
"Kamu siapa?" tanya Cindy kebingungan.
"Maaf mbak, saya cuma mau mengembalikan dompet mbak ketinggalan diatas meja cafe." jawab pria tersebut.
Cindy merogoh tas miliknya memeriksa apakah dompetnya ada atau tidak didalam.
"Oh iya, terima kasih." ucap Cindy setelah menyadari dompetnya tidak ada didalam tas.
Pria tersebut pun pergi meninggalkan Cindy setelah berpamitan. Begitu pun Cindy langsung pergi meninggalkan cafe setelah taksi pesanannya sampai.
Dave pulang kerumah lebih awal dari biasanya. Karena suasana hatinya sedang kacau. Apalagi setelah bertemu dengan Cindy di cafe barusan.
"Dimana-mana ada dia. Bosan sekali melihat mukanya." ucap Dave kesal sembari memijit-mijit keningnya.
Pada saat itu,Dave mendengar suara riuh dari arah bawah. Orangtuanya baru saja sampai kerumah. Dave hanya menatap kedua orang tunya dengan wajah bingung.
Kenapa mereka tampak bahagia? Apa mereka barusan bertemu Dinda? Tanya Dave sambil terus memantau kedua orang tuanya.
Saat kedua orang tuanya sampai keatas, Dave duduk ditempat biasa mereka berkumpul. Melunjurkan kaki sembari memainkan remote televisi dan mengganti siaran televisi secara sembarangan.
"Dave, kamu kenapa? koq chanel nya diganti-ganti mulu?" tanya Kikan yang bingung dengan tingkah Dave.
"Oh mama, dari mana?" Dave balik bertanya seakan tidak menyadari kepulangan kedua orang tuanya.
"Mama dari tempat Dinda melepas kangen." balas Kikan jujur.
"Terus?" tanya Dave cuek.
"Mama mengajaknya untuk pulang kerumah ini lagi." sambung Kikan.
Dave membalikkan badannya dan berdiri setelah Kikan mengatakan mengajak Dinda kembali. Dave melihat-lihat sekitar memastikan apakah Dinda ada.
"Mana dia?" tanya Dave sambil terus memantau sekitar orang tuanya.
"Dia nggak mau ikut mama. Katanya dia betah disana. Cuma mama bilang sama dia untuk selalu mengunjungi kita dirumah." lanjut Kikan dengan wajah sedikit kecewa.
Ah syukur, aku pikir dia berani datang lagi kerumah ini. Bisa-bisa rahasiaku terbongkar sama cewek sialan itu. Gumam Dave setelah mendengar jawaban Kikan.
"Oh gitu, yaudah deh. Dave pamit kedalam dulu." Dave beranjak dari duduknya namun ditahan oleh Kikan.
"Kenapa ma?" Dave bingung tiba-tiba mamanya datang menghampiri dan menahannya untuk pergi.
__ADS_1
"Nak, kapan kamu akan menikah sama Cindy? Bukankah kamu sama Cindy sudah dekat?" tanya Kikan dan membuat raut wajah Dave berubah.
"Ma, tolong jangan pernah menanyakan itu lagi sama Dave. Dave sudah bilang kalau Dave dengan Cindy tidak ada hubungan apa-apa lagi. Dia hanya masa lalu Dave. Dave udah nggak bisa lagi menerima dia." Dave menjawab dengan panjang lebar penolakannya.
Kikan tersenyum mendengar Dave. Kikan tidak bisa memaksa jika anaknya sudah tidak bisa menerima Cindy lagi.
"Jika kamu tidak bisa menerima Cindy, carilah pengganti dia secepatnya. Mama hanya ingin kamu segera menikah." balas Kikan lagi.
Dave hanya diam. Bagaimana bisa ia mencari pengganti sedangkan ia sendiri membenci wanita. Sama sekali tidak ada terfikir untuk menjalin sebuah hubungan yang baru.
"Ma, Dave belum memikirkan untuk itu." jawab Dave lalu pergi meninggalkan Kedua orangtuanya.
"Bagaimana kalau kamu menikah saja dengan Dinda." ucap Kikan dan membuat Dave berhenti melangkahkan kakinya dan menoleh dengan wajah terkejut.
"Apa?" ucap Dion yang tiba-tiba datang menghampiri.
"Dion nggak setuju kalau Dinda menikah dengan kak Dave. Kenapa harus Dinda ma? Dinda sama sekali tidak cocok dengan kak Dave." ucap Dion dengan ekspresi membantahnya.
"Kenapa Dion? apa kamu menyukai Dinda selama ini?" tanya Kikan penasaran dengan tidak setujunya Dion.
