MENIKAH DENGANMU

MENIKAH DENGANMU
Dandi Kesal


__ADS_3

Pagi menjambut dengan pancaran sinarnya. Dandi bangun dari tidurnya. Sebenarnya malam tadi dia tidak bisa tidur lena dan masih dalam mode mengantuk. Mau tidak mau, dia harus tetap bangun untuk pergi bekerja. Apalagi pekerjaan dikantornya masih menumpuk dengan banyaknya nasabah.


Beranjak dari kasur, dan menyambar handuk yang tergantung dibelakang pintu kamarnya. Berjalan keluar kamar sambil sesekali menguap.


"Dimana Dinda? tumben nggak ada? apa dia tidak jualan?" ucap Dandi yang masih mode mengantuk. Dilihatnya kotak kue yang masih kosong.


Dengan mode yang masih mengantuk, dia kembali melangkahkan kaki menuju kamar mandi.


Setelah selesai mandi pagi, kini badannya terasa segar dan rasa mengantuk pun hilang.


Berjalan kembali menuju kamar untuk mengganti pakaian. "Dimana Dasiku?" ucap Dandi sambil terus mencari-cari dasinya.


"Perasaan kemaren aku taruh disini. Koq sekarang nggak ada?" ucap Dandi lagi. Kini dia sudah siap berpakaian rapi. Hanya tinggal memakai dasi saja lagi.


"Dinda, apa kamu lihat dasiku?" tanya Dandi sambil berteriak.


Lelah berteriak, namun tidak ada jawaban dari Dinda sama sekali dan membuat Dandi sedikit penasaran. "Dinda kemana sih? apa dia masih tidur? tapi biasanya jam segini dia udah bangun." ucap Dandi.


Tanpa fikir panjang, dia langsung keluar dari kamarnya dan masuk menuju kamar Dinda.


"Dinda kamu ada... " sontak Dandi memalingkan wajahnya dan kembali keluar lalu menutup kembali pintu kamar dengan tergesa-gesa.


"Bodoh! kenapa aku lupa jika Dave tidur dengannya?" ucap Dandi sambil terus mengutuki kebodohannya.


Didalam kamar Dinda dan Dave yang tersadar langsung terbangun. "Kenapa kamu nggak kunci pintu?" ucap Dave kesal. Dia berfikir pasti tadi Dandi melihat mereka tidak memakai pakaian. Walaupun tubuh mereka ditutupi dengan selimut. Apalagi pakaian mereka berserakan dilantai.


"Dinda lupa kak. Biasanya Dinda juga nggak pernah ngunci pintu kalau tidur." balas Dinda sedikit menyesal dengan keteledorannya.


Dengan wajah yang masih malu-malu, mereka kembali memunguti pakaian yang sudah bertebaran kemana-mana dan memakainya kembali.


"Dandi, kamu udah mau pergi kerja?" tanya Dinda yang masih sedikit malu atas eksiden barusan.


"Iya, aku berangkat dulu ya. Kamu hati-hati dirumah," ucap Dandi lalu pergi meninggalkan rumah. Dia juga sedikit malu dengan Dinda. Apalagi tadi dia melihat Dinda dan Dave didalam. Betapa bodohnya dia yang langsung menyelonong masuk kekamar Dinda tanpa mengetuknya terlebih dahulu. Kenapa juga dia bisa lupa kalau Dave juga berada dikamar Dinda. Jelas-jelas malam tadi dia sama sekali tidak bisa tidur gara-gara suara mereka.


"Apa Dandi sudah pergi kerja?" tanya Dave yang baru keluar dari kamar dengan muka bantal nya.


"Sudah kak. Dinda tidak sempat membuatkannya sarapan." balas Dinda sedih. Bagaimana bisa dia terlambat bangun. Biasanya dia duluan yang bangun sebelum Dandi.


Aaaaaaaaaaaa, aku bahkan tidak jualan hari ini. Bathin Dinda saat baru mengingat jika malam tadi dia tidak mengadon kue.


"Kamu kenapa?" tanya Dave yang memeluknya dari belakang.

__ADS_1


"Dinda nggak apa-apa kak. Dinda lupa kalau hari ini Dinda harus jualan. Tapi Dinda sama sekali tidak mempersiapkan jualannya." balas Dinda.


"Jualan? emang kamu jualan apa?" tanya Dave bingung.


"Dinda jualan kue kak. Selama kakak dipenjara, Dinda jualan kue untuk mendapatkan uang dan untuk makan sehari-hari," balas Dinda lagi.


Dave melepaskan pelukannya dan membalik tubuh Dinda menghadap nya. "Jadi kamu jualan selama aku nggak ada?" tanya Dave panik dan dibalas anggukan oleh Dinda.


"Maafkan aku!" memeluk tubuh Dinda kembali, "Maafkan aku sudah gagal menjadi suami yang bertanggung jawab." ucap Dave sedih.


Selama dipenjara, dia sama sekali tidak terfikirkan kebutuhan Dinda. Selama itu juga dia tidak memberi nafkah kepada Dinda. Apalagi Dinda sama sekali tidak pernah menyinggung perihal uang.


"Aku minta maaf kalau selama aku dipenjara kamu menderita dan aku tidak pernah memberimu nafkah." ucap Dave sedih.


