MENIKAH DENGANMU

MENIKAH DENGANMU
Rindu berat


__ADS_3

Dinda mencoba memejamkan matanya. Hari ini, hatinya sangat tidak tenang. Bagaimana bisa Dave melarangnya untuk bertemu Adit. Sedangkan dia sangat mencintai Adit dan Dave mengetahuinya. Apa karena Dinda berstatus istrinya?


Tapi bukankah pernikahan ini tidak didasari perasaan suka atau pun cinta. Entahlah, mungkin bisa dibilang Dinda hanya alat tebusan hutang Dandi. Jika hutang Dandi lunas, maka dia akan segera dibebaskan. Begitu yang di fikirkan Dandi.


Bagaimana caranya agar aku tidak diatur-atur lagi oleh Dave? Tidak mungkin aku bisa menghindar dari Adit.


Cerai! Benar, aku harus minta cerai dari dia. Dengan begitu aku akan bebas seperti dulu. Bukankah selama ini aku diatur-atur dan diperintah karena aku berstatus istrinya?


Dinda menggerakkan tubuhnya melihat ke sebelah. Ternyata Dave sudah tidur dengan pulas. Hanya dia saja yang masih terjaga memikirkan nasibnya.


"Kenapa kau belum tidur?" tanya Dave tiba-tiba terjaga saat ingin buang air kecil. Dia melihat gadis disebelahnya duduk di pinggiran ranjang dan membelakanginya.


Dinda kaget dan membalikkan tubuhnya. "Dinda nggak bisa tidur kak." lalu beranjak dan berdiri tegak.


Bangun dari ranjang dan berjalan menuju kamar mandi. "Tidurlah! hari sudah sangat malam. Besok kau terlambat bangun." masuk dan menutup pintu kamar mandi.


Aku tidak akan pernah bangun terlambat walaupun tidurnya kemalaman.


Dengan berat hati, Dinda kembali membaringkan tubuhnya dikasur. Mencoba memejamkan mata agar bisa tertidur. Tapi karena tidak bisa, dia hanya pura-pura tidur saja.


"Kau tidak pura-pura tidur kan?" tanya Dave saat keluar dari kamar mandi.


Bagaimana aku bisa tidur, jika kau terus mengaturku.


Karena tidak ada jawaban, Dave mencoba mendekati Dinda dan melambai-lambaikan tangannya ke wajah Dinda. " Ah ternyata kamu sudah tidur." mengecup dahi Dinda dan menyelimutinya.


Ah gawat, ternyata dia melakukannya lagi. Bagaimana ku bisa buka mata untuk memastikan kau sudah tidur atau belum.


Dave kembali ke posisi nya. Membaringkan tubuh disana. "Slamat malam Dinda." mematikan lampu dan memejamkan mata.


Hampir setengah jam Dinda mencoba pura-pura tidur. Ingin sekali dia membuka mata. Tapi takutnya dia ketahuan oleh Dave. Karena sudah tidak tahan lagi, dia membuka matanya dan buru-buru masuk kekamar mandi. Dengan begitu jika Dave masih terjaga berfikiran bahwa dia kebelet pipis.


Dinda masuk dan menutup pintu kamar mandi. Disana dia berdiri didepan cermin. "Dia menciumku lagi. Baiklah, aku hanya mengizinkanmu mencium dahiku saja. Tidak lebih dari itu." mengelus-elus dahi bekas kecupan Dave.


Setelah rasanya cukup lama dia didalam sana, Dinda memutuskan untuk keluar. Berjalan mengendap-endap keranjang.


Dia sudah tidur nyenyak ternyata. Sangat terdengar jelas suara dengkuran Dave.


Dinda memutuskan untuk keluar dari kamar. Untuk apa dia berbaring disana jika tidak bisa tidur. Lebih baik dia duduk diluar atau menonton TV saja.

__ADS_1


Mendaratkan bokongnya disofa. "Aku nonton saja." sambil meraih remote.


Apa aku kirim pesan ke Dandi aja? Tapi sepertinya dia sudah tidur. Pikir Dinda.


Mengambil ponsel. "Coba saja. Siapa tau dia belum tidur." mengetik pesan kepada Dandi. Untung tadi Dandi sempat memghubungi saat dia memberikan nomor ponselnya. Dengan begitu, dia sudah tau nomor baru tersebut adalah nomor Dandi. Lalu menyimpannya dikontak.


Dandi, apa kau sudah tidur?


Sementara menunggu, Dinda melanjutkan menonton. Sesekali dia memeriksa ponselnya untuk melihat apakah pesannya dibalas atau tidak.


Selang beberapa menit, sebuah pesan masuk.


*Aku belum tidur. Kenapa jam segini kau belum tidur?


Aku tidak bisa tidur Dandi. Aku memikirkan Adit.


