
" Tapi aku mohon terima hadiah ini. Aku akan lebih sakit jika kamu menolak kedua-duanya." ucap Dandi memberi kembali hadiah yang sudah dikembalikan Naomi kepadanya tadi.
Beberapa saat kemudian, Dave kembali masuk dan melihat keadaan yang sangat canggung dengan hawa-hawa panas didalamnya. Padahal disana sudah dihidupkan pendingin.
Dave segera duduk kembali disamping Dandi. "Ayo kita bersenang-senang." ucap Dave sembari mengetik judul lagu di papan keyboard yang disediakan disana.
Dandi segera bangkit dari duduknya. "Bang, aku keluar bentar ya. Aku mau ke toilet." ucap Dandi dan dibales anggukan oleh Dave.
Ketika sampai di toilet, Dandi segera menyalakan keran dan membasuh mukanya dengan cepat. Hatinya begitu sakit setelah ditolak dan ditertawakan.
"Bodoh!" sambil menatap dirinya dipantulan cermin. Tampak begitu menyedihkan.
Deringan ponsel membuyarkan lamunannya. Dia segera maraih ponsel disaku celananya lalu mengangkatnya. "Hallo?" ucap Dandi.
"Kamu dimana Dandi? ini udah malam lho. Besok kita sekolah. Pulang! ayah sama bunda khawatir." ucap Dinda marah-marah.
"Iya bentar lagi aku pulang." balas Dandi.
"Kamu kenapa? koq suara kamu kaya nangis gitu?" tanya Dinda.
"Mana ada aku nangis. Telinga kamu tuh yang bermasalah. Yaudah aku tutup." ucap Dandi sambil mengakhiri panggilan.
Dandi kembali menatap dirinya ke cermin. Benar saja, wajahnya begitu sembab. Dia harus segera membersihkan agar orang-orang tidak akan curiga jika dia baru selesai menangis. Akan terlihat lemah jika laki-laki sampai menangis hanya karena wanita. Apalagi menangis karena cintanya ditolak.
Dandi keluar dari toilet dengan wajah yang segar. Tidak tampak lagi wajahnya yang sembab. Dia mempercepat langkahnya menuju ruangan yang sudah ditinggalnya tadi.
Sesampai didepan pintu ruangan, tidak sengaja dia melihat Naomi dan Dave saling berciuman dibalik kaca pintu. Betapa hancur rasa hatinya. Dia ditolak mentah-mentah dan kini mereka malah berciuman dibelakangnya.
Mengatur nafas dan memutar ganggang pintu. Naomi dan Dave yang mendengar suara pintu terbuka langsung menghentikan aksi mereka. Mereka kembali duduk seperti tidak ada kejadian saat Dandi menatap mereka berdua.
"Bang, aku pulang dulu ya." ucap Dandi menahan amarah dan sakit hati.
"Lah, kenapa cepat sekali? kita baru aja sampai masa mau pulang? nanti aja, kita happy-happy dulu." ucap Dave.
"Nggak bang, kalian berdua aja happy-happy. Aku mau pulang!" ucap Dandi sambil melirik Naomi. Yang ditatap hanya duduk manis seperti tidak ada kejadian.
"Yaudah, biar abang antar." ucap Dave berdiri sambil meraih tasnya.
"Nggak usah bang, aku bisa pulang sendiri. Yaudah, aku pulang duluan. Selamat bersenang-senang." ucap Dandi sembari meninggalkan mereka yang tampak menatapnya kebingungan.
"Kenapa lagi tu bocah?" tanya Dave heran.
"Kamu juga sih, ngapain bawa-bawa anak sekolah. Dia kan besok harus masuk kesekolah. Wajar aja dia mau pulang cepat." ucap Naomi mengingatkan.
Ya begitulah anak sekolah. Tidak bisa keluar sampai larut malam jika tidak ingin besoknya terlambat datang kesekolah. Belum lagi jika sampai dicari-cari oleh orang tua mereka. Berbeda dengan anak kuliahan yang masih bisa bebas.
__ADS_1
Dandi sampai kerumah dengan selamat setelah tadi diantar oleh taksi online.
"Dari mana kamu Dandi?" tanya Bundanya saat dia baru saja membuka pintu.
"Ngumpul sama teman-teman Bun," balas Dandi.
"Kamu lihat kan sekarang jam berapa? kamu masih sekolah nak. Jangan pulang sampai larut malam. Apalagi sekarang udah jam 12." nasehat bundanya. Dia tidak ingin anaknya keluyuran dan pulang hingga larut malam.
"Yaudah sekarang masuk kekamar dan tidurlah. Besok kamu harus kembali kesekolah. Bunda nggak mau kamu terlambat!" suruh bundanya.
"Iya bunda, selamat malam." ucap Dandi sembari kembali ke kamar nya. Untung saja hanya bundanya saja yang menceramahinya. Jika tadi ada ayahnya, maka akan semakin parah lagi masalahnya. Apalagi ayahnya begitu protektif dan banyak tanya.
