
Pukul satu dini hari Dandi sampai dikediamannya. Badannya terasa sakit dan matanya begitu mengantuk. Selama perjalanan pulang dia sama sekali tidak bisa memejamkan mata.
"Akhirnya, aku bisa tidur juga," ucap Dandi lalu merebahkan tubuhnya dikasur. Padahal tinggal beberapa jam kedepan dia harus bersiap-siap kekantor. Setidaknya dia bisa tidur sebentar untuk menghilangkan lelah dan kantuk. Tidak lupa sebelum dia memejamkan mata, Dandi menyetel alarm agar nanti tidak terlambat bangun.
Kriiing kriing
Alarm terlah berbunyi. Suara yang nyaring hampir memecahkan sisi ruangan kamar Dandi. Dengan malas Dandi membuka matanya. Padahal dia masih sangat mengantuk. Waktu tidurnya sama sekali tidak cukup.
Dandi segera bangkit dan beranjak dari tempat tidurnya untuk mandi. Setelah dua puluh menit, Dandi keluar dengan tubuh yang segar. Memakai pakaian yang rapi dan tidak lupa mengenakan dasi pemberian Dinda. Selama Dinda tidak tinggal bersamanya, dia sendirilah yang mencuci pakaiannya. Padahal loundry disekitar tempat tinggal rumahnya lumayan banyak. Namun karena ingin menghemat uang, maka dia menyuci sendiri pakaiannya. Hitung-hitung olahraga dan belajar mandiri. Walau sebenarnya mencuci baju agak terlihat aneh untuk kaum laki-laki.
Kini Dandi masih berada dikediamannya. Memakan sarapan pagi yang baru dibelinya diwarung depan. Saat dia mengunyah, terlintas di kepala nya mengingat saat dia tidak sengaja melihat Adit.
"Apa Adit udah menikah? apa wanita yang bersamanya kemaren itu istrinya? " tanya Dandi sedikit penasaran.
"Aku harus memberitahu Dinda berita ini. Kasihan Dinda sudah mencari Adit kemana-mana." ucap Dandi lagi.
Dia melanjutkan memakan sarapan paginya hingga tak bersisa. Setelah menghabiskan sarapan paginya, dia lalu bangkit dan berjalan ke pintu. Membuka lalu menutupnya dari luar. Tidak lupa juga untuk mngembok agar tidak ada yang masuk kedalam rumahnya. Kini waktunya untuk berangkat kerja.
Pukul depalan, waktunya para pegawai kantor mulai bekerja. Begitupun Nazumi, walau pekerjaannya tak seberat para bawahannya.
Nazumi duduk santai di kursi kebesarannya. Memainkan ponsel sambil sesekali tersenyum.
"Kapan kamu akan menerima aku Dandi?" tanya Nazumi saat melihat-lihat galeri di ponsel nya. Tanpa sepengetahuan Dandi, Nazumi diam-diam memotretnya saat mereka masih dikota xx kemaren.
"Apa aku terlalu tua buat Dandi? tapi bukannya Dandi pernah naksir dengan Naomi yang umurnya juga sama denganku?" ucap Nazumi.
"Baiklah, mulai sekarang aku harus berusaha mendapatkan hati Dandi." ucapnya semangat.
"*Aku ceraikan kau talak tiga. Aku sudah tak sudi lagi kau menjadi istriku." ucap pria itu murka.
__ADS_1
"Apa salah aku mas? aku tidak mau bercerai." tolak Nazumi. Dia mati-matian mempertahankan perkawinannya agar tidak kandas.
Pria itu diam. Matanya menatap tajam Nazumi. Emosinya begitu meledak-ledak. "Aku mnikahimu hanya ingin menguasai hartamu. Kini semua hartamu sudah aku dapatkan. Lalu untuk apa lagi kau menjadi istriku. Aku sama sekali tidak menginginkan itu." balasnya dengan enteng tanpa merasa bersalah.
"Tega kamu mas sama aku. Aku selama ini patuh denganmu. Aku menjalankan kewajibanku sebagai seorang istri. Aku tidak pernah minta ini itu sama kamu seperti istri-istri orang lain. Aku tulus mencintai kamu mas. Tolong mas, jangan ceraikan aku!" rengek Nazumi sambil bersimpuh di kaki suaminya.
Pria tersebut langsung menendang tubuh Nazumi hingga terjatuh. Tubuhnya seakan sudah dikuasai setan. "Aku sudah tidak sudi lagianjadi suamimu. Selama aku menikah denganmu, apa orang tuamumperlakulan aku sebagai menantu? tidak kan? malah mereka menganggap ku sebagai pembantu." ucap pria itu marah.
