
Dave tiba dirumahnya. Seperti biasanya ia membuka pintu menggunakan sidik jari.
"Sepertinya mereka sudah tidur." ucap Dave saat melihat lampu didalam ruangan rumah sudah dimatikan.
Dave lalu menaiki tangga untuk ke kamarnya. Saat melewati beberapa kamar sebelum sampai ke kamarnya, ia melihat sebuah kamar yang terbuka. Ia lalu mencoba mendekati kamar tersebut dan melihat tiada orang didalam sana.
"Kenapa pintunya tidak ditutup? apa ini kamar anak itu?" tanya Dave saat mengingat perkataan mamanya bahwa Kikan membawa seorang anak lagi dirumahnya.
Dave kemudian membuka kamarnya dan segera membaringkan tubuh dikasur empuk miliknya.
"Ah, akhirnya aku bisa berbaring dengan nyaman." ucap Dave sambil memandangi langit-langit kamarnya.
Kepalanya seakan mau meledak memikirkan masalah demi masalah yang ia alami. Saat itu pula pikirannya buyar dan tiba-tiba terkenang gadis yang ia incar selama ini dan membuat emosinya naik.
"Sialan." Dave bangun dari baring nya dan duduk ditepi bibir kasurnya.
Dave lalu mencoba menghubungi salah satu anak buahnya karena selama beberapa hari para anak buahnya belum ada memberi kabar keberadaan Dinda.
"Hallo."
"Kenapa belum ketemu? Apa saja kerja kalian hingga untuk mencari wanita tersebut saja susah."
"Pokoknya kalian semua harus mendapatkan wanita itu dan serahkan kepadaku!" Dave lalu mengakhiri panggilan tersebut dan kembali berbaring diranjangnya.
Sementara di taman belakang rumah Dinda masih asyik termenung. Tiba-tiba ia merasa seperti dirinya dalam keadaan bahaya. Entah dari mana perasaan itu bisa timbul.
Keesokan harinya.
Pagi itu saat Kikan sedang ingin membuka pintu, Para rombongan kepolisian datang ke kediamannya.
"Selamat pagi buk, kami dari kepolisian setempat." ucap salah satu polisi.
"Iya, ada apa ini pagi-pagi?" tanya Kikan yang kebingungan dengan kedatangan polisi yang seperti akan menangkap seseorang.
__ADS_1
"Maaf buk, apa ini rumah Dave Atmawijaya?" Tanya polisi itu lagi dan dibalas dengan anggukan oleh Kikan.
Hati Kikan khawatir dengan kedatangan polisi tersebut. Selama ini ia dan keluarganya tidak pernah berurusan dengan kepolisian.
"Maaf buk, kami harus menangkap Dave Atmawijaya atas tuduhan korupsi dan penggelapan uang." ucap polisi tersebut dan kemudian masuk kedalam rumah untuk mencari keberadaan Dave.
Kikan terdiam, lidahnya kelu tidak bisa berkata-kata seakan tidak percaya dengan apa yang dituduhkan pihak polisi tersebut.
Dave, anakku. Mama tidak percaya semua ini. Kamu tidak akan mungkin melakukan. Mama yakin kamu anak yang baik.
Air mata Kikan jatuh dengan sendirinya.
Saat itu Dave sedang sedang siap-siap akan berangkat ke kantor untuk bekerja tiba-tiba pintu kamarnya diketuk oleh seseorang. Dave kemudian membuka pintu dan ia langsung diborgol oleh polisi tersebut. Tentu saja hal tersebut membuat Dave kaget dan panik.
"Ada apa ini? Kenapa saya diborgol?" tanya Dave panik.
"Kami harus membawa anda ke kantor polisi atas tuduhan korupsi dan penggelapan uang." jawab polisi tersebut dan kemudian membawa Dave untuk masuk ke mobil polisi.
Suasana rumah menjadi ricuh. Para penghuni rumah menjadi panik. Dion mencoba menghadang polisi yang membawa Dave karena ia merasa Dave tidak bersalah dan polisi hanya mengarang cerita.
Kikan tak henti-hentinya menangis dan mencoba menarik-narik Dave agar tidak dibawa ke kantor polisi. Namun tenaganya tidak kuat dengan banyaknya polisi yang membawa putranya.
"Dave, anak mama. Jangan bawa anak saya. Anak saya tidak bersalah." Kikan tersedan-sedan menangis mencoba mengambil kembali anaknya.
