MENIKAH DENGANMU

MENIKAH DENGANMU
Isi hati Naomi


__ADS_3

"Apa kau sudah mempunyai kekasih?" tanya Nazumi tiba-tiba dan membuat Dandi sedikit bingung.


Untuk apa dia menanyakan hal pribadiku?


"Maaf, kenapa mbak ingin tau?" tanya Dandi penasaran.


Nazumi menghembuskan nafas panjang. Sejujurnya dia memiliki perasaan suka terhadap Dandi. Dia tidak berani mengatakan dan sadar jika usianya terpaut jauh dari Dandi.


"Aku hanya penasaran. aku juga tidak pernah melihat kau dekat dengan wanita dikantor," ucap Nazumi. Dia juga diam-diam memperhatikan Dandi dan memantau apakah dia sedang dekat atau pdkt dengan karyawan wanita sekantor tempatnya bekerja.


Ada apa dengannya? apa dia mencoba menjebakku?


"Maaf, saya tidak bisa mengatakan," balas Dandi menolak.


Nazumi kembali menghembuskan nafas panjang. Jantungnya berdegup kencang. Malu rasanya ingin mengatakan isi hatinya yang sesungguhnya. Tapi bagaimanapun dia tidak ingin terlalu lama memendamnya. Tidak peduli jika Dandi menolaknya. Terpenting dia bisa bernafas lega karena sudah berani mengungkapkan duluan.


"Aku," ucap Nazumi menggantung. Detak jantungnya masih belum stabil.


Dandi mengerutkan dahinya bingung. Apa yang sebenarnya ingin dikatakan Nazumi kepadanya. Kenapa sangat sulit untuk mengatakannya.


"Ada apa mbak? saya tidak bisa berlama-lama," sambil melihat jam tangannya. Takut nanti Dinda khawatir dan malah mengunci pintu hingga dia dan Dave tidak bisa masuk.


Nazumi masih tetap menggantungkan kata-katanya. kata-katanya tertahan di tenggorokan.


Dandi yang merasa Nazumi sudah membuang-buang waktunya merasa sedikit kesal. "Kalau tidak ada yang ingin disampaikan, saya permisi," ucap Dandi sembari berdiri.


"Aku menyukaimu," ucap Nazumi cepat. Jantungnya kembali berdegup kencang. Matanya ditutup tidak berani melihat ekspresi Dandi.


Ingin rasanya Dandi tertawa. Tapi masih ditahan nya. Rasanya dia seperti Dejavu dimasa lalu. Bedanya untuk saat ini Naomi lah yang sedang mengungkap isi hatinya. Dia kembali duduk dan menatap Nazumi yang masih memejamkan mata.


Nazumi perlahan membuka matanya. Samar-sama terlihat pria didepannya duduk menatap sembari tersenyum kepadanya. Ada sedikit rasa kelegaan dengan respon yang diberikan Dandi.


"Dandi, maaf." ucap Nazumi.


Dandi tersenyum, "Apa sekarang kau sedang mengakui sandiwaramu?" ucap Dandi blak-blakan dan membuat Nazumi kaget.


"Maksud kamu?" tanya Nazumi bingung.


"Tidak perlu berpura-pura. Aku sudah tau siapa kau. Jika hanya itu yang ingin kau sampaikan, aku pamit." ucap Dandi sembari berdiri.

__ADS_1


"Jika kau ingin memecatku karena menolakmu aku tidak apa-apa." sambung Dandi lagi. Dia pun melangkahkan kaki meninggalkan Nazumi yang tampak kecewa.


Sesekali Nazumi memanggil namanya. Namun dia sama sekali tidak menghiraukannya. Rasa sakit dimasa lalu masih membekas hingga sekarang. Dia ingin Naomi merasakan apa yang dia rasakan dimasa lalu.


"Gimana?" tanya Dave penasaran yang sedari tadi menunggunya.


Dandi tidak menjawab dan berlaku meninggalkan Dave yang tampak antusias ingin mendengar jawaban darinya.


"La, koq ditinggal? Dandi tunggu!" panggil Dave. Dia kembali berlari mengejar Dandi yang sudah menjauhinya.


Dave mengimbangi langkah kaki Dandi yang tampak tergesa-gesa. "Ada apa? jangan berjalan terlalu cepat. Aku capek mengejarmu," ucap Dave yang sudah kelelahan berjalan. Tampak butir-butir keringat membasahi keningnya.


Dandi sama sekali tidak memberi jawaban. Hingga mereka sampai ke rumah pun Dandi tetap diam dan langsung masuk kekamar. Membanting pintu Lalu menguncinya.


Hal tersebut pulalah yang membuat Dave dan Dinda panik dan kaget.


Berkali-kali Dave dan Dinda mengetuk-ngetuk pintu kamar dan memanggil namanya. Namun sama sekali tidak ada jawaban dari sang punya kamar.


"Dandi kenapa?" tanya Dinda penasaran.


Dave mengangkat dua bahunya. Dia sendiri juga tidak tau jawabannya. Apalagi setelah keluar dari cafe Dandi hanya diam kepadanya.