Nazumi begitu terkejut dengan apa yang dikatakan suaminya. Selama ini dia tidak pernah mengetahui jika suaminya diperlakukan seperti itu oleh orang tuanya. Bukankah selama ini orang tuanya sangat menerima suaminya dan memperlakukan suaminya dengan sangat baik. Lalu apa semua ini? knapa suaminya bisa berkata seperti itu*?
Kejadian empat tahun Lalu masih terbayang di ingatan nya. Bukan karena tidak bisa move on dari mantan suaminya, namun karena tidak menyangka dengan perkataan mantan suaminya waktu itu. Dari situlah dia mendapat titik terang. Ternyata benar jika orang tuanya memperlakukan mantan suami layaknya seorang pembantu saat dia masih berstatus suami.
Tok tok tok
Pintu ruangannya diketuk. "Masuk!" suruh Nazumi.
Pintu terbuka dan dilihatnya Dandi sedang berjalan kearahnya. Ada perasaan sedikit senang karena Dandi masuk ke ruangan nya. Entah itu karena hal pekerjaan tau pun hal lainnya. Setidaknya memandang wajah Dandi membuat suasana hatinya kembali tenang.
"Ada apa Dandi?" tanya Nazumi.
Dandi mengeluarkan berkas-berkas dari map lalu menaruhnya diatas meja kerja Nazumi. "Ini tolong tanda tangan." ucap Dandi.
"Apa ini?" tanya Nazumi bingung.
"Ini surat dari kantor pusat. Kamu harus menandatanganinya disini." ucap Dandi sambil mengarahkan Nazumi.
Nazumi tidak memperotes dan langsung menandatangan berkas tersebut. Semua hal yang berhubungan dengan bank ini merupakan tanggung jawabnya. Jadi wajar saja jika dia selalu menandatangani dokumen-dokumen.
"Terima kasih," ucap Dandi lalu memberesi dokumen tersebut. Memasukkan kembali kedalam map.
__ADS_1
"Saya permisi." ucap Dandi pamit lalu bangkit dan berjalan keluar.
"Tunggu," panggil Nazumi.
Langkahnya terhenti dan menoleh kebelakang. "Ada apa?" tanya Dandi.
"Bisakah malam nanti kita bertemu?" tanya Nazumi ragu-ragu.
Dandi kembali melangkahkan kaki keluar. Tidak ada jawaban dari mulutnya. Hingga akhirnya dia keluar dan hilang dari pandangan Nazumi.
"Kenapa? apa ada yang salah? apa aku salah bicara?" tanya Nazumi penasaran. Dandi sama sekali tidak merespon pertanyaannya. Membuatnya sedikit malu dan merasa sedikit bersalah.
Tring
Sebuah pesan masuk dari ponselnya. Dia lalu membuka dan tersenyum. Ternyata Dandi yang sedang mengirim pesan dengannya.
Maaf jika aku mngabaikanmu. Seharusnya kau bisa mengirim pesan denganku jika ingin mengajakku ketemuan. Tadi aku mengabaikanmu karena ada yang sedang menguping diluar pintu. Aku tidak ingin terjadi kesalahpahaman. Sekali lagi aku minta maaf. Dandi.
Jadi? apa malam nanti kita bisa ketemu? Nazumi.
Bisa. Datang aja kekediamanku. Malam nanti Dinda dan suaminya juga kerumah. Dandi.
Setelah membaca pesan tersebut, Nazumi sedikit kecewa. Dia berharap hanya bertemu berdua saja. Jika nantinya ada Dinda dirumahnya akan semakin sulit untuknya mendekati Dandi. Pada hal dia juga ingin curhat tentang masa lalunya.Tidak peduli lah jika Dandi mau mendengar atau tidak. Sepertinya hanya dengan Dandi orang yang bisa dipercayanya saat ini.
Gimana kalau kita ketemu dicafe? hanya kita berdua saja. Nazumi.
Maaf Nazumi, aku tidak bisa. Jika kau mau silahkan datang kerumahku. Malam nanti kami juga akan mengadakan makan malam. Dandi.
Baiklah. Aku akan datang malam nanti. Balas Nazumi. Dia tidak bisa menolak lagi. Padahal diawal dia yang sudah mengajak Dandi bertemu.
__ADS_1
Dandi sedikit terkekeh setelah menyudahi membalas chat dengan Nazumi. Dia tau, pasti Nazumi sangat kecewa karena Dinda dan Dave akan datang. Padahal kenyataannya dia hanya berbohong saja.
Kenapa aku ketawa? apa aku sesenang itu sudah mengerjainya? ada apa denganku?