
"Kenapa siarannya tidak ada yang bagus." gerutu Dinda. Ia semakin muak melihat chanel TV yang semakin membosankan.
Lama kelamaan, rasa kantuk menghampirinya. Tidak butuh waktu lama, Dinda pun terbuai kedalam mimpinya.
"Adit, Adit, aku merindukanmu." Dinda bergumam saat memimpikan sosok orang yang dicintainya.
Pada saat itu juga, Dave masuk. Ia pulang sebentar karena ada berkas yang tertinggal. Ia mendengar dengan jelas ucapan Dinda saat mengigau. Seketika hatinya sakit mendengar nama Adit keluar dengan dari mulut Dinda. Aku merindukanmu?
*****
Dave sampai dikantornya tepat waktu. Perasaan nya kali ini sangat senang. Entahlah, kenapa hatinya begitu bahagia hari ini. Mungkin saja karena Dinda sudah memaafkan dan tidak takut lagi kepadanya.
Pada saat itu juga, pintu ruangannya diketuk. "Masuk!" suruh Dave.
Celine pun masuk dan membungkukkan badan seraya memberi hormat.
"Pak Dave, hari ini Bapak ada jadwal pertemuan dengan Perusahaan D siang nanti." ucap Celine sedikit berdebar. Ia tidak ingin pekerjaan Bosnya ini dilemparkan lagi kepadanya. Ia sudah tidak sanggup dan sama sekali tidak bisa menanganinya. Apalagi otaknya tidak sebanding dengan otak bos dinginnya ini.
Dave tersenyum dan membuat Celine sedikit kaget. Kenapa Pak Dave tersenyum? Jangan-jangan dia mau memberi pekerjaan ini lagi kepadaku. Ku mohon jangan! Aku tidak sanggup. Was-was Celine sambil menebak senyuman Dave kepadanya.
"Baiklah, aku akan mengikuti pertemuan itu. Pukul berapa tepatnya pertemuan itu?" tanya Dave mengimbang-imbang.
Dave bisa melihat kekhawatiran di wajah sekretarisnya. Ia tau jika Celine yang mengambil alih, maka tidak akan pernah beres. Apalagi pertemuan dengan Perusahaan A waktu itu gagal total. Itu semua salahnya yang tidak mau mengikuti pertemuan karena moodnya yang tidak baik.
Celine menghembus nafas lega. Kali ini Bosnya tidak memberi tugas berat itu lagi kepadanya. Jika tidak bisa gagal untuk kedua kali seperti pertemuan dengan perusahaan A waktu itu.
"Pukul dua siang Pak." jawab Celine antusias. Hatinya sedikit lebih lega. Setidaknya hari ini beban pekerjaannya akan berkurang.
Jam menunjukkan pukul setengah dua belas. Sudah waktunya bagi para karyawan untuk istirahat makan. Begitupun bagi para atasan-atasan lainnya.
Dave masih berjibaku dengan laptop kerjanya. Saat itu juga Celine masuk dan membawakannya makan siang. Ia melakukan atas erintah Dave. Kali ini dia memutuskan tidak akan keluar untuk makan dan akan mengerjakan laporan pekerjaannya yang masih belum selesai.
__ADS_1
"Ini Pak pesanan Bapak." Celine menaruh satu kotak sushi dan minuman mineral diatas meja Bosnya.
"Iya terima kasih." balas Dave datar.
"Kalau gitu saya permisi pak." pamit Celine. Ia pun memutar badan dan melangkah keluar pintu.
"Tunggu." panggi Dave .
Celine menghentikan langkahnya dan memutar kembali badannya menatap Dave dengan perasaan cemas.
Apa Pak Dave sedang tidak mood dan akan menyuruh aku menggantikan pertemuan dengan perusahaan D. Wajahnya memerah karena terlalu panik.
"Ada apa Pak Dave?" tanya Celine bimbang.
"Apa kau ada menyimpan dokumen dari perusahaan D untuk pertemuan nanti?" tanya Dave tidak menatap. Ia masih fokus mengetik dan menyelesaikan pekerjaannya.
"Maaf Pak, saya tidak ada menyimpan dokumen ataupun filenya. Seingat saya Bapak yang membawa pulang dokumen itu." balas Celine mengingatkan.
Dave berhenti mengetik dan memangku dagu sembari mengingat-ingat.
"Sebulan yang lalu pak, saat Perusahaan D mengundang kita di perusahaannya." balas Celine.
