
"Bagaimana kabar Dinda?" tanya Dave pada Jang yang sedang mengunjungi ruang sel nya.
Jang hanya mengangkat kedua bahunya. Sesungguhnya dia juga tidak tau bagaimana kabar Dinda. Apalagi dia belum sempat menjenguk.
"Kenapa? kau sudah benar-benar mencintainya?" tanya Jang menyelidik.
Dave hanya tertunduk. Benar, dia sudah jatuh cinta kepada Dinda. Wanita yang pernah dia hancurkan hati dan raga nya.
"Kenapa dia tidak pernah datang menjengukku?" tanya Dave sedikit kecewa. Hampir sebulan dia ditahan disana, tapi Dinda sama sekali belum pernah menjenguknya.
Jang juga tidak bisa menjawab. Sedangkan dia sendiri tidak tau dengan sifat Dinda.
"Apa dia memang benar-benar ingin berpisah denganku?" tanya Dave lagi.
"Jangan bicara seperti itu. Aku yakin Dinda tidak akan seperti itu." balas Jang meyakinkan.
"Kau selalu saja mengatakan seperti itu. Tapi, dia sampai sekarang pun tidak pernah menjengukku. Aku yakin dia pasti sedang bahagia bersama Adit. Dan mereka pasti akan merencanakan perpisahan ini. Apalagi itu yang diharapkan.Dinda selama hidup bersamaku." ucap Dave.
Jang hanya menghembus nafas. Dia sendiri juga tidak bisa berbuat banyak. Masalah hati, biarkan saja mereka sama-sama memahaminya.
Dinda, aku harap kau tidak mengatakan ingin bercerai denganku. Aku tidak sanggup jika kau menginginkan itu. Aku sudah terlanjur mencintaimu. Tapi aku sudah tidak bida lagi memaksa keinginanku seperti dulu. Kau sudah sangat menderita saat bersamaku dulu. Mungkin ini karma yang aku dapat atas perbuatanku terhadapmu waktu dulu.
Hari ini merupakan hari libur bagi Dandi. Dia memutuskan untuk tetap berada dirumah menemani kembaran nya dan membantu Dinda untuk membuat kue. Dinda memutuskan untuk berjualan kue saja. Dandi melarangnya untuk bekerja ditoko atau cafe. Ini semua demi keselamatan Dinda. Dandi melarangnya dengan alasan keselamatan. Dia tidak ingin terjadi sesuatu pada kembaran nya jika dia tidak berada bersama Dinda.
"Dandi, gimana kalau kita jenguk kaka Dave? sudah hampir sebulan dia ditahan. Tapi aku sama sekali tidak pernah menjenguknya." ucap Dinda.
"Untuk apa kau menjenguknya? bukannya kau sudah tidak ingin lagi berhubungan dengannya?" tanya Dandi.
Dinda diam. Sebenarnya dari lubuk hati paling dalam, dia.sangat merindukan Dave. Butuh waktu 4 bulan lagi menunggu Dave bebas. Tidak salah kan menunggu waktu bebas dia datang menjenguk?
"Apa kau sudah mulai mencintainya?" tanya Dandi menyelidik.
Benar, aku sudah mulai mencintainya dan melupakan semua perbuatannya dimasa lalu.
"Dinda?" panggil Dandi saat melihat kembaran nya hanya melamun.
__ADS_1
"Iya Dandi, ada apa?" jawab Dinda tidak konsen.
"Aku bertanya, kenapa kau malah balik bertanya kepadaku?" ucap Dandi bingung.
"Itu, anu..." ucap Dinda terbata-bata.
"Kau sudah mulai mencintainya kan?" tanya Dandi memastikan lagi. "Apa aku benar?" sambung Dandi lagi.
"Dandi, aku bisa jelasin." ucap Dinda ingin menjelaskan isi hatinya.
"Lalu bagaimana dengan Adit? kau sendiri kan tau bagaimana Adit memperjuangkan mu selama ini. Jadi begini caramu membalas perjuangan Adit selama ini?" tanya Dandi sedikit kesal.
"Aku tau ini salah. Tapi aku tidak bisa membohongi perasaan ku. Aku tidak tau kapan perasaan itu datang. Aku sangat mencintai Dave dan aku tidak akan berpisah dengannya." balas Dinda meyakinkan hatinya.
Benar, Dave telah berhasil membuat Dinda bertekuk lutut kepadanya. Aku tidak yakin apakah Dave juga memiliki perasaan yang sama terhadap Dinda?
"Terserah kau saja." ucap Dandi sembari meninggalkan Dinda yang masih menatapnya bingung.
