
"Hallo Dinda?" sapa Dandi melalui sambungan telepon.
"Iya Dandi, ada apa?" tanya Dinda yang sedang duduk santai dipinggir kolam renang.
"Aku sudah tau dimana Adit berada." ucap Dandi.
"Apa? Dimana Dandi?" tanya Dinda antusiasnya.
"Dia ada dikota xx," balas Dandi.
"Kenapa jauh sekali? Bukannya itu tempat kemaren yang kamu kunjungi?" ucap Dinda.
"Iya Dinda. Tapi..." ucap Dandi menggantung. Dia ingat saat melihat Adit bersama seorang perempuan yang sedang hamil. Apa mungkin wanita itu istrinya dan Adit sudah menikah?
"Tapi apa Dandi? Jangan bikin aku penasaran deh." ucap Dinda kesal. Kebiasaan Dandi yang suka menggantungkan ucapan dan membuatnya penasaran.
"Sepertinya dia sudah menikah." balas Dandi.
Dinda sedikit kaget mendengarkannya. Tidak ada rasa cemburu atau sebagainya. Toh dia sudah melupakan Adit. Hanya saja dia merasa senang karena Adit sudah menemukan pendampingnya.
"Apa kau akan menemuinya disana?" tanya Dandi kembali.
Dinda diam. Dia juga tidak tau apakah dia akan pergi menemui Adit disana. Mengingat kota tersebut sangatlah jauh. Terlebih lagi dia harus pergi bersama suaminya. Itupun kalau suamiya mau mengizinkan atau mau menemaninya. Tidak mungkinkan fia pergi sendirian. Apalagi sedang berbadan dua.
"Aku tidak tau Dan. Aku harus membicarakannya terlebih dahulu dengan Kak Dave." balas Dinda.
"Yaudah, aku hanya mau kasi tau itu aja. Aku waktu itu tidak sempat menghampiri." ucap Dandi. "Sudah ya Dinda, aku lanjut kerja lagi." pamit Dandi sopan.
"Iya, selamat bekerja." balas Dinda dan panggilan pun terputus.
Dinda menatap air kolam yang tenang. Dia sebenarnya ingin menemui Adit disana.
Tujuannya hanyalah ingin mengunjunginya.
Sebenarnya, jika dia tidak menemui Adit juga tidak apa-apa. Apalagi dia sudah melupakannya dan sudah memiliki pasangan hidup. Tapi mengingat kepergian Adit karena dirinya, mau tidak mau dia harus menemuinya. Sekarang hanya perlu membujuk suaminya agar mau menemaninya untuk menemui Adit. Takut jika dia pergi sendiri tidak akan diizini. Apalagi jika nantinya Dave cemburu.
"Kak Adit, Dinda senang kalau kakak sudah bisa menemukan pengganti Dinda." ucap Dinda.
Saat itu, Kikan datang membawakan teh hangat dan cemilan. Selama Dinda hamil, dia begitu rajin membuatkan makanan dan minuman untuk menantunya itu.
__ADS_1
"Dinda," sapa Kikan sambil meletakkan nampan disamping Dinda. "Ini Mama bikinin teh buat kamu,"
"Mama kenapa repot-repot sih? Dinda kan bisa bikin sendiri." ucap Dinda. Dia merasa tidak enak jika terus-terusan dimanja oleh mertuanya itu.
"Jangan sungkan. Mama sendiri koq yang mau membuatnya." balas Kikan tersenyum.
"Terima kasih Ma." ucap Dinda. Bagaimanapun dia berusaha menolak, pasti akan tetap luluh juga jika mertuanya sudah membujuknya.
"Sama-sama. Ayo diminum selagi masih hangat. Nanti dingin nggak enak lho." suruh Kikan.
"Pelan-pelan minumnya ya sayang" ucap Kikan saat Dinda mulai menegukkan tehnya.
"Terima kasih ya Ma. Dinda senang banget punya mertua sebaik Mama. Dinda merasa bunda Dinda ada di diri Mama." ucap Dinda senang. Dia sangat bersyukur mempunyai mertua yang sangat baik dan perhatian kepadanya. Walau dia bukan dari keluarga kaya raya, tapi mertuanya sangat menerimanya dengan senang hati. Rasa hidupnya bertambah berkali lipat kebahagiaannya.
"Iya sayang. Mama juga sangat bahagia mempunyai menantu secantik dan sebaik kamu. Mama sangat bersyukur, karena masih ada wanita yang menerima anak Mama bukan dari materinya." ucap Kikan.
