
"Bagaimana kabar papa?" tanya Dave memberanikan diri menegur. Jika dia tidak memulai bersuara, maka papanya akan tetap berdiam diri.
"Papa baik-baik saja," balas Roy sekenanya.
"Pa, Dave minta maaf karena selama ini sudah mengecewakan kalian. Dave berjanji untuk tidak mengulanginya lagi." ucap Dave sambil bersimpuh di kaki papanya.
Roy bangun dari duduknya. Sikap Dave kepadanya menurutnya terlalu berlebihan. Dia juga tidak tega melihat anaknya sampai bersimpuh di kaki nya. "Apa yang kau lakukan Dave? ayo bangun!" suruh Roy.
Dave bangun dan menatap papanya dengan mata berkaca-kaca. "Pa, maafin Dave. Dave janji akan berubah." ucap Dave lagi.
Roy tersenyum. Selama Dave bebas, dia bisa merasakan jika anaknya ini banyak perubahan dalam dirinya. Apalagi setelah Dinda menerima dan memaafkan sikap anaknya dimasa lalu. "Sudahlah, papa sudah memaafkanmu. Papa hanya berharap kamu berubah dan menjaga istrimu dengan baik. Jangan sia-siakan dia." ucap Roy dan dibalas pelukan hangat oleh anaknya. "Terima kasih pa. Dave janji akan membahagiakan Dinda." balas Dave.
Dari lantai atas Dion, Dinda dam Kikan menyaksikan kehangatan diantara anak dan papanya. Hal tersebut membuat Kikan terharu. Dengan cepat dia melangkahkan kaki turun kebawah lalu memeluk anaknya.
"Mama kangen sama kamu nak." ucap Kikan dengan air mata yang sudah tak terbendung. Dia tidak kuat untuk terus-terusan mendiamkan anaknya. Hingga akhirnya kerinduan terhadapnya sudah tidak bisa terbendung lagi.
"Kakak sangat bahagia melihat mereka seperti itu. Kakak senang akhirnya keluarga kita bisa bahagia." ucap Dion yang juga terharu.
"Dinda juga senang kak. Akhirnya papa dan mama mau memaafkan kak Dave." ucap Dinda senang.
"Sekarang, keluarga kita bertambah bahagia setelah mama dan papa mendapatkan menantu seperti kamu. Apalagi nantinya jika mereka memiliki cucu." ucap Dion.
"Uhuk uhuk," Dinda terbatuk-batuk saat mendengarkan Dion mengatakan cucu.
"Kenapa Dinda?" tanya Dion khawatir.
"Nggak apa-apa kak." balas Dinda.
Cucu?
"Dinda, Dion, kemari nak!" panggil Kikan.
Dinda dan Dion turun dan ikut bergabung bersama mereka. Saling berpwlukan dan melepas rindu. Setelah selesai,kemudian mereka duduk disofa.
"Mama sangat bahagia memiliki anak dan menantu yang baik." ucap Kikan yang merasa senang.
Dinda, Dave dan Dion hanya tersenyum malu-malu setelah dipuji terang-terangan oleh orang tua mereka.
"Dave mama mohon sama kamu, jaga Dinda baik-baik. Bahagiakan dia, jangan pernah kecewakan dia." suruh Kikan.
"Dave akan membahagiakan Dinda dan akan terus bersamanya untuk selama-lamanya." ucap Dave sambil menggenggam tangan Dinda.
"Mama turut senang mendengarnya," balas Kikan.
"Papa ingin cucu," ucap Roy dan membuat suami istri tersebut melotot dan saling berpandangan.
__ADS_1
Aku akan dengan senang hati melakukannya untuk mendapatkan anak dan memberi kalian cucu. Bathin Dave sambil mengedipkan sebelah matanya kepada Dinda.
Apa-apaan kak Dave? aku tau apa yang difikirkannya. Dinda.
"Kita akan usahain pa agar kami bisa memberi kalian cucu yang imut," ucap Dave santai. Sedangkan Dinda hanya cengengesan menahan malu.
Siang berganti malam. Mereka selesai makan malam dan kembali masuk kekamar masing-masing setelah hampir larut malam. Dave dan Dinda memutuskan untuk menginap dirumah papa dan mama. Apalagi Dave sudah lama sekali tidak pulang. Dia begitu kangen dengan suasana rumahnya yang megah itu.
"Ini kamar kakak?" tanya Dinda kagum. Sewaktu Dinda tinggal dirumah ini, dia sama sekali belum pernah masuk kekamar Dave. Padahal kamar mereka hanya berjarak satu kamar saja.
