
Hari ini Dinda dan Dave sedang menghabiskan waktu weekend mereka ke mall. Hari ini Dave ingin memanjakan istri dan calon anaknya sepuasnya.
"Hari ini, apapun yang kamu ingin, aku akan bayar." ucap Dave dengan sombongnya.
"Tapi nanti duit sayang habis gimana?" tanya Dinda.
"Uangku nggak bakalan habis sampai tujuh turunan. Jadi aku ingin menyenangkan istri tercintaku. Jadi ambil aja apa yang kamu mau." ucap Dave.
"Beneran?" tanya Dinda lagi kegirangan.
"Beneran sayang." balas Dave sambil mengacak-acak rambut Dinda.
"Ih apaan sih, kan rambut Dinda jadi jelek." sungut Dinda.
"Walaupun rambut kamu berantakan, tapi kamu tetap cantik koq dimata aku." ucap Dave terkekeh.
"Basi tau gombalannya." balas Dinda lalu berjalan mendahului Dave.
"Sayang, tungguin." Dave berjari menghampiri Dinda yang sudah menjauh.
Mereka mengelilingi Mall yang megah. Masuk ke berbagai toko disana dan keluar dengan tangan kosong.
"Kamu mau beli apa sih sebenarnya?" tanya Dave. Semenjak tadi mereka keluar masuk toko, tapi tidak ada satu barangpun yang Dinda beli.
Dinda memajukan bibirnya, "Dinda juga nggak tau mau beli apa yang." balas Dinda.
"Huff, capek tau keluar masuk toko mulu." gerutu Dave.
"Ya maaf. Dinda nggak tau apa yang harus Dinda beli." ucap Dinda.
"Tapi kegirangan. Sekarang malah bingung." ejek Dave.
"Emang nggak ada yang pengen kamu beli? Tas? Sepatu? Baju? Atau apa gitu?" tanya Dave.
Dinda menggeleng, "Dinda udah punya. Dinda nggak butuh lagi." balas Dinda cepat.
"Terus kita ngapain dong disini?" tanya Dave. Kalau tidak ada yang ingin dibeli Dinda, lalu untuk apa mereka masih disini.
"Muter-muter aja yang. Dinda pengen liat semua isi mall ini yang." balas Dinda.
"Apa?!" ucap Dave terkejut.
"Mall ini luas yang, nanti kamu capek." ucap Dave khawatir.
"Nggak koq yang. Baby kita yang mau." balas Dinda sambil mngelus-elus perutnya yang masih rata.
"Anak kita yang maua apa kamu yang mau?" ejek Dave.
Dinda hanya cengengesan. Lebih baik mutar-mutar di mall dari pada pulang kerumah. Apalagi ini hari weekend. Dia hanya ingin menghabiskan waktu seharian ini bersama suaminya. Jarang-jarang sekali bisa seperti ini.
"Yaudah, nanti kalau capek bilang." ucap Dave dan dibalas anggukan oleh Dinda.
Mereka pun akhirnya mutar-mutar didalam mall. Masuk dan keluar dari toko tanpa membeli apapun.
Sebenarnya Dave sudah mulai muak dan bosan. Tapi karena ini keinginan Dinda, mau tidak mau dia harus bersabar.
"Yang, ini bagus nggak?" tanya Dinda sambil memperlihatkan sebuah liontin.
"Kamu mau?" tanya Dave.
__ADS_1
"Dinda cuma nanya aja koq yang." balas Dinda.
Dave tersenyum. Dilihatnya bagian leher Dinda yang tidak memakai apa-apa. Sepertinya Dinda juga menyukai liontin itu. Tidak salah juga jika dia membelikannya untuk Dinda.
"Coba lihat yang lain mbak." ucap Dave kepada karyawan disana.
"Ayo ke sebelah sana mas." ajak karyawan itu.
Dave dan Dinda pun mengikuti. Dinda sedikit heran dengan Dave. Bukannya sedari tadi dia keluar masuk toko dia hanya diam dan kurang semangat. Tapi kenapa sekarang dia malah bersemangat.
"Yang ini mbak, yang ada huruf D." ucap Dave sambil menunjuk sebuah liontin dengan gantungan huruf D.
Karyawan tersebut mengeluarkan liontin tersebut dari lembari kaca dan menyarahkannya kepada Dave.
"Sini yang, aku pakaikan." ucap Dave sambil mengalungkan liontin yang diserahkan karyawan toko tadi.
"Cantik yang. Tapi kenapa huruf D?" tanya Dinda.
"Saya ambil yang ini aja mbak." ucap Dave sambil mengeluarkan black card dari dompetnya.
"Yang, koq dibeli? Kan Dinda nggak minta." kata Dinda.
"Memang kamu nggak minta. Aku aja yang ingin beli buat kamu." balas Dave.
"Kamu suka kan?" tanya Dave.
Dinda mengangguk, "Dinda suka yang." balas Dinda tersenyum.
Dave yang mendengar jawaban Dinda pun ikut senang. "Aku tau koq.kalau kamu suka."
"Tapi kenapa huruf D yang? Kan masih banyak yang bagus lagi." ucap Dinda.
"Emang kenapa yang?" tanya Dinda.
"Itu kan inisial nama kita." balas Dave.
