
Pukul 7 malam, Nazumi bersiap-siap akan berangkat ke kediaman Dandi. Setelah Dandi mengatakan akan mengadakan makan malam bersama Dinda dan Dave.
Melajukan kendaraannya dengan kecepatan sedang agar selamat sampai kerumah Dandi.
Lima belas menit kemudian, Nazumi sampai tepat didepan gang rumah Dandi. Dia memarkirkan mobilnya di bahu jalan kemudian bergegas turun. Membutuhkan waktu lima menit dengan berjalan kaki, akhirnya Nazumi sampai tepat didepan rumah Dandi.
Ada sedikit perasaan aneh saat dia berdiri didepan pintu.
Kenapa sepi sekali? apa makan malamnya sudah selesai? Tapi tidak mungkin secepat itu. Bathin Nazumi mencoba mencerna keadaan didalam yang tidak ada suara sama sekali.
Tok tok tok.
Nazumi pun memberanikan diri mengetuk pintu.
*Sekali ketuk
Dua kali ketuk
Tiga kali ketuk*
Pintu sama sekali belum terbuka dan membuat Nazumi sedikit kesal.
Kalau nggak suka dengan kedatanganku, seharusnya kau tidak menyuruhku datang kerumahmu. Ah aku kesal sekali. Ucap Nazumi frustasi.
Dia kembali mengedor-ngedor pintu tersebut dengan kencang. Seakan pintu itu akan ambruk dibuatnya.
"Dandi, buka pintunya! aku diluar." ucap Nazumi kesal. Rasanya dia seperti dikerjai habis-habisan oleh Dandi. Kalu tau begini, tidak akan mau dia datang. Padahal dia sudah mempersiapkan diri untuk bertemu Dandi.
"Dandi, buka pintunya! kalau nggak dibuka aku dobrak," ucap Nazumi yang semakin kesal.
"Kau ingin menghancurkan pintu rumahku?" tanya Dandi yang berada dibelakang Nazumi.
Nazumi menoleh dan dibuat salah tingkah dibuatnya. "Maaf, aku fikir kau ada didalam." ucap Nazumi tertunduk. Rasanya dia ingin menyelam saja kelautan sangking malunya.
"Apa kau tidak bisa melihat jika pintunya digembok?" ucap Dandi sambil menunjukkan kunci ditangannya.
Nazumi segera menoleh kearah pintu. Benar saja, ternyata pintunya digembok. Bagaimana mungkin dia tidak bisa melihatnya.
Ah dasar bodoh. Kenapa aku tidak melihatnya.
Dandi berjalan mendekati pintu dan segera membuka gembok. Setelah gembok terbuka, dia langsung mendorong pintu dan membukanya lebar-lebar.
Nazumi mengikuti langkah Dandi masuk. Namun langkahnya terhenti saat Dandi menoleh dan menatapnya.
__ADS_1
"Siapa suruh kau masuk?" tanya Dandi menaikkan sebelah alisnya.
Nazumi tertunduk dan mengutuki kebodohannya. Dia masih tetap berdiri dan melihat ke sekeliling mencari sesuatu.
"Kenapa kau masih berdiri disana? Duduk diluar!" suruh Dandi lagi.
"Ta tapi, bukannya kita akan makan malam? dimana Dinda dan Dave?" tanya Nazumi sambil terus melihat sekeliling. Namun apa yang dicarinya tidak ada dan rumah terlihat sepi dan sunyi.
"Tidak ada makan malam. Dinda dan Dave tidak jadi makan malam disini. Mereka pulang karena ada keperluan." bohong Dandi. Ingin rasanya dia ketawa sekarang melihat tingkah Nazumi. Namun diurungnya untuk menjaga imej.
"Baiklah," balas Nazumi.
Dia memutar dan berjalan kearah luar. Sepanjang berjalan keluar, mulutnya tak habis-habis mengutuki Dandi. Kenapa Dandi tidak memberi tahu nya jika tidak jadi makan malam bersama. Ingin rasanya melempar tubuh Dandi kerawa-rawa.
Jika tau begini, seharusnya aku makan dulu dirumah. Ah, perutku lapar sekali. Mengelus-elus perutnya yang lapar. Cacing diperutnya sudah bernyanyi ria.
Setelah hampir sepuluh menitan Nazumi duduk dikursi teras, Dandi pun akhirnya keluar dengan membawa nampan berisi dua porsi nasi goreng.
Setelah meletakkan nampan diatas meja, Dandi Lalu duduk disebelah Nazumi.
"Kau pasti lapar kan? ayo makan! anggap ini pengganti makan malam yang aku janjikan siang tadi." ucap Dandi sambil menyodorkan seporsi nasi goreng ke Nazumi.
Nazumi dengan senang hati menerimanya. Memang cacing diperutnya sudah memberontak.
