MENIKAH DENGANMU

MENIKAH DENGANMU
Sang Penggoda


__ADS_3

Dinda sedang merebahkan badannya dikasur sembari menunggu suaminya selesai mandi.


Saat itu ponsel Dave berdering menandakan ada pesan masuk. Dinda menoleh kearah suara ponsel dan sedikit ragu untuk bangun dan memeriksa pesan tersebut. Takutnya itu menyangkut tentang pekerjaan suaminya. Lagi pula itu bukan ranahnya dan dia juga tidak berhak untuk ambil tau. Apalagi dia tidak terlalu paham dengan pekerjaan suaminya.


Bukan hanya sekali, tapi berkali-kali pesan masuk di ponsel suaminya dan membuatnya sedikit penasaran.


Siapa sih yang ngirim pesan? Kenapa banyak sekali?


Dinda bangun dan turun dari ranjang. Melangkahkan kaki menuju meja kecil samping lembari pakaian dimana ponsel Dave berada.


"Dikunci?" ucap Dinda saat dia benyalakan ponsel Dave. Ternyata ponselnya dikunci dan dia tidak tau apa sandinya.


"Apa ya sandinya?" tanya Dinda. Dia terus menerus menekan sembarang nomor agar ponsel Dave bisa terbuka.


"Apa sandinya tanggal lahir kak Dave?" Dinda menekan nomor sesuai tanggal lahir Dave. Namun masih saja tidak bisa terbuka.


"Coba tanggal lahir aku deh. Siapa tau bisa kebuka." dia pun mencoba menekan nomor sesuai tanggal lahirnya dan berhasil.


"Ternyata kamu menggunakan tanggal lahir ku," ucap Dinda sedikit bangga karena tanggal lahirnya digunakan untuk sandi ponsel Dave. Dengan begitu dia akan mudah memeriksa secara diam-diam. Hahaha


"Nomor siapa ini? Kenapa banyak sekali pesannya?" Dinda pun membuka pesan pertama dari nomor yang sama.


08xxxxxxxxxx


Hy sayang, ini aku Cindy. Aku kangen banget sama kamu.


"Kurang ajar. Berani sekali dia menggoda suamiku." marah Dinda.


Dinda pun membuka semua pesan yang dikirim oleh Cindy tersebut.


Sayang, kenapa kamu tidak pernah mengangkat teleponku?


Kenapa kau sekarang malah menjauhiku? Apa kau sudah tidak menginginkannya aku lagi?


Sayang, aku bisa lho membuat pernikahan kamu hancur. Jadi tolong balas pesan ini jika kamu tidak mau mengangkat panggilanku.


Dinda sedikit penasaran. Dia pun memberanikan diri untuk membalasnya.

__ADS_1


Maksud kamu apa Cindy? Kenapa kamu bisa-bisa nya mengatakan akan menghancurkan pernikahanku?


Send


Tring


Sayang, apa kamu sudah lupa malam itu? Bukankah kamu sangat menikmatinya?


Malam apa yang kamu maksud? Aku sama sekali tidak mengerti?


Send


Tring


Sayang, jangan pura-pura bodoh deh. Aku tau kamu sudah menikah dan sudah mendapatkannya dengan istrimu itu. Tapi kamu jangan pernah melupakan jika kita juga pernah melakukannya. Kau tau sayang, aku sangat merindukan sentuhanmu itu. Aku sangat menginginkannya lagi.


"Sialan," Dinda menjadi emosi dibuatnya. Jadi sebelum menikah dengannya, Dave sudah pernah melakukannya bersama Cindy.


"Kamu kenapa? Kenapa ponselku ada sama kamu?" tanya Dave saat baru keluar dari kamar mandi.


Dave sedikit bingung dengan tingkah Dinda. Apa ada yang salah? Kenapa ponselnya ada ditangan Dinda? Apa mungkin sudah terjadi sesuatu?


Dengan sigap Dave memeriksa ponselnya. Benar saja, begitu banyak pesan masuk dari nomor yang tidak dikenalnya. Satu persatu pesan dibukanya. Sedikit terkejut dengan isi pesan tersebut. Dia menatap Dinda yang tampak cemberut disudut ranjang dan kembali melihat balasan Dinda kepada Cindy. Ada sedikit rasa kesal dan marah terhadap Cindy. Berani-beraninya Cindy mengancamnya.


"Sayang, kamu marah?" tanya Dave khawatir saat menghampiri Dinda yang masih memasang wajah cemberut.


"Jadi kamu kakak masih berhubungan dengan Cindy?" tanya Dinda yang masih kesal. Lebih lagi dengan isi pesannya yang sangat membuatnya geram.


Dave duduk disebelah Dinda. Masih memeakai handuk sepinggang dan memeluk tubuh Dinda. Mengelus-elus punggungnya dan memebelai rambut Dinda lembut.


"Sayang, aku sudah tidak ada hubungan apa-apa lagi dengan dia. Percayalah, cinta aku hanya untuk kamu istriku. Bagaimanapun dia mencoba menggodaku, aku sama sekali tidak tertarik. Karena apa? Karena aku sudah mempunyai istri secantik dan sebaik kamu." ucap Dave menenangkan istrinya.


