
Adit memutuskan untuk tidak masuk bekerja. Dia sudah mendapatkan izin dari atasannya. Hari ini dia memutuskan untuk bertemu Dave. Walaupun dia tau sangat tidak mudah menemui manusia yang sudah merebut Dinda darinya. Bagaimanapun caranya dan apapun yang terjadi dia tetap ingin menemui Dave.
Dandi pernah berpesan kepadanya untuk tidak bertemu Dave apalagi menyinggung nama Dinda. Tapi rasa rindu tidak bisa mengalahkan segalanya. Dave yang salah karena telah merebut Dinda darinya. Sampai kapanpun dia tidak akan rela Dinda menjadi istri Dave.
"Aku akan mengambil yang seharusnya mnjadi milikku. Kau telah merebutnya dariku dengan cara kotor." ucap Adit sambil mengepalkan tangan menahan kesal.
Adit melajukan mobil menuju kantor Dave. Sesampainya disana, dia langsung memarkirkan mobil lalu turun.
"Wah, besar juga kantornya. Ternyata kau kaya juga." ucap Adit.
Menarik nafas secara teratur lalu berjalan menuju pintu masuk kantor.
Saat masuk, Adit bingung harus kemana. Apa lagi ini pertama kalinya dia masuk dikantor yang megah itu. Melihat sekeliling orang yang sedang menatapnya.
Apa? Apa yang salah dengannya? Kenapa mereka pada sibuk melihatnya dengan tatapan yang sulit diartikan.
Adit tidak memperdulikan tatapan orang-orang yang melihatnya. Adit lalu berjalan kearah meja pegawai yang juga menatapnya.
"Ada ada yang bisa saya bantu mas?" tanya wanita yang berjaga dibagian depan dengan gugup.
"Saya ingin bertemu Dave? Apa dia ada?" tanya Adit dengan sedikit tersenyum. Walau senyuman tersebut seperti tidak ikhlas.
"Apa Mas sudah membuat janji?" tanya pegawai itu lagi. Siapapun yang ingin menemui Dave, tidaklah mudah. Hanya orang tuanya saja yang bisa masuk ke ruangan Dave tanpa harus melapor. Namun untuk Cindy, sedikit berbeda. Dia boleh langsung masuk, namun harus melapor dulu ke sekretaris pribadi Dave. Selain tiga orang itu, tentu saja tidak diberikan untuk menemui Dave.
"Saya belum membuat janji. Apa saya bisa ketemu?" tanya Afit tidak sabaran. Kenapa begitu sulit sih hanya untuk menemui bedebah satu itu? Apa karena ini kantor miliknya? Ah peduli apa? Bagaimanapun yang terjadi, dia harus bisa menemui Dave.
Bagaimana ini? Pasti Pak Dave marah jika aku memberi tahu ruangannya. Tapi.... kalau aku tidak memberitahu, pasti Mas ini kecewa dan aku pasti terlihat jahat dimatanya. Aduh Mas, koq Mmas ganteng banget sih? Kan jadi nggak tega mau menolak.
"Anu Mas... " ucap pegawai tersebut gagap. Rasanya tidak tega ingin mengatakan kebenarannya.
"Anu anu apa? Bisa nggak saya ketemu Dave nya? Jangan buang-buang waktu saya deh mbak." balas Adit sedikit ketus. Sedari tadi wanita yang berada didepannya ini sama sekali tidak memberikan dimana ruangan Dave.
"Dilantai sepuluh Mas." jawab pegawai itu spontan. Ternyata pria didepannya ini sedikit galak. Baru saja jatuh hati karena ketampanannya.
__ADS_1
Adit melangkahkan kaki menuju lift. Dia masuk dan menekan tombol lift lantai sepuluh. Mengepalkan tangan. "Akan aku beri pelajaran kau." Sambil memicingkan bibirnya menahan kesal.
Eh, mas tadi tau nggak ya ruangan pak Dave yang mana? Eh iya ya, lantai sepuluh kan cuma ada satu ruangan. Yaitu ruangan Pak Dave sendiri. Haha dasar payah. Nih pasti gara-gara aku terlalu terpana dengan wajah Mas itu tadi.
"Oh ya, namanya siapa ya?" tanya pegawai tersebut pada dirinya sendiri. Karena terlalu asyik menatap, sampai lupa untuk menanyakan nama. Tidak apa-apa lah. Pasti nanti Mas itu turun lagi. Pas turun aja nanya namanya. Begitu pikir pegawai tersebut.
Adit telah sampai dilantai sepuluh. Dia sedikit bingung karena dilantai tersebut hanya ada satu pintu. Didepan pintu tersebut ada seorang perempuan yang sedang fokus menatap layar komputer. Adit berjalan mendekat kearah wanita tersebut. Menarik nafas lalu membuangnya dengan perlahan. Untuk menghilangkan rasa kekesalannya yang sudah membara.