Mengelus-elus punggung Dave. "Sudah kak, Dinda paham kondisi kakak waktu itu. Dinda juga tidak mempermasalahnya," melepaskan pelukan dan memegang kedua lengan Dave. "Yang penting sekarang, kakak sudah bebas dan kita memulainya dari awal." sambung Dinda.


"Terima kasih Dinda, aku janji mulai sekarang aku akan menjadi suami yang bertanggung jawab." ucap Dave yakin. Dengan cepat dia kembali memeluk tubuh Dinda.


"Kak, lepasin! dada Dinda sakit," ucap Dinda saat Dave memeluknya sangat kencang dan membuatnya kesulitan bernafas.


"Kamu sayangkan sama aku?" tanya Dave memastikan. Matanya melirik bibir mungil Dinda dan membuat nafsunya bangkit.


"Iya, iya, Dinda sayang sama kakak." balas Dinda.


Tiba-tiba saja jantung Dinda berdegup kencang. Sepertinya dia tau maksud dari senyuman tersebut.


"Hehehe, kakak kenapa?" ucap Dinda memundurkan langkahnya saat Dave semakin mendekatinya.


Kini jarak mereka semakin dekat dan Dinda sudah tidak bisa memundurkan langkahnya saat tubuhnya sudah mentok ke tembok.


Menyentuh tubuh Dinda dengan jari-jari nakalnya. "Aku lapar," ucap Dave dengan tatapan buasnya.


Mencoba mengelak, "Kalau lapar, kakak tunggu disini. Dinda masakin sarapan dulu ya," ucap Dinda takut-takut.


"Aku bukan lapar itu," ucap Dave dengan tatapan sendu.


"Tapi kakak bilang lapar. Jadi kakak mau apa?" tanya Dinda sedikit bingung.


"Aku lapar ini," senyum menyeringai disertai dengan sentuhan nakalnya.


"Ahhhhhh," Dinda mendesah saat jari-jari nakal Dave menyentuh area intimnya dan memainkannya disana.

__ADS_1


"Kak, ini masih pagi. Kita juga belum mandi dan sarapan. Nanti malam aja ya!" ucap Dinda tersengal-sengal.


Kenapa dia mesum sekali? padahal malam tadi juga udah mendapatkannya. Apa malam tadi tidak cukup?


"Aku mau sekarang dan disini!" ucap Dave dengan penuh penekanan. Dia langsung melahap bibir mungil Dinda dan mengabsen seluruh area mulut Dinda dengan lidahnya.


Dave mengunci pintu dan menutup gorden dengan rapat agar tidak kelihatan dari luar.


Apa? diruang tamu? apa dia sudah gila? bahkan dia tidak peduli dimanapun asal nafsunya tersalurkan? kaka Dave benar-benar gila. Kutuk Dinda. Tapi dia tak kuasa untuk membantah lagi jika itu sudah kehendak suaminya.


Dia mendorong tubuh Dinda dan mendudukkannya dikursi. Menculuti satu persatu pakaian Dinda hingga tidak menyisakan sehelai benang pun.


Sebenarnya Dinda malu, dia berusaha menutupi **** ***** dan payudaranya dangan tangannya. Tapi dengan cepat Dave menepisnya.


Dave membuka lebar kedua kaki Dinda dan memainkan jari-jarinya disana.


Dinda mendesah karena sudah tidak bisa menahannya lagi. Kali ini dia sudah dibuat tidak berdaya oleh Dave.


"Ah sial, dimana dasiku?" ucap Dandi yang baru sadar tidak memakai dasi.Dia sudah separuh jalan keluar dari gang rumahnya untuk menuju halte.


"Kalau tidak pakai dasi nanti dimarah. Ah sial, kenapa harus sekarang sih?" ucap Dandi yang kesal.


Mau tidak mau dia harus berbalik lagi kerumah untuk mengambil dasi yang ditaruhnya dibangku ruang tamu.


Sial, mereka melakukannya lagi? aku benci suara ini. Menghembuskan nafas kesal. "Dindaaaaa," panggil Dandi sambil menggedor-gedor pintu agar yang didalam segera menyudahinya.


"Dandi!" ucap Dave dan Dinda bersamaan. Dandi berhasil membuat mereka kaget dan kalang kabut.


Dengan cepat Dinda memunguti pakai nya dan berlari masuk kekamar. Dia tidak ingin dilihat oleh Dandi dengan keadaan telanjang.


"Ada apa Dan?" tanya Dave saat dia membukakan pintu.


"Kenapa pintunya ditutup?" tanya Dandi sambil menaikkan alisnya.


"Anu ..., Dinda lagi mengantar kue diwarung dan aku hanya sendirian dirumah, jadi aku sedikit takut. Makanya pintu aku tutup." balas Dave tergagap-gagap.


Sendirian? jadi suara yang aku dengar tadi suara apa? suara hantu gitu? aku juga tau Dinda tidak jualan hari ini. pintar sekali mengeles.


"Minggir, aku mau ambil dasi ku!" masuk kedalam dan menyambar dasi yang masih tergantung di kursi ruang tamu.


"Aku pergi!" pamit Dandi dengan wajah kesal.

__ADS_1


Kenapa dengannya? apa aku ada berbuat salah lagi? bukannya malam tadi kami udah baikan? lalu kenapa wajahnya terlihat kesal?


__ADS_2