Kenapa dengannya? kenapa setiap kali aku menyinggung nama Dave dia selalu kabur?
Suara ketukan pintu membuyarkan lamunan Dinda. Dengan cepat dia bangkit dari duduknya lalu berjalan menuju pintu.
"Kak.Adit?" balas Dinda bingung.
Sebenarnya bukan hal yang kaget jika Adit selalu mendatangi rumahnya saat hari libur. Tapi entah mengapa sepertinya hari ini terlalu mendadak.
"Kenapa? koq kaget gitu? tidak suka kakak datang?" tanya Adit sedikit kesal dengan reaksi Dinda.
"Ah, tidaj-tidak. Dinda suka koq. Ayo masuk kak!" ajak Dinda.
Adit pun langsung masuk kedalam dan duduk dikursi plastik yang terletak diruang depan.
"Keg nggak ada kerjaan aja, tiap minggu datang mulu." sindir Dandi yang baru keluar dari kamarnya lalu duduk dibangku kosong samping Adit.
"Aku datang kan buat jenguk kalian. Sekalian jenguk calon istriku." balas Adit sambil mengedipkan matanya kearah Dinda.
__ADS_1
"Tidak perlu juga datang setiap minggu. Kami juga butuh istirahat tanpa ada yang mengganggu." ucap Dandi menyindir secara halus.
Sebenarnya dia sedikit muak jika Adit terus-terusan berkunjung kerumahnya setiap hari libur. Mereka juga butuh waktu istirahat dihari libur.
"Ya maaf. Tapi jangan nyindir gitu lah. Aku hanya ingin memastikan kalau kalian itu baik-baik saja." ucap Adit kesal.
"Kamia akan baik-baik saja. Tidak perlu kau terlalu mengkhawatirkan kami." sambung Dandi.
Kenapa mereka sepertinya sudah berubah? ada apa sebenarnya dengan mereka berdua?
"Ada apa dengan kau Dan? sepertinya kau berubah. Apa kau sudah tidak mendukungmu lagi?" tanya Adit selidik.
"Tidak ada yang berubah. Aku masih seperti dulu." balas Dandi. Sepertinya tidak ada yang berubah darinya. Dandi yang sekarang Tetap lah dan di yang dulu. Hanya saja masa kelam itu yang sudah dibuang nya jauh-jauh.
Adit hanya diam sambil memperhatikan. Sepertinya memang tidak ada yang berubah dari Dandi. Bahasa dan sikapnya msih sama seperti dulu. Tapi kenapa sepertinya merasa berbeda?
"Dinda, ayo kita keluar!" ajak Adit mengalihkan pandangannya kepada Dinda yang tampak sedang menghidangkan minuman.
"Eh, kemana?" tanya Dinda kaget.
"Ketempat kita dulu." balas Adit tersenyum.
Dinda hanya diam sambil menatap Adit. Dia tau maksud tempat yang dikatakan Adit itu. Taman kota yang dipenuhi bunga-bunga cantik. Tempat itu merupakan tempat favorite bagi mereka pada masa itu. Tempat dimana Adit mengatakan isi hatinya kepadanya.
"Dinda butuh istirahat. Sebaiknya kau pulang saja!" suruh Dandi menolak ajakan Adit kepada Dinda.
"Kau ini kenapa sih? aku mengajaknya. Bukan mengajakmu." balas Adit kesal.
"Aku tau kau mengajaknya. Tapi jangan keseringan membawa istri orang keluar. Itu sangat tidak baik. Apa nanti dikata orang." ucap Dandi dan membuat Adit tidak suka.
"Aku tau. Aku akan membantu Dinda mengurus surat cerai agar aku lebih bisa sering-sering membawa Dinda keluar." balas Adit ketus. Dia sama sekali tidak senang dengan yang dikatakan Dandi kepadanya. Seolah-olah dia dicap sebagai pebinor dan perusak rumah tangga Dinda.
"Baguslah kalau kau sadar. Aku hanya tidak ingin ada orang lain yang melihatnya. Apalagi orang tua Dave." sambung Dandi.
Orang tua Dave? aku hampir lupa.
__ADS_1
"Apa kau mengenal orang tua Dave? baiklah, aku akan membantu Dinda mengatakan semuanya kepada orang tua Dave. Dengan.begitu semua akan lebih cepat beres." ucap Adit.
Percuma kak Adit. Semua itu tidak akan berpengaruh. Aku sudah terlanjur mencintai kak Dave. Aku tidak ingin berpisah dengannya.