Para tetangga sekitar pun berkumpul dengan apa yang baru saja terjadi. Tampak mereka berbisik-bisik satu sama lain dengan penangkapan Dave. Ada yang terlihat menangis, ada yang mencoba membantu Kikan untuk menyelamatkan anaknya dan ada juga yang hanya tertawa dengan kejadian tersebut.
"Kenapa anak bu Kikan dibawa polisi ya? padahal mereka semua orang baik." ucap salah seorang tetangga kepada temannya.
"Nggak tau ya. Aku juga merasa keluarga mereka sangat baik. Pasti ada yang menuduh dan menjebaknya agar ia masuk penjara apalagi mereka orang kaya. Pasti banyak yang iri tuh." Balas temannya tersebut.
Akhirnya suasana yang ricuh kini kembali sepi setelah polisi membawa Dave ke kantor untuk dimintai keterangan dan bertanggungjawab atas perbuatannya.
Saat Roy siuman, mereka berkumpul diruang keluarga karena masih tidak percaya dengan apa yang barusan terjadi.
__ADS_1
"Mama nggak percaya semua ini. Dave tidak mungkin melakukan ini semua." Ucap Kikan sembari mencoba menenangkan diri. Roy hanya terdiam dan kemudian memeluk istrinya agar tenang.
"Mama, Papa, Dion juga nggak percaya jika kak Dave yang melakukannya. Pasti ada yang mengarang cerita dan menjebaknya." Dion mencoba meyakinkan kedua orangtuanya.
Pada saat kejadian, Dinda tidak berada ditempat kejadian karena pagi-pagi sekali Dinda sudah pamit dengan Kikan untuk pergi menemui tetangganya dulu.
"Kamu gimana kabarnya sekarang?" tanya Adit senang atas kedatangan Dinda secara tiba-tiba.
"Dinda baik koq kak. Dinda sekarang sudah bertemu sama keluarga yang sangat baik. Mereka memperlakukan Dinda seperti anak mereka sendiri." balas Dinda dengan senyuman.
Adit yang mendengar pun tak kalah senang. Orang yang ia suka kini telah bahagia dengan kehidupan barunya.
"Ngomong-ngomong ada apa Dinda kemari pagi-pagi sekali?" tanya Adit penasaran.
Pada saat Dinda mengetuk pintu rumahnya waktu itu sangatlah pagi. Ia bingung sekaligus bahagia saat orang yang mengetuk pintu rumahnya adalah Dinda.
"Dinda cuma kangen sama rumah lama Dinda. Dinda takut kalau datangnya siang para penjahat itu akan menangkap Dinda lagi. Makanya Dinda datangnya pagi-pagi apalagi masih sepi." balas Dinda.
"Cuma itu doang? Kirain kangen sama kakak." Goda Adit dan dibalas senyum malu-malu oleh Dinda.
Selama berada dirumah Kikan, ia sebenarnya juga merasa rindu kepada Adit. Apalagi selama ini ia menaruh hati kepada Adit. Tapi ia tidak berani untuk menghubungi atau menjenguk karena ia sangat takut bila nanti Dave dan anak buahnya mengetahui tempat persembunyiannya.
"Dinda nggak tau kenapa Dinda merasa sangat gelisah. Makanya Dinda kemari pagi-pagi." ucap Dinda.
"Maksudnya?" tanya Adit bingung.
Padahal baru saja Dinda mengatakan jika ia sudah sangat bahagia dengan kehidupan barunya sekarang. Tapi tiba-tiba saja ia mengatakan merasa gelisah.
"Dinda nggak tau kenapa. Dinda hanya merasa cemas dan seperti Dinda berada dalam bahaya." balas Dinda sedih.
Sejak malam tadi perasaan itu tak kunjung hilang hingga ia tidak bisa tidur dan memutuskan pamit keluar kepada Kikan sangat pagi sekali.
"Itu mungkin perasaan kamu aja Dinda. Kakak yakin saat kamu tinggal disana kamu akan semakin bahagia apalagi keluarga mereka sangat menerima dan memperlakukan Dinda dengan sangat baik." balas Adit mencoba meyakinkan Dinda.
__ADS_1
Ia tidak mau Dinda berpikiran yang tidak-tidak atau selalu merasa cemas. Ia hanya ingin Dinda bahagia.