MENIKAH DENGANMU

MENIKAH DENGANMU
Pertemuan yang Terlewatkan


__ADS_3

Hari semakin malam dan Dinda semakin mengantuk.


"Kak, Dinda kekamar duluan ya. Dinda udah mengantuk." Dinda berdiri sambil sesekali menguap. Sepertinya mata Dinda sudah terasa sangat berat.


"Iya Dinda. Kamu tidur yang nyenyak ya. Selamat malam." Dion memberikan ucapan selamat tidur kepada Dinda.


Dion yang sebenarnya juga menahan kantuk sedari tadi kemudian mematikan televisi dan langsung pergi memasuki kamarnya setelah dilihatnya pintu kamar Dinda tertutup dengan rapat.


Begini rasanya menahan kantuk namun tidak enak untuk berpamitan duluan


Di bar.


"Ah sial, aku terlalu banyak minum." Ucap Dave kesal saat ia berjalan sempoyongan saat akan pergi meninggalkan bar tersebut.


Hari semakin malam tentu saja orang tuanya akan mengkhawatirnya belum lagi jika nanti ada yang melihatnya di bar dan melaporkan ke orangtuanya. Bisa-bisa orangtuanya akan sangat kecewa dengannya.


Dave mencoba berjalan dengan cepat dan meninggalkan bar tersebut setelah merasakan mabuknya mulai mereda. Ia lalu masuk kedalam mobil dan melajukan kendaraannya agar bisa sampai kerumah dengan selamat.


Saat diperjalanan, ponselnya berdering dan ia segera mengangkat panggilan tersebut dengan cepat.


"Ia ma, ini udah di jalan pulang. Dikantor banyak pekerjaan."


"Iya ma, selamat malam." Ucap Dave menutup teleponnya.


Ia sudah menduga pasti orangtuanya akan mengkhawatirkannya terlebih lagi mamanya yang super super selalu khawatir jika ia tidak pulang-pulang kerumah. Terkadang ia merasa seperti anak mama yang manja dan selalu kecarian jika sudah lewat malam ia tidak pulang kerumah dengan tepat waktu.


Akhirnya Dave pun sampai dengan selamat dirumah Atmawijaya.


Dave membuka pintu yang tertutup menggunakan sidik jari. Ia masuk dan melihat rumah sudah sangat sepi.


"Sepertinya mereka sudah tidur." Ucap Dave sambil menaiki anak tangga untuk menuju kamarnya.


Saat sampai diatas ia melewati beberapa kamar yang diantaranya sudah ditempati oleh Dion dan Dinda.


"Ah mengantuk sekali." Dave membuka pintunya dan menguap sambil mengucek-ngucekkan matanya. Tanpa sadar ia pun ketiduran.


Keesokannya.


Pagi yang cerah dengan suara burung yang berkicau. Dinda membuka gorden jendelanya. Menghirup udara pagi yang menyenangkan. Ia tampak sangat bahagia.


Dinda akan memulai aktivitas paginya yaitu akan memasak untuk sarapan pagi. Sebelum itu iya harus segera mandi.


Dave seperti biasa setelah bangun tidur akan segera mandi dan bersiap-siap untuk bekerja.


Dion juga sama halnya dengan Dave. Namun setelah ia beristirahat untuk sementara waktu dari penatnya bekerja, ia hanya berdiam diri atau melakukan pekerjaan lainnya saat berada dirumah seperti menyiram bunga, melukis atau sekedar berkaraoke.


"Pagi tante." Ucap Dinda saat merapikan meja makan dan menyiapkan sarapan.


"Pagi juga. Enak sekali baunya." Puji Kikan.


Dinda hanya tersenyum. Sudah beberapa kali Kikan memuji nya.


"Ayo sarapan!" ajak Dinda saat Kikan, Roy dan Dion sudah duduk dimeja makan.

__ADS_1


"Mana kakakmu Dion?" tanya Kikan sambil menoleh ke kiri dan ke kanan mencari keberadaan Dave.


"Nggak tau ma, mungkin masih belum siap-siap."Jawab Dion.


Sembari mereka menunggu kedatangan Dave untuk sarapan bersama, tiba-tiba saja perut Dinda terasa sangat mules.


"Tante, om, kak Dion, Dinda permisi dulu ya," ucap Dinda sambil mengelus perutnya.


"Mau kemana?" tanya mereka serempak.


"Maaf tante, om, kak Dion. Perut Dinda merasa nggak enak. Kalian sarapan duluan saja. Nanti Dinda menyusul." Ucap Dinda.


Mereka yang saling menatap dengan wajah bingung hanya bisa merelakan kepergian Dinda. Dinda tidak memberitahu jika sebenarnya iya sudah tidak tahan untuk ke toilet, namun karena berada ditempat makan maka ia hanya mengatakan perutnya merasa tidak enak.


Setelah Dinda meninggalkan tempat tersebut kemudian Dave pun turun dari atas menghampiri orangtua dan Dion yang sedari tadi menunggu kedatangan Dave.


