MENIKAH DENGANMU

MENIKAH DENGANMU
Permintaan Maaf


__ADS_3

Sebelum pulang, Setelah membaca apa yang dibrowsingnya Dave memutuskan untuk mampir ketoko bunga terdekat. Ia memutuskan untuk membeli Bunga sebagai permintaan maafnya kepada Dinda.


Setelah ia membeli bunga, ia langsung melajukan kendaraannya agar sampai lebih cepat kerumah.


Entah kenapa ia begitu ingin pulang kerumah. Biasanya ia akan mampir ke Bar setelah pulang bekerja atau bersenang-senang bersama temannya.


Sepanjang perjalanan, Dave banyak senyum dan bersenandung. Ia juga tidak tau kenapa perasaannya begitu senang. Keinginan untuk sampai dirumah begitu di nanti nya.


Dave memarkirkan kendaraannya dan turun setelah sampai di luar gedung apartemennya. Ia dengan cepat meraih bunga dan berjalan menuju lift. Apartemennya berada dilantai sebelas gedung tersebut.


Setelah sampai dilantai sebelas, ia langsung menekan tombol sandi dan langsung membuka pintu. Ia begitu berdebar-debar ingin bertemu Dinda dan memberikan Bunga kepadanya.


Saat ia menutup kembali pintu dan akan berjalan menuju kamar, tanpa sengaja ia melihat Dinda yang sedang tertidur pulas di sofa dengan TV yang masih menyala.


"Kenapa di tidur disana?" Dave bingung kenapa Dinda bisa tertidur disana. Padahal selama ini ia melarang Dinda tidur diluar kamar.


Dave mendekat menghampiri tempat Dinda tidur. Timbul rasa bersalah kepada Dinda. Apa dia begitu kasar kepada Dinda?


Dave berdiri tepat dihadapan Dinda. Ia melihat dengan jelas wajah Dinda yang cantik dan imut saat tidur. Ia meraih pipi Dinda dan mengusapnya dengan lembut. Saat Dinda bergerak, ia dengan cepat menarik kembali tangannya.


"Sepertinya aku tidak harus membangunkannya." ucap Dave pelan.


Dave memutuskan untuk naik keatas. Saat sampai dikamar, ia lalu meletakkan bunga yang dibelinya diatas ranjang. Dengan begitu, Dinda akan langsung melihatnya.


Dave memutuskan untuk mandi karena begitu gerah. Setelah selesai mandi, ia kembali turun kebawah. Saat sampai kebawah ia sudah tidak melihat Dinda lagi disana.


"Sepertinya dia sudah bangun. Tapi dimana dia?" Dave menatap sekeliling dan mencari keberadaan Dinda. Saat ia akan menuju ke dapur, ia melihat Dinda keluar dari kamar mandi dengan pakaian berbeda. Sepertinya ia baru selesai mandi.


Kenapa dia mandi disana? Dave bertanya-tanya. Bukankah Dinda selalu nya mandi dikamar mandi atas.


*****


Dinda bangun dari tidur lelapnya. Ia mulai membuka mata dengan perlahan. Sebenarnya matanya masih begitu mengantuk. Namun ia tersadar saat wajahnya seperti ada yang menyentuhnya.


Dinda bangun dengan rambut yang sangat berantakan. Matanya terbelalak saat melihat jam sudah menunjukkan pukul 8 malam.


Dinda menjadi kalang kabut. Ia menatap sekeliling mencari keberadaan Dave. Ia sedikit lega orang yang dicarinya tidak ada disana.


"Syukurlah Dave bekum pulang." Ia dengan cepat beranjak dari tempat itu dan berlari menuju kamar mandi dapur. Ternyata tidurnya membuat ia terlambat memasak makan malam.

__ADS_1


"Kenapa aku tidur begitu lama? Aku harus cepat-cepat mandi dan memasak makan malam untuk Dave." ucap Dinda panik.


Walaupun ia masih merasa sakit hati dengan sikap Dave pagi tadi, ia harus tetap menjalankan tugasnya memasak makan malam untuk Dave. Ia tidak ingin Dave melakukan hal yang sama dan semakin marah kepadanya.


Sebenarnya rasa takutlah yang mendorongnya untuk melakukan itu semua. Ia begitu takut dan nyali nya begitu ciut saat Dave tiba-tiba marah dan membentaknya. Jiwanya begitu rapuh dan tidak mampu untuk melawan saat ada yang memperlakukannya dengan kasar.


Dinda mandi dengan secepat kilat. Takut terlambat memasak. Setelah selesai mandi dan mengganti pakaian, ia langsung keluar.


Mata Dinda langsung tertuju pada Dave yang sudah berdiri di dapur.


