
Dave menatap Dinda yang sedang menangis dan tampak sangat ketakutan kepadanya. Timbul rasa kasihannya kepada Dinda.
Dave memegang kedua pipi Dinda dengan lembut.
"Dave, jangan apa-apa kan aku. Aku mohon!" ucap Dinda sambil terus menangis ketakutan.
"Tenanglah, aku tidak akan menyentuh mu." balas Dave yakin.
Dave menarik tangan Dinda dan membawanya kekamar. Saat Dave menarik tangan Dinda, ia berusaha memberontak dan mencoba melepaskan tangannya. Ia takut Dave melakukan hal yang sama dan kata-kata tadi hanya tipuan Dave semata.
"Lepaskan aku!" rengek Dinda.
Dave segera melepaskan tangan Dinda saat mereka berada dikamar. Dinda dengan cepat berlari menjauhi Dave. Kini ia bersembunyi dibalik tirai jendela.
"Jangan mendekat!" pinta Dinda saat Dave berjalan kearahnya.
Dave hanya tersenyum kearahnya. Tidak tau senyum seperti apa yang tergambar diwajahnya sekarang. Apakah senyuman ketulusan ataupun senyuman telah mendapatkan buruannya.
"Dinda... " ucap Dave saat melihat Dinda bersembunyi dibalik tirai jendela.
"Jangan mendekat! Pergi!" usir Dinda dibalik tirai. Ia tidak berani untuk melihat tatapan Dave.
"Aku tidak akan menyakitimu. Aku hanya ingin meminta maaf." ucap Dave dengan suara pelan.
Dinda mengintip dari sebaliknya tirai saat Dave menyampaikan permintaan maafnya.
Kenapa Dave meminta maaf kepadanya? Apa dia tidak salah dengar? Bukankah selama ini dia memperlakukannya seperti seorang pembantu yang harus taat kepada majikannya. Tapi kenapa dia berkata begitu lembut kepadanya. Apa itu hanya modus Dave belaka? Apa Dave akan melakukan hal yang sama jika dia keluar dari balik gorden.
"Keluarlah! Aku mengatakan dengan tulus. Aku tidak akan menyakitimu." ucap Dave lagi untuk meyakinkan Dinda kembali.
"Aku tidak akan keluar jika kau terlalu dekat!" ucap Dinda. Ia merasa posisi Dave begitu sangat dengannya. Tentu ia akan kesulitan untuk kabur jika Dave tiba-tiba memangsanya.
"Baik, aku akan menjauh." Dave kemudian menjauh dari Dinda. Jaraknya dengan Dinda kini sekitar tiga meter.
Dinda keluar dengan perlahan-lahan dari balik tirai. Ia terus siaga dan waspada jika Dave tiba-tiba menyerangnya.
"Jangan mendekat!" ucapnya lantang saat ia melihat Dave akan bergerak kearahnya.
__ADS_1
Dave lalu mundur kembali setelah Dinda meneriakinya. Ia hanya tidak ingin Dinda semakin takut kepadanya.
"Apa permintaan maaf mu itu tulus? Apa kau sedang tidak mencoba untuk menipuku?" tanya Dinda tidak yakin.
Dave menunduk dan meremas-remas jarinya. Ia begitu frustasi menghadapi Dinda yang terus saja mencurigainya.
"Dinda, aku benar-benar minta maaf. Aku sangat menyesal telah melakukannya kepadamu." sesal Dave.
Dinda menatap dengan lekat untuk meyakinkan kata-kata Dave.
Apa dia benar-benar meminta maaf kepadaku? Apa dia begitu sangat menyesal dengan perbuatannya? Tapi kenapa dia bisa berubah menjadi lembut? Tanya Dinda penasaran. Ia masih terus meneliti dengan seksama sikap Dave yang mulai berkata lembut kepadanya.
"Aku aku memaafkanmu." balas Dinda dengan ekspresi masih sedikit takut.
"Beneran? Beneran kamu udah maafin aku?" tanya Dave dengan gembira. Ia segera berhamburan dan dengan cepat langsung memeluk Dinda.
Dinda terdiam mematung. Kali ini ia tidak bisa melawan. Hatinya sangat menolak dengan pelukan yang tiba-tiba itu. Tapi tubuhnya tidak mampu bereaksi.
"Terima kasih Dinda, aku sangat senang kamu sudah mau memaafkanku." ucap Dave sambil terus memeluk Dinda dengan erat.
"Le le lepaskan aku Dave. Aku ti tidak bisa bernapas." balas Dinda terbata-bata.
Dave tersadar dari perilakunya. Ia segera melepaskan pelukan tersebut. Ia menunduk malu karena sudah melanggar janji untuk tidak menyentuh Dinda.
