MENIKAH DENGANMU

MENIKAH DENGANMU
Keyakinan Dandi


__ADS_3

Adit bangun dari pingsannya. Ia telah seminggu dirawat dirumah sakit. Ia memegangi kepalanya yang terasa masih pusing. Membuka mata dengan perlahan. Melihat keadaan sekitar yang terlihat sangat asing baginya.


"Aku dimana?" tanya Adit. Saat itu pula seorang laki-laki berbaju putih datang menghampirinya. Dia adalah Dokter yang menangani Adit.


"Pak Adit, kondisi anda sudah mulai membaik. Anda sudah diizinkan pulang." ucap Dokter tersebut.


Adit menyadari, bahwa sekarang ia berada diruangan rumah sakit. Tapi siapa yang membawanya kemari? kenapa juga ia bisa berada disana.


Adit mengingat-ingat apa yang telah terjadi pada dirinya. Bagaimana ia bisa dibawa kerumah sakit. Kini ingatannya sudah pulih dan menyadari apa yang telah terjadi.


"Dinda." ucap Adit spontan. Ia memikirkan Dinda yang kini sudah dimiliki orang lain.


Sungguh sakit dan kecewa yang ia rasakan saat ini. Orang yang ia cintai dan sayangi telah dimiliki orang lain. Tapi bagaimanapun caranya ia akan tetap berusaha mendapatkan Dinda kembali. Toh mereka saling mencintai dan Dinda sama sekali tidak menginginkan pernikahannya dengan Dave.


"Terima kasih Dok." ucap Adit setelah sadar dari lamunannya.


Adit berjalan keluar ruangan. Kini kondisinya sudah membaik. Hanya bekas lebam disekujur wajahnya. Ia melirik jam tangan yang ternyata sudah menunjukkan pukul sembilan pagi.


Saat itu, orang tua Adit datang dengan wajah penuh kesedihan. Sebelumnya, orang tua Adit sudah diberitahu oleh pihak rumah sakit jika anaknya sedang dirawat disana atas perintah anak buah Dave. Selama seminggu terakhir semenjak diberitahu, mereka selalu datang menjenguk.


"Kamu mau kemana Dit?" tanya Ibu Adit bingung. Ia menatap wajah anaknya yang penuh dengan lebam bekas pukulan.


"Adit mau pulang." jawab Adit polos. Bukankah Dokter tadi sudah mengizinkannya untuk pulang. Untuk apalagi ia berlama-lama dirumah sakit.

__ADS_1


"Tapi kamu belum sembuh nak. Apa dokter yang mengizinkanmu untuk pulang?" tanya Inu Adit penasaran. Sebab, ia tidak diberitahu oleh pihak rumah sakit jika anaknya sudah diizinkan untuk pulang.


"Iya bu. Ayo kita pulang." ajak Adit.


Mereka pun pergi meninggalkan area rumah sakit . Saat diperjalanan pulang, Adit hanya diam menatap jendela mobil bening. Melihat keadaan diluar yang ramai dan sesak dengan orang yang berjualan dipinggir jalan dan kendaraan yang berlalu lalang.


Saat ini di pikirannya hanya ada Dinda. Ia tau, untuk sekarang Dinda bukan miliknya. Tapi ia yakin pasti akan mendapatkan Dinda kembali.


"Nak, kamu kenapa?" tanya Ibu Adit yang aneh.melihat tingkah anaknya. Tidak seperti biasanya Adit termenung.


"Nggak ada apa-apa bu." jawab Adit sembari memberikan senyuman. Ia tidak ingin orang tuanya merasa sedih dengan keadaannya sekarang.


Dandi masih berkutat dengan pekerjaannya. Kini ia sedang membersihkan kaca pintu masuk dengan lap dan cairan pembersih. Pekerjaannya Ia hanya seorang tukang bersih-bersih disebuah bank.


Pekerjaan ini ia ambil atas bantuan dari Adit. Adit telah membantunya menemukan pekerjaan. Kebetulan kantor tempat Adit bekerja memerlukan seorang tukang bersih-bersih. Walau awalnya Dandi menolak karena satu tempat dengan Adit.