Ternyata Dave sudah pulang dan dia sama sekali belum memasak. Pasti Dave akan semakin marah kepadanya.


Bagaimana ini? kenapa aku begitu ceroboh. Aku takut jika Dave marah kepadaku. Batin Dinda berteriak. Badannya begitu gemetar saat bertatapan langsung dengan Dave.


"Ma ma maafkan aku! Aku akan segera memasak makan malam mu." ucap Dinda terbata-bata.


Dave hanya tersenyum melihat ekspresi Dinda. Sepertinya Dinda masih begitu takut kepadanya.


"Tidak perlu. Kau tidak usah memasak malam ini. Aku akan memesan makanan." jawabnya sambil tersenyum.


Dinda menatap sedikit heran. Kenapa Dave tidak marah kepadaku dan bahkan dia juga tersenyum kepadaku.


Dinda sendiri tidak tau apa arti dari senyuman yang diberikan Dave kepadanya. Terbesit di fikirannya jika Dave hanya pura-pura saja. Apalagi saat mengingat kejadian pagi tadi. Sikapnya begitu sulit untuk ditebak.


Dinda menelan slavinanya. Tubuhnya kembali gemetar. Kenapa Dave menyuruhnya kesana. Apa Dave akan menjebaknya dan melakukan kembali perbuatannya?


"Ke ke kenapa?" tanya Dinda ketakutan. Ia tidak ingin mendekat dan akan terus menjaga jarak terhadap Dave.


Dinda semakin mundur saat Dave mendekatinya. Ia semakin panik dan cemas. Jantungnya juga berdetak begitu kencang. Apa yang akan Dave lakukan kepadanya?


Tubuh Dinda sudah mentok di dinding dapur. Ia tidak bisa lagi untuk mundur dan kabur. Dave sudah begitu dekat dengannya.


"A a apa yang akan kau lakukan?" Dinda begitu panik saat tangannya diraih oleh Dave.


Dave hanya tersenyum. Ia sudah menduga Dinda masih takut kepadanya.


"Ayo ikut aku!" ajak Dave sambil terus tersenyum.


"Ke kemana?" tanya Dinda lagi.

__ADS_1


"Kekamar." jawab Dave dengan enteng.


Jantung Dinda kembali berdebar. Perasaannya semakin cemas dan takut. Kenapa Dave mengajaknya kekamar? Apa dia akan memaksanya melakukan seperti kemaren?


Pikiran Dinda dipenuhi dengan fikiran-fikiran kotor tentang Dave.


"Aku tidak mau. Lepaskan aku!" tolak Dinda yang semakin panik. Ia juga melepas tangan Dave yang menggandengnya.


Dave hanya tertawa kecil melihat tingkah Dinda. Ia sangat tau apa yang ada di fikiran Dinda saat ini. Pasti ia takut Dave melakukan hal-hal diluar batas.


"Tidak perlu takut. Aku tidak akan menyakitimu." ucap Dave sambil meraih kembali tangan Dinda.


Dinda hanya terdiam saat tangannya diraih Dave. Ia hanya mengikuti langkah Dave tanpa menolak. Fikiran nya begitu buntu.


Mereka pun masuk kedalam kamar. Pandangan Dinda langsung tertuju kearah Bungan yang tergeletak diatas ranjang milik Dave.



Ia menatap Dave dengan tatapan bingung dan tidak percaya.


"Kenapa?" tanya Dave saat melihat tatapan Dinda.


"Kenapa ada bunga disitu?" tanya Dinda semakin penasaran.


"Itu untukmu." balas Dave.


Untuknya? Apa dia salah dengar? Kenapa Dave memberikannya bunga? Sebagai perayaan apa Dave memberinya bunga?


"Untukku?" tanya Dinda lagi. Ia ingin memastikan Dave tidak salah mengatakan.


Dinda sebenarnya sangat suka dengan bunga. Apalagi bunga yang berada di ranjang Dave. Bunga yang begitu besar dan cantik. Sngat sesuai dengan selera nya.


Dinda dengan senang hati langsung berlari dan mengambil bunga tersebut. Ia lalu mencium bunga dengan bahagia.


Tunggu... apa Dave sedang menjebakku? Kenapa dia semakin mendekati ku?


Dinda melangkah mundur dan menatap dengan selidik kearah Dave. Ia tidak ingin Dave mencoba mempengaruhinya.


"Dinda, maafkan atas perbuatanku pagi tadi. Aku sangat menyesal telah membentakmu." ucap Dave tulus.

__ADS_1


Dave meraih tangan Dinda dan menggenggamnya. Ia benar-benar sangat menyesal dan merasa bersalah kepada Dinda. Ia gagal meredam emosinya.


"Aku memaafkanmu." balas Dinda sambil tersenyum.


__ADS_2