dinda membohonginya.
"Beneran!" ucap Dinda menegaskan sambil mengangkat dua jari tangan kanannya.
"Kalau kau benar-benar mencintaiku, kenapa kau mau meminta tolong demi Adit?" tanya Dave cemberut.
"Dinda tau kakak pasti tidak suka. Tapi hanya kakak yang bisa Dinda handalkan." balas Dinda.
"Kenapa? kenapa dengannya?" tanya Dave dengan wajah kurang suka.
"Kak Adit pindah. Dinda tidak tau dia pindah kemana. Dia juga tidak pernah memberi tau. Dinda minta tolong sama kakak, tolong carikan keberadaan kak Adit." ucap Dinda.
__ADS_1
Cih, masih mencari kesempatan. Aku sangat senang jika Adit tidak berada di sisi nya.
"Berarti kau membohongiku." ucap Dave lagi. Baru saja hatinya berbunga-bunga, malah kini menjadi hancur kembali.
"Tidak kak, Dinda beneran. Ada yang harus Dinda selesaikan. Ini juga demi kita kak." balas Dinda mencoba meyakinkan Dave.
"Apa sebenarnya terjadi? katamu kau mencintaiku. Tapi kenapa kau masih mau mencarinya. Bukankah kalau kau mencintaiku kau akan melupakan nya?" ucap Dave lagi.
"Dinda tau. Dinda juga sudah tidak ada perasaan padanya lagi. Tapi Dinda hanya mau semuanya selesai."
"Sebenarnya..."
Dinda pun mulai menceritakan kejadian sebenar. Mulai dari dia mulai mencintai Dave hingga dia memberanikan diri untuk mengatakan kebenaran isi hatinya kepada Adit. Namun dia tidak mengatakan apa yang dilakukan Adit kepadanya waktu itu. Dia tidak ingin nanti Dave berbuat nekat dan malah berbalik menghancurkan Adit.
"Kasihan sekali dia. Ternyata dia kalah saing denganku." ucap Dave dengan bangganya.
"Kak, jangan seperti itu." marah Dinda. Berani-beraninya Dave mengejek orang yang kalah darinya dan sedang patah hati karenanya.
"Tapi..." Dinda menggantungkan kata-katanya.
"Tapi kenapa Dinda?" ada apa?" tanya Dave khawatir.
"Apa kakak juga mencintai Dinda?" tanya Dinda. Dia sudah memberanikan diri mengakui isi hatinya kepada Dave. Tapi dia juga belum tau bagaimana perasaan Dave terhadapnya. Apakah cintanya terbalaskan atau malah sebaliknya.
Dave memegang dagunya sembari mencoba berfikir. "Bagaimana ya? gimana kalau aku menolak cintamu?" tanya Dave sambil mengedipkan matanya.
"Dinda tidak memaksa kakak untuk mencintai Dinda. Dinda tau dihati kakak masih ada mbak Cindy. Tapi Dinda sudah mengatakan semua isi hati Dinda sama kakak. Itu terserah kakak ingin membalasnya ataupun tidak sama sekali." ucap Dinda sedih. Ternyata begini rasanya patah hati.
Cindy katanya? apa dia tidak tau aku sudah muak dengan wajah wanita itu?
"Dinda," Dave mencoba menggapai wajah Dinda walau terhalang oleh kaca. "Aku juga mencintaimu." balas Dave.
"Beneran?" tanya Dinda tidak percaya.
Dave hanya menggangguk dan tersenyum. Dia memang sangat mencintai Dinda. Dia tidak ingin lagi kehilangan Dinda. Walaupun apa yang pernah dilakukan pada Dinda dimasa lalu sangat buruk. Tapi dia sudah menyesalinya dan akan merubah semuanya.
Tanpa sadar Dinda meneteskan air mata. Kali ini bukan air mata karena derita seperti dulu, melainkan air mata bahagia.
"Jangan menangis Dinda!" ucap Dave yang tidak tahan melihat air mata Dinda yang jatuh. Ingin sekali rasanya dia memeluk tubuh Dinda dan mencium bibir merah Dinda. Tapi apa daya, semua tidak bisa dilakukannya sekarang. Jika melakukannya sekarang, aksinya terhalang oleh kaca dan dia tidak bisa bertemu secara langsung. Dia harus menunggunya kurang lebih 3 bulan lagi untuk bebas. Waktu yang sangat lama bukan? mau tidak mau, dia harus menahannya.
"Dinda menangis karena bahagia kak. Kakak jangan khawatir. Dinda akan selalu menjaga hati Dinda buat kakak." balas Dinda.
__ADS_1