
Dave melajukan kendaraannya membelah kesibukan jalanan kota. Hingga akhirnya ia sampai di apartemen miliknya.
Dave membuka pintu apartemennya dengan perlahan. Lalu menutup kembali setelah ia masuk.
"Apa Dinda dikamar?" tanya Dave sembari melihat sekeliling. Ia sama sekali tidak menyadari Dinda yang sedang tertidur pulas disofa.
Dave langsung naik keatas untuk mengambil dokumen yang tersopan didalam laci kerjanya. Setelah apa yang dicarinya ketemu, Dave lalu turun kembali dan akan segera kembali kekantor.
"Kak Adit, aku merindukanmu."
Dave berhenti melangkah dan menatap kearah sumber suara. Ternyata Dinda sedang tertidur pulas disana. Tapi tunggu, apa yang barusan dikatakannya? Merindukan Adit?
Dave hanya tersenyum kecut. Ia tidak tau kenapa hatinya begitu bermasalah saat Dinda menyebut nama Adit. Padahal ia melihat sendiri jika Dinda sedang mengigau.
Kenapa? kenapa hatiku sakit ketika nama Adit keluar dari mulut Dinda?
Dave sama sekali tidak bisa meyakini apa yang sedang terjadi pada perasaannya. Apa hatinya sedang tidak berfungsi atau Dave tertarik pada...?Ah itu tidak mungkin. Itu sama sekali tidak mungkin. Kenapa juga harus jatuh cinta sama adik musuhnya sendiri.
Dave tersadar dari lamunannya saat berkas yang dipegangnya tidak sengaja jatuh. Dave lalu memungut kembali berkas tersebut.
"Kak Dave, Kak Dave ngapain?" tanya Dinda yang terbangun dari tidur siangnya.
"Aku hanya pulang sebentar karena ada brang yang tertinggal." balas Dave lalu pergi meninggalkan Dinda.
Sepanjang perjalanan menuju kembali kekantor, Dave terus saja mengupat kesal. Bagaimana mungkin Dinda bisa mengigau dan menyebut nama Adit. Bukankah Dinda istrinya dan kenapa harus merindukan pria lain? Begitu sulit dibayangkan kekesalannya saat ini. Bukan tanpa sebab Dave kesal. Ia tau Dinda tidak memiliki perasaan kepadanya. Tapi ia juga sangat kesal jika Dinda terus saja menyebut nama Adit. Bukankah sangat tidak baik jika ada orang ketiga hadir didalam pernikahannya.
Jam menunjukkan pukul setengah lima sore. Dave keluar dari ruang rapat setelah pertemuan dengan Perusahaan D. Masih ada waktu setengah jam lagi untuk jam pulang kantor.
Dave duduk tersandar di kursi kerjanya. Kepalanya begitu sakit. Pertemuannya dengan Perusahaan D gagal mencapai kesepakatan. Ia gagal menarik perusahaan D untuk berinvestasi di perusahaan nya. Hal yang sama sekali belum pernah terjadi. Padahal ia sangat menginginkan perusahaan tersebut menanam modal di perusahaan nya.
Setelah jam pulang kantor, Dave memutuskan untuk mampir sebentar dirumah orang tuanya. Sudah lama sekali rasanya ia tidak bertemu dengan kedua orang tuanya.
"Kayaknya kamu betah tinggal di apartemen." sindir Kikan. Sebenarnya ia tidak setuju anaknya ini terlalu lama tinggal di apartemen dan jarang kembali kerumah.
"Iya ma. Kayaknya lebih enak tinggal disana." balas Dave.
"Pulang lah Dave. Mama nggak tega kamu tinggal sendirian disana." pujuk Kikan kepada Dave.
__ADS_1
Tinggal sendirian? Tentu saja Dave sudah tinggal sendirian. Kini ia sudah tinggal berdua bersama istrinya. Untuk apa lagi dia harus tinggal dirumah orang tuanya.
"Nggak ma. Dave malah disana." tolak Dave. Lebih tepatnya betah karena ada Dinda disana. Tidak mungkin ia meninggalkan Dinda disana sendirian. Sedangkan ia kembali pulang kerumah orang tuanya.
"Kalau gitu, biar mama sama papa mu sesekali nginap disana." pinta Kikan.
Apa? tidak, tidak. Mama dan Papa tidak boleh kesana!
"Jangan Ma, Pa. Jangan datang kesana!" larang Dave dan membuat kedua orang tuanya seketika heran.