Dave menggeleng. Dia dan Dandi tidak pergi ketempat jual bandrek. Bagaimana bisa sampai berebut bandrek. Kekanak-kanakan sekali hingga sampai merajuk.


"Lalu?" tanya Dinda lagi.


"Aku tidak tau. Saat keluar dari cafe wajahnya tampak kesal dan sepanjang perjalan pulang dia hanya diam." balas Dave.


"Kalian ke cafe bukan kebandrek?" ucap Dinda menyipitkan matanya. Kali ini mereka sudah membohonginya. Pantas saja gerak-gerik mereka tadi mencurigakan.


Dave sudah keceplosan. Dia hanya bisa cengengesan setelah ketahuan. "Maaf sayang, aku hanya menemani Dandi," ucap Dave memelas.


"Apa yang kalian lakukan disana?" tanya Dinda menyelidik.


"Aku hanya menemani Dandi bertemu kepala direktur tempatnya bekerja." ucap Dave.


Kepala Direktur? Nazumi? kenapa mereka bertemu di cafe? lalu kenapa Dandi harus menyembunyikan dariku?


"Kakak kan ikut, pasti tau apa penyebabnya," ucap Dinda lagi.

__ADS_1


"Aku hanya menunggu dan memantaunya diluar. Aku juga tidak tau apa yang sedang mereka bicarakan." balas Dave.


"Lalu untuk apa kakak ikut ?" tanya Dinda penasaran.


Bagaimana ini? apa aku katakan saja yang sebenarnya jika Naomi itu mantanku? tapi kalau dia cemburu gimana?


"Sayang, kita kekamar yuk! aku butuh nutrisi malam ini," ucap Dave mengalihkan pembicaraan. Lagi pula saat ini dia ingin melakukan senam sehat.


Dinda masuk kekamar diikuti Dave yang beryes ria didalam hati. Dia merasa senang karena begitu mudah meluluhkan hati Dinda. Dan malam ini dia akan mendapatkan jatah.


Dinda langsung masuk lalu duduk dipinggir kasur. Dave buru-buru menutup kembali pintu dan tidak lupa pula untuk menguncinya. Takut Dandi tiba-tiba masuk dan mengganggu aktifitas senam sehatnya.


Dave langsung memeluk tubuh istrinya dan menciuminya tanpa permisi. "Katakan kenapa kakak mau diajak Dandi? apa kakak juga mengenal Nazumi?" tanya Dinda cemberut.


"Sayang, aku tidak kenal dengannya. Aku hanya diajak Dandi," balas Dave sambil terus melakukan aktifitasnya.


"Tidak mungkin kakak tidak kenal. Apalagi tadi kalian seperti menyembunyikan sesuatu. Cepat katakan!" suruh Dinda.


"Sayang, ayolah! lupakan. Aku hanya ingin kamu malam ini," ucap Dave. Dia membuka kancing baju Dinda dan melepaskan pengait yang menjadi penyangga dua gunung kembar. Tangannya begitu lihai memainkan jari jemarinya disana.


Dinda mendesah dan membuat Dave semakin bersemangat. Kini jari-jarinya sudah turun kebawah.


"Jangan!" tolak Dinda dan membuat Dave bingung sekaligus kecewa.


"Katakan kenapa kakak mau mengikuti Dandi?" tanya Dinda lagi. Dia akan terus menggali sampai Dave menyerah.


Dave mendengus kesal. Dia memposisikan duduk tegap. Meraih bahu Dinda dan menatapnya lekat. "Aku hanya menemani Dandi menemui Nazumi karena dia merasa curiga terhadapnya." balas Dave. Mau tidak mau dia harus menceritakan dari pada nanti hasratnya tidak bisa tersalurkan. Apalagi sudah diujung tanduk.


Dave pun menceritakan cerita sebenarnya. Dia juga terpaksa mengatakan kebenaran jika Naomi adalah mantannya.


"Jadi dia Naomi yang masih dicintai Dandi hingga sekarang?" tanya Dinda tidak percaya dan dibalas anggukan oleh Dave.


Tapi yang aku lihat selama beberapa kali bertemu Nazumi, dia begitu baik dan ramah. Tidak sama seperti yang kak Dave ceritakan. Lalu untuk apa sampai Naomi berpura-pura tidak mengenali Dandi? aku harus menanyakannya besok.


"Sayang, ayo! aku sudah tidak tahan," ucap Dave menahan hasratnya. Apalagi sesuatu yang dibawah sudah terasa tegang.


"Dinda lagi datang bulan kak," balas Dinda dan membuat Dave seperti diserang ribuan tawon. Sakit tapi tidak berdarah.


"Kamu harus bertanggung jawab sudah membuat adikku berdiri," dengan cepat dia meraih tangan Dinda dan memaksa untuk memegang tongkat saktinya. Kali ini dia harus menuntaskan hasratnya walau dia tidak bisa menjelajahi hutan lebat dan gua disana.

__ADS_1


Awalnya Dinda bingung dan malu. Tapi karena Dave terus menerus memaksanya, maka mau tidak mau dia harus melakukannya.


__ADS_2