"Maaf." Dave merasa begitu bahagia. Hatinya sangat senang begitu saat Dinda memaafkan nya. Ia tidak tau kenapa dia begitu bernafsu untuk memeluk Dinda. Yang pasti perasaannya sekarang sangat lega dan senang.
"Aku aku harus ke dapur. Aku sudah memasak nasi goreng untukmu." ucap Dinda menutupi rasa canggungnya.
"Silahkan. Aku akan kesana setelah mandi." balas Dave sambil tersenyum.
Baru kali ini Dinda melihat Dave tersenyum. Senyuman kali ini begitu tulus dan bukan senyuman mematikan seperti biasa yang ditunjuk Dave kepadanya.Dinda masih bingung dan terus memikirkan sikap Dave.
Dinda menyiapkan sarapan pagi untuk Dave. Ia meletakkan satu porsi nasi goreng diatas meja. Untuknya, ia akan melakukan seperti biasa. Memakan sarapan paginya setelah Dave pergi bekerja.
Lima menit kemudian, Dave turun dengan pakaian rapi. Tentu saja itu pakaian yang dipakainya untuk pergi bekerja.
Dave lalu duduk di kursi dan melihat hanya ada satu porsi nasi goreng diatas meja. Ia menatap bingung saat melihat Dinda mulai beranjak dari tempatnya memasak.
__ADS_1
"Mau kemana? Ayo kita sarapan sama-sama." ajak Dave. Ia ingin Dinda menemaninya sebagai ucapan terima kasih telah mau memafkannya.
"Ta tapi aku... "
"Jangan menolak. Ayo sini makan bersama. Ambil sarapan mu!" perintah Dave memaksa. Tapi kali ini nada paksaannya dengan nada sedikit lembut. Berbeda dari biasanya yang selalu kasar dan tidak sabaran.
Dinda kembali berbalik dan berjalan kearahnya. Ia tidak tau kenapa Dave mau mengajaknya sarapan bersama. Biasanya Dave akan makan sendirian di dapur. Dave tidak akan bisa makan dengan kenyang jika melihat wajah Dinda. Tapi kenapa sekarang dia malah mengajaknya? Apa dia benar-benar sudah berubah?
"Ayo makan! Jangan hanya diliatin." suruh Dave.
"Ah iya." jawab Dinda.
Dinda ragu ingin makan. Apalagi Dave belum memakan sarapan paginya. Takut Dave akan marah jika dia nyelonong saja. Apalagi cacing diperutnya sudah berontak mintak makan.
Mereka pun akhirnya makan sarapan pagi dengan hening. Tidak ada percakapan atau semacamnya. Hanya suara sendok dan piring yang saling beradu.
Apa aku harus mengatakan lagi? Ucap Dinda ragu.
Dinda sangat merindukan Dandi dan Adit. Apakah Dave akan mau mengabulkan permintaannya kali ini? Bukalah suasana hati Dave sedang baik. Tentu tidak salah baginya untuk menanyakan hal yang sama.
"Dave... " Dinda membuka suara dari hening nya sarapan pagi.
"Hmmm."
Jantung Dinda seakan mau lepas saat ingin menanyakan kembali permintaan yang pernah ditolak mentah-mentah oleh Dave. Bagaimanapun ia harus berani lagi. Apalagi ia begitu rindu kepada mereka.
"Bisakah kamu mengabulkan permintaanku?" tanya Dinda pelan.
Dave menghentikan gerakan tangan saat menyuap kemulut nasi goreng nya. Ia menatap Dinda dengan sangat lekat. Ia melihat wajah Dinda yang seperti masih takut kepadanya.
"Katakan!" balas Dave tersenyum.
"Ta ta tapi kamu jangan marah ya!" pinta Dinda.
"Hmmm." Dave kembali melanjutkan sarapan paginya tanpa melihat ekspresi Dinda yang seperti sudah kehabisan nafas.
"Bisakah kamu membebaskanku untuk bertemu Dandi dan Adit?" tanya Dinda merinding.
Dave bangun dari duduknya dan melempar sendok makannya kearah piring Dinda. Hatinya begitu sakit saat Dinda menyebut nama Adit. Apalagi Dinda memintanya dibebaskan untuk bertemu Adit.
__ADS_1
Dinda menjadi merinding dan ketakutan dengan sikap Dave yang tiba-tiba kembali lagi ke sifat awalnya. Jantungnya begitu berdebar dan tubuhnya sangat gemetar. Ia tidak berani untuk menatap wajah Dave, apalagi ingin melawannya. Nyali nya kembali menjadi ciut.
"Sampai kapanpun, aku tidak akan mengizinkanmu untuk keluar dari sini. Aku juga tidak akan mengizinkan mereka datang menemui mu disini. Kamu jangan berani-berani membantah!!!" ucap Dave dengan kesal dan emosi.