
Adit melangkahkan kaki menuju ruangannya. Namun disaat ia ingin masuk, sekretarisnya memanggilnya.
"Ada apa?" tanya Adit.
"Kemaren ada yang mencari bapak." ucap sekretaris Adit.
Adit mengerutkan keningnya. Siapa yang mencarinya saat dia tidak berada dikantor. Apa mungkin Dandi yang sedang mencarinya begitu pikir Adit.
"Siapa?"
"Katanya dia adik pak Adit. Saya juga kurang tau orangnya yang mana. Soalnya saya diberitahu oleh pegawai bagian depan." balas sekretarisnya lagi.
Adik? Tidak mungkin adikku mencari ku dikantor. Adikku yang mana? Atau...
Tanpa membalas jawaban dari sekretarisnya, Adit langsung berlari menuju lift untuk sampai kelantai dasar. Ingin menemui pegawai yang berjaga dibagian depan.
Saat pintu lift terbuka, Adit langsung berlari menuju pegawai yang berjaga dibagian depan. Banyak para karyawan lainnya sedang menyapa. Namun karena fokus ingin menemui pegawai itu, maka saapaan mereka tidak dibalasnya. Itu yang membuat para karyawan lain merasa aneh. Tidak seperti Direktur yang mereka kenal. Ramah, sopan dan murah senyum.
Mengetuk-ngetuk meja tempat pegawai itu. Tampaknya pegawai itu sedang tampak asyik berselfie ria. "Bukankah ini waktu bekerja. Kenapa kau sibuk berselfie?" tanya Adit sedikit kesal. Dia tidak suka waktu kerja digunakan untuk main-main. Bukankah sekarang sedang banyak nasabah yang berkunjung.
Pegawai tersebut tersadar lalu buru-buru memasukkan ponselnya kedalam tas. "Maaf pak." menundukkan kepala malu.
"Apa semalam ada yang mencari ku?" tanya Adit penasaran.
Menegakkan kembali kepalanya. "Ada pak. Katanya dia adik bapak." jawab pegawai itu.
Adik aku yang mana ya? Tidak mungkin Aulia. Bukankah dia masih diluar negeri.
"Laki-laki atau perempuan?" tanya Adit lagi. Dia hanya ingin memastikan saja. Jika itu laki-laki maka tentu saja itu bukan adiknya. Sedangkan dia tidak mempunyai adik atau saudara laki-laki dan hanya memiliki dua adik perempuan.
"Perempuan pak. Kulitnya putih dan tingginya mungkin setinggi saya." memperagakan tinggi badannya.
Perempuan? Ah tidak mungkin Aulia. Apa mungkin dia sengaja tidak pulang kerumah saat sampai di Indonesia?
Karena masih ragu, dia mengeluarkan ponselnya dan menunjukkan sebuah foto kepada pegawai tersebut. "Apa orang ini yang mencari ku?" tanya Adit.
Setelah melihat dan mengingat-ingat kembali, pegawai itu segera menggelengkan kepala. "Bukan yang ini pak." balas pegawai itu.
Jadi siapa yang menceriku?
__ADS_1
"Siapa namanya?" tanya Adit lagi. Jika bukan adik yang difoto, maka adiknya yang mana lagi? Apa mungkin ada yang mengaku-ngaku saja.
"Maaf pak. Saat dia datang, dia tidak memberitahu namanya. Saya juga lupa untuk menanyakan namanya." sesal pegawai itu.
Sebenarnya Adit sedikit meyakini jika yang mencarinya kemaren adalah Dinda. Tapi jika difikirkan lagi itu sama sekali tidak mungkin. Sedangkan yang ia tau, Dinda sama sekali tidak diberi celah dan ruang untuk keluar dan bertemu dengannya.
"Yaudah. Lain kali jika ada yang mencari ku, tanyakan dulu namanya. Biar nggak ada yang ngaku-ngaku jadi adikku." berjalan meninggalkan pegawai tersebut yang masih menatapnya bingung.
Maksud pak Adit apa? Apa cewek kemaren bukan adiknya dan hanya mengaku-ngaku saja? Jadi cewek kemaren itu siapa?
Adit melangkahkan kaki menuju pintu lift untuk naik kembali ketempat kerjanya. Saat menunggu pintu lift terbuka, dia melihat Dandi sedang berjalan menuju kearahnya dan berdiri disebelahnya.
"Mau kemana?" tanya Adit basa-basi.
"Aku ingin kelantai tempat kerjamu. Ada pekerjaan yang belum aku selesaikan disana." balas Dandi tersenyum.
"Oh gitu." memasukkan tangan kesaku celana. Melangkahkan kaki masuk kedalam lift saat pintu sudah terbuka dan diikuti Dandi karena tujuan mereka dilantai yang sama.
"Apa ada kabar dari Dinda?" tanya Adit lagi. Sesungguhnya dia sangat merindukan Dinda.
Dandi diam dan hanya menundukkan kepala. Apa yang harus dilakukannya. Apa dia menceritakan saja jika Dinda kemaren menemuinya.
"Kenapa kau diam?" tanya Adit tanpa menoleh. "Aku sudah menemui Dave." lanjut Adit.
