MENIKAH DENGANMU

MENIKAH DENGANMU
Perginya Adit


__ADS_3

Semenjak kejadian itu, Adit tidak pernah lagi menampakkan diri dihadapan Dinda. Biasanya setiap hari libur dia akan rutin berkunjung ke kediamannya. Tapi sekarang, dia sudah tidak pernah lagi datang.


Dandi membaringkan tubuhnya di kursi panjang rumahnya sambil meng goyang goyang kan kakinya santai. "Dinda, kamu merasa aneh nggak sama Adit?" tanya Dandi yang merasa sedikit penasaran.


"Aneh kenapa?" tanya Dinda pura-pura tidak tau. Sebenarnya dia juga merasa Adit sudah menjauhinya semenjak kejadian itu. Setelah dia mengatakan isi hatinya yang sebenar kepada Adit, dia sudah tidak pernah lagi menghubunginya dan memberi kabar.


"Masa kamu nggak merasa aneh sih. Biasanya kan kalau hari libur dia sering mampir kerumah kita. Tapi sekarang udah nggak pernah lagi tuh. Kira-kira kenapa ya?" tanya Dandi lagi.


Dinda hanya menaikkan bahunya serempak. "Aku nggak tau Dan." balas Dinda cepat.


"Yakin kamu nggak tau? tapi koq aku merasa aneh ya? setelah kamu sama dia keluar dua minggu lalu, dia udah nggak pernah lagi aku liat. Ditempat kerja pun aku sudah tidak pernah melihat dia." ucap Dandi.


"Kalian kan satu tempat kerja. Masa nggak pernah liat. Emang kamu nggak pernah membersihkan ruangannya?" tanya Dinda memastikan.


"Aku tidak pernah membersihkan ruangannya. Itu bukan wilayah ku. Tapi biasanya aku selalu melihatnya. Tapi sekarang udah nggak pernah lagi. Aneh kan?" ucap Dandi penasaran.


Dandi kan kerja ditempat kak Adit. Tapi kenapa mereka tidak pernah ketemu? kemana kak Adit sebenarnya?


"Kamu nggak coba nanya gitu sama rekan-rekan kerjanya disana?" tanya Dinda.


"Aku pernah nanya. Tapi mereka bilang nggak tau." balas Dandi.


Apa aku terlalu jahat sama kak Adit? apa yang harus aku lakukan? apa aku coba datang kerumahnya aja? tapi kan ibu kak Adit nggak suka sama aku.


"Kamu mau kemana?" tanya Dandi yang melihat Dinda berdiri.


"Aku mau tidur. Aku sudah mengantuk." balas Dinda berbohong. Dia pun pergi meninggalkan Dandi yang masih berbaring di kursi panjang luar rumah.


Dinda mempercepat langkahnya. Dia segera masuk kekamar dan mengunci pintu. "Aku harus menghubungi kak Adit. Aku tidak boleh terlihat jahat di mata nya." Dinda pun segera meraih ponselnya dan menekan nomor Adit.


Nomor yang anda tuju sedang tidak aktif


"Kenapa nggak aktif sih? biasanya nggak pernah seperti ini. Apa kak Adit ganti nomor?" duga Dinda.


"Baiklah, aku akan kerumahnya besok. Aku tidak mau seperti ini." ucapnya lagi.


Pagi itu, setelah Dandi berangkat kerja dan Dinda sudah mengantarkan kue ke warung, Dinda segera pulang dan bersiap-siap.


Dinda mencoba untuk memberanikan diri datang kerumah Adit. Ini semua dilakukannya agar tidak ada lagi kesalahpahaman. Dia tidak peduli jika nantinya ibu Adit sampai mengusirnya. Tujuan utamanya adalah ingin memastikan keadaan Adit.


Dinda menghembuskan nafas, dia sebenarnya masih berdebar dan sedikit takut. Tapi semua itu dibuangnya jauh-jauh.

__ADS_1


Dinda mulai melangkah kan kaki nya menuju perkarangan rumah Adit. Setelah sampai didepan pagar, dia langsung menekan bel.


Sekali dua kali, namun pintu sama sekali belum ada yang membuka. Dinda mulai mengintip-intip keadaan rumah. Tidak tampak ada siapa-siapa dan rumah terlihat sepi.


"Ibu, Kak Adit, Lika?" panggil Dinda dari balik pagar yang masih tertutup rapat.


"Kemana mereka? kenapa masih belum dibuka?" tanya Dinda penasaran.


Fikiran Dinda langsung teringat jika ibu Adit sudah tidak menyukainya. Mungkin saja ibu Adit tau kedatangannya. Tapi karena sudah tidak ingin lagi, maka dia sengaja tidak membukakan pintu. Begitu isi fikiran Dinda saat ini.


"Kenapa aku bodoh sekali sih. Udah jelas ibu kak Adit tidak menyukaiku." ucap Dinda pasrah.


Karena putus asa, dia pun membalikkan tubuhnya dan berjalan untuk meninggalkan rumah Adit.


"Dinda?" sapa seorang wanita kepadanya.


"Mbak Diana." balas Dinda. Diana merupakan kerabat jauh Adit. Rumahnya berada tidak jauh dari kediaman Adit sekarang.


"Kemana aja kamu selama ini?" tanya Diana yang memang tidak pernah melihat dan mendengar kabar dari Dinda semenjak kehilangannya saat acara sakral beberapa bulan lalu.


"Dinda... " ucapnya terbata-bata. Dia sangat malu untuk mengatakan semua kebenarannya.


"Yaudah kalau kamu nggak mau kasi tau. Tapi kenapa kamu kesini?" tanya Diana sedikit heran.


Menemui Adit setelah sekian lama menghilang?


"Kenapa?" tanya Diana lagi.


"Sebenarnya kak Adit udah 2 minggu nggak ada kabar. Dinda sedikit khawatir padanya." balas Dinda.


Jadi mereka masih saling berhubungan selama ini. Aku fikir mereka sudah tidak ada hubungan apa-apa lagi. Tapi masa Dinda nggak tau sih? apa Adit nggak memberi tau?


"Kamu nggak tau ya?" tanya Diana memastikan.


"Nggak tau apa ya mbak? Dinda nggak ngerti." tanya Dinda balik. Dia memang sama sekali tidak mengerti yang dikatakan Diana kepadanya.


"Adit dan keluarganya sudah pindah seminggu yang lalu. Apa dia nggak ngasi tau kamu?" tanya Diana penasaran.


Deg, jantung Dinda begitu kaget mendengar yang disampaikan Diana kepadanya.


"Pi pi pindah mbak? koq bisa?" tanya Dinda yang masih kaget. Bukankah ini rumah keluarga Adit dan Adit juga mencari rezeki dikota ini. Tapi kenapa sekarang malah pindah?

__ADS_1


"Mbak sih nggak tau ya. Tapi dengar-dengar Adit sendiri yang memutuskan untuk pindah dan membawa keluarganya." balas Diana.


"Mereka pindah kemana?" tanya Dinda lagi.


"Mbak nggak tau. Mereka juga pindah secara mendadak. Mbak aja baru tau kemaren." balas Diana.


"Terus rumah ini?" tanya Dinda sambil memandang rumah keluarga Adit yang tampak asri. Rumah itu merupakan rumah yang didirikan atas hasil dari kerja keras Adit selama ini.


"Rumah ini udah dijual. Pembelinya tidak lama lagi akan pindah kerumah ini." ucap Diana sedikit cemberut.


Kenapa kak Adit sampai menjual rumahnya. Aku tau dia sangat betah tinggal disini dan tidak ingin meninggalkan rumah ini. Rumah ini juga hasil keringatnya. Tapi kenapa dia begitu sukarela untuk menjualnya?


"Apa yang terjadi sebenarnya?" tanya Dinda pada dirinya sendiri yang masih penasaran.


"Dinda?" panggil Diana.


"Ya mbak, Maaf." balas Dinda yang tersadar dari lamunannya.


"Mbak pulang dulu ya. Masih ada kerjaan. Kamu hubungi aja Aditnya kalau ingin tau." ucap Diana sembari meninggalkan Dinda yang masih berdiri didepan pagar rumah Adit.


"Bagaimana aku bisa tau kalau nomornya tidak bisa dihubungi." ucap Dinda pasrah.


Dinda akhirnya pergi meninggalkan kediaman rumah Adit. Dia tidak mungkin lagi mencari Adit dirumah ini lagi. Apa lagi rumah tersebut sudah berganti pemilik.


Dinda memutuskan untuk mengunjungi taman kota tempat favorite Mereka saat dulu. Dia memutuskan untuk duduk dan berteduh dibawah pohon rindang.


"Kenapa jadi seperti ini sih? kemana lagi aku bisa mencarinya?" ucap Dinda putus asa.


Deringan ponsel membuyarkan lamunan nya. Dia segera meraih ponsel yang berada dalam saku celananya.


"Hallo? siapa?" tanya Dinda yang memang tidak tau. Apalagi nomor yang menghubunginya nomor baru.


"Dinda, ini aku Dandi." ucap Dandi. Dia menggunakan ponsel temannya karena ponselnya kehabisan pulsa.


"Ada apa Dan?" tanya Dinda. Aneh sekali rasanya Dandi menelponnya disaat jam kerja. Apalagi sampai menggunakan nomor ponsel orang lain.


"Adit... " ucap Dandi menggantung.


"Kenapa dengan kak Adit Dan?" tanya Dinda panik.


"Adit sudah tidak bekerja disini lagi. Dia sudah mengundurkan diri dari jabatannya." balas Dandi.

__ADS_1


Berdiri dari duduknya karena kaget. "Apa? koq bisa?" tanya Dinda yang masih penasaran.


"Entahlah Din. Yaudah ya, aku cuma mau ngasi tau itu aja. Nanti kalau aku udah pulang kerja kita bicarakan lagi. Aku tutup dulu ya." ucap Dinda dan panggilan pun terputus.


__ADS_2