Mendekat kearah meja dan mengetuk meja dengan jarinya. " Permisi." sambil memberikan sedikit senyuman. Biar tidak kelihatan aura marahnya.
Siapa dia? Kenapa ganteng sekali? Menatap lekat wajah pria didepannya tanpa berbicara.
"Hei, sampai kapan kau menatapku terus?" ucap Adit kesal. Celine buru-buru sadar dari lamunan nya.
"Ada keperluan apa Mas?" tanya Celine gugup.
"Saya ingin bertemu Dave. Apa dia ada di ruangan nya?" tanya Dave sambil melihat kearah pintu.
"Apa Mas sudah bikin janji?" tanya Celine lagi.
Mengatur nafas. " Saya belum ada buat janji. Tapi saya ingin menemuinya." dengan nada sedikit menahan kesal.
Menekan tombol telepon untuk menyambungkan ke ruangan Dave." Pak Dave, ada yang ingin menemui bapak." ucap Celine.
"Siapa?" balas suara diseberang telepon.
Menatap Adit. "Nama Mas siapa?"sambil menunggu memberikan jawaban.
"Saya Adit."
"Namanya Adit pak." sambung Celine lagi.
"Berikan dia masuk!" balas Dave.
__ADS_1
Celine berdiri dan melangkahkan kaki menuju pintu. Menekan ganggang pintu dan mempersilahkan Adit untuk masuk.
"Kamu keluar!" ucap Dave saat Celine mengekori Adit dibelakangnya.
Celine lalu membungkukkan kepala lalu berbalik melangkahkan kaki menuju pintu. Membuka laku menutupnya kembali dengan rapat.
Adit menatap Dave dengan kesalnya. Sudah tidak bisa lagi menahan kemarahannya.
Memberikan tatapan tajam. " Dimana Dinda?"
Dave tidak menjawab dan hanya tertawa. Sesungguhnya tatapan Adit itu sangat lucu baginya. Bisa marah juga ternyata bocah didepannya ini. Padahal wajahnya begitu unyu-unyu nya. Pasti di gilai banyak wanita diluar sana. Pantas saja Dinda bisa jatuh hati kepadanya.
"Untuk apa kau menanyakan istriku?" memberikan senyuman mengejek.
"Aku tanya dimana Dinda?" puncak kekesalannya sudah diubun-ubun. Melihat wajahnya saja sudah bikin emosi, apalagi berbicara dengannya. Bisa-bisa akan terjadi pertumpahan darah nantinya.
"Ada bersamaku tentunya." balas Dave cuek.
Benar, sepertinya akan terjadi pertumpahan darah disini. Adit mendekat kearah Dave lalu mrik kerah bajunya dengan mutka. Dengan cepat Adit langsung memberi pukulan kearahbwajah Dave.
Dave terjatuh dari kursi lalu bangkit. Dia tidak membalas pukulan tersebut dan hanya tertawa angkuh. "Pukulanmu boleh tahan juga. Memegang bibir dengan jarinya. Sepertinya bibirnya berdarah terkena pukulan tersebut.
Dave kembali duduk dan menyilangkan kakinya dengan angkuh sambil menyatukan kedua tangannya dan meletakkannya di lutut.
Memundurkan langkah dan memijit Pangkal hidungnya. "Aku ingin bertemu Dinda. Beritahu aku dimana kau menyembunyikan dia!" menghela nafas kasar.
"Kau tau, Dinda sudah menjadi istriku dan juga menjadi milikku. Apa hak mu memaksa aku untuk memberitahu keberadaannya?" memberi senyuman sinis dan menatap tajam kearah Adit.
Berdiri tegap dan berjalan satu langkah kedepan. " Aku tau dia istrimu. Aku juga tau kau memaksanya untuk menikah dengan orang yang sama sekali tidak dicintainya. Apa kau tidak pernah berfikir bagaimana perasaannya?"
"Hahahaha." tertawa dengan puasnya. " Hei, memangnya kau siapa? Kau hanya pria malang yang gagal menikah dengannya. Dan sekarang kau merengak-rengek didepan suami sahnya." menatap dengan sorot mata tajam.
"Aku tau kau suami sahnya. Tapi tidak dengan hatinya. Dia masih mencintaiku dan kau sama sekali tidak layak menjadi suaminya." menarik nafas dalam-dalam. "Aku mohon, aku ingin menemui Dinda."
__ADS_1
Memikir sambil mengetuk-ngetuk dahinya dengan jari telunjuk. "Baiklah."