Memang Kikan dan Roy tidak pernah mengunjungi Dave saat ia memutuskan untuk tinggal sendirian di apartemen. Karena biasanya Dave akan menginap paling lama seminggu disana. Namun sekarang, Dave sudah hampir sebulan tinggal diapartemen dan tidak pulang kerumah. Itu yang membuat Kikan dan Roy sedikit khawatir.
"Kenapa nggak boleh? Apa kamu nyimpan istrimu disana?" tanya Kikan menuduh.
Deg
Jantung Dave berdetak lebih kencang. Kenapa mamanya berkata seperti itu? Apa dia sudah tau Dave menikah? Tapi rasanya tidak mungkin. Bukankah Dave menyembunyikan pernikahan ini dari publik dan bahkan dengan kedua orang tuanya.
"Maksud mama?" tanya Dave penasaran.
Untung saja mamanya tidak mengetahui dan malah bercanda. Apa kata orang tuanya nanti jika mengetahui dia sudah menikah dengan wanita yang sangat diinginkan oleh mereka. Walau sebenarnya Dave menikah dengan pilihan orang tuanya, namun bukan itu yang menjadi permasalahannya. Yang menjadi permasalahannya sekarang adalah rahasia yang tidak pernah diketahui oleh orang tuanya sudah terlebih dahulu diketahui Dinda. Bagaimana nantinya jika Dinda membocorkannya. Tidak terbayang lagi bagaimana kecewa kedua orang tuanya.
Jam menunjukkan pukul tujuh malam. Dimana Dave masih berada dirumah orang tuanya dan akan berpamitan pulang.
"Nggak makan malam dulu Dave?" tanya Kikan.
"Nggak usah ma, Dave pulang aja." tolak Dave lembut.
Buka Kikan namanya jika tidak berhasil memujuk anaknya. Walaupun sebelumnya dia kalah membawa anaknya untuk kembali lagi kerumah.
Karena dengan bujuk rayuan mamanya, Dave akhirnya menerima tawaran untuk makan malam bersama.
Dinda tampak sedang memasak untuk makan malam. Kali ini dia memasak spageti. Setelah spagetinya masak, dia lalu memasukkan kedalam dua piring sedang dan menghidangkannya diatas meja makan.
"Kenapa belum pulang?" sambil terus melirik kearah jam dinding.
Karena dia mengingat pesan Dave untuk selalu makan bersama, tak tentu itu sarapan pagi, makan siang ataupun makan malam. Dinda dengan setia menunggu.
__ADS_1
Sebenarnya perutnya sudah lapar. Namun kerena takut nanti Dave marah, dia memutuskan akan menunggu Dave saja.
Pintu apartemen terbuka. Dinda yang setengah mengantuk menatap Dave dengan tersenyum sembari duduk di kursi meja makan menunggu Dave pulang.
"Kak Dave, dari mana saja? Dinda udah masak makan malam." ucap Dinda sumbringah.
"Oh." jawab Dave cuek lalu berjalan menuju atas.
"Kak Dave, makan malamnya?" tanya Dinda lagi saat Dave tidak memperdulikannya.
"Kamu makan saja. Aku sudah makan." balas Dave lalu pergi meninggalkan Dinda yang tampak kecewa.
"Kalau tau gini nggak bakalan susah-susah nungguin." ucap Dinda kesal.
Karena kelaparan, Dinda memutuskan untuk memakan spageti yang dibuatkannya untuk Dave. Bukankah tadi Dave bilang sudah makan. Jika Spageti Dave tidak dimakan, siapa lagi yang akan menghabiskannya kalau bukan dia.
Setelah selesai makan dan membereskan dapur, Dinda memutuskan untuk kekamar. Saatnya waktu tidur karena hari sudah semakin larut.
Dinda membuka pintu kamar lalu menutupnya kembali. Ia sedikit kaget saat melihat Dave yang tampak sudah memejamkan mata.
Kenapa kak Dave tidurnya cepat hari ini?
Dinda melangkahkan kaki mendekati ranjang. Ia lalu berbaring dengan santai disana dan mulai memejamkan mata.
Seketika matanya kembali terbuka saat ia merasakan ada sentuhan di pipinya.
Hy teman-teman.
Hehe, maaf ya kalau ceritanya kurang menarik.
Maaf juga thir cuma bisa update satu episode.
kalau ada waktu thor akan update lebih.
Jangan lupa dukung thor ya.
cukup di-like, di vote dan rate bintang 5 saja😊
__ADS_1