
"Dasar tidak pernah becus. Cari sampai ketemu! Jika tidak kalian akan tau akibatnya." Dave menutup teleponnya dengan sedikit bengis.
Saat ini Dave sedang berada dikantor miliknya. Selain Hotel yang ia kelola, Dave juga bekerja di sebuah kantor miliknya sebagai CEO perusahaan.
Dave menyandarkan kepalanya ke senderan bangku empuknya memikirkan masalah yang nanti akan terjadi padanya jika semuanya terbongkar. Ia sangat takut dengan itu tentu saja reputasinya turun dan pasti orangtuanya akan sangat marah kepadanya serta semua harta kekayaan Atmawijaya tidak akan diwariskan kepadanya.
"Apa yang harus aku lakukan jika dia sudah tertangkap? apa aku harus membunuhnya dan membuatnya menyusul kembarannya di syurga?" Ucap Dave sambil terus berpikir.
Selama ini ia belumlah pernah membunuh siapapun secara langsung melainkan melalui perantara sesuai perintahnya. Namun jika mengenang Dinda, maka ia merasa sangat ingin sekali membunuhnya. Entahlah, pikiran apa yang ada didalam batok kepalanya.
Di salon
"Sayang, kamu cantik sekali." Puji Kikan kepada Dinda yang baru saja selesai salon karena dipaksa olehnya.
Sebelum itu Kikan sudah membawanya ke klinik yang berada disamping salon tersebut.
Ia sangat tidak tega melihat Dinda yang seperti orang yang kurang terurus dengan pakaian yang kotor dan rambut yang berantakan. Makanya ia membelikan baju baru untuk Dinda dan memaksanya membersihkan rambut di salon tersebut.
"Terima kasih tante."Balas Dinda malu-malu.
"Oh iya, kamu tinggal dimana? ayo sini tante antar sampai kerumah." Kikan dan Dinda berjalan keluar dari salon tersebut dan berdiri didepan sebuah mobil yang sudah ditunggu oleh supir Kikan.
Dinda yang mendengar ajakan tersebut hanya diam. Ia tau sekarang sangat tidak mungkin akan kembali kerumah tersebut. Bagaimana tidak tempat tersebut sudah rata dengan tanah. Dinda hanya menghela napas karena tidak tau harus berkata apa lagi.
"Kenapa sayang?" tanya Kikan yang melihat ekspresi wajah Dinda yang murung.
"Oh nggak ada apa-apa tante." balas Dinda
"Terus kenapa wajah kamu murung begini?ayo masuk ke mobil, biar tante antar kamu kerumah." Kikan memaksa Dinda.
Dinda tetap diam dan sesekali melihat kearah sekitar. Tiba-tiba matanya terbelalak saat melihat dari kejauhan para anak buah Dave tengah sibuk berjalan mencarinya. Dengan tanpa pikir panjang, Dinda pun lalu memasuki mobil milik Kikan tersebut. Kikan yang melihat pun hanya tersenyum bahagia karena ajakannya tidak ditolak lagi.
__ADS_1
Selama diperjalanan. Dinda semakin menjadi gelisah dan tidak tentu arah. Jantungnya berdetak kencang mengingat apa yang akan terjadi selanjutnya. Kikan yang melihat Dinda seperti gelisah pun mencoba mengelus-elus rambut Dinda dengan tenang.
"Dinda, kamu kenapa? dimana rumah kamu sayang?" tanya Kikan lagi karena sampai saat ini Dinda tidak menjawab dan memberitahu dimana tempat tinggalnya.
"Dinda enggak punya rumah tante." jawab Dinda ragu-ragu. Kikan yang mendengar pun semakin terkejut dengan pernyataan yang keluar dari mulut Dinda. Pantas saja sedari tadi ia tidak menjawab pertanyaannya.
"Jadi selama ini kamu tinggal dimana Dinda?" Tanya Kikan menyelidik.
"Rumah Dinda terbakar tante." jawab Dinda sedih
Kikan yang mendengar merasa semakin iba dan mengingat kembali apa yang ia tonton di televisi kemarin.
"Jadi yang diberitakan itu rumah kamu?" tanya Kikan lagi dan Dinda hanya mengangguk mengiyakan.
"jahat sekali mereka terhadap kalian. Tega sekali mereka membakar rumah kalian." ucap Kikan kesal
Dinda sangat meyakini rumah dibakar dan Dandi terbunuh semuanya adalah ulah Dave. Karena Dandi memiliki utang kepadanya. Ia tidak sanggup lagi mengenang peristiwa itu dan hanya bisa menangis.