Adit hanya tertawa mendengar ucapan Dandi yang terdengar sangat syok itu. "Tidak perlu kau terkejut begitu. Aku menemuinya hanya untuk mengambil apa yang seharusnya menjadi milikku."
Pintu lift terbuka, Adit segera melangkahkan kaki keluar dan berjalan menuju ruangannya.
"Tunggu." panggil Dandi dan Adit segera menghentikan langkahnya tanpa menoleh.
"Apa kita bisa bicara? Ada yang ingin aku katakan." pinta Dandi.
Adit menoleh dan menatap Dandi kebingungan. Melirik jam tangannya. "Sekarang waktu kerja. Aku tidak bisa. Kembalilah bekerja." kembali melangkahkan kaki.
"Ini tentang Dinda." ucap Dandi dan membuat Adit kembali menoleh dan menghentikan gerakannya saat akan memutar ganggang pintu.
Melirik kearah sekitar. Kebetulan saat itu sekretarisnya sedang tidak berada ditempat kerjanya. "Ayo ikut aku!" ajak Adit dengan sedikit terpaksa. Dia hanya tidak ingin dianggap tidak profesional oleh karyawan lainnya yang menyia-nyiakan waktu kerja. Apalagi menemui Dandi yang hanya bekerja sebagai cleaning service di Bank dan mengizinkannya masuk ke ruangan nya.
Dengan mempercepat langkah, Dandi segera masuk kedalam ruangan Adit.
__ADS_1
"Silahkan duduk!" suruh Adit kepada Dandi. Dandi pun segera mendaratkan bokong nya di kursi.
"Ada apa?" tanya Adit penasaran. Bukankah tadi Dandi mengatakan dia ingin membicarakan tentang Dinda.
Menghembuskan nafas. "Apa kau masih mencintai Dinda?" tanya Dandi ingin memastikan. Bukankah sekarang status Dinda sudah menjadi istri orang. Apakah Adit masih memiliki perasaan yang sama seperti dulu terhadap Dinda.
Menghembus nafas pasrah. "Aku masih mencintainya. Perasaanku tidak pernah berubah. Aku masih mengharapkan dia kembali lagi kepadaku." ucap Adit sedikit putus asa. Dia hanya bisa menunggu sampai waktunya tiba. Hingga akhirnya Dinda kembali lagi ke pelukan nya.
"Aku kemaren menemuinya." ucap Dandi dan membuat Adit kaget dan tidak percaya. Tampak matanya sangat berkaca-kaca.
"Dimana? Kapan kau menemuinya? Bagaimana bisa kau menemuinya, sedangkan kita tau Dave tidak pernah memberi celah untuk kita menemuinya." Adit langsung mencerca karena terlalu penasaran dan sedikit bahagia. Setidaknya Dandi masih bisa menemuinya. Kini hanya dia saja yang belum diberi kesempatan untuk bertemu Dinda.
"Bukan aku yang menemuinya. Tapi dia yang menemuiku." balas Dandi tersenyum.
"Bagaimana bisa?" tanya Adit sedikit heran.
"Dia menemui ku disini." jawab Dandi.
Menemui Dandi disini? Berarti adik yang mencariku itu...
Adit mengembangkan senyuman. Rasa bahagianya tidak bisa disembunyikan. Ternyata Dinda masih ingat kepadanya dan masih mencarinya. Ada rasa kesal karena kemaren dia pulang lebih awal. Jika tidak, maka dia dan Dinda pasti akan bertemu.
Tapi tunggu...
"Aku masih belum mengerti. Kenapa Dinda menemui mu disini? Bisa kau ceritakan?" suruh Adit. Sebenarnya dia masih bingung dengan situasi tersebut. Di fikiran nya masih penuh pertanyaan-pertanyaan.
"Dia diizinkan untuk keluar oleh Dave. Tapi dia akan dikawal dan dipantau oleh anak buah Dave."
"Kemaren dia datang kemari untuk menemui mu. Karena kau tidak ada, maka dia pergi. Dia ingin menemui ku, tapi dia tidak tau aku ada dimana. Mungkin sudah takdir kami bisa bertemu kembali. Dia tidak sengaja melihatku sedang bekerja."
"Benarkah? Bagaimana kabarnya? Apakah dia baik-baik saja?" tanya Adit lagi.
"Tenang lah, dia tidak kenapa-napa. Karena Dave sudah tidak pernah menyiksanya lagi."
Adit sedikit tidak percaya mendengarkan apa yang dikatakan Dandi. Timbul sedikit rasa curiga dan prasangka-prasangka buruk terhadap Dave. Tidak mungkin Dave berubah secepat itu. Pasti ada sesuatu dibalik itu semua. Walaupun dia masih tidak tau apa alasan dibalik itu.
HAI TEMAN-TEMAN SEMUA. TERIMA KASIH SUDAH MAU MENJADI PEMBACA SETIA KARYA AUTHOR.
JANGAN LUPA TERUS DUKUNG KARYA AUTHOR INI YA.
__ADS_1
CUKUP VOTE DAN RATE BINTANG 5 NYA YA.
AYO DONG, JANGAN PELIT SAMA JEMPOLNYA😁 BIAR AUTHOT MAKIN SEMANGAT BIKIN NOVELNYA.