Dinda melihat kembali liontin dan Dave secara gantian. Kemudian sebuah senyuman merekah dari bibir mungilnya. "Koq Dinda nggak kepikiran ya. Makasih ya sayang." ucap Dinda lagi.
"Iya. Tapi jangan lupa hadiah untukku juga." ucap.Dave sambil mengedipkan sebelah matanya.
Koq perasaanku nggak enak ya?
"Ini mas kartunya." ucap karyawan toko sambil menyerahkan kembali black card milik Dave.
"Terima kasih mbak." balas Dave.
Mereka pun akhirnya keluar dari toko liontin tersebut dan kembali mengelilingi mall.
"Yang, Dinda haus." ucap Dinda sambil memegang lehernya. Tenggorokannya teras kering setelah sekian lama keluar masuk banyak toko tadi.
"Duduk dulu disini." ajak Dave.
Dinda dan.Dave pun duduk dibangku yang tersedia disana. "Kamu mau minum apa? Apa sekalian kita cari tempat makan?" tanya Dave.
Dinda menggeleng. Dia tidak lapar dan hanya merasa haus.
"Yaudah, kamu tunggu disini dulu ya. Biar aku cari minum buat kamu." ucap Dave sambil berdiri.
"Dinda ikut." rengek Dinda.
__ADS_1
Dave menggeleng. Dinda pasti capek setelah lama berjalan. Lebih baik dia saja yang pergi mencari minuman.
"Kamu disini aja. Biar aku aja yang belikan minuman buat kamu. Kamu pasti capek." cegah Dave dengan suara lembut.
Dinda akhirnya mengangguk dan menuruti perintah Dave. Duduk di kursi sambil menunggu Dave kembali membelikan minuman untuknya.
"Hy Dinda, kamu lagi ngapain sendirian disini?" tanya Cindy yang juga berada di mall tersebut dan kebetulan lewat didepan Dinda.
Dinda mendongak dan melihat Cindy sedang berdiri dihadapannya. "Bukan urusan mbak Cindy." balas Dinda cuek.
"Jangan galak-galak dong. Aku kan hanya bertanya." ucap Cindy.
"Aku lagi nungguin suamiku." balas Dinda cepat dan segera memalingkan wajahnya sambil melihat sekeliling mencari keberadaan Dave.
"Sama Dave toh. Dimana dia? aku udah kangen banget sama dia." ucap Cindy memanas-manasi Dinda.
Dinda tidak merespon. Dia tidak boleh terpancing. Dinda hanya sibuk melihat sekeliling sambil menunggu Dave kembali.
" Mbak ngapain masih disini?" tanya Dinda.
Cindy tersenyum lalu ikut duduk disebelah Dinda. "Ya pengen ketemu Dave dong. Masa ketemu kamu." balas Cindy enteng.
Sabar Dinda, sabar. Jangan diladeni.
"Eh itu Dave." ucap Cindy.
Dinda pun menoleh dan melihat Dave sedang berjalan kearahnya.
Dave manatap bingung Dinda dan Cindy secara bersamaan dari kejauhan.
Kenapa Cindy ada disana? apa mereka temenan? tapi tidak mungkin.
Setelah Dave mendekat, tiba-tiba saja Cindy memeluknya dan membuatnya kaget.
Dengan cepat Dinda bangkit dan menarik tubuh Cindy agar menjauh dari suaminya. "Mbak Cindy apa-apan sih? Ngapain meluk-meluk suami saya?" ucap Dinda geram.
"Oh maaf, aku hanya kangen aja sama suami kamu." balas Cindy.
"Kak Dave lagi, kenapa diam aja sih dipeluk mabak Cindy? Oh, jangan-jangan kakak suka lagi sama dia?" ucap Dinda cemberut sambil melipat kedua tangannya ke dada.
Dave kelalapan. Dia bingung dengan situasi sekarang. Dave meletakkan minuman yang baru dibelinya di kursi. "Kamu ngapain disini?" tanya Dave sinis kepada Cindy.
"Kamu kenapa sih Dave? suka-suka aku dong. Aku juga kebetulan ketemu istri kamu disini." balas Cindy.
"Sayang, sayang, maafin aku ya. Kamu kan tau sendiri kalau aku udah nggak suka lagi sama dia." pujuk Dave kepada Dinda.
"Terus kenapa kakak diam aja waktu dipeluk dia?" tanya Dinda marah.
"Aku kaget sayang. Lagi pula tangan aku bawa minuman buat kamu. Gimana aku bisa mencegah dia meluk aku." terang Dave.
"Apa?!" ucap Cindy.
"Bisa-bisanya kamu ngomong begitu ya. Apa kamu udah lupa apa yang udah kita lakuin dulu?" ucap Cindy berusaha membongkar kembali kisah lama mereka.
"Cukup Cindy! Jangan pernah ungkit-ungkit kejadian itu lagi. Itu hanya masa lalu dan aku sudah tidak menyukaimu lagi. Jadi aku mohon menjauh lah dari kehidupanku." ucap Dave emosi.
"Apa? Dinda, kamu harus tau jika aku dan Dave dulu itu pernah," perkataannya dipotong oleh Dinda.
"Saya udah tau semuanya koq mbak."
__ADS_1
"Saya tau masa lalu suami saya seperti apa. Saya menerima semuanya. Sekarang saya dan suami saya hidup bahagia. Tolong, jangan pernah lagi menjadi parasit dalam kehidupan kami."