"Entahlah tante, Dinda pun tidak tau harus kemana. Tadi Dinda berusaha mencari pekerjaan untuk mendapatkan uang dan menyambung hidup, namun semuanya menolak dan bahkan mengusir Dinda." jawab Dinda.
"Bagaimana jika Dinda tinggal dirumah tante saja, kebetulan tante tidak punya anak perempuan." ajak Kikan lagi
Dinda mengerutkan dahinya seakan tidak percaya apa yang baru ia dengar. Bagaimana bisa orang yang baru saja ia temui dan ia kenal tiba-tiba ingin membawanya tinggal bersama.
"Maaf tante, Dinda tidak mau merepotkan. Apalagi Dinda tidak bekerja. Bagaimana bisa Dinda seenaknya tinggal dirumah tante." ucap Dinda.
"Dinda, jangan khawatir tentang itu semua. Kamu tidak perlu mengeluarkan uang jika tinggal dirumah tante. Bahkan tante lah yang akan memberimu uang." ucap Kikan tersenyum kepada Dinda dan membuat Dinda kebingungan.
"Maksud tante?" tanya Dinda yang semakin bingung.
"Kamu bisa masak kan?"Kikan bertanya dan dibalas dengan anggukan oleh Dinda.
__ADS_1
"Kamu hanya perlu memasak jika tinggal dirumah tante. Jadi tante akan memberikan upah dengan pekerjaan Dinda tersebut. Bagaimana?"
Dinda sesekali memikir dengan ajakan tante Kikan. Jika ia tinggal dirumah dan diberi pekerjaan untuk memasak tentu ia akan bisa memiliki uang dan yang pasti kini ia memiliki tempat tinggal.
Namun bagaimana dengan Dave dan anak buahnya? bagaimana jika mereka mengetahui tempat persembunyiannya? apa mereka akan melakukan hal yang sama terhadap tante Kikan sama seperti yang dilakukan Dave terhadap dirinya dan Dandi?
Pikiran Dinda semakin tidak karuan. Sungguh berat rasanya ingin menolak mengingat ia akan diberikan tempat tinggal dan pekerjaan.
"Apa yang kamu pikirkan Dinda?" tanya Kikan yang seperti sibuk memikirkan sesuatu yang ia sendiri pun tidak tau itu apa.
Dinda pun dengan berani menceritakan permasalahan yang terjadi dan kecemasan yang ia alami mulai dari A sampai Z tanpa tertinggal satupun. Kikan merespon dengan sesekali mengerutkan dahi dan menaikkan alis seakan terkejut dan tidak percaya dengan apa yang telah Dinda katakan.
"Tenang Dinda, tante punya anak yang pasti akan membantu kamu. Kamu jangan terlalu memikirkan itu." Balas Kikan yang disertai dengan pelukan.
Sudah lama sekali rasanya Dinda tidak merasakan pelukan dari seorang ibu semenjak kepergian kedua orangtuanya untuk selama-lamanya. Dinda pun sangat menikmati pelukan hangat tersebut.
"Tante bisa temani Dinda ke pemakaman Dandi?" tanya Dinda disela pelukan tersebut dan Kikan membalas dengan jawaban mengiyakan.
Sebelum Dinda pergi meninggalkan tempat tinggalnya yang sudah rata dengan tanah, ia sempat menanyakan dimana Dandi dimakamkan kepada Adit.
Merekapun akhirnya sampai ketempat tujuan yaitu sebuah pemakaman umum yang terletak sembilan kilometer dari jarak rumah Dinda.
Tidak tau apa yang membuat para warga memakamkan jenazah Dandi jauh dari rumahnya. Sedangkan ia tau, masih ada pemakaman yang tidak jauh dari tempat tinggalnya dulu yang hanya berjarak 200 meter.
"Dandi, Dinda datang. Bagaimana kabarnya? apa Dandi baik-baik saja disana?"
Dinda tak kuasa menahan air matanya yang sudah tertahan di kelopak matanya.
"Dandi, Dinda kangen. Kenapa Dandi pergi secepat ini? Dinda sekarang tidak punya siapa-siapa didunia ini. Dandi dengarkan yang Dinda katakan?"
Dinda tersandar di nisan kayu dengan air mata yang bercucuran sambil mengusap-usap pusara Dandi.
__ADS_1
Kikan yang melihat pun tanpa sadar air matanya juga jatuh. Sungguh iba dan kasihan melihat nasib Dinda. Ia berjanji akan menyayangi Dinda sama seperti Dave dan Dion anaknya.