
Malam itu, Dandi sedikit ragu untuk menemui Nazumi. Fikiran nya kembali mengenang masa lalu. Bagaimana jika Nazumi akan menjebaknya.
"Apa aku tidak usah pergi aja ya?" ucap Dandi sedikit bingung.
"Kalau aku tidak pergi dan dia memecetku gimana?"
"Tapi kalau dia mencoba menjebak dan memfitnah aku lagi gimana? aduh... kepalaku pusing." mengacak-acak rambutnya frustasi.
"Tunggu, bagaimana kalau aku kasi tau Dave? aku akan bekerja sama dengannya untuk mengungkapkan kebohongannya selama ini," ucap Dandi penuh keyakinan.
Dia keluar dari kamar lalu mengetuk kamar Dinda. Kali ini dia tidak ingin lagi menyelonong masuk. Takut pemandangan ekstream terlihat lagi dengan mata sucinya.
Tapi kali ini, untung saja tidak terdengar suara kucing kawin. Hanya terdengar suara cekikikan.
Tok tok tok.
Dave yang berbaring segera membuka pintu. "Ada apa Dan?"
Dandi segera menarik tangan Dave dan membawanya ke teras. Takut jika Dinda melihat dan mendengar pembicaraan mereka.
"Ada apa sih Dan? kenapa pakai narik-narik segala?" tanya Dave bingung.
"Ssssssst, jangan kuat-kuat. Nanti Dinda dengar!" ucap Dandi memperingatkan.
"Ada apa?" tanya Dave penasaran.
"Bisa bantu aku nggak?" ucap Dandi.
"Bantu apa? bantu dapatkan ponakan? itu gampang," balas Dave cekikikan. Membayangkan saja begitu indah apalagi sampai mempraktekkan.
"Aduh," Dave meringis kesakitan saat Dandi memukul perutnya. Padahal saat ini Dandi sedang berbicara serius. Malah menanggapinya dengan bercanda.
"Bukan itu," kesal Dandi.
"Lalu?" tanya Dave yang semakin penasaran.
"Gini ..."
Dandi pun menceritakan kecurigaannya terhadap Nazumi. Dia menduga jika Nazumi adalah Naomi. Apalagi wajah dan suaranya sangat mirip dengan Naomi.
"Terus aku harus ngapain?" tanya Dave bingung.
"Gimana kalau kau gantikan aku untuk menemui Nazumi. Aku akan memantau kalian dari kejauhan." balas Dandi.
"Untuk apa?" tanya Dave yang semakin bertambah bingung.
"Aku hanya ingin melihat bagaimana ekspresinya saat bertemu denganmu. Jadi kita bisa yakin kalau itu Naomi." jelas Dandi.
__ADS_1
Dave menaikkan satu alisnya. Kedengarannya sedikit lucu. "Kenapa kau sampai harus melakukan itu? sudahlah, temui saja dia!" ucap Dave memperingati.
"Aku tidak bisa. Kali ini bantu aku!" ucap Dandi memohon.
"Apa kau masih mengharapkan jika itu Naomi?" tanya Dave penasaran.
Dia tau bagaimana perasaan Dandi terhadap Naomi. Dia juga masih percaya, hingga saat ini Dandi masih mencintainya.
Dandi hanya diam tidak menjawab pertanyaan Dave. Dihatinya dia tidak terlalu mengharapkan jika itu Naomi. Tapi karena wajah dan suaranya yang sangat mirip dengan Naomi, besar kemungkinan jika Nazumi itu adalah Naomi yang sedang berpura-pura menjadi orang lain dan tidak mengenali nya.
"Ayo!" tarik Dandi untuk membawa Dave pergi.
"Tapi..."
"Mau kemana?" tanya Dinda yang tiba- tiba nongol dan berdiri didepan pintu. Tadi dia membuka pintu kamarnya dan melihat suaminya tidak ada. Merasakan sedikit khawatir, makanya dia mencarinya sampai diluar rumah dan menemukan suaminya sedang main tarik tambang dengan Dandi.
"Anu Din," ucap Dave mangap-mangap.
"Kalian kenapa sih?" tanya Dinda penasaran. Apalagi dilihatnya gerak-gerik mereka berdua sangat mencurigakan.
"Aku mau ngajak Dave keluar sebentar," balas Dandi cepat.
Keluar? mau kemana mereka?
Dinda memicingkan matanya seakan ingin mendengar penjelasan. Dia sedikit merasa curiga dengan pria didepannya.
"Aku sama Dandi mau minum bandrek di gang sebelah," sambung Dave dengan gaya meyakinkan.
Mereka berdua hanya manggut-manggut mengerti dengan ucapan sekakigus ancaman dari Dinda. Mereka dengan buru-buru berlari meninggalkan Dinda yang masih berdiri didepan pintu.