"Beneran? Terus apa maksudnya melakukan itu?" tanya Dinda masih tidak terima.


Melepaskan pelukan dan menatap lembut wajah istrinya. "Sayang, itu sudah lama sekali. Itu terjadi sebelum aku mengenalmu dan sebelum kita menikah. Memang aku pernah melakukannya. Itu karena dia yang menggodaku. Aku laki-laki normal dan pasti tergoda jika ada yang menyerahkannya." balas Dave. Dia menjelaskan dengan panjang lebar yang menyebabkan istrinya itu marah.


Melipatkan tangannya ke d ada. "Oh, jadi kakak kalau digoda dia masih mau? Enak banget ya?" ucap Dinda marah.

__ADS_1


"Sayang, bukan begitu. Itu hanya dulu. Sekarang aku sudah tidak tertarik lagi dengannya." balas Dave.


"Dinda nggak percaya. Mana ada laki-laki normal yang tidak tertarik jika digoda." kata Dinda yang masih tidak terima.


"Percayalah, aku sudah tidak tertarik dan tidak akan pernah tergoda lagi dengannya. Aku hanya tergoda jika bersama kamu aja." ucap Dave sambil mengedipkan matanya.


"Nggak usah gombal. Pasti kakak bakalan selingkuh dari Dinda kan? Ya kan? Mana ada laki-laki yang setia." ucap Dinda lagi.


"Jadi kamu cemburu ceritanya ni?" goda Dave yang gemas melihat istrinya.


Apa aku katehuan jika sedang cemburu?


"Nggak, Dinda nggak cemburu. Dinda hanya tidak suka jika kakak menjalin hubungan dengan dia lagi." sanggah Dinda mencoba menyembunyikan wajahnya yang mulai memerah.


"Apa bedanya cemburu dengan melarang aku berhubungan dengannya lagi. Sudahlah sayang, aku tau koq kalau kamu sedang cemburu. Percayalah, aku akan tetap setia sama kamu sampai akhir hayat kita." ucap Dave yakin. Dia memang sudah tidak tertarik lagi dengan Cindy. Bagaimanapun kerasnya Cindy mencoba menggodanya, dia sudah tidak selera lagi. Apalagi jika mengingat saat Cindy melakukan dengan sahabatnya waktu itu.


Dave tau jika Dinda sedang cemburu dengannya. Dinda juga sangat tau jika dia sudah tidak menyukai dan tidak tertarik lagi dengan Cindy. Lalu untuk apa memperbesar kan masalah. Seketika otak kotornya bereaksi.


Dia berdiri dan menanggalkan handuk yang melilit tubuhnya tepat didepan wajah Dinda.


"Aaaaaaaaa," apa yang kakak lakukan? Kenapa handuknya dibuka. Ayo cepat pakaikan lagi." ucap Dinda sambil menutup matanya karena malu.


Dave tersenyum, semakin mendekatkan diri ke Dinda dan membisikkan sesuatu yang membuat Dinda menggerdik ngeri. "Ayo kita lakukan sekarang. Aku sudah tidak tahan. Kau tau adikku sudah rindu untuk dibelai." goda Dave. "Ayo, buka matamu. Untuk apa malu. Bukankah kamu sudah melihat semuanya?" ucap Dave yang masih berdiri sambil melipatkan tangan ke dada.


Dinda sebenarnya sedang tidak mood jika harus melayan nafsu suaminya ini. Tapi sepertinya jika ingin Kabur akan sia-sia. Mau tidak mau dia harus melayaninya. Dia perlahan membuka matanya dan benar saja ada pemandangan yang sangat luar biasa disana.


Dave yang melihat semakin mengembangkan senyuman kemenangan. Dia membaringkan tubuh Dinda dan membuka satu persatu pakaian Dinda hingga tidak menyisakan sehelai benangpun.


"Kali ini, aku mau kamu yang bekerja. Kau diatas dan aku dibawah." ucap Dave dengan senyum nakalnya sambil bertukar posisi.


Dinda hanya cengengesan. Dia tau pasti apa yang dimaksudkan Dave. Dia sedikit gerogi karena dia tidak berpengalaman melakukannya.


Perlahan dia mulai dengan lembut dan memainkannya dengan sangat manja dan membuat siempunya kegelian sekaligus nikmat.


"Ahhh," desahan demi desahan keluar dari mulut Dave dan membuat Dinda bersemangat melakukannya. Entah kenapa kini dia juga sangat bernafsu sekarang. Sepertinya dia sudah terjangkit virus nafsu oleh suaminya itu.


Kini pamungkasnya, Dinda harus memainkan menggunakan mulutnya. Dengan sedikit ragu-ragu dia mulai memasukkan kedalam mulutnya. Ada sedikit rasa jijik, tapi Dave selalu memaksanya jika dia berusaha melepaskannya. Mulai dari mencium, menjilat hingga menghisap sudah dilakukannya hingga membuat Dave mencapai klimak dan memindahkannya. Berselang beberapa menit, mereka melakukannya lagi. Namun kini Dindalah dibawah dan Dave lah yang berada diatas.

__ADS_1


__ADS_2