Sesampai dikamar, Dandi segera membaringkan tubuhnya dan memejamkan matanya. Tapi sialnya, dia sama sekali tidak bisa tidur. Isi kepalanya masih memikirkan kejadian yang sudah dilaluainya tadi.
"Ayo tidur!" ucap Dandi kesal. Masih saja dia memikirkan Naomi.
Tok tok tok
Suara pintu kamarnya diketuk oleh seseorang.
Dandi segera bangkit lalu membuka pintu kamarnya. "Kenapa belum tidur?" tanya Dandi. Ternyata Dinda lah yang mengetuk pintunya.
"Kamu sendiri kenapa belum tidur? kamu baru pulang kan?" tanya Dinda menyelidik.
Menghembuskan nafas kesal dan mendorong tubuh Dinda agar menjauh. "Iya, aku baru pulang. Udah-udah sana. Aku mau tidur, besok sekolah." usir Dandi lalu menutup kembali pintunya.
Keesokan paginya, Dandi bangun seperti biasa. Tidak tau kapan dia bisa tertidur. Yang pasti malam tadi dia tidak cukup waktu tidur.
Setelah selesai mandi dan bersiap-siap, dia segera turun dan sarapan bersama.
Dandi kenapa ya? koq mukanya kusut banget? apa dia ada masalah?
"Nanti pulang sekolah langsung pulang ya. Kalau ada perlu atau apa jangan lupa kabarin sama orang tua." ucap Bunda saat mereka selesai sarapan dan akan berpamitan kesekolah dan bekerja.
"Dandi, kamu kenapa?" tanya Dinda penasaran. Dandi terlihat banyak diam dari tadi. Itu yang membuatnya sedikit heran.
"Aku nggak apa-apa koq. Aku hanya capek aja." balas Dandi.
"Karena kurang tidur ya? makanya pulang jangan sampai larut malam. Kan muka jadi kusut dan kurang semangat." ejek Dinda.
"Bawel amat sih kamu Dinda." sambil mengacak-acak rambut Dinda.
Akhirnya mereka pun pergi kesekolah setelah diantar oleh Ayah mereka.
Sesampai didepan gerbang sekolah, sebuah pesan masuk dari ponsel nya. Dia segera mengambil dan melihat.
__ADS_1
Dari pulang malam itu hingga sekarang dia tidak sempat mengecek ponsel. Begitu banyak sekali panggilan tidak terjawab dan pesan yang belum terbaca dari Dave.
Abang Dave.
10:49 PM
Dandi, gimana? udah kamu katakan semuanya? gimana jawabannya?
11:46 PM
Udah sampai rumah? kena marah nggak?
00:00 AM
Kamu kemana sih? dari tadi abang telpon nggak diangkat-angkat?
01:02 AM
Udah tidur? yaudah, besok abang jemput kamu.
07:10 AM
Kamu dimana sih? rumah koq sepi? abang didepan ini. Ayo cepat!
Dandi membaca satu persatu pesan tersebut tanpa berniat membalasnya. Dia kembali meletakkan ponselnya. Takut nanti ketahuan oleh satpam sekolah dan guru-guru jika dia membawa ponsel kesekolah. Karena itu sangat dilarang.
Sesampai didalam kelasnya, ponselnya kembali berdering. Dengan cepat dia mengambil dan menjawab. Dia lupa untuk mengatur mode senyap.
"Hallo?" ucap Dandi.
"Kamu dimana sih Dandi? abang dari tadi nunggu kamu didepan tapi nggak keluar-keluar." ucap Dave ngomel-ngomel.
"Aku udah sampai sekolah bang." balas Dandi.
"Yah, kenapa nggak bilang sih? capek abang nungguin kamu didepan rumah. Tau-taunya udah sampai kesekolah." ucap Dave lagi. Dia masih ngomel-ngomel.
"Kenapa bang?" tanya Dandi.
"Nggak ada apa-apa. Abang mau ngajak kamu ketemu Naomi lagi hari ini." balas Dave. "Bolos lagi ya?" bujuk Dave.
"Nggak bang. Aku nggak bisa hari ini. Maaf ya bang. Abang aja sendiri ketemu Naomi. Aku tutup ya bang. Bentar lagi guruku masuk." Dandi pun mengakhiri panggilan dan langsung menonaktifkan ponselnya agar tidak terganggu saat jam pelajaran.
"Bisa-bisa nya ni bocah matiin." marah Dave.
Dia kembali menghubungi nomor Dandi. Tapi kali ini nomornya sudah tidak aktif lagi. "Ah sial." ucap Dave kesal.
__ADS_1
Dave pun akhirnya menghidupkan mesin mobil dan pergi meninggalkan kediaman Dandi. Sia-sia dia dari tadi menunggu disana. Sedangkan orang yang ditunggu sudah tidak berada dirumah.