Gang sebelah? emang di gang sebelah ada jual bandrek? koq aku nggak pernah lihat ya? , bathin Dinda saat dia menatap punggung dua pria tersebut yang sudah menjauh.
"Kamu dengarkan apa kata Dinda?" ucap Dave mengeridik ngeri.
"Kamu takut?" tanya Dandi mencemeeh. Dasar suami takut istri.
Aku tidak takut dengannya. Aku cuma takut tidak diberi jatah jika pulang hingga malam. Bathin Dave yang membayangkan adegan panas yang sudah mereka lakukan siang tadi sambil tersenyum.
Kenapa lagi nih orang senyum-senyum nggak jelas. Emang ada yang lucu apa?
Mereka akhirnya sampai dicafe yang sudah dijanjikan Nazumi untuk bertemu.
Dari luar cafe, mereka sudah melihat Nazumi sudah duduk manis didalam sambil sesekali melihat ke sekitar.
"Itu beneran Naomi?" tanya Dave yang juga kaget melihat Nazumi yang sangat mirip dengan Naomi.
"Aku sangat yakin jika dia Naomi. Ayo, lakukan tugasmu sekarang!" perintah Dandi kepada Dave.
__ADS_1
Dave menurut, lalu dia masuk kedalam cafe dan duduk dibangku yang bersebelahan dengan Nazumi.
Sebelum itu, Dandi memerintahkan Dave untuk berjalan dihadapan Nazumi dan ingin melihat bagaimana ekspresinya.
Misi sudah dijalankan. Tapi sepertinya tidak sesuai dengan rencana. Nazumi hanya memandang sekilas Dave yang lewat tanpa memperlihatkan ekspresi kaget atau kenal terhadap Dave.
Dia tidak menegurku dan aku tidak melihat ekspresinya berubah saat menatapku. Dave.
Aku tau. Aku juga melihatnya. Sepertinya dia memang sengaja. Dandi.
"Permisi," sapa Dave basa-basi terhadap Nazumi yang duduk sendirian disebelahnya.
Nazumi menoleh dan memberi senyuman. Bahkan senyumannya pun sangat mirip dengan Naomi.
"Kenapa mas?" tanya Nazumi dengan wajah bingungnya.
"Apa kamu sendirian?" tanya Dave sambil melihat sekitar.
Nazumi tersenyum, "Seperti yang mas lihat. Tapi saya sedang menunggu seseorang," balas Nazumi.
Sudah pasti dia menunggu Dandi. Jika tidak, mana mungkin dia disini seperti orang kebingungan. Batin Dave.
"Sepertinya saya pernah bertemu denganmu," ucap Dave dan membuat Nazumi merubah ekspresi wajahnya. Dari kejauhan Dandi tetap memantau.
"Saya?" menunjuk dirinya sendiri bingung. "Dimana mas pernah bertemu dengan saya?" tanya Nazumi penasaran.
"Di bar," balas Dave singkat.
Nazumi memperlihatkan wajah kaget nya. Sangking kaget nya dia sampai menutup mulutnya tidak percaya.
"Sekarang kamu tidak bisa berbohong lagi," ucap Dandi yang masih tetap memantau diluar.
"Kenapa? apa kamu lupa kalau kita sering bertemu di bar?" ucap Dave mencoba memancing.
Nazumi menggeleng-geleng kepalanya tidak percaya. "Maaf mas. Sepertinya anda salah orang. Saya sama sekali tidak kenal dengan anda dan seumur hidup saya tidak pernah masuk kedalam bar." balas Nazumi kesal. Dia menganggap pria disampingnya ini stres dan mencoba untuk menggodanya.
Sepertinya gagal. Sebaiknya kamu temui dia dan dengarkan apa yang akan disampaikannya. Aku akan memantau dari luar jika ada yang mencurigakan. Dave.
Dandi menghembus nafas berat dan mulai melangkahkan kaki masuk kedalam cafe setelah tadi Dave keluar. Takut nanti Nazumi mencurigai mereka.
"Mbak Nazumi," sapa Dandi berdiri dihadapan Nazumi.
Nazumi mendongak sembari tersenyum kecut. "Silahkan duduk. Aku sudah lama menunggumu disini," ucap Nazumi sedikit kesal.
Dandi pun duduk. Mereka duduk saling berhadapan. "Kenapa kau lama sekali? kau telat setengah jam dari jadwal," ucap Nazumi yang masih kesal. Apalagi dia harus samoai berhadapan dengan pria asing disebelahnya tadi yang begitu sok kenal dengannya.
"Maaf mbak, tadi saya lama nunggu taksi." balas Dandi gugup. Bagaimanapun Nazumi tetaplah atasannya yang bisa kapan saja membuatnya kehilangan pekerjaan.
__ADS_1
"Sebenarnya ada hal apa yang ingin mbak sampaikan kepada saya?" tanya Dave penasaran.
"Aku... "