Dave kembali mengingat. Dimana dokumen itu ditaruhnya. Dirumah orang tua atau di apartemen nya.
"Bisa kau mengambil kan nya?" tanya Dave saat berhasil mengingat dimana dokumen itu ditaruhnya.
"S s saya Pak?" tanya Celine sambil menunjuk dirinya.
"Iya, siapa lagi?" jawab Dave seentengnya.
"Dimana saya harus mengambilnya Pak?" tanya Celine menahan kesal.
__ADS_1
Celine sama sekali tidak habis fikir dengan Bosnya ini. Padahal sekarang waktu istirahat makan siang. Ia sama sekali belum makan dan begitu lelah setelah membelikan pesanan Bosnya ini. Dan sekarang dia malah menyuruhnya untuk pergi ke apartemen nya hanya untuk mengambil dokumen untuk pertemuan nanti?
Dengan langkah kaki yang berat, ia mulai berjalan dengan tertunduk lesu. Celine berjalan keluar dari ruangan Bosnya.
Dasar Bos K*par*t. Tidak punya hati. Apa dia tidak tau aku sangat capek dan lapar. Celine mengutuk-ngutuk.
Dave kembali menghentikan tugasnya dan berfokus menatap kotak sushi didepannya. Dengan cepat Dave membuka dan memakan sepotong sushi disana.
Tiba-tiba Dave tersadar dengan apa yang barusan dikatakannya. Bagaimana Mungin dia menyuruh Celine ke apartemennya hanya untuk mengambil dokumen. Padahal disana ada Dinda.
Dave lalu bangkit dan berlari keluar dari ruangannya dengan tergesa-gesa. Ia sudah melakukan kesalahan besar. Bagaimana jika nanti saat Celine masuk dan Dinda mencoba melarikan diri. Pikiran tersebut terngiang-ngiang di kepala nya.
Dave berlari sekuat tenaga mencari jejak Celine yang sudah tidak tampak lagi. Ia dengan cepat menekan tombol lift agar cepat sampai kelantai bawah sebelum Celine sampai duluan.
Setelah Dave sampai dilantai dasar, ia lalu berlari kearah luar sambil terus mencari keberadaan Celine.
"Celine... Celine... Celine, tunggu!" panggil Dave sekuat-kuatnya dan membuat banyak pasang mata yang melihatnya.
Celine berhenti tepat didepan pintu mobilnya yang sudah dibuka. Ia tersadar saat namanya disebut-sebut oleh suara yang begitu familiar ditelinganya. Ia melirik kearah sumber suara dan melihat Dave berlari sekuat tenaga kearahnya. Bisa dibilang seperti seorang raja yang berhasil menemui ratu nya.
"Celine... hufff biar saya saja yang pulang mengambil dokumen itu. Kamu hah kamu pergi istirahat makan siang!" Dave berkata dengan nafas yang sudah tersengal-sengal.
Capek berlarian membuatnya seperti orang gila hari ini. Biasanya para bawahannya yang mengejar-ngejar nya dan bahkan sampai memohon-mohon, namun kini malah kebalikannya. Sama sekali hal yang tidak pernah dia lakukan selama menjadi CEO.
Celine tertegun mendengar kata-kata yang keluar dari Bosnya. Ternyata Bosnya masih memiliki hati nurani. Tapi kenapa dia berubah fikiran? Kenapa dia tidak memberinya ke apartemen untuk mengambil dokumen. Bukan kah sebelumnya dia menyuruhnya dengan sangat santai. Tapi kenapa sekarang Bosnya keberatan jika dia yang mengambil sendiri? Apa ada sesuatu yang disembunyikan Bosnya di apartemen tersebut?
"Hah." ucap Celine kaget.
"Sudah, kamu pergi. Biar aku saya saja!" usir Dave sambil mengibas-ngibas tangannya agar Celine pergi.
Dengan cepat Dave masuk tanpa permisi kedalam mobil si pemilik. "Saya pinjam mobilnya sebentar." ucap Dave lalu pergi meninggalkan kantor.
__ADS_1
"Ada apa dengan Pak Dave hari ini?" tanya Celine penasaran. Ia masih mematung seakan tidak percaya dengan tingkah Bosnya barusan.
Setelah sadar dari lamumannya, Celine pun segera meninggalkan tempat tersebut untuk pergi kecafe yang berada didepan kantor untuk makan siang. Hari ini ia begitu bahagia karena Bosnya tidak jadi menyiksanya.