Kenapa? Kau sangat merindukannya kan? Kalau kau rindu, kau kan bisa menemuinya.


Aku tidak bisa.


Kenapa?


Apa? Berani sekali dia.


Dandi, aku sangat ingin menemuinya*.


Tidak ada balasan dari Dandi setelah pesan dikirimnya. Beberapa kali dia memeriksa ponsel. Namun tidak ada balasan.


"Lah, koq nggak dibalas sih?" kesal Dinda. Dia pun melempar ponselnya disofa sebelah yang kosong.


Jam telah menunjukkan pukul 2 dini hari. Dinda sama sekali tidak bisa memejamkan mata. Rasa kantuknya sama sekali tidak ada. Menonton televisi membuatnya semakin merasa bosan.Hanya sibuk bermalas malasan disofa sambil memainkan ponselnya. Menonton tutorial di kutube.


Dave terbangun saat silauan matahari pagi memancarkan cahaya di kamar nya. Dengan sedikit malas dan mata yang masih mengantuk, dia bangun.


"Dimana dia?" tanya Dave. Karena sekarang dia membutuhkan Dinda untuk membantunya mandi. Karena itu sudah menjadi kewajibannya setiap pagi.


"Apa mungkin dia memasak?" mengurungkan niat untuk membuka pintu kamar.


"Lebih baik aku mandi sendiri dulu saja." melangkahkan kaki menuju kamar mandi.

__ADS_1


"Airnya juga belum disediakan." menghembus nafas kasar. Karena tidak ingin memanggil, dia menyiapkan sendiri dan mengisi air panas dibhatup mandi. Membiarkan pintu terbuka. Agar nantinya Dinda bisa masuk.


Setelah hampir setengah jam dia berendam disana, Dinda sama sekali tidak muncul-muncul dan membuat dia semakin penasaran.


"Dimana dia sebenarnya, kenapa belum muncul-muncul juga?" Kesal Dave. Beranjak dari bhatup dan memakai piyama. Lalu keluar dari kamar mandi tersebut.


"Ah, ternyata dia juga tidak menyiapkan pakaianku." kesal Dave. Dave lalu membuka lembari pakaian dan memilih sendiri pakaian yang akan dipakainya.


Setelah selesai berpakaian lengkap, Dave keluar dari kamar dan turun kebawah.


"Dia tidak ada disini. Sarapan pun tidak tersedia. Dimana dia?" melangkah kaki menuju dapur.


Saat Dave memperhatikan sekeliling, dia melihat Dinda sedang tertidur disofa dengan ponsel menutupi wajahnya.


"Apa-apaan dia. Jam segini masih tidur. Pantasan dia tidak melakukan tugasnya." berjalan mendekati Dinda.


Memindahkan ponsel yang menutupi wajah Dinda keatas meja. "Dinda." menggoyang-goyangkan tubuh Dinda.


"Tidak bangun? Tapi kenapa dia tidur disini?" mengetuk-ngetuk dagu dengan jari telunjuk. "Apa malam tadi dia tidur disini?" menutup mulutnya dengan telapak tangan kanannya.


Berarti benar dia tidur disini!


Karena merasa kasihan, Dave memutuskan untuk membiarkan Dinda tetap tidur.


Berjalan mendekati dapur. "Apa aku saja yang masak? jika menunggunya bangun pasti sangat lama." menoleh kebelakang menatap Dinda yang masih tertidur.


"Masak apa ya?" membuka kulkas dan melihat masih banyak tersedia bahan-bahan disana.


Setelah sejenak berfikir-fikir, dia memutuskan untuk membuat sandwich saja. Mengambil dua buah telur dan tomat. Lalu segera mengoreng telur menjadi telur dadar.


"Akhirnya," ucapnya bangga karena sudah berhasil membuatkan sandwich. Walaupun bentuknya berantakan dan tidak beraturan.


Setelah semua selesai Dave meletakkan diatas meja makan. "Kenapa belum bangun-bangun juga sih?" melirik kearah Dinda yang masih tetap saja terbaring.


Karena kesal, Dave berjalan mendekati Dinda untuk membangunkannya dan sarapan bersama.


Saat Dave sudah sampai dihadapan Dinda. "Hey bangun. Apa kerjamu hanya tidur saja?" meng goyang-goyangkan tubuh Dinda.


Dave membungkuk dan melambai-lambaikan tangannya ke wajah Dinda. Saat itu, matanya langsung tertuju pada bibir mungil milik Dinda.

__ADS_1


Tiba-tiba hasrat ingin menciumi Dinda muncul. Dengan pelan-pelan Dave membungkukkan badannya. Saat wajah mereka hanya berjarak beberapa senti, tiba-tiba Dinda membukakan mata.


__ADS_2