"Ayo sarapan Dave." ajak Kikan yang kemudian dengan cepat mengambil nasi dan memasukkan kepiring suaminya dan kemudian kepiring Dave dan selanjutnya kepiring Dion.


Itu sudah menjadi kebiasaan Kikan walaupun terkadang selalu ditolak oleh anak-anaknya karena mereka bisa melakukannya sendiri.


"Mana orangnya ma?" tanya Dave disela-sela mengunyah.


"Orang siapa?" Tanya Kikan kebingungan.


"Bukannya mama baru aja bawa anak lagi kerumah ini?" ucap Dave cuek.


"Oh itu, lupa mama. Perutnya lagi nggak enak, jadi dia nggak ikut sarapan sama kita." balas Kikan.


"Aduh, kenapa tiba-tiba sih." ucap Dinda kesal sambil menahan perutnya yang mules.


Dinda dengan cepat memasuki toilet dan kemudian mengunci dengan rapat.


Hampir dua puluh menit Dinda berada didalam toilet tersebut, hingga akhirnya mereka selesai sarapan.


Tok tok tok


"Siapa?" tanya Dinda


"Kamu ngapain lama sekali di toilet?" tanya Dion penasaran.


"Nggak apa-apa kog kak." jawab Dinda.


Kemudian Dinda pun keluar dari tepatnya bersemedi dengan wajah menahan malu.


"Kamu kenapa? Kamu ada makan apa semalam?" tanya Dion khawatir.


"Nggak ada apa-apa koq kak. Perut Dinda udah baikan." Jawab Dinda cengengesan.


"Bener udah baikan? Kamu kan belum sarapan, ayo sarapan dulu sana!" ajak Dion.


Dinda pun menuruti perintah Dion dan kemudian ia melihat tiada siapapun berada ditempat meja makan.


"Udah selesai sarapan ya?" tanya Dinda saat melihat Kikan, Roy sudah tidak berada ditempat.

__ADS_1


"Kamu kelamaan sih, sampai Kak Dave nanyain." Ucap Dion.


Dinda baru ingat jika ia belum berkenalan dengan anak tertua tante Kikan. Sampai-sampai ia melewati momen tersebut. Ia juga tidak sadar saat Dion menyebutkan nama Dave.


"Dimana dia?" tanya Dinda penasaran.


"Ya udah pergi kerja lah. Kamu sih kelamaan. Udah sarapan lagi." suruh Dion.


Dinda kemudian duduk mengambil nasi dan memasukkan kepiring.


"Kakak belum sarapan juga?"tanya Dinda saat melihat Dion duduk dibangku meja makan bersamanya.


"Kakak udah sarapan koq tadi. Kakak cuma mau nemenin Dinda aja. Kan kasihan cewek cantik sarapan sendiri." Goda Dion.


Dinda hanya bisa tersenyum saat pipinya mulai memerah menahan malu saat Dion menggodanya.


Dikantor


"Pak Dave, ada yang ingin menemui bapak." ucap sekretarisnya melalui sambungan telepon.


"Saya lagi tidak ingin bertemu siapa pun, suruh dia pergi!" balas Dave kesal.


"Tapi pak ..." belum sempat Celine mengatakan, sambungan tersebut sudah terputus.


"Maaf mbak, Pak Dave nya lagi tidak ingin bertemu siapa-siapa." ucap Celine kepada wanita tersebut.


"Aku nggak mau tau, aku ingin bertemu dengannya." balas wanita tersebut dan kemudian menyerobot masuk keruangan Dave.


Celine yang tidak bisa menahan wanita tersebut pun berdiri kaku saat berada diruangan Dave dengan wajah khawatir.


Dave yang melihat kedatangan mereka dengan tiba-tiba terdiam sambil memandangi Celine.


Betapa terkejutnya ia saat melihat orang yang ingin menemuinya tersebut adalah masa lalunya.


Dave memberi kode kepada Celine dan Celine pun keluar dari ruangan tersebut.


"Kenapa kamu memperlihatkan wajah busukmu lagi?" ucap Dave cuek.


"Ayolah sayang, itu hanya masa lalu. Aku sudah tidak bersamanya lagi." Balas Cindy sambil melingkarkan tangannya ke leher Dave. Dengan cepat Dave menepisnya.


Ia sudah muak dengan sandiwara yang ditunjukkan oleh Cindy mengingat apa yang sudah dilakukan Cindy dimasa lalu.


"Sayang jangan begini, aku masih sayang sama kamu." ucap Cindy.


Cindy kemudian langsung memeluk Dave dari depan dan langsung membuat Dave kaget. Ia segera melepaskan pelukan tersebut dengan kasar.


"Apa-apaan kamu. Jangan tunjukkan sikap menjijikkan itu kepadaku." ucap Dave murka.


Cindy hanya tersenyum. Ia tau jika Dave akan memperlakukannya seperti itu.


"Ngapain kamu kemari?" tanya Dave lagi saat kembali duduk di kursi kerjanya sambil menatap kearah komputer.


"Sebenarnya ..."

__ADS_1


__ADS_2