Tanpa ba bi bu, Nazumi langsung menyantapnya.
*T*ernyata Dandi sangat pintar memasak. Tidak pernah aku merasakan nasi goreng seenak ini.
Nazumi begitu menghayati menikmati masakan Dandi. Hingga akhirnya nasi goreng tersebut tandas. Dandi yang melihat hanya tersenyum.
Makannya seperti orang kelaparan saja. Sudah berapa lama tidak makan nasi? Apa nasinya sebegitu enaknya?
Setelah selesai makan dan merapikan piring nya, Nazumi mengacungkan jempolnya. Menyatakan jika masakan Dandi sangat luar biasa enak.
"Wah, enak sekali masakan kamu Dandi. Lihat, piring nya sampai kosong," puji Nazumi sambil menyodorkan piring nya yang sudah kosong.
Dandi tersenyum. Nasi goreng nya juga hampir habis. Dia kalah cepat dari Nazumi untuk menghabiskan seporsi nasi goreng.
"Terima kasih. Tapi bukan aku yang memasakknya." ucap Dandi dan membuat Nazumi ternganga.
Apa? bukan dia yang membuatnya. Lalu siapa yang memasaknya? Menyesal aku sudah memuji nya
"Ah maaf. Aku fikir kau yang memasaknya. Lalu, siapa yang memasaknya? rasanya enak sekali." tanya Nazumi penasaran. Dia berfikir jika bukan Dandi yang memasaknya, sudah pasti Dinda yang memasaknya. Apalagi dia pernah mendengar dari mulut Dave, jika istrinya itu sangat pintar memasak.
__ADS_1
"Aku membelinya diwarung gang sebelah. Apa nasi goreng nya begitu enak?" tanya Dandi.
Ah, ternyata dia membelinya. Memang aku melihatnya membawa bungkusan tadi. Tapi aku tidak tau jika itu nasi goreng. Bodoh!
"Iya enak Dandi. Aku sangat suka." balas Nazumi cengengesan. Kini rasa malunya semakin bertambah berkali lipat. Kenapa dia begitu menjadi salah tingkah saat berhadapan dengan Dandi.
"Lain kali aku akan membelinya lagi untukmu." ucap Dandi dan dibalas senyuman oleh Nazumi.
Aku sih berharap kamu sendiri yang memasaknya. Jika hanya membeli diwarung, aku juga bisa.
"Tunggu sebentar, aku bawa piring ini kedalam dulu," ucap Dandi sambil mengangkat nampan yang berisi piring kotor dan gelas bekas makan mereka tadi.
"Biar aku saja yang taruh kedalam," cegah Nazumi menahan pergerakan Dandi.
"Silahkan!" ucap Dandi sambil menyodorkan nampan yang diangkatnya kepada Nazumi.
Nazumi dengan antusias menerima nampan tersebut. Dia kemudian masuk kedalam rumah lalu mencuci piring dan gelas kotor tadi.
Rumahnya kecil, tapi sangat rapi.
Lima menit kemudian Nazumi keluar dan duduk kembali di kursi.
"Ngapain kamu didalam?" tanya Dandi penasaran.
"Ah aku mencuci piring tadi, makanya lama." balas Nazumi.
Rajin juga kamu Nazumi. Bathin Dandi sambil tersenyum.
"Ada keperluan apa kamu mengajakku ketemu?" tanya Dandi.
Nazumi menggigit bibirnya gerogi. Tujuannya untuk bertemu Dandi hanyalah ingin mendekat diri. Setidaknya dia bersyukur sekarang karena kesempatan tersebut terbuka lebar. Tidak ada Dinda maupun Dave sebagai pengganggu kedekatannya.
Karena merasa begitu senang, membuatnya tertawa. Hal tersebut membuat Dandi sedikit bingung.
"Kenapa kamu ketawa? apa ada yang lucu?" tanya Dandi heran. Kenapa wanita didepannya ini tidak menjawab pertanyaannya dan malah tertawa. Apa wajahnya terlihat lucu?
Nazumi segera tersadar. Rasanya dia sangat malu sekarang. Kenapa dia begitu terlihat bodoh didepan Dandi.
"Maaf, aku hanya merasa senang saja." balas Nazumi diiringi senyuman khasnya.
"Apa yang membuatmu sesenang itu?" tanya Dandi penasaran.
Kasi tau atau nggak ya? Kalau aku kasi tau yang membuatku senang adalah bisa berduaan dengannya, takutnya dia malah menjauh.
__ADS_1
"Aku senang karena kau tidak mendiamiku lagi. Aku senang karena kita sudah bisa mengobrol seperti ini." balas Nazumi. "Boleh aku bertanya sesuatu?" sambung Nazumi.
"Mau tanya apa?"