"Ma, Dion memang menyukai Dinda. Tapi hanya sebagai seorang adik. Tidak lebih, tapi kenapa mama harus menjodohkan Dinda dengan kak Dave? Dinda cewek polos dan sama sekali tidak cocok dengan kak Dave" balas Dion dengan tegas.
Selama beberapa waktu, Dion mencoba meyakinkan hatinya terhadap Dinda. Apakah perasaan sayangnya memiliki arti ingin memiliki atau hanya sayang sebagai seorang adik.
"Maaf jika Dinda orangnya, Dave sama sekali tidak tertarik." ucap Dave setelah mendengar perdebatan antara Dion dan mamanya.
Apa-apaan, dimana jalan fikiran mama sampai harus menjodohkan aku dengan wanita sialan itu. Sama sekali bukan tipeku. Dave mengerutu lalu melangkahkan kakinya kembali meninggalkan kedua orangtuanya dan Dion.
"Ma, maksud mama apa menyuruh kak Dave menikahi Dinda?" tanya Dion penasaran saat Dave sudah tidak berada ditempat.
Kikan duduk disofa dan menyilangkan kakinya sambil tersenyum kepada Dion.
"Dion, mama sangat kenal kakak kamu itu. Mama hanya merasa mereka cocok. Mama sangat menyayangi Dinda dan ingin Dinda kembali kerumah ini. Dinda yang sangat polos dan Dave yang baik. Pasti mereka akan bahagia jika menikah nanti." balas Kikan.
Dion hanya diam tidak membantah. Namun di fikiran nya sama sekali tidak menyetujui perkataan mamanya barusan. Dion juga merasa Dave bukanlah Dave yang orang tuanya kenal. Terkadang ia Merasa Dave sangat kasar dan tidak sopan. Apalagi jika berhadapan langsung dengannya. Sangat terang-terangan memperlihatkan ke tidak sukaannya terhadap dirinya yang hanya seorang anak angkat.
Dave berbaring di kamar nya. Perasaan kacau dan emosi yang melanda. Belum lagi ia diteror beberapa hari ini. Cindy yang selalu saja mengekorinya dan yang barusan. Apa-apan, kenapa juga harus Dinda cewek sialan itu. Mendengar namanya saja sudah muak apalagi melihat wajahnya. Bisa-bisa menjadi semakin jijik.
Ponsel Dave berdering saat ia mencoba memejamkan mata.
"Ih, siapa lagi sih suka sekali mengganggu ketenangan." protes Dave lalu meraih ponselnya yang berada dimeja samping ranjangnya.
__ADS_1
"Nomor siapa lagi ini?" tanya Dave setelah melihat nomor yang tidak ia kenal menghubunginya.
π Hallo, siapa ini?
π Hahahahahahaha
π Hallo, ini siapa? jangan berani main-main denganku. Kau tidak tau aku siapa?
Dave mulai kesal karena orang disebalik telepon tidak menjawab pertanyaannya dan hanya tertawa.
π Aku sangat tau siapa dirimu. Dave Atmawijaya, pemilik dan CEO perusahaan X.
Mata Dave membesar tidak percaya dengan yang ia dengar. Ternyata orang tersebut sangat mengenalnya.
π Kau siapa? jangan berani untuk menguji kesabaranku.
π Kau tidak perlu tau siapa aku. Yang harus kau tau, kau akan menerima balasan atas perbuatanmu selama ini.
πHallo.
π
*
*
*
Panggilan tersebut pun putus dengan sendirinya. Seperti biasa saat Dave hendak menghubungi nomor itu kembali ternyata sudah tidak aktif.
"Siapa dia? berani sekali mengancamku." ucap Dave kesal. Dave lalu menekan nomor salah satu anak buahnya untuk mendapatkan informasi.yang telah ia perintah.
π Apa kalian sudah menjalankan tugas yang aku perintah?
π Sudah bos, kami telah memantau orang-orang yang berada disekitar bos.
π Jadi bagaimana?
π Maaf bos, kami tidak bisa mendapatkan informasi tentang orang itu. Kami hanya melihat orang tersebut berada di cafe tempat bos kunjungi tadi. Saat bos pergi dia juga menghampiri wanita yang bos tinggalkan disana.
Dave menutup mulutnya dengan tangan kirinya. Pupil matanya membesar seakan tidak percaya yang terjadi dengan dirinya. Ternyata orang yang ia lihat di cafe adalah orang yang selama ini mengancamnya. Tapi ia tidak tau siapa sebenarnya orang tersebut.
__ADS_1
"Siapa sebenarnya dia? tidak mungkin Dandi hidup kembali." ucap Dave tidak percaya.