"Adit." sapa Dandi saat melihat Adit baru sampai. Selama seminggu ini Adit tidak datang bekerja karena sedang dirawat dirumah sakit. Ia sama sekali tidak pernah menjenguk karena merasa malu terhadap orang tua Adit yang selalu siaga menjaga Adit disana.


Adit menatap namun tidak menjawab sapaan tersebut. Ia lalu masuk kedalam meninggalkan Dandi yang kebingungan.


Kenapa? apa Adit benar-benar sangat marah? gumam Dandi. Mungkin saja Adit mengabaikannya karena kesal dengan keputusan yang sudah dibuatnya dulu. Namun ia tidak punya pilihan lain.


Rasa menyesal, sakit hati dan dendam mungkin saat ini bergejolak dihati Dandi. Namun ia tidak boleh segegabah itu hingga akan melukai dan menyakiti Dinda maupun Adit. Mungkin saat ini keduanya sangat terluka. Namun ia terpaksa melakukannya demi agar mereka tidak disakiti secara fisik.

__ADS_1


Ia akan melakukannya secara perlahan-lahan. Ia akan melunasi hutang nya terlebih dahulu sebelum mengambil kembali Dinda dari Dave. Ia tau, mungkin sekarang Dinda akan terus disiksa olh Dave. Tapi ia bersyukur, Dinda tidak akan disentuh oleh Dave secara seksual. Yang ia tau, Dave menikahi Dinda hanya untuk membalas dendam kepadanya tanpa ada perasaan sedikitpun kepada Dinda. Ia juga tidak bisa melakukan apa-apa sekarang. Ia tidak mau nyawa Dinda dan Adit melayang begitu saja.


"Aku harus berusaha. Dinda, tunggu aku akan membebaskan mu." optimis Dandi. Ia sangat yakin dengan dirinya sekarang.


*****


"Hey, lakukan dengan benar!" perintah Dave kepada Dinda yang sedang memijit kakinya.


Dinda terus memijit tanpa membantah sedikitpun. Ia tidak ingin dipukul lagi jika melakukan kesalahan.


"Hei wanita bodoh. pijit dengan perlahan!" sebuah sentilan mendarat didahi Dinda.


Dinda meringis kesakitan. Ia menghentikan pekerjaannya lalu memegangi dahinya yang sakit. air matanya jatuh dengan sendirinya.


Dave menatap Dinda dengan tatapan tidak senang. "Kenapa kau menangis? hapus air matamu itu! aku tidak butuh tangisan sekarang." ucap Dave.


Dinda segera menghapus air matanya dan melanjutkan kembali pekerjaannya. Saat ini ia hanya bisa mengikuti perintah yang diberikan Dave kepadanya.


"Kau harus selalu ikuti kata-kataku. Jangan pernah membantah!" sambung Dave dengan tatapan tak kalah tajam nya.


Selama seminggu ini, Dinda menjalankan tugasnya sebagai seorang istri dengan baik. Mulai dari memasak, mencuci piring, mencuci pakaian ,memberes rumah dan pekerjaan kecil lainnya. Saat Dave memerintahkan sesuatu, entah itu disuruh memijit, disuruh membuatkan segelas kopi, ia tidak boleh membantah atau menunda. Ia harus dengan cepat dan cekatan. Walau begitu, ia sangat bersyukur karena Dave tidak pernah menyentuhnya di ranjang. Ia tidak ingin sampai Dave merebut keperawanannya. Apalagi ia tidak memiliki perasaan sama sekali kepadanya. Sekarang ia hanya bisa menurut dan menurut sebelum nanti Dave bosan dan melepaskannya. Itu yang membuatnya berusaha bertahan sekarang.


"Apa aku boleh menemui Dandi dan Adit?" Dinda memberanikan bertanya. Apalagi ia sangat merindukan mereka berdua.

__ADS_1


Dave menarik kembali kakinya dan melipatkan tangan ke dada dengan tatapan kesal. Hatinya sakit dan mendidih saat Dinda menyebut nama Adit. Ia tidak tau kenapa. Mungkin karena Adit adalah orang yang Dinda cintai saat ini. Mereka juga batal menikah karena ulahnya yang menculik Dinda dengan sengaja.


"Aku tidak akan mengizinkamu untuk bertemu dengan Dandi. Apalagi dengan orang dimasa lalumu." balas Dave. Lalu ia meninggalkan Dinda yang mematung disana.


__ADS_2