Dinda hanya tersenyum. Dia juga tidak tau kenapa kini dia semakin cinta terhadap suaminya itu. Dia juga sudah mengubur kenangan dimasa lalu saat masih belum mencintai Dave.
"Ma," panggil Dinda.
"Ada apa sayang?" tanya Kikan.
Kikan mencoba berfikir. Sepertinya dia pernah mendengar nama tersebut dan rasanya sangat familiar di telinga nya. "Apa Adit tempat kamu tinggal dulu?" tanya Kikan setelah mengingat nama Adit yang disebutkan Dinda tadi.
"Iya Ma." balas Dinda.
"Dimana anak itu? Sudah lama sekali Mama nggak dengar kabar. Dengar-dengar rumahnya sudah dijual." ucap Kikan.
Kikan pernah mendengar cerita, Jika rumah disebelah tempat tinggal Dinda dan Dandi dulu sudah dijual dan orangnya sudah pergi dari kota ini.
"Boleh Dinda curhat?" tanya Dinda dan dibalas anggukan oleh Kikan. "Tapi ini tentang kak Adit." sambung Dinda lagi.
"Silahkan Dinda. Mama nggak akan marah koq. Mama sangat yakin dihati kamu hanya untuk anak Mama Dave." balas Kikan meyakinkan.
"Sebenarnya, kak Adit pergi karena Dinda." ucap Dinda dan dibalas kerutan dahi oleh Kikan. Sedikit kaget mendengarnya.
"Kenapa Dinda? Apa penyebabnya?" tanya Kikan penasaran.
"Mama ingatkan, saat kak Dave dipenjara? Waktu itu Dinda mempertahankan perkawinan Dinda dan tidak mau bercerai dengan kak Dave. Tapi disaat itu, kak Adit masih menunggu Dinda dan dia sangat menantikan perceraian Dinda dengan kak Dave. Dia kecewa karena Dinda tetap memilih mempertahankan perkawinan dengan kak Dave. Itu sebabnya dia pergi tanpa kabar."
__ADS_1
"Tapi sekarang Dinda tau dimana dia berada." ucap Dinda.
"Dimana?" tanya Kikan.
"Dikota xx Ma. Dinda pengen sekali bertemu dengannya." ucap Dinda.
Kikan tersenyum. "Kenapa jauh sekali? Apa sekarang dia sudah bahagia dengan kehidupannya?" tanya Kikan kembali. Takutnya Adit masih menyimpan perasaan terhadap menantunya itu. Walaupun dia tau penyebab rusaknya hubungan Adit dan Dinda pada masa itu semua karena ulah anaknya.
"Sepertinya dia sudah menikah Ma."
Ah syukurlah. Setidaknya aku senang karena anakku tidak ada saingan nya.
"Kamu tau dari mana?" tanya Kikan lagi.
"Dari Dandi Ma." balas Dinda.
"Dandi?" tanya Kikan bingung.
"Iya Ma. Dandi kemaren pergi ke kota xx. Jadi saat perjalanan pulang dia tidak sengaja ketemu kak Adit dijalan sedang bersama seorang wanita hamil." balas Dinda.
"Dandi ke kota xx? Ngapain?" tanya Kikan yang semakin bingung.
"Dia ke makan Naomi Ma. Makam cinta pertamanya." balas Dinda.
Kikan hanya ber oh ria saja. Dia tidak ingin terlalu kepo dengan masalah percintaan Dandi kembaran menantunya itu. Baginya itu bukan ranahnya untuk ambil tau ataupun kepo. Dia hanya tau jika Dandi sangat tertutup orangnya.
Mereka begitu asyik mengobrol hingga langit pun semakin gelap. Tidak terasa hari sudah sore dan sampai mereka tidak ingat waktu.
Akhirnya mereka pun menyudahi sesi curhat sekaligus bergosip dan kemudian masuk kedalam rumah untuk menyambut suami masing-masing pulang dari bekerja.
Dinda langsung masuk ke kamar nya dan kemudian langsung mandi. Berbaring dikasur menunggu kepulangan Dave. Ini sudah menjadi rutinitas nya setiap hari.
Hy teman-teman, terima kasih ya masih menjadi pembaca setia karya author.
Author minta maaf karena beberapa hari ini tidak up dan kalian menunggu.
Author akan tetap konsisten akan menyelesaikan ceritanya sampai tamat.
Sekali lagi maaf karena beberapa hari tidak up dikarenakan ada sesuatu kendala.
__ADS_1