MENIKAH DENGANMU

MENIKAH DENGANMU
Permintaan Dinda


__ADS_3

Karena kesal, Dave lalu masuk kekamar dan membanting tubuhnya keranjang empuk miliknya. Sebenarnya ia sangat puas bisa membalaskan dendamnya, namun masih ada yang menganjal dihatinya. Ia belum bisa memastikan perasaan seperti apa yang ia rasakan.


Tok tok tok.


Suara ketukan pintu terdengar dari sebaliknya. Tidak perlu ia heran. Sudah pasti Dindalah yang mengetuk nya. Karena atas perintahnya, setiap Dinda ingin masuk, harus mengetuk pintu terlebih dahulu.


"Masuk!" balasnya dengan nada datar.


Dinda masuk dengan langkah kaki sedikit lambat. Sebenarnya ia sedikit takut. Apalagi hal yang ingin disampaikannya menyangkut Dandi dan Adit. Ia sangat merindukan mereka berdua. Apa salah jika dia ingin bertemu dengan orang yang ia sayangi.


"Katakan apa maumu?" tanya Dave tidak sabaran. Ia mulai muak dengan tingkah Dinda yang suka lambat mengatakan sesuatu.


"A ...ku, hmmm." Dinda tidak bisa menuntaskan perkataannya. Hatinya sedikit takut mengatakannya lagi. Apalagi sebelumnya, Dave sudah menolak mentah-mentah permintaannya itu.


"Apa yang kau mau? Jangan buat aku muak. Jika kau hanya ingin membuang-buang waktuku dengan permintaan sampahmu itu, lebih baik kau keluar. Pergi!" usir Dave dengan galak nya.


Dinda masih berdiri disana sambil menyatukan kedua tangannya dan memainkan jari-jarinya untuk menghilangkan rasa takut. Setiap Dave memarahi dan membentaknya, Hanya itu cara yang bisa ia lakukan agar air matanya tidak jatuh. Dave akan marah jika ia menangis. Tentu dengan menangis akan membuatnya tampak lemah didepan Dave. Ia tidak ingin itu terjadi.


"Aku ingin menemui Dandi." Dinda menuntaskan kata-katanya yang tadi tersendat.


Dave buru-buru terbangun dari rebahannya. Ia langsung berdiri dan berjalan menghampiri Dinda dengan tatapan kesal.


"Setiap keputusan yang aku berikan, tidak bisa di rubah-rubah. Jika ini permintaanmu, tentu kau sudah tau apa jawabanku." jawab Dave tegas.

__ADS_1


Selama Dinda bersamanya, ia tidak ingin Dinda menemui siapapun dan keluar dari apartemen tempatnya sekarang. Ia hanya ingin mengurung Dinda disana tanpa bisa pergi keluar dan menemui orang-orang diluar. Pasti sangat merepotkan nantinya jika Dinda keluar dari apartemennya. Pasti Dinda akan kembali kerumah lamanya dan akan membongkar semua rahasianya. Itu yang sangat ditakutinya sekarang. Dengan mengurung Dinda dan memutus semua komunikasi dengan orang luar, akan membuat Dave lebih aman.


Dinda mencoba mengatur nafas agar matanya tidak berair. Ingin sekali ia menyumpah, namun kata-kata itu sama sekali tidak bisa keluar dan tertahan di tenggorokan.


"Pergi! aku ingin istirahat." usir Dave lagi. Ia kembali memposisikan tubuhnya ke awal. Berbaring kembali ke kasur empuknya. Agar ia bisa tertidur dan bermimpi di siang bolong.


Dinda mengepalkan kedua tangannya. Ia lalu pergi meninggalkan Dave yang sudah tampak memasuki alam mimpinya. Dengan rasa sedih dan sakit hati, Dinda menuruni tangga dan duduk disofa ruang bawah dengan kesal.


"Dasar kejam. Kenapa hanya ingin menemui Dandi saja begitu sulit." ucap Dinda kesal. Air mata yang tadinya tertahan, kini telah jatuh membasahi pipi.


Jam telah menunjukkan pukul delapan malam. Dinda telah selesai menyiapkan makan malam untuk Dave. Dinda sesekali melirik kearah atas menanti Dave untuk turun dan memakan masakannya.


"Apa dia belum bangun-bangun?" tanya Dinda penasaran. Sejak siang, Dinda sama sekali tidak berani masuk kekamar. Ia mandi dikamar mandi dapur dan memakai pakaian yang sudah kering yang baru diangkat dari jemuran halaman belakang dapur.


Karena rasa penasarannya, Dinda memberanikan diri untuk naik keatas. Ia berjalan cepat menaiki tangga. Setelah sampai, ia membuka pintu kamar dengan hati-hati agar tidak menimbulkan suara yang akan mengganggu Dave.


Dinda masuk kekamar dan melihat sekeliling. "Apa dia mandi?" Dinda berjalan kearah pintu kamar mandi. Menempelkan telinganya di pintu. Tetapi sama sekali tidak ada suara guyuran air didalam sana. Dinda lalu membuka pintu tersebut. Benar saja, tidak ada siapa-siapa disana. Ternyata Dave memang sedang tidak berada didalam.


Dinda lalu membalikkan tubuhnya untuk pergi meninggalkan kamar tersebut. Saat ia membalikkan badan, Dave sudah berada dihadapannya. Dave yang bertelanjang dada dan hanya menggunakan handuk menutupi bagian bawahnya.


"Siapa yang memberimu izin masuk kekamar?" tanya Dave dengan tatapan sinis nya. Ia paling tidak suka ada yang melanggar perintahnya. Apalagi yang telah terjadi didepan matanya.


Dinda terkejut dan menutup mulutnya dengan spontan. Ia tau, saat ini Dave pasti marah. Apalagi ia masuk tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu.

__ADS_1


"Aku... " Dinda berjalan mundur saat Dave berjalan mendekatinya.


Karena panik, Dinda semakin mundur hingga mentok di dinding kamar mandi. Saat ia ingin menunduk dan pergi, Dave telah mencegatnya. Kini posisi mereka sangat dekat. Tubuh mereka kini saling menempel dan jarak wajah mereka hanya beberapa senti saja.


Apa yang akan dia lakukan. Jangan apa-apa kan aku. Gumam Dinda sambil menutup matanya. Ia sangat panik dan takut.



Dave hanya tersenyum menyeringai. Memperhatikan wajah Dinda yang sangat ketakutan. Tiba-tiba hasratnya bangkit saat melihat bibir Dinda yang mungil dan seksi. Dave mendekatkan bibirnya, lalu ******* bibir Dinda dengan rakus.


Dinda yang kaget dengan aksi brutal yang dilakukan Dave mencoba melepaskan ciuman tersebut. Namun tenaganya tidak kuat melawan tubuh Dave yang kekar. Tangan kanannya sudah dipegang oleh Dave dan tangan satunya lagi berusaha untuk menyingkirkan Dave. Ia menarik-narik rambut Dave dengan kasar saat tangan kanan Dave menjangkau tubuhnya.


"Lepaskan aku!" pinta Dinda dengan tersengal-sengal. Ia sudah kehabisan nafas saat berhasil melepaskan ciuman brutal yang diberikan Dave.


Dave hanya tersenyum menyeringai melihat Dinda yang tersengal-sengal seperti kehabisan nafas. Memang saat ini Dave sangat bernafsu. Ia memainkan tangan kanannya dan meraba tubuh Dinda dengan wajah mesumnya.


"Lepaskan aku!" Dinda meronta saat ia merasakan tangan Dave telah menjangkau area sensitifnya.


Dave mendekatkan wajahnya ke telinga Dinda dan membisikkan sesuatu yang membuat bulu kuduk Dinda merinding. "Bukankah kau istriku dan aku berhak memiliki tubuhmu." balas Dave dengan suara seksualnya.


Dinda mendorong Dave dengan kerasnya. Walau dorongan itu sama sekali tidak membuat Dave menjauh darinya.


Dave yang sedang tersulut nafsu lalu mengendong Dinda dan melemparnya keranjang. Lalu ia menindih tubuh Dinda dan menahan kedua tangan Dinda.

__ADS_1


Dinda mengeliat agar bisa melepaskan diri. Sesekali ia menarik tangannya, namun sama sekali tidak berhasil karena tangannya sudah ditahan.


"Tolong, jangan sentuh aku. Aku mohon!" kini air matanya sudah tidak terbendung lagi. Keyakinannya untuk tidak menagis didepan Dave sudah terpatahkan. Perasaannya sangat takut. Ia tidak ingin Dave semakin tersulut nafsu dan melakukan hal yang sama sekali tidak diinginkan. Walaupun sekarang ia berstatus istri kepada Dave, ia tidak ingin memberikannya kepada orang yang sama sekali tidak dicintainya. Apalagi kepada Dave yang saat ini menjadi suaminya.


__ADS_2