"Kenapa?" tanya Dave heran.
"Rapi sekali." balas Dinda yang masih sibuk melihat sekeliling kamar dengan interior yang mewah dan rapi.
Dave bangun dari ranjang dan menghampiri Dinda yang sedang melihat-lihat fotonya. Memeluknya dari belakang. "Kamu senang?" tanya Dave.
"Dinda sangat senang kak. Bahkan Dinda sangat bahagia sekarang." balas Dinda.
"Aku boleh minta permintaan nggak?" tanya Dave sambil terus mengencangkan pelukannya.
Jangan bilang minta anak. Aku bisa kewalahan harus melayanimu hingga berhasil mendapatkan anak.
"Apa kak?" tanya Dinda was-was.
Aku tau apa yang kau fikirkan Dinda. Hahahaha
"Ah tidak kak, Dinda biasa-biasa saja." balas Dinda yang masih was-was.
"Bisa kan kau kabulkan permintaanku?" tanya Dave lagi.
Bagaimanapun caraku menolak, aku tetap akan kalah. Mau tidak mau aku akan tetap berusaha mengabulkan permintaanmu itu.
"Dinda akan lakukan semampu Dinda kak. Tapi Dinda tidak bisa berjanji," balas Dave.
"Hey, apa yang kamu katakan Dinda? aku yakin kau mampu mengabulkan permintaanku. Bahkan dalam waktu sekejap kau pasti dengan senang hati mengabulkannya." ucap Dave dengan senyum Pepsodent nya.
Matilah aku. Aku pasrah saja.
"Emangnya kakak mau minta apa?" tanya Dinda mencoba tenang.
"Menurutmu?" tanya Dave.
Pasti bikin anak.
"Hmm, itu kan." balas Dinda malu-malu.
__ADS_1
"Itu-itu apa?" goda Dave.
Aduh apa harus aku katakan? kamu kan tau apa yang aku maksudkan dan kamu fikirkan.
"Yang jelas dong," cemberut Dave.
Aduh gimana ini? koq aku merasa malu ya untuk menjawabnya.
"Mau ngajak bikin anak kan?" ucap Dinda sambil menutup wajahnya malu.
Dave melepaskan pelukannya dan terkekeh dengan jawaban tebakan yang diberikannya.
Dinda menatap Dave bingung. "Kenapa kakak ketawa?" tanya Dinda heran.
"Apa menurutmu aku meminta itu?" tanya Dave yang masih terkekeh.
"Hmm iya mungkin," balas Dinda. Wajahnya sudah memerah menahan malu.
"Menurutku aku tidak perlu sampai memohon untuk memintanya karena itu sudah kewajibanmu melayaniku di ranjang." ucap Dave.
Lalu dia minta apa?
Dave mendekat dan memegang pipi Dinda lembut. "Aku hanya ingin kau memanggilku sayang. Jangan panggil aku kakak lagi." ucap Dave kesal.
Jadi dia ingin aku memanggilnya sayang. Kenapa aku sampai memikirkan yang bukan-bukan. Ah dasar!
"Kenapa?" tanya Dinda penasaran.
"Aku suamimu, bukan kakakmu. Jadi mulai sekarang kau harus memanggilku sayang oke?" ucap Dave sambil mengacungkan jempol.
"Baik kak," balas Dinda.
"Kenapa masih manggil kakak sih?" ucap Dave cemberut.
"Iya sayang," ucap Dinda malu-malu.
"Gitu dong." ucap Dave dan kembali memeluk istrinya erat.
Melepaskan pelukan dan memegang bahu Dinda serata menatapnya. "Sekarang, puaskan aku sayang," ucap Dave menggoda dan membuat Dinda membelalakkan matanya.
Sudah aku duga pasti akan seperti ini akhirnya. Aku pasrah.
Dave langsung mendaratkan ciuman dibibir mungil Dinda. Mengecupnya seraya memainkan lidahnya dan mengabsen rongga mulut Dinda dengan lembut.
Ciuman yang semula dari bibir kini turun hingga ke leher. Mengecupnya lalu menggigitnya hingga meninggalkan tanda kepemilikan.
__ADS_1
Dave menggendong tubuh Dinda dan membawanya keranjang. Menindihnya lalu mengecup bibirnya kembali. Begitupun selanjutnya kecupan demi kecupan hingga turun ke leher, dada hingga **** *****.
Mereka akhirnya menikmati malam penuh cinta. Desahan demi desahan saling sahut-sahutan. Untung saja kamar Dave kedap suara hingga jeritan kenikmatan